
Aluna tidak menyangka akan ada tamu yang tak diharapkan datang dirumahnya bahkan berada dihadapannya saat ini. "Adrien?"
Adrien menatap Aluna yang tengah menggendong seorang bayi mencoba menenangkan bayi tersebut yang terus menangis. Ia masih tidak mengerti dengan apa yang terjadi, apakah dugaan dalam otaknya benar-benar terjadi? "Itu..."
Bahkan Adrien tak menghiraukan panggilan Aluna kepadanya karena terlalu fokus pada apa yang dilihat dan dipikirkannya. "Oh, ini anakku. Ada keperluan apa datang kemari? Darimana kau tahu alamat rumahku?"
Aluna mencoba mengatur dirinya agar tidak gugup dan aneh. Sekarang, jika sudah ada seorang yang tahu perihal Kevan pastilah sebentar lagi semua orang akan tahu. Padahal Aluna semaksimal mungkin menjaga privasi Kevan supaya tidak terlihat publik. "Anakmu? Kau- kau sudah menikah?"
Adrien merasa kecewa dengan apa yang ditemuinya. Ia baru saja merasakan rasa suka yang menggebu dan sangat ingin memiliki wanita didepannya, tetapi ia sudah didahului orang. Lain dengan Adrien, Aluna merasa bingung harus menjawab apa. "Bukan urusanmu jika aku sudah menikah atau belum. Yang aku tanyakan, bagaimana bisa kau tahu alamat rumahku?"
"Siapa orangnya?" Aluna mengerutkan kening tak paham. Pria ini ditanya malah balik bertanya. "Apa?"
"Siapa orangnya? Yang menikahimu, yang bercinta denganmu, yang menanam benihnya dalam rahimmu, dan yang membuatmu menjadi seorang ibu?" Adrien sangat ingin tahu, siapa yang sudah berhasil menarik perhatian seorang Queen Aluna Thomas disaat dirinya saja setengah mati kesusahan untuk mendekat. Orang yang seperti apa? Apakah lebih hebat darinya?
"Bukan urusanmu." Aluna membuang muka karena malu dan kesal. Pria ini sangat suka bicara sembarangan, bercinta katanya? Hehh.
Adrien melangkah maju dan membiarkan diantara mereka hanya ada sedikit jarak. "Itu urusanku, aku tidak terima jika kau sudah dimiliki orang lain. Sekarang jawab pertanyaanku siapa ayah bayi ini?" Bahkan secara spontan Adrien memegang cukup kuat bahu wanita cantik didepannya.
"Lepaskan aku, jangan macam-macam karena saat ini masih ada anakku. Setidaknya biarkan aku menidurkannya dulu." Tetapi Adrien menolak dan terus memaksa, karena sudah terbawa emosi. "Aku tidak tahu, aku tidak tahu ayahnya. Apa kau puas?"
Adrien menatap Aluna nanar, ia kalut dan kecewa. Kenyataan bahwa wanita ini sudah mempunyai anak saja sudah membuatnya sangat kecewa ditambah lagi bahwa wanita ini tidak tahu siapa ayah dari bayinya. Semua ini seakan membuat Adrien menjadi tak berguna sebagai seorang pria. "Dia..."
Mata Adrien langsung tertuju pada bayi mungil yang masih menangis itu, ia merasa bersimpati sekali. "Jangan menatap anakku dengan tatapan kasihan. Ia baik-baik saja selama aku berada disisinya." Aluna refleks menjauhkan wajah bayinya dari tatapan Adrien dan terus mencoba menenangkannya.
Tetapi bayi itu terus menangis dan membuat perasaan Adrien entah mengapa menjadi terasa sakit. Sungguh ia tak tega melihatnya. Lalu dengan ragu Adrien menatap Aluna dan mengadahkan tangannya, "Bolehkah aku menggendongnya?"
