
Tepat jam tujuh malam brian datang menjemput monic, dan monic sudah siap dengan tampilan yang sangat cantik menurut brian, mengenakan dress motif floral dengan sepatu flat juga riasan natural membuat monic terlihat sangat feminim dan cantik.
"ada yang salah ya?" monic bertanya karena daritadi brian terus memandangi nya
"eh oh, nggak kok nggak ada yang salah" brian agak gelagapan ditanya begitu oleh monic
"yang bener? baju aku norak ya motifnya?"
"nggak kok, kamu cantik banget hari ini"
Monic yang dipuji begitu langsung tersipu malu
"monic, orang tua kamu lagi pergi ya?" brian bertanya karena daritadi ia tak menjumpai kedua orang tua monic
"iya mamah sama papah lagi liburan di jogja" monic menjawab
"aku minta nomor hp tante sama om dong, aku mau izin ajak kamu jalan-jalan"
entah kenapa monic merasa sangat dihargai dengan sikap brian, tapi seketika dirinya langsung sadar diri mungkin memang sifat brian seperti ini kan.
"aku udah kirim ke wa kamu" monic memberi tau brian
"ok, tunggu sebentar aku telpon papah kamu dulu ya"
kemudian brian menelpon ayahnya, dari yang ia lihat sepertinya ayahnya memberikan izin ke brian, memang brian tipe orang yang mudah akrab dengan orang lain.
"udah siap? Ayo kita pergi sekarang ya"
"papah kasih izin kan?" monic bertanya untuk memastikan
"kasih dong pastinya"jawab brian dengan penuh semangat
setelah itu keduanya bergegas masuk ke dalam mobil brian.
"sebenernya mau ajak aku kemana sih?"tanya monic
"liat aja nanti, aku harap kamu bakal suka sama tempatnya" jawab brian
"aku jadi nggak sabar mau cepet cepet sampe sana" jawab monic
"monic, soal aku mau menikahi kamu itu aku serius monic, terlepas dari apa yang sudah kita lalui monic, aku serius mau bertanggung jawab sama kamu monic" brian mencoba untuk mengutarakan keseriusannya pada monic
"mending kamu nyetir aja dulu deh, kita bicarain ini nanti ya" jawab monic
brian hanya mendengkus mendengar jawaban monic. Terlihat sekali monic masih menghindari soal pernikahan, hingga akhirnya brian mengalah dan tidak ada pembicaraan hingga mereka sampai pada lokasi yang dituju.
"Ini pantai pasir putih yang waktu itu kita kesini kan?" monic memastikan pada brian
"Iya bener" jawab brian
"aku kira kita bakal ke tempat mana gitu" monic agak bingung mengapa mereka mengunjungi tempat ini lagi
"disini ada restoran lokasi nya itu deket dari pantainya, aku ide aja ngajak kamu makan malam disana, mudah mudahan kamu suka ya" brian menjelaskan pada monic
"kalo tentang makan aku pasti suka" jawab monic dengan berbinar dan semangat
"kalo nggak enak?" jawab brian
"tetep enak dong, kecuali makanan basi baru aku nggak mau makan" jawab monic
"bagus kalo gitu, jadi kita nggak repot nanti kalau sudah nikah, sini mana tangan kamu" brian cukup senang dengan jawaban monic yang tidak pilih pilih makanan
"tangan aku mau buat ngapain?" jawab monic
"sini tangan kamu kita gandengan nggak enak kalo kita jalannya agak jauh gini" jawab brian
Sontak wajah monic langsung tersipu untung saja ini sudah gelap karena kalau tidak pasti wajahnya sudah merah, dan akhirnya ia memberikan tangan nya pada brian, mereka bergandengan tangan menuju restoran
Ternyata brian sudah reservasi satu ruangan untuk mereka berdua, monic sangat menyukai dekor ruangannya yang memberikan kesan hangat, sebenarnya ada tempat di restoran ini yang letaknya diluar jadi bisa merasakan angin pantai tapi brian menolak karena alasannya takut monic kedinginan. Mendengar itu membuat monic semakin tersipu.
"suka nggak suasana resto nya?" brian bertanya
"syukurlah, aku takut aja kalo kamu nggak suka sama apa yang aku pilih" jawab brian
"suka lah, apa yang udah orang lain kasih buat aku, aku usahakan akan tetap suka dan menghargai pemberian orang itu, karena pasti mereka tulus kan kasih semua itu buat aku" jawab monic
"kamu sering dikasih semacam hadiah atau surprise dari cowok?" tanya brian dengan waspada
"sebenernya nggak sih, hehehe" jawab monic dengan tersenyum malu
"syukurlah, omong omong sebelum kita ketemu kamu apa yang punya pacar monic?" tanya brian
"kenapa tanya-tanya?" jawab monic
"karena aku mau tau monic" jawab brian dengan waswas
"punya tadinya lalu kami putus, tapi udah aku lupain semua itu aku udah menutup itu semua, aku udah nggak perlu ingat lagi" jawab monic
"baiklah kalau begitu" jawab brian
Tidak lama kemudian makanan yang mereka pesan sudah datang, melihat makanan datang mata monic langsung berbinar dan pemandangan itu membuat brian merasa senang, entah kenapa melihat wajah monic yang berbinar adalah kesukaan brian.
