OPSO

OPSO
SATU



Seorang wanita tengah sibuk dengan dokumen-dokumen yang ada di hadapannya. Ia membaca kertas kertas itu dengan seksama. Wajah seriusnya kini tak bisa diganggu. Tetapi walaupun begitu aksen manis masih melekat pada gadis yang tengah menggunakan kacamata minus ini.


Pintu ruangannya tiba-tiba terbuka dan konsentrasinya terganggu. Nampaklah seorang gadis kecil berumur empat tahun yang mengenakan dress berwarna softpink yang sungguh cantik dan lucu di tubuh gadis kecil itu. Rambutnya di gerai lurus dan ada jepitan pita bewarna senada dengan pakaiannya. Seketika senyuman terlukis diwajah wanita itu ketika melihatnya.


"Aunty..." panggil gadis kecil itu sambil berlari menghampiri wanita tersebut. Aluna pun bangkit dari kursi kejayaannya menuju keponakan tersayangnya itu, lalu memeluknya dengan erat.


"Kamu kesini sama siapa?" Tanya Aluna melepaskan pelukannya pada Caca.


"Aku kesini sama Aunty Via." Jelas Caca. Aluna mengangguk mengerti.


"Kemana Bunda mu?"


"Bunda Caca lagi jenguk temannya dirumah sakit." Ujar seorang wanita tiba-tiba masuk dan langsung duduk di sofa ruang kerja Aluna.


"Oh, lo tadi main kerumah kak


Jessica?" Wanita itu menggeleng.


"Enggak, tadi kita ketemu di supermarket. Dia lagi beli buah. Dan Caca mau ikut gue katanya mau ketemu lo." Jelas wanita itu yang hanya direspon anggukan oleh Aluna. Wanita itu mendengus melihat respon yang diberikan oleh sahabatnya itu. "Gue masih ada kerjaan di butik. Tadi sekretaris gue chat kalo ada mama gue disana."


"Caca mau ikut Aunty Via atau Aunty Luna?" Tanya Via pada Caca.


"Caca sama Aunty Luna aja disini." Ujar Caca dengan senyum lucunya.


"Yaudah kalo gitu Aunty Via kerja dulu ya. Bye." Pamit Via yang kemudian pergi meninggalkan ruangan kerja Aluna. Kini diruangan ini hanya ada Aluna dan Caca.


"Adek Kevan gak ikut kesini ya Aunty?" Aluna tersenyum kecil dan menggeleng. Mendengar pertanyaan Caca ia jadi ingat bayi mungilnya itu.


"Aunty disini kan kerja. Lagian Kevan juga masih bayi belum boleh sering-sering keluar rumah. Nanti kalo Caca kangen, hari Sabtu kerumah Aunty aja gimana?"


Caca mengangguk pelan seraya menyamankan diri dipelukan Aluna diatasi sofa. "Aunty Caca ngantuk mau bobo." Ujar Caca sambil mengusap usap matanya yang sudah lelah.


"Yaudah kamu tidur." Tak butuh waktu lama untuk gadis kecil itu tertidur lelap. Dikecupnya kening Caca agak lama.


'Tok tok tok'


"Masuk."


"Oh iyaa, Ian jadwal saya setelah makan siang apa saja?" Tanya Aluna pada Ian orang kepercayaan Papanya yang kini menjadi orang kepercayaannya, yang sebelumnya mengetuk pintu.


"Setelah makan siang nona tidak ada rapat, tetapi saya hanya mengingatkan nona bahwa nanti malam akan ada pesta penyambutan CEO dari ARGA CORP." jelas Ian dengan wajah datarnya.


"Yaudah kamu boleh kembali." Tak lama dari Ian, seorang wanita yang memakai dress biru muda masuk kedalam ruangan.


"Hai sist. Maaf ya Caca ketiduran disini, kakak abis jenguk Siska yang sedang sakit." Ujar wanita itu.


"Santai kali, Caca juga gak ngeganggu sama sekali kok. Kakak mau langsung pulang?" Tanya Aluna pada Jessica sepupu iparnya itu yang tengah mengangkat Caca ke gendongannya.


"Iya Lun, soalnya Dev juga pulang cepet hari ini." Jelas Jessica.


"Oh yaudah, perlu dianterin gak nih?"


"Gak usah Lun, supir juga udah nunggu dibawah. Kakak pulang dulu ya bye." Pamit Jessica yang sudah pergi membawa Caca yang tengah tertidur dari ruangan Aluna.


"Kenapa jadi kangen Kevan ya." Gumam Aluna yang tanpa berpikir lagi untuk meninggalkan kantornya. Aluna sangat menikmati perjalan pulanganya sambil tersenyum membayangkan wajah putranya yang masih bayi itu. Dan tak terasa waktu berjalan, akhirnya ia sampai di rumah miliknya yang luas dan mewah. Dengan segera Aluna masuk kedalam rumahnya dan menuju ke kamar Kevan.


