
Acara dimulai dengan diawali dengan sambutan dari CEO yang lama kemudian disusul dengan CEO baru. Setelah itu pesta dansa akan segera dimulai.
Semua orang sudah berdiri dengan pasangan mereka masing-masing diatas lantai dansa. Adrien segera mengambil kesempatan untuk dapat berdansa dengan Aluna.
"Mau berdansa denganku nona?" Tanya Adrien sopan sambil membuka tangannya. Mau tak mau Aluna tersenyum tipis dan menerima ajakan Adrien yang kemudian mencium punggung tangan Aluna. Dari tangannya saja aroma wanita itu sudah begitu memabukkan apalagi yang lain, pikirnya.
Dan kini alunan musik sudah dimulai dimana Adrien dan Aluna mengambil posisi di paling tengah. Adrien merengkuh pinggang Aluna posesif, berhasil membuat Aluna terkaget akan sikap Adrien tapi ia mengganggap itu hanyalah bagian dari gerakan dansa nya.
Kaki mereka bergerak mengikuti alunan musik. Aluna menaruh tangannya tepat di bahu Adrien tapi kemudian dia mengalungkan tangannya dikejar pria itu, tentu dengan senang hati Adrien akan mengikuti permainan Aluna.
Aluna merasa kaku ketika ia menaruh tangannya di bahu Adrien, jadi ia memutuskan untuk mengalungkan tangannya keleher pria itu. Ide jahil itu pun muncul karena Alun melihat tatapan Adrien yang nampaknya begitu tertarik dengannya sama dengan semua pria yang ada disini.
Posisi mereka semakin intim saja dan tentunya rasa senang membuncah dihati Adrien. Tangannya pun sudah tak tinggal diam awalnya yang ada dipinggang Aluna kini turun kebawah tepat di bokong padat milik wanita itu. Adrien mengelusnya dan meremasnya agak kencang terasa begitu sensusal hingga lenguhan lolos dari bibir seksi wanita dihadapannya itu.
Aluna tertawa dalam hati, sepertinya pria ini menerima permainannya dengan gerakan anggun Aluna menggunakan jari-jarinya untuk mengelus leher dan dada Adrien secara perlahan. Ditambah Aluna memasang wajah menggoda dengan menggigit bibir merah meronanya.
Tepat saat itu juga Aluna merasa bahwa junior pria dihadapannya ini menegang. Adrien dan Aluna masih saja mempertahankan posisi seperti tadi. Adrien semakin menarik Aluna merapat ketubuhnya. Adrien menunduk sedikit dan mensejajarkan mulutnya di telinga Aluna.
"You're so beautiful." Bisiknya. Kemudian Adrien menjilat telinga Aluna. Aluna memejamkan matanya merasakan sentuhan pria itu. Adrien kemudian menyenderkan kepalanya dibahu mulus Aluna, dikecupnya bahu itu berkali kali. Aluna masih memejamkan matanya tetapi tangannya masih bergerak mengelus elus dada bidang milik Adrien.
Adrien menempatkan wajahnya di ceruk leher Aluna mengendusnya dan mengecupnya berkali kali, tanganya masih terus bermain di bokong indah milik Aluna.
"Jangan beri tanda disana." Bisik Aluna parau.
"Ahhh kau sungguh menggoda honey. Aku rasa ingin menelanjangi mu sekarang juga." Bisik Adrien suaranya menahan nafsu.
Musik pun berakhir, Aluna langsung mendorong tubuh Adrien dari dirinya. Lampu langsung hidup begitu musik selesai. Tepuk tangan riuh oleh para tamu undangan karena sudah menyelesaikan tarian dansa mereka. Aluna kemudian beranjak dari lantai dansa, Adrien tak mau kehilangan wanita-nya itu hanya bisa mengekori saja.
