
"Brian kamu nggak kenapa kenapa kan? gampang banget ngomong nikah, aku sudah bilang ini bukan salah kamu sepenuhnya, aku juga bersalah, dan soal keguguran ya itu sudah takdir tuhan, aku sudah berusaha menjaga tapi apa daya tuhan berkehendak lain" monic menjelaskan
"tapi itu juga kesalahan aku, aku yang nggak bisa menahan godaan, aku yang nggak berusaha mencari kamu, seandainya aku mencari kamu mungkin anak kita sebentar lagi akan lahir kan" brian sungguh frustasi
"Brian ayolah jangan seperti ini, kamu mau menikah sama aku karena rasa bersalah kamu aja kan?" tanya monic
"nggak monic" jawab brian
"terus karena apa?" tanya monic
"aku mau menikahi kamu karena aku memang mencintai kamu, dari awal kita ketemu" brian menjawab
monic hanya bisa diam ketika brian mengatakan bahwa ia mencintainya, di dalam hatinya memang ia merasa senang, tapi ada keraguan didalam hatinya, apalagi brian adalah orang yang baru ia temui, ia tidak ingin merasakan sakit hati lagi.
"monic, aku ingin bertemu sama kedua orang tua mu" brian mengucapkan itu dengan sangat enteng
"mau ngapain ketemu orang tua ku?" monic menjawab dengan sangat hati-hati
"aku mau meminta maaf atas semua perbuatan aku ke kamu monic, aku menyesal dengan apa yang telah terjadi" brian menjelaskan
"kita akan ketemu, tapi waktunya aku nggak tau kapan, yang pasti tidak sekarang" jawab monic
tiba-tiba saja brian bangkit dari tempat duduknya dan berlutut di depan monic.
"monic, ayo menikahlah dengan ku, ayo kita mengukir kehidupan yang lebih baik lagi, aku mencintai kamu monic, jadilah istriku, jadilah pendamping hidup ku selamanya sampai kita terpisah dari maut" brian melamar monic
monic yang sudah susah payah untuk bersikap biasa saja tapi tetap saja meneteskan air mata. Sungguh dilamar seperti ini memang ada di dalam bayangannya selama ini, ia tidak menyangka kejadian seperti ini akan menjadi nyata.
Hingga kurang lebih 10 menit brian berlutut pada monic, monic masih diam saja, hingga akhirnya brian menanyakan apakah ia baik-baik saja.
"monic, kamu baik-baik aja kan? aku nunggu jawaban kamu" tanya brian
"eh, oh iya aku ehm aku belum bisa jawab brian, ini terlalu cepat buat aku" jawab monic
"kamu butuh waktu sampai kapan monic?" tanya brian
"aku nggak tau brian, tiba-tiba kamu ngajak nikah ini betul-betul terlalu cepat buat aku" jawab monic
"baiklah, kamu memang butuh waktu, aku akan tunggu kamu monic" jawab brian dengan yakin
"mungkin ada wanita lain yang lebih baik dari aku buat kamu brian, jangan tunggu aku" jawab monic
"kamu yang terbaik buat aku monic, aku cuma akan menikahi satu wanita yaitu kamu. jika aku menikah, yang akan aku nikahi itu cuma kamu monic bukan orang lain" brian menjelaskan dengan sangat yakin
"aku butuh waktu brian, aku belum yakin dengan kamu" jawab monic
"ok, aku akan berusaha meyakinkan kamu juga dengan kedua orang tua kamu" jawab brian
setelah mengatakan itu brian bertanya pada monic.
"ehm monic, aku boleh izin sesuatu sama kamu?" tanya brian
"izin apa?" monic keheranan dengan pertanyaan brian
"aku mau cium pipi kamu bolehkah?" brian bertanya
Seketika wajah monic memerah karena permohonan dari brian, dan monic pun akhirnya mengangguk tanda persetujuan.
Brian mencium pipi kanan monic, sekitar sepuluh detik ciuman dari brian di pipi kanan monic, monic bisa mendengar detak jantung brian, begitu pun monic yang tidak kalah degdegan nya.
Tidak terasa brian lalu bertanya padanya.
"mau jalan-jalan sebentar sebelum pulang? Ini masih jam 8" brian bertanya
"boleh, bawa aku ke tempat yang cakep pokoknya nggak mau tau" jawab monic
"siapp tuan putri" jawab brian, lalu keduanya pun tertawa
ternyata brian mengajak monic ke kawasan PIK 2, Suasana malam hari di PIK 2 sangat indah, banyak cafe cafe bernuansa korea. Sungguh, monica sangat senang mengunjungi tempat ini.