"Kevan sayang..."


"Mommy pulang..."


Rasa lelah yang Aluna rasakan lenyap begitu saja ketika melihat wajah Kevan juga kerjapan mata lucunya.


"Mbok Kevan gak rewel kan hari ini?" Tanya Aluna.


"Enggak non. Hari ini den Kevan anteng-anteng saja."


"Syukurlah." Aluna menciumi pipi Kevan bergantian secara terus menerus hingga si anak menggeliat tak nyaman.


"Mungkin kalo Kevan sudah agak besar aku harus mengajak Kevan ke kantor." Gumam Aluna.


"Yasudah non, saya permisi ingin kedapur dulu."


"Oh iya, terimakasih ya Mbok untuk hari ini."


"Sama-sama non."


Untuk beberapa jam Aluna menghabiskan waktunya bersama Kevan. Dan sekarang sudah pukul 7 malam, Kevan pun sudah terlelap dalam pelukannya. Wajahnya begitu damai, membuat Aluna seakan tak rela untuk melepas Kevan dari pelukannya.


'Tok tok tok'


"Maaf non, di depan Ian sudah menunggu anda."


"Ah iya aku baru ingat. Sampaikan padanya tunggu aku sebentar. Aku akan bersiap-siap." Setelah mengatakan hal itu, Aluna segera berjalan menuju kamarnya untuk membersihkan diri dan bersiap untuk menghadiri pesta.


Dan disinilah Aluna berada lobby hotel acara. Dengan gaun merah panjang tak berlengan dimana bagian dada agak rendah, punggungnya pun terekspos sempurna. Bahu mulusnya begitu nampak tanpa ada penghalang, gaun sepanjang mata kaki tetapi terdapat belahan di sebelah kanannya sampai dengan paha mulusnya. Begitu pas ditubuh langsingnya.


Wajahnya dipoles dengan make up natural dan lipstik pekat. rambutnya di gulung keatas hingga leher jenjangnya begitu nampak. Hells setinggi 10 cm berwarna merah tampak begitu menggoda.


Tanpa memperdulikan sekitarnya, Aluna melangkah masuk ke ballroom dimana acara dilaksanakan. Sudah biasa bagi Aluna jika mata mata para lelaki itu menatapnya dengan tatapan lapar dan para wanita menatapnya dengan tatapan iri, kagum dan tak suka.


Aluna tersenyum ketika matanya bertatapan dengan salah satu koleganya yang bernama Angella. "Apa kabar Miss? Sudah lama kita tidak bertemu." Sapa Angella pada gadis muda dihadapannya ini.


"Aku baik seperti yang Anda lihat. Bagaimana denganmu?" Tanya Aluna mencoba untuk berbasa basi.


"Aku cukup baik."


"Apa Anda sudah sedari tadi disini?" Tanya Aluna, Angella mengangguk sekilas.


"Lumayan."


"Oo baiklah kalau begitu. Aku pamit ingin menyapa pemilik acaranya dulu."


"Ya tentu, silahkan Miss." Aluna berjalan anggun menuju sang pemilik acara yaitu Zeth Arga.


"Aahh selamat malam Nona Aluna. Terimakasih Anda telah menyempatkan waktu untuk datang kemari." Sambut Zeth.


"Ya selamat malam. Tak perlu sungkan Sir, Anda adalah penanam saham terbesar kedua diperusahaanku. Tentu saja aku harus hadir." Ujar Aluna dengan kekehan kecil diujung katanya.


"Tunggu sebentar, Anda harus menemui puteraku." Ujar Zeth yang dibalas anggukan saja oleh Aluna.


"Adrien, kemarilah son." Panggil Zeth pada puteranya. Tak lama dari itu, seorang pria tampan menghampiri mereka berdua.


"Kenalkan Nona Aluna ini puteraku Cello Adrien Arga." Jelas Zeth, dan Aluna serta anak Zeth itupun berjabat tangan. Aluna menatap mata pria itu dan begitupun sebaliknya. Mata bulat hitam yang indah bertemu dengan mata bernetra coklat.


Dirasa cukup lama mereka bertatapan, Aluna segera memutus kontak mata mereka. Dikecupnya punggung tangan Aluna yang halus dan kembali mereka bersitatap.


Aluna menggerakkan tangannya sedikit karena tidak nyaman dengan pria dihadapannya ini dan menurutnya sudah terlalu lama mereka berpegangan tangan. Akhirnya pegangan tangan mereka terlepas dengan tatapan yang sulit diartikan oleh Aluna.


Ada apa dengan pria ini?


Like and Comment guys!!!