
Sudah selama dua bulan ini pria kurang ajar itu merajalela keluar masuk rumah Aluna, bahkan sudah beberapa kali pria itu menginap dirumahnya dengan alasan Kevan. Ya bayi mungilnya itu tampak lebih berisi dan menggemaskan dengan pipi chubby, membuat Adrien begitu cepat merindukannya meskipun baru beberapa jam tak bertemu.
Aluna menjadi sangat keberatan dengan adanya Adrien, ia takut jika Adrien akan memberitahu banyak orang bahwa Kevan seorang anak haram meskipun tidak demikian kenyataannya. Aluna hidup di dunia bisnis yang kejam, masalah keluarga adalah inti kelemahan seorang pemimpin. Aluna juga merasa takut jika Kevan yang sudah mulai mengenali orang menjadi bergantung pada Adrien akibat kedekatan mereka, tetapi Aluna tak menampik bahwa ia menyukai apa yang dilihatnya. Kevan merasa senang dan pasti merasa bahagia karena merasa ada sosok ayah yang tidak pernah bisa didapatkan.
Kevan sudah bisa tengkurap dan berputar, bahkan bayi tampan itu sering sekali mengajak bicara Ibunya juga Adrien yang tak mau terpisah jauh dari Kevan. Awalnya Adrien tahu ia tak akan bisa menerima bahwa Aluna sang pujaan hatinya sudah memiliki seorang anak dengan pria lain, tetapi jika dipikir lagi Adrien tidak keberatan jika anak tersebut adalah Kevan yang dalam waktu singkat dapat mengambil hatinya.
Jujur, Adrien sangat menyayangi Kevan. Jikalau Adrien sedang meeting diluar lalu ketika pulang melihat mainan anak laki-laki, ia langsung teringat pada Kevan dan membelikannya meskipun ketika ia menunjukkannya pada Kevan sang ibu selalu mengomel protes. Pasalnya mainan yang dibelikan Adrien belum bisa bisa dimainkan oleh Kevan yang baru bisa tengkurap.
"Besok tidak usah kemari lagi." Adrien mengerutkan keningnya protes pada ucapan Aluna yang tiba-tiba. Cukup merusak moodnya yang sedang bermain dengan Kevan.
"Kenapa berkata begitu?" Lalu tanpa bicara wanita itu menunjukkan layar iPad miliknya yang berisikan sebuah berita tentang Aluna juga dirinya. Adrien mengambil alih iPad tersebut dan membacanya dengan seksama. "Aku tidak mau karena berita ini saham di perusahaan ku menurun begitupun saham diperusahaan mu, jadi berhentilah sampai disini agar berita itu hilang ditelan waktu dan terbukti tidak benar."
Adrien menatap Aluna aneh, "ini tidak akan berpengaruh pada perusahaan kita. Semuanya akan baik-baik saja, lagipula berita itu memang benar bahwa aku sering berkunjung kemari dan bermalam."
Aluna menatap pria ini sebal, "Dengan mudahnya kau berkata begitu, apakah ini adalah salah satu rencanamu? Aku baru saja menjadi pemimpin resmi perusahaan beberapa bulan ini begitupun denganmu, kita butuh pencitraan yang bagus untuk tetap menjaga investor dan juga para pemilik saham. Mengapa kau tidak mengerti."
Adrien bangkit dari duduknya dan menatap lawan bicaranya tajam, "apa kau menuduhku?"
"Aku hanya menduga, bisa saja kau lakukan ini agar Kevan terekspose media dan menjadi gunjingan karena ia tak punya ayah dan juga ibunya tidak menikah. Aku curiga bahwa tujuanmu selama ini hanya ingin menjatuhkan perusahaanku." Tapi pria dihadapannya ini malah tertawa meremehkan, "sungguh ucapan yang tidak masuk akal Nyonya. Jika kau ingat perusahaan keluarga lebih besar daripada perusahaan milikmu itu, kalau begitu aku pamit pulang."
Adrien pergi dengan rasa tak terima, amarah juga kecewa. Ia ingin sekali menunjukkan rasa itu pada Aluna andai saja tak ada Kevan bersama mereka. Ia sungguh berpikir bahwa Aluna begitu piciknya berpikir demikian tentang dirinya, bukannya wanita itu merasa beruntung karena Adrien masih mau mengejarnya tapi ia malah dituduh yang bukan-bukan.
