OBSESSED WITH HEART

OBSESSED WITH HEART
BAD DREAM



Malam minggu adalah malam dimana orang-orang merasa bebas dan banyak menghabiskan waktu karena keesokan harinya adalah hari libur. Sebab itu, di malam minggu lebih ramai ketimbang malam-malam biasanya. Seolah malam minggu adalah malam khusus dan istimewa.


Orang-orang akan bebas menghabiskan waktu mereka tanpa takut jika keesokannya akan bangun telat. Jalan-jalan, rumah makan, taman bermain, bahkan mall pun menjadi lebih ramai dari biasanya.


Dari salah satu toko pakaian, Hanni keluar usai membeli beberapa lembar baju. Tak beda dari orang lain, Hanni juga gemar menghabiskan malam minggunya di luar rumah. Bahkan terkadang hingga larut malam. Berbagai kegiatan ia lakukan. Entah itu shopping, mengunjungi taman bermain malam, atau mendatangi bioskop.


Ia ditemani oleh asisten rumah tangganya yang berjalan di belakang, membawa tas-tas berisis belanjaan Hanni. Hanni belum merasa puas, ia melanjutkan mengitari mall.


Di mall yang sama, Dika juga sedang menghabiskan malam minggunya dengan menonton di bioskop. Ia baru saja keluar dari bioskop setelah menonton film horror.


“Memangnya ada yah hantu yang bentuknya seperti itu?” kata Dika yang bergidik seram. Aslinya, ia memang seorang penakut.


“Bahkan ada yang lebih seram lagi, tuan muda,” timpal lelaki yang berjalan di belakangnya. Dia adalah Suryo, supir di rumahnya.


“Lo jangan buat gue tambah takut, dong,” ujar Dika. “Bisa-bisa gue nggak berani tidur sendiri,” sambungnya.


“Kenapa tidak menginap di rumah saja?” tanya Suryo.


“Gue lebih nyaman di asrama,” jawab Dika.


Dika sebenarnya anak orang kaya. Namun, ia tidak suka hidup terlalu mewah dan senang hidup apa adanya. Orang selalu mengira ia tidak mampu sehingga tinggal di asrama. Padahal, ia sangat berkecukupan.


Mata Dika menangkap sesosok wanita yang ia kenal, Hanni. Ia meninggalkan Suryo untuk menghampiri Hanni.


“Hai !” sapa Dika, berdiri di hadapan Hanni. Sedangkan Hanni malah mencoba menghindar dan tidak mempedulikan Dika.


Suryo menyusul Dika. “Mas... Kita masih mau lanjut atau langsung kembali saja?” tanyanya. “Ini siapa, Mas?” tanyanya, melihat gadis yang dihadang oleh Dika.


“Mas? Cowok lo?” celetuk Hanni. "Kenapa kali ini gue jijik yah..." gumamnya.


“Hah?” Suryo dan Dika saling pandang. Semenit kemudian mereka baru mengerti maksud Hanni. Sontak keduanya saling menjauh dan memasang wajah jijik satu sama lain.


Hanni menaikkan alisnya. “Heran yah, zaman sekarang. Cowok lebih demen ama cowok,”


“Jangan salah paham, Han. Yakali, gue tampan gini minat ama cowok juga,” sanggah Dika dengan pedenya.


“Dih... nggak usah bohong. Udah biasa kali zaman sekarang. Yang ganteng lebih minat ama yang ganteng. Kayak di drama-drama bl tuh,” lontar Hanni.


“Meskipun gue ini ganteng seperti Bright Vachirawit, tapi bukan berarti gue gay juga,” balas Dika.


“Pede bener lu.”


“Maaf, Mbak. Saya ini su…”


Dika membungkam mulut Suryo dengan tangannya. “Dia adik sepupu gue. Wajar dong, panggil gue Mas,” jelasnya.


“Ohhh...” tatapan Hanni masih menaruh curiga pada Dika.


“Lu ngapain disini?” tanya Dika. Hanni menunjukkan belanjaannya yang dibawa oleh asisten rumah tangganya. Dia pun bersungut-sungut.


“Adik sepupu gue lagi ultah nih, dia lagi bagi-bagi kebaikan. Lu pilih aja. Anggap hadian dari gue,” ujar Dika, merangkul Suryo.


“Saya mana ada uang, Mas,” bisik Suryo.


“Gue yang bayar. Tapi gue nggak mau dia tahu identitas gue,” bisik Dika.


“Dih, yang ultah siapa coba. Lagian gue bisa beli sendiri,” tolak Hanni.


“Nggak usah malu-malu...”


Dika menarik tangan Hanni masuk ke toko pakaian di dekat mereka. Ia berkeliling mencari baju yang pas untuk Hanni, tanpa melepas tangan Hanni.


“Lo kenapa, sih?” Hanni menghempas tangan Dika yang menggengam tangannya. “Udahlah lo bilang suka sama gue, sekarang lo maksa gue juga.”


“Emang gue suka sama lo,” aku Dika, menatap Hanni. “Jihan Maharani Atmajaya, Gue suka sama lo,” tegas Dika.


Hanni terdiam menatap Dika. Baru kali ini ada lelaki yang berani mendekatinya. Bahkan menyebut namanya dengan lengkap.


“Iss.. Aneh banget sih, bodo ahh. Udah, jangan ganggu gue !” Hanni pergi meninggalkan Dika dengan hati kesal.


“Gimana, Mas?” celetuk Suryo dari belakang Dika. Dika mengangkat bahunya sambil menghela nafas.


~*~


Anak lelaki itu sedang belajar di kamarnya. Tiba-tiba terdengar suara wanita berteriak-teriak dari luar. Sang anak menutup buku dan cepat-cepat bersembunyi di bawah kasur. Pintunya digedor-gedor oleh wanita itu. Sang anak


bergetar karena takut.


Wanita itu pun berhasil membuka pintu dan masuk ke kamar sang anak. Anak kecil itu dapat melihat high heel yang digunakan sang wanita. Getaran ditubuhnya makin kuat. Wanita itu masih berteriak-teriak memintanya keluar dari persembunyian. Bulir-bulir air mata mulai membasahi kelopak matanya. Ia membungkam mulutnya dengan kedua tangannya.


“Hyunkai ! keluar kamu !” jerit wanita itu melengking, seraya memeriksa seluruh sudut ruang kamar.


Sang anak yang bersembunyi di bawah ranjang semakin bergetar hebat. Air matanya semakin deras. Wanita itu terus berteriak hingga sang anak amat ketakutan dan menutup kedua telingannya.


“Eomma… Ampun !” teriak Kai saat wanita itu berhasil mendapatinya dan menarik paksa ia keluar dari kolong ranjang.


Tak peduli dengan jeritan dan tangis sang anak, wanita yang


“Sudah kukatakan jangan panggil aku ibu ! aku bukan ibumu. Panggil aku nuna,” berang sang ibu. Ia lalu memukuli bagian belakang tubuh Kai dengan kayu yang dibawanya.


Kai terus menjerit meminta ampun. Tapi wanita itu benar-benar diburu emosi sehingga ia tak dapat mendengar tangis anaknya sendiri. Setiap Kai memanggilnya “eomma” ia akan semakin keras memukul Kai. Sampai saat ia


mendengar kata “nuna” keluar dari bibir Kai, ia baru menghentikan pukulannya.


Tapi tak sampai disitu, ia menarik Kai kecil masuk ke kamar mandi. Didudukkannya tubuh Kai tepat di bawah shower. Kemudian ia menyalakan shower dan dibiarkannya air mengguyur tubuh mungil Kai.


“Harusnya kau memang tidak pernah lahir. Kau itu hanya sebuah kesalahan. Kau... dan ayahmu yang pengecut itu, harusnya tak pernah hadir dalam hidupku. Hidupku hancur karena kalian,” ujar ibunya. Ia terduduk menyandar di dinding dengan kedua tangan menutupi wajahnya yang basah oleh air mata.


“Nuna... Mianhamnida,” ucap Kai dengan suara bergetar karena tubuhnya yang kedinginan.


Nenek Kai datang. Ia sangat terkejut melihat Kai basah kuyup. Saking menggigilnya, bukan hanya tubuhnya yang bergetar, tapi wajah, tangan dan kakinya pun ikut pucat.


“Omo !” Ia langsung mematikan shower. Disambarnya handuk yang tergantung dan langsung membalut tubuh Kai.


“Yoo-Jin, apa yang kau lakukan pada putramu?” tanyanya setengah berteriak.


Ibunya tak menjawab apa-apa. Ia bangkit lalu meninggalkan Kai dan neneknya.


“Eomma… Eomma…”


Kai terus berteriak memanggil ibunya. Akan tetapi, sang ibu tetap berjalan meninggalkannya tanpa menghiraukan sedikitpun.


~*~


“Eomma…”


Kai terbangun dari tidurnya dan mendapati dirinya ada di kamarnya yang sekarang. Rupanya, tadi hanyalah mimpi. Kai mengusap wajahnya. Ia termenung sebentar. Ingatan-ingatan tentang ibunya seolah tak bisa lepas


darinya. Tak bisa ia lupakan sedikitpun. bahkan menjadi mimpi terburuk yang pernah ia lalui.


“Kai...” teriak Bu Ranti dan Pak Regar saat memasuki kamar Kai. “Are you okay?” tanya Bu Ranti, duduk di pinggi kasur menghadap Kai.


“I am okay,” jawab Kai singkat. Ia kembali berbaring dan menarik selimutnya menutupi seluruh tubuhnya. Ia tak peduli dengan kehadiran Bu Ranti dan Pak Regar yang datang karena mendengar teriakannya.


“Kamu bermimpi buruk lagi?” tanya Pak Regar. Tak ada balasan dari Kai. Ia justru berpura-pura tertidur.


“Kai, kalau kamu butuh pertolongan, kamu bisa bilang ke kami. Mimpi buruk terus-terusan itu juga tidak bagus untuk kesehatan mental,” ujar Bu Ranti.


Tak ada respon yang datang dari Kai. Bu Ranti dan Par Regar hanya bisa menghela nafas, pasrah. Karakter Kai memang sangat keras.


“Jangan lupa baca doa lagi sebelum tidur,” pesan Bu Ranti, sesaat sebelum ia dan Pak Regar keluar dari kamar Kai.


“Untuk apa aku baca doa ?” batin Kai.


“Huftt...” Kai membuka selimut yang membungkus badannya usai Bu Ranti dan Pak Regar keluar. Ia menyalakan lampu tidur di atas nakas samping kasurnya. Lalu ia bangkit, berjalan menuju meja belajar. Ia menyalakan laptop. Ia mencari sesuatu di internet.


Di luar kamar, Bu Ranti dan Pak Regar sedang berbicara satu sama lain. Membahas masalah Kai. Mereka tak sadar ketika Rey tanpa sengaja mendengar obrolan mereka.


“Bagaimana kalau kita bawa saja di ke psikiater?” usul Bu Ranti.


“Itu juga yang sudah lama aku pikirkan. Tapi, kamu tahu sendiri bagaimana sifat Kai. Ia sangat keras kepala dan tidak mau orang lain mencampuri urusannya,” ujar Pak Regar.


“Tapi, mimpi buruknya itu...” Bu Ranti tak langsung melanjutkan ucapannya. Ia menatap suaminya. “Apakah karena Yoo-Jin?” sambungnya, tak lama kemudian.


“Aku tak tahu apa yang telah dilalui anak itu. Ini semua salahku,” ucap Pak Regar, penuh penyesalan.


“Sudahlah. Apa yang sudah terjadi tak bisa diulang kembali. Nanti aku tanya pada dokter Herman, bagaimana caranya agar Kai mau ke psikiater,” ucap Bu Ranti.


Rey keluar dari kamarnya.


“Belum tidur?” tanya Ibunya. Rey menggeleng. “Kenapa? Sudah jam 11 lewat loh.”


“Aku mau makan,” Jawab Rey. Ia tak memberitahu apapun kalau ia mendengar pembicaraan kedua orangtuanya.


“Rey... Rey... Jangan terlalu sering makan telat,” pesan Ayahnya. Rey hanya tertawa lalu ia turun ke dapur.


Di dapur, Rey sedang memanaskan air untuk memasak mie instan. Ia terus berfikir tentang obrolan orangtuanya yang ia dengar tadi. Rasa penasarannya tentang diri Kai muncul. Selama ini, ia tak pernah peduli dengan sosok Kai di rumahnya. Tapi kali ini, ia merasa seperti ada yang disembunyikan darinya. Hatinya terus bertanya, siapa Kai? Ada apa dengannya?. Sampai suara Bik Murni mengejutkannya.


“Mas... Itu airnya sudah mendidih,” ucap Bik Murni.


“Ahh... Iya,” balas Rey sembari memasukkan mie ke dalam air.


“Makan kok baru sekarang? Kenapa tidak bangunkan Bibik. Biar Bibik masakkan sesuatu. Supanya tidak makan mie instan lagi,” ujar Bik Murni tetapi tak didengar oleh Rey yang sibuk dengan fikirannya.


Bik Murni mengeryitkan dahi ketika melihar Rey bengong. “Mas...” panggilnya dari jarak dekat.


“Iya...” balas Rey, terkejut.


“Ada apa? Malam-malam melamun? Awas loh ntar ditempelin jin,” ujar Bik Murni.


“Nggak kenapa-napa, Bik,” balas Rey, Ia lalu menyelesaikan memasak mie dan cepat-cepat kembali ke kamar.