Tetapi tatapan Aluna seakan sangsi dengan itu. Seolah tak percaya Adrien hanya akan menggendong saja tidak melakukan hal buruk pada bayinya. "Aku hanya ingin menggendongnya, ia terus menangis. Mungkin jika aku menggendongnya ia bisa tenang."
Dengan agak ragu Aluna memberikan bayinya dan memberitahu cara menggendong bayi yang benar. Adrien merasa hatinya menghangat saat bayi mungil itu berada dalam rengkuhan tangan besarnya. Dan dengan menggoyangkan tangan sedikit juga ucapan menenangkan yang spontan diucapkan Adrien bayi itu tampak lebih tenang dan malah tertidur pulas. "Dia sangat manis, siapa namanya?"
Aluna sempat linglung sebentar karena begitu terpesona dengan Adrien yang ia lihat saat ini bersama dengan bayinya digendongan pria itu. "Kevan."
Adrien kembali tersenyum seraya mengusap kening bayi itu lembut dengan ibu jarinya. "Berapa usianya?"
Aluna mendengus pelan, "hanya kebetulan dan jangan besar kepala. Ayo biarkan dia tidur, kita bicara dibawah."
Bayi mungil itu menggeliat sedikit saat tubuhnya dibaringkan ditempat tidurnya, tetapi matanya masih tertutup rapat membiarkan Aluna dan Adrien turun kebawah dan berbicara serius.
"Mau minum apa?" Walaupun pria ini tamu tak diundang, tetapi Aluna selaku empunya rumah sangat tahu bagaimana memperlakukan seorang tamu.
"Apa saja, aku tidak pemilih." Menganggukkan kepalanya pelan, Aluna berjalan menuju dapur diikuti Adrien yang nampaknya tak mau jauh dari Aluna. "Aku tidak tahu jika kau adalah seorang single-mother."
"Sekarang kau sudah tau. Jadi katakan, ada keperluan apa sebenarnya kau kemari?" Aluna mengangsurkan segelas jus jeruk instan yang baru dituangnya pada Adrien.
Adrien mengangkat bahunya pelan dan meneguk jus jeruk tersebut. "Hanya ingin tahu rumahmu, juga kabarmu yang beberapa hari ini selalu mangkir dari pertemuan kita."
Aluna memutar matanya malas, "aku tidak mangkir, aku mewakilkan orang kepercayaanku untuk pertemuan itu. Kevan beberapa hari lalu sakit dan dirawat, tentu aku tak akan sibuk bekerja disaat anakku butuh perhatian penuh."
Adrien tersenyum miring, "well, aku tidak tahu ternyata kau punya jiwa keibuan yang begitu menyentuh. Ngomong-ngomong bagaimana keadaan Kevan? Apa sudah membaik? Ia menangis sampai seperti itu."
Aluna menghela nafasnya pelan, mengambil sebuah gelas dan menuangkan air untuk diminumnya. "Dia agak rewel akhir-akhir ini, mungkin karena masih belum pulih benar."
"Apakah disini tidak ada pembantu rumah tangga? Atau pengasuh untuk Kevan?"
"Ada, tapi aku tidak terlalu membutuhkannya. Kevan sudah bersamaku dan tak butuh yang lainnya." Aluna melirik pria disampingnya ini sebentar, "apakah urusanmu sudah selesai? Bisakah kau meninggalkan rumahku?"
Adrien menaikkan alisnya sebelah mendengar kalimat pengusiran yang berasal dari wanita yang masih menjadi pujaan hatinya. "Ya mungkin untuk hari ini urusanku selesai. Tidak menutup kemungkinan besok aku akan berkunjung kemari lagi. Kalau begitu sampai bertemu besok."
Mengedipkan matanya sebelah lalu menarik pelan kepala Aluna hingga bibir Adrien menyentuh kening wanita itu. "Jangan rindukan aku." Bisiknya sebelum pergi dari hadapan Aluna yang merasa kesal karena pria itu dengan kurang ajarnya mengambil kesempatan.
"Dasar pria aneh."
Like and Comment guys!!!