Adrien sudah memikirkan semua ini masak-masak, bahwa ia harus tetap memperjuangkan rasa cintanya ini meskipun status wanita itu tak layak untuknya yang merupakan pria mapan lajang yang paling dicari dinegara ini. Adrien bahkan sudah menerima anak wanita itu layaknya anak sendiri, tapi apa yang Adrien dapatkan hari ini sungguh diluar dugaan.
Sebelumnya, saat ia baru saja dari dapur untuk minum ponselnya berbunyi dan memperlihatkan nama asistennya disana. Ia diberi kabar bahwa berita-berita tentang dirinya dan Adrien sudah tersebar luas dimedia. Mungkin besok ia harus pergi rapat karena masalah ini, ia baru saja menjabat sebagai seorang CEO tepat setelah Kevan lahir. Rasanya begitu cepat jika ia harus tumbang hanya dalam beberapa bulan akibat gosip ini.
Aluna menatap Kevan yang tengkurap dan sibuk mengoceh sendiri sembari menepuk nepuk karpet dengan tangan mungilnya. Ia mengusap kepala bayinya pelan, "Mommy gak akan tumbang secepat itu Kev, Mommy janji semua akan baik-baik saja. Kamu masih punya Mommy disini."
Malam harinya Adrien yang sudah lelah marah-marah dengan para karyawannya mencoba mencari ketenangan dan melupakan masalanya dan Aluna sejenak dengan pergi kesalah satu bar milik sahabatnya sewaktu ia menengah atas, Rengga.
Adrien terus menikmati minumannya disaat ia sedikit merasa mabuk, entah sudah berapa botol ia habiskan seorang diri. Telinganya terasa sudah biasa mendengar suara musik yang sangat keras juga gemerlap lampu yang remang-remang. Sudah banyak wanita yang menggodanya tetapi Adrien menolak karena ia benar-benar butuh waktunya sendiri. Jika ia harus bermalam dengan wanita maka ia akan teringat dengan Aluna. Wanita yang sudah sembarangan menuduhnya.
Adrien tersenyum sinis mengingatnya, cinta didalam hatinya ini begitu menyiksa, begitu membuncah hingga hatinya sendiri tak dapat menampung dengan baik. Wanita itu sudah bekas pria lain tetapi Adrien masih mau menerimanya, wanita itu sudah mempunyai anak dari pria lain Adrien pun menerimanya bahkan menyayanginya. Mereka sudag seperti keluarga kecil yang bahagia sebelumnya tapi mengapa pemikiran wanita itu picik sekali tentang dirinya. Karena cintanyalah Adrien rela seperti budak cinta, cinta pertamanya, cinta yang baru pertama kali ia rasakan begitu dalamnya hingga jika wanita itu tak jadi miliknya ia merasa akan mati. Lagipula Adrien berpikir tak masalah wanita itu sudah pernah bercinta dengan pria lain untuk yang pertama atau berapapun karena menjadi yang terakhir saja sudah cukup baginya, diluaran sana juga sangat banyak wanita yang mengaku gadis tapi nyatanya tidak. Itu kan artinya sama saja.
"Masih mau minum lagi pak bos? Udah dua botol loh." Adrien mendelik sebal saat mendapati Rengga yang tiba-tiba duduk dihadapannya dengan senyum menyebalkan. "Lagi galau ya? Atau lagi gak dikasih jatah sama Nona tunggal Thomas."
Ucapan Rengga tentu membuat Adrien semakin kesal, "Gak usah ngomongin dia."
"Ih sensi bener sih pak boss, beritanya udah ada dimana-mana juga. Jadi benerkan lo nge-date sama Nona tunggal Thomas itu?" Adrien berdecak kesal dan kembali minum, itulah yang menjadi masalahnya sekarang. "Yee malah diem aja lagi. Yaudah deh dari pada lu galau gitu gak enak dilihatnya mending lo seneng-seneng aja. Gue kasih cewek paling hot ditempat gue gimana? Gratis, tenang aja."
"Gak butuh gue, mending lo kasih gue gratis minuman yang udah gue minum aja." Adrien bangkit dari duduknya dan melangkah pergi sedikit sedikit pusing dikepalanya. "Sialan!"
Like and Comment guys!!!