OBSESSED WITH HEART

OBSESSED WITH HEART
BE THE NEW FRIEND



Sekolah bertingkat 4 ini menggunakan lift untuk menghubungkan antara lantai yang satu dengan lainnya. Dan setiap lantai terdapat dua lift. Sekolah memang menfasilitasi para muridnya dengan fasilitas yang berbasis teknologi dan canggih. Benar-benar sebuah sekolah tingkatan atas yang modern.


Di atas pintu lift ada sebuah kamera sensor. Kamera itu akan menyensor siapa saja yang akan menaiki lift. Hanya yang namanya terdaftar sebagai anggota sekolah lah yang bisa masuk ke lift. Hal ini dilakukan pihak


sekolah untuk mencegah adanya tindak kejahatan.


Untuk orang yang tidak terdaftar, masih dapat memakai lift asalkan didampingi oleh orang yang terdaftar dan memiliki izin dari pihak sekolah yang telah dikonfirmasikan di resepsionis terlebih dahulu. Sistem ini tak hanya ada di gedung sekolah namun juga pada gedung asrama putra dan putri dengan tingkat keamanan yang lebih tinggi.


Kai sedang menunggu lift, ketika ada seseorang yang tiba-tiba merangkulnya dari belakang. Kai yang amat terkejut itupun sontak mendorong orang tersebut dengan kuat hingga ia terjatuh. Rupanya seorang anak lelaki dari kelas yang sama dengan Kai. Kai pun teringat, anak itu duduk di bangku paling depan di barisan yang sama dengannya. Kai melirik nametag yang terpasang di seragamnya. Namanya Deandra Dika.


“Awww… santai dong, bro!” ucap anak itu dengan mengusap-usap bokongnya yang sakit, sambil berusaha berdiri.


Kai tak memperdulikannya. Pintu lift terbuka dan Kai segera masuk. Sadar pintu lift akan segera tertutup, Dika langsung menerobos masuk. Hampir saja tubuhnya tersangkut di pintu. Ia menghela nafas lega. Diliriknya Kai yang berdiri di sampingnya. Dahinya mengeryit aneh. Kai sama sekali tak mempedulikannya seakan hanya dirinyalah di dalam lift.


Dika memberanikan diri menyapa Kai. “Hai! Lo Kai, kan?” tanyanya. Kai tak menjawab. Dika pun bergumam sendiri memaki kebodohannya. Padahal Kai sudah memperkenalkan namanya di kelas, dan Dika menanyakannya kembali.


“Ehmm… Gue Dika. Teman sekelas lo.” Dika mengulurkan tangannya pada Kai. Sama saja, Kai juga tak meresponnya lebih. Ia hanya melirik sebentar ke arah Dika.


Lift pun sampai di lantai satu. Kai bergegas keluar setelah pintu lift terbuka. Dika masih terbengong karena dirinya tak di respon oleh Kai. Ia menggeleng-gelengkan kepala sambil bertepuk tangan.


“Wow… Sungguh pribadi yang sedingin kutub utara,” gumamnya. Lagi-lagi, ia hampir saja terjepit di pintu lift. Ia berlari dengan mengenyampingkan tubuhnya agar dapat melewati pintu yang sudah tinggal sedikit lagi tertutup.


“Huh… untung saja,” ucap Dika.


Kai sedang berdiri di depan pintu gedung yang terbuat dari kaca, memperhatikan Dika. Ketika Dika melirik kepadanya, Kai langsung berjalan pergi. Dika mengejar Kai sambil terus memanggil-manggil namanya. Kai malah memasang airpods di telinganya. Dika berhenti di tempat parkir kendaraan kemudian menaiki motornya.


“Hei!” Dika memelankan motornya dan mengikuti Kai di sampingnya.


“Jangan dekat-dekat!” tegas Kai seraya menjauh.


“Woy bro, gue bukan kuman kali,” ucap Dika yang malah tambah mengikuti Kai. “Gue mau jadi teman lu,” tambahnya. Kai tak peduli dan kembali berjalan.


Sampai di gerbang, Kai melihat dari kejauhan Rey dan seorang wanita paruh baya sedang mengobrol di depan sebuah mobil. Kai memperhatikan mereka sedikit lama. Rey tiba-tiba melirik ke arah Kai diikuti oleh wanita tersebut. Cepat-cepat Kai berjalan ke arah yang berlawanan, membelakangi kedua orang itu. Dan Dika masih mengikutinya sambil terus berusaha mengajak Kai berbicara. Wanita yang mengobrol dengan Rey tadi mengejar Kai.


“Kai! Kai!” panggilnya. Kai mempercepat langkahnya agar wanita itu tak berhasil mengejarnya. “Kai! Ayo pulang!” teriak wanita itu.


“Bro, ada ibu-ibu yang manggil lu tuh,” cakap Dika. Kai menengok kepadanya. Tiba-tiba ia naik ke motor Dika.


“Buruan!” ucapnya.


“Kemana?” tanya Dika.


“Kemana aja. Yang penting pergi dari sini,” jawab Kai. Ia menengok ke belakang. Wanita itu sudah hampir mendekati mereka.


Dika pun menyalakan motornya dan melaju dengan cepat. Wanita itu  berhenti mengejar. Beberapa saat kemudian, mobil yang ia kendarai tadi berhenti di sampingnya. Rey keluar dari mobil tersebut.


“Ma… Ayo pulang,” ucap Rey.


“Kira-kira Kai mau kemana yah, Rey?” tanya wanita tersebut yang merupakan ibu Rey.


“Sudahlah Ma. Biarkan saja dia sesuka hatinya. Ngapain kita mau ngurusin,” jawab Rey dengan wajah kesal, kesal pada Kai yang membuat ibunya letih karena mengejar Kai.


“Nggak boleh gitu, Rey. Mama nggak pernah ngajarin kamu seperti itu yah,” ucap sang ibu. Rey tak berkata-kata lagi. Ia membuka pintu mobil untuk ibunya. Setelah sang ibu masuk, Rey juga menyusul masuk ke dalam mobil.


Dika menghentikan motornya di depan sebuah cafe. Kai pun turun dari motor. Tanpa berucap terima kasih, ia berjalan meninggalkan Dika. Tapi, Dika tak menyerah. Ia kembali mengikuti Kai. Sampai Kai tiba-tiba berhenti, maka Dika pun ikut berhenti.


“Thanks...” ucap Kai. Akan tetapi tanpa ekspresi.


“Yaelah bro, santai aja.” Dika memukul pundak Kai. Kai terdiam karena bingung. Ia sedari tadi tak merespon bahkan tak mempedulikan Dika, namun Dika tetap terlihat santai malah terus mengikutinya.


“Lo mau dibalas pakai apa?” tanya Kai. Ia mengeluarkan dompet dari saku celananya. Kemudian menyodorkan beberapa lembar uang 100.000 rupiah pada Dika.


Mata Dika melotot. Ia tertawa. “Woy bro. Gue cuman mau jadi temen lu. Gue nggak kekuarangan duit kali. Tapi kalau lu mau, lu bisa traktir gue. Tuh ada cafe,” ujar Dika.


Kai menengok ke belakang. “Oke,” katanya. Dika langsung memarkirkan motornya. Ia menarik tangan Kai masuk ke dalam cafe.


“Mbak!” Dika mengangkat tangan memanggil seorang waitress.


“Lu mau pesan apa?” tanya Dika saat waitress tersebut memberika buku menu pada mereka.


“Nggak. Gue nggak mau pesan apa-apa. Lu aja,” jawab Kai.


“Ayolah bro. Masa iya cuman gue yang minum. Lu pesen apaan gitu. Lu suka capuchino nggak ? Atau mau latte ?”


“Nggak.”


“Yaudah gue pesankan lo mocachino aja. Sama seperti gue. Mbak mocachinonya dua yah. Oh yah mbak, sekalian dong sama kue red velvetnya.”


“Oke. Ditunggu yah, mas.