"Ck Bisakah kau tidak mengikuti ku?" Dengus Aluna pada pria disampingnya itu dengan wajah tak suka. Ia berpikir bahwa mereka sudah tak ada urusan lagi. Aluna tadi hanya menjalankan aksi jahil yang sudah lama ia pendam saja tak lebih.
"Tidak, dan tidak akan. Aku akan terus mengikutimu dan mengawasimu." Tegas Adrien.
"Terserah."
Ponsel Aluna bergetar, ia pun langsung mengangkat telepon itu.
"Halo."
"....."
"Iya, sebentar lagi aku kesana."
"....."
"Taruh di meja kerja."
"....."
Aluna mematikan sambungan teleponnya.
"Kau ingin pergi kemana?"
"Aku harus kembali." Jawab Aluna apa adanya.
"Sampai bertemu lagi." Bisik Aluna tepat ditelinga Adrien kemudian mencium pipi pria itu. Adrien memejamkan matanya, menghirup aroma tubuh wanita itu yang semakin menjauh.
"Aarghhh Shit! Kau milikku Aluna, hanya milikku." Adrien berdiri dengan seringainya.
Tiba-tiba ada yang menepuk bahunya, seketika ia langsung menengok siapa yang telah mengganggunya.
"Hey kawan, kau beruntung sekali bisa berdansa dengan tuan puteri Thomas." Puji Jerry.
"Ya, kalau aku jadi kau. Sudah kubawa dia ke kamar hotel disini." Celetuk Andrew.
Sebelum kau bawa dia, dia sudah jadi milikku dan tak akan kubiarkan kau menyentuhnya sedikitpun sialan!
"Hey bung, bagaimana rasanya berdansa dengan wanita idaman itu? Ini sungguh aneh sekali biasanya ia tak pernah mau berdansa." Tanya Tommy.
"Rasanya biasa saja. Tak ada yang istimewa." Tukas Adrien.
Oh ayolah kawan, jantungku berdegup kencang, gairahku meningkat, dan juniorku menegang.
"Huh, itu tidak mungkin bung. Kalau aku diposisimu mungkin aku akan semakin tergila-gila karenanya." Tukas Andrew. Adrien hanya tersenyum kecil menanggapi ucapan Andrew itu.
Di lain tempat Aluna hanya bisa tersenyum miring mengingat kejadian beberapa menit yang lalu. Rasanya sudah lama sekali ia tidak lagi menjadi anak nakal. Lamunannya terganggu karena suara telepon yang berdering.
"......."
"......."
"Ya ya ya."
Aluna membuang nafas berat ketika saat ini ia mengingat ada beberapa masalah di perusahaannya dan tentu saja cukup merugikan.
Sekarang sampailah Aluna di rumahnya dengan segera ia masuk kedalam menuju ruangan kerjanya yang ada dirumah. Disana terlihat ada Ian yang tengah sibuk dengan laptop dihadapannya ya menyadari keberadaan majikannya.
"Maaf nona saya mengganggu anda, saya harus memberitahu masalah yang cukup serius dengan anda."
"Ya ada apa?" Aluna segera duduk di kursi kerjanya.
"Saya baru mengetahui bahwa ada beberapa ketua Direksi yang melakukan korupsi dan mereka bekerjasama dengan ketua Direksi keuangan."
"Baiklah, sebaiknya kamu cari siapa mereka dan beritahu bahwa besok kita akan mengadakan rapat bersama para ketua Direksi."
"Baik nona."
"Yasudah kamu lebih baik pulang dan istirahat, jangan terlalu dibawa fikiran. Nanti kita akan cari jalan keluarnya."
"Terimakasih nona atas sarannya."
"Saya ingin istirahat dulu, begitupun dirimu juga harus pulang."
Aluna masuk kedalam kamarnya untuk berganti baju, dan segera beristirahat.
Rasanya baru saja ia tertidur, tetapi alarm dipagi ini telah berbunyi. Wanita cantik ini baru bangun dari tidurnya. Tanpa suruhan lagi ia segera mandi untuk bekerja dikantornya.
Setelah selesai mandi, ia segera menuju ke ruang makan dan makan dengan lahapnya. Pekerjaan rumah di rumah megahnya serta mengurus baby Kevan pun tak jadi hambatan dalam pekerjaannya pagi ini. Puteranya masih tertidur lelap saat ini, diliriknya jam yang melingkar ditangannya itu dan kemudian bangkit dari duduknya menuju kantornya.
Sesampainya dikantor ia disuguhi dengan kertas-kertas yang menumpuk dimeja nya itu. Dengan segera ia menelpon asisten sekaligus sekretarisnya.
"Halo Ian, apa rapat sudah siap?"
"........"
"Ya saya langsung kesana."
Aluna pun segera menuju ke ruang rapat dimana semua orang yang diundang sudah berkumpul menunggunya.
Mereka semua diam menatap sang pemimpin serta pemilik perusahaan ini ada dihadapan mereka. Seolah bertanya 'ada apa?' dan bisa dilihat dari mereka ada yang terlihat begitu gugup.
Dengan gaya bossy ia menduduki kursi yang berada di ujung meja dan memanggil asisten yang dengan sigap berdiri disebelahnya serta memberikan beberapa dokumen yang harus dibaca.
"Ada yang ingin saya sampaikan kepada kalian sehingga kita harus mengadakan rapat ini." Ucapnya pelan.
"Saya mendapat laporan bahwa keuangan dikantor kita ada sebagian yang tidak diketahui ada dimana sekarang. Tentu kalian tau, bahwa perusahaan ini adalah perusahaan turun temurun dari keluarga saya. Berhubung saya yang memegang alih seluruh perusahaan ini dan cabang cabangnya, saya memiliki hak penuh untuk memecat diantara kalian yang sudah bermain dibelakang saya."
Dapat dilihat dari sudut mata wanita itu, diantara anak buahnya ada yang sudah berkeringat dingin, ada yang gelisah tapi coba ditutupi, ada yang melihat sinis teman lainnya dan ada juga yang rautnya tenang tapi gugup dan sedikit terkejut.
"Sepintar pintarnya kalian menyembunyikan itu semua dari saya, tetap saja akan saya temukan. Dikarenakan saya terlalu baik hati saya berikan kemudahan kepada yang melakukan ini untuk mengundurkan diri dari perusahaan saya dan jangan pernah mengajukan pekerjaan di seluruh cabang kantor saya karena tidak akan saya terima. Dan jika kalian tidak bergeming atas gertakan saya ini, lihat saja nanti akan berbahaya untuk kalian apalagi saya tidak akan melihat latarbelakang keluarga kalian dan saya tidak akan peduli mau jadi apa keluarga kalian nanti karena saya tidak bisa mentolerir lagi." Ujar Aluna tegas. Ia pun meninggalkan ruangan rapat dengan wajah dingin.
Aluna membuang nafas lelah setelah menyandarkan tubuh di kursi kejayaannya. Ia memijat pelan kepalanya karena terasa berdenyut seakan mau pecah.
'Tok tok tok'
"Masuk." Tak lama dari itu Ian masuk keruanganku.
"Maaf nona dua puluh menit lagi kita harus pergi ke Arga Corp untuk membicarakan kerjasama kita."
"Baiklah siapkan mobil dan kita akan berangkat sekarang."
"Hufft. Hari yang melelahkan seperti biasa." Aluna pun mengambil tasnya dan segera turun ke bawah untuk pergi ke Arga Corp seperti yang dikatakan oleh Ian.
Aluna kini sudah sampai di lobby dan tampaklah Ian yang sudah berdiri tegap disana.
"Biar saya saja yang pergi kesana sendiri. Lebih baik kamu segera selesaikan pekerjaan yang lain." Perintah Aluna yang segera masuk kedalam mobil.
"Baik nona." Patuh Ian.
Like and Comment guys!!