Saat ini keduanya sedang berjalan jalan mengelilingi cafe-cafe sambil melihat mana cafe yang cocok untuk mereka.
"bagus juga ide kamu bawa aku kesini" monic memuji ide brian
"aku suka kesini monic, kawasan baru tapi ini cocok buat aku" brian menjelaskan
"sering ya kesini?" tanya monic
"lumayan, kalau lagi suntuk aku kesini" jawab brian
"sama siapa biasanya?" monic bertanya
"sendiri aja, aku nggak punya banyak teman monic" jawab brian
"dulu punya, tiga tahun lalu, terus nggak pernah punya pacar lagi sampe aku ketemu kamu sekarang" jawab brian
"ohh gitu" monic menjawab
lalu keduanya memilih salah satu cafe yang bernuansa korea dan memilih tempat duduk diluar agar bisa merasakan angin pantai yang sejuk.
saat mereka duduk anginnya cukup kencang, hingga membuat rambut monik berterbangan. Pemandangan itu membuat brian terpana dengan penampilan monic. Sungguh ia merasakan kebahagiaan saat melihat monic, hingga tak sadar pesanan mereka sudah datang
"ternyata kamu suka ramen juga ya, biasanya cuman cewek cewek nih yang suka ramen" monic menjelaskan
"aku bukan tipe orang yang pilih pilih makanan monic, kalau lidah ku cocok ya aku makan" jawab brian
"ehmm ini masih panas banget brian ramennya"monic mengeluh
"pelan pelan makanya, jangan buru buru langsung masuk mulut, ditiup dulu" jawab brian
"ehmmm tapi kuahnya enak banget, sumpah ini tuh baru pertama kali aku kesini terus nyobain ramen seenak ini" monic menjelaskan dengan semangat
"kamu kayanya emang penyuka ramen ya?" tanya brian
"suka banget, aku penyuka semua makanan korea" jawab monic
"udah pernah ke korea?"tanya brian
"belum, kenapa emangnya?" jawab monic
"bagus, nanti kita bulan madu nya di korea ya" jawab brian
"yakin banget kamu bakal nikah sama aku" jawab monic
"aku yakin monic, aku nggak main-main sama kamu" jawab brian
"yaa bolehlah ke korea juga, nanti kita kulineran disana plus harus ke namsan tower juga" jawab monic
"habiskan ramennya, habis ini aku mau ajak kamu ke suatu tempat" perintah dari brian
"jangan lupa sebelum jam 12 aku udah harus dirumah ya" jawab monic
"siapp" jawab brian
keduanya pun asyik menghabiskan ramennya masing-masing. Hingga kemudian brian segera mengajak monic ke tempat lain
"sudah selesai kan? Ayo kita pergi" kata brian
"aku kenyang banget deh, nggak kuat jalan rasanya" jawab monic
"gendong ya" brian mencoba menawarkan
"alah kaya kuat aja sih kamu" monic mencibir brian
"kuat aku, sini aku gendong kalo nggak percaya"jawab brian
"ah nggak usah, yaudah ayo kita berangkat" jawab monic
ternyata brian mengajaknya ke pasir putih PIK 2 disini tidak terlalu ramai, tapi angin pantainya lumayan kencang. Keduanya jalan-jalan santai di sekitar pasir putih, hingga kemudian brian mengajaknya berbicara
"ehm, monic bolehkah aku pegang perut kamu?" tanya brian
"kenapa emang mau pegang perut?" jawab monic
"anak kita pernah tumbuh disini kan?" brian mengucapkan itu dengan sedikit terisak dan tangan brian menyentuh perut monic
Monic yang merasakan tangan brian di perutnya hanya diam saja, ia merasakan kenyamanan juga kehangatan dengan sikap brian.
"brian, sudah jangan menangis terus" monic mencoba menenangkan brian
"aku sedih monic" jawab brian
"sudah brian, kita harus semangat untuk kedepannya" jawab monic
"ah iya, maaf monic aku menyusahkan kamu" jawab brian
"sstt, sudah jangan bicara seperti itu lagi, ayo kita berusaha untuk hidup lebih baik lagi" monic mencoba menyemangati brian, tanpa terasa telunjuk monic berada di bibir brian, dan seketika monic menurunkan jari telunjuk nya.
Mereka berdua bertatapan hingga akhirnya brian mendekat, dan tentu monic tau apa yang akan dilakukan brian, ia ingin mencegah tapi terlambat, brian sudah mencium bibirnya, walau tidak lama tapi ciuman dari brian membuat jantungnya berdebar tidak karuan.
"ayo pulang"monic mengajak pergi brian karena salah tingkah
"I love you monic" kata kata dari brian membuat monic lemas seketika.