
Brian seperti anak SMA yang sedang jatuh cinta, ya memang dirinya saat ini sedang jatuh cinta. Tapi entah mengapa ia merasa seperti anak SMA yang sedang jatuh cinta, perasaan deg degan yang semestinya tidak ada tapi malah ia rasakan. Apalagi saat ia menerima pesan masuk dari monic yang mengirimkan lokasi nya, ia merasa sangat senang.
Hari ini brian menggunakan kemeja yang lengannya digulung hingga siku dan celana levis juga dilengkapi dengan sepatu yang membuatnya terlihat sangat gagah, dan juga dengan kacamata hitam membuat ia semakin terlihat tampan. Brian datang menjemput monic dengan menggunakan mobil kesayangannya mercedes benz Gls 450 berwarna hitam. Kurang lebih 30 menit sampailah ia yang sepertinya ini rumah monic.
Me : aku udah sampe, kamu udah siap?
Brian mengirimkan pesan pada monic, tapi lima menit ia menunggu tidak ada balasan, akhirnya ia memutuskan untuk keluar dari mobil dan mencoba untuk bertanya pada satpam yang menunggu rumah tersebut, menanyakan apakah benar ini rumah monic.
"Permisi pak, saya mau tanya benar ini rumahnya monica?" tanya brian
"Oh non monic ya, iya bener mas, mas nya mau ketemu sama non monic?" jawab satpam tersebut
"iya pak, saya udah janjian sama monic" jawab brian
"yaudah pak saya bukain gerbang nya, mobil nya bawa masuk aja pak" jawab satpam tersebut
"ok pak" jawab brian dengan sumringah
Ketika brian sudah memakirkan mobilnya, monic belum juga membalas pesannya, hingga akhirnya ia bertemu dengan kedua orang tua monic.
"maaf bapak dan ibu, saya mau bertemu sm monica kebetulan kami udah janjian hari ini" brian menjelaskan maksud kedatangan nya pada kedua orang tua monic.
Sebetulnya ia agak gugup berhadapan dengan kedua orang tua monic, bukannya apa, yang membuat ia takut adalah karena apa yang telah ia lakukan pada monic enam bulan lalu, sungguh ia merasa bersalah sekali.
"nak brian ini temennya monic? Tanya kartika
"Iya tante, saya temannya monic" jawab brian terpaksa ia harus berbohong, karena sangat rumit menjelaskan keadaan yang sebenarnya
"kenal monic sejak kapan nak" tanya steven
"sudah enam bulan ini om, saya kenal dengan monic" jawab brian
perasaan monic menjadi tidak karuan karena diberi tau bahwa brian sudah berada di ruang tamu sedang ngobrol bersama dengan kedua orang tuanya, seketika ia menyesal karena tidak langsung membalas pesan dari brian. Sudah 15 menit brian berada dirumahnya dan brian tampak akrab dengan kedua orangtuanya, akhirnya dengan perasaan yang tidak karuan ia akhirnya keluar dari kamarnya untuk menemui brian.
"nah itu monicnya udah siap" kartika yang melihat monic sudah keluar langsung berseru
Brian terpana melihat monic begitu terlihat sexy dengan dress hitam selutut dengan heels yang tidak terlalu tinggi membuat penampilannya simple dan sexy.
"maaf ya brian nunggu lama" monica mencoba basa basi dengan brian
"gapapa monic, aku juga belum lama kok" jawab brian
"ayo bri, kita berangkat sekarang aja" monica mengajak brian untuk segera berangkat
"ok, om dan tante kami pamit dulu ya" brian berpamitan pada kedua orang tua monic
"brian, om nggak boleh ya kalau monic sampe pulang diatas jam 12 malam"steven memperingatkan brian
"siap om sebelum jam 12 saya pastikan monic sudah sampai disini" jawab brian
"yasudah hati-hati kalian berdua ya" jawab kartika dan steven
"terima kasih om tante" jawab brian
ketika monic dan brian sudah di dalam mobil, brian mencoba membuka obrolan dengan monica, karena monic terlihat seperti orang yang gugup.
"kamu yakin mau ke cafe piazza aja, nggak mau ke tempat yang lain?" tanya brian
"ke tempat lain itu maksudnya ke hotel?" jawab monic dengan sedikit agak jutek.
"aku cuma menawarkan tempat lain, kenapa kamu langsung membahas hotel? Kamu mau mengulang lagi?"tanya brian
"ok kalo gitu" jawab brian
akhirnya mereka berdua telah sampai di cafe piazza.
"monic, sebenarnya banyak yang mau aku bicarakan sama kamu" brian yang membuka pembicaraan
"yaudah ngomong aja" jawab monic
"kamu seperti ini kaya orang yang lagi marah monic" jawab brian
"gue nggak marah kok, sorry kalo gue kurang ramah sama lu" jawab monic
"ok deh, sebetulnya disini aku mau minta maaf sama kamu terkait kejadian enam bulan lalu" brian mulai mengutarakan maksudnya
"bukan salah lo sepenuhnya kan, itu gue yang ngajak" jawab monic
"iya, seharusnya aku nggak tergiur dengan ajakan kamu waktu itu, dan paginya bahkan kamu pergi gitu aja tanpa nunggu aku, kamu juga nggak meninggalkan nomor hp atau apapun supaya bisa aku hubungi" brian seperti butuh penjelasan
"itu yang pertama kali buat aku, aku nggak pernah melakukan itu dengan laki laki lain, aku takut makanya aku buru-buru pergi" jawab monic
"monic aku sungguh minta maaf" jawab brian
"iya brian tidak apa-apa, sudah berlalu juga" jawab monic
"dalam enam bulan ini aku terus mikirin kamu monic, aku kepikiran bagaimana kalau kamu hamil" keluh kesah brian ia utarakan semua
"aku boleh jujur brian?" jawab monic
"tentu monic, ada apa?" jawab brian
"ehm, sebenarnya satu bulan sesudah kejadian itu, aku hamil brian" jawab monic
Brian yang mendengar kata hamil langsung kaget dan memotong perkataan monic
"lalu sekarang kamu kemanakan anakku" tanya brian
"pas di usia kandungan 8 minggu aku keguguran brian, karena aku stress" jawab monic
"aku kebingungan brian, kedua orang tuaku sama sekali tidak mengetahui soal ini, saat keguguran aku bilang aku ada acara jalan jalan bersama tasya ke bali selama satu bulan" monic masih memberi penjelasan
brian seperti merasakan dihantam benda keras mendengar penjelasan dari monic hingga tanpa terasa air matanya menetes, sungguh dirinya sangat menyesal dengan apa yang sudah ia perbuat.
"monic, aku benar-benar minta maaf, aku sungguh minta maaf sama kamu" brian mengucapkan permintaan maaf sambil terisak dan dengan suara gemetar.
"itu sudah berlalu brian, seperti yang aku bilang, itu juga kesalahan ku, nggak sepenuhnya salah kamu" monic memberi penjelasan.
"oiya brian, aku punya ini, siapa tau kamu mau lihat" monic mengeluarkan satu hasil usg yang masih disimpannya sebagai kenang-kenangan.
"itu hasil usg, sengaja aku masih simpen siapa tau kamu mau lihat, sebenernya aku juga punya satu, aku taruh di dompet, kalo kangen tinggal liat aja jadinya"monic menjelaskan
Brian yang melihat hasil usg tersebut semakin gemetar tangannya, namun saat melihat hasil usg tersebut ada kedamaian juga penyesalan didalam hatinya, hingga ia terus mengulang ulang permohonan maaf nya pada monic.
"semua sudah berlalu brian, ayo kita hidup lebih baik lagi" monic mencoba menenangkan brian yang masih terisak.
Sekitar sepuluh menit akhirnya brian bisa menenangkan dirinya. Hingga kemudian ia memberanikan diri untuk mengeluarkan permintaan nya pada monic.
"monic, tolong menikahlah denganku, ayo kita hidup bersama, hidup untuk menjadi lebih baik lagi, aku ingin kamu jadi istri aku monic" brian mengeluarkan permintaannya.
"hah, menikah?"monic sungguh kaget dengan ajakan brian.