"wah makanan nya keliatan enak semua loh ini" monic sangat senang melihat semua makanan yang ada diatas meja
"cobain dulu monic, takutnya nggak sesuai ekspetasi kamu" jawab brian
Padahal yang dipesan brian adalah makanan yang tergolong biasa seperti cumi asam manis, ayam rica-rica dan beberapa makanan seafood lainnya, tapi monic sepertinya sangat senang sekali.
Tanpa disangka oleh brian, monic berinisiatif untuk mengambilkan nasi untuk brian beserta lauk pauknya, sebenarnya ia biasa dilayani oleh ibunya kalau makan dirumah, tapi inisiatif monic kali ini membuat brian semakin jatuh cinta terhadap monic.
"makan yang banyak biar kuat" monic memerintah brian sebenarnya monic bercanda untuk mengakrabkan diri dengan brian dan brian sontak tertawa mendengar candaan monic
"makanan disini benar-benar enak, kapan-kapan ajak aku kesini lagi ya" monic benar-benar puas makan di restoran ini
"jadi istri aku, aku usahain seminggu sekali kita kesini" jawab brian dengan sangat enteng
"orang tuh yang dipegang omongannya loh, yakin kamu seminggu sekali mau kesini, lumayan jauh ini?" jawab monic
"berarti itu tandanya kamu bersedia nikah sama aku?" jawab brian
"ehmm ya belum tau, kan aku cuma memperingatkan aja, nanti tau-taunya pas udah nikah kamu diajak kesini malah males malesan" jawab monic
"nggak sih, pasti aku usahain konsisten sama omongan aku" jawab brian
"aku udah kenyang banget, nggak sanggup makan lagi" monic yang kekenyangan akhirnya menyerah untuk menghabiskan makanannya
"aku juga udah kenyang, kamu mau es krim?" tanya brian
"mau dong tapi tunggu sebentar ya perut aku kaya masih penuh banget ini" jawab monic
Setelah dari restoran, mereka berdua pergi ke salah satu kedai eskrim yang letaknya tidak jauh dari restoran tadi. Monic tau sebetulnya brian ada yang ingin dibicarakan tapi monic sengaja untuk diam saja. Hingga saat eskrim mereka sama-sama sudah habis tiba-tiba brian berlutut dihadapan monic.
"monic, aku minta maaf atas semua yang udah aku lakukan sama kamu, aku minta maaf karena aku yang nggak berusaha cari kamu sampai akhirnya calon anak kita harus pergi, tapi aku butuh satu kesempatan monic, aku sungguh ingin bertanggung jawab ke kamu dan aku pun mencintai kamu monic, tolong monic menikahlah dengan ku jadi istri ku dan ibu dari anak-anak kita kelak" brian mengatakan itu dengan sangat tenang
Monic yang dilamar seperti itu, tidak terasa meneteskan air mata hingga brian yang melihat itu menghapus air mata monic dari pipi menggunakan tangannya.
"maafkan aku monic, tolong jangan menangis seperti ini, aku semakin merasa bersalah monic" brian yang merasakan waswas melihat monic menangis
"aku tuh nangis karena terharu tau" monic sebal juga dengan negatif thinking nya brian
"Terus gimana? Kamu mau kan nikah sama aku? Kamu mau kan jadi istri aku?" brian bertanya dengan semangat
"Kalau kamu serius mencintai aku dan mau menikah dengan aku, temui kedua orang tua aku dan bicarakan ini dengan baik-baik sama mereka, tapi aku minta satu hal dari kamu, soal aku yang keguguran tidak usah kamu bicarakan, itu urusan kita berdua" jawab monic dengan keyakinan penuh
Brian yang mendapat jawaban seperti itu, langsung suasana hatinya menjadi sangat bahagia, akhirnya monic bersedia menjadi istrinya, bersedia menjadi pasangan hidupnya.
"love you monic, I love you" brian mengucapkan itu sambil menciumi pipi kanan dan kiri monic oh tak lupa kening pun ia cium, ketika ingin mencium bibir monic langsung menahan brian
"love you too, tapi ini tempat umum aku nggak mau diliat orang-orang pas dicium begini" jawab monic dengan sedikit merengut kepada brian
Brian ini seenaknya sekali mencium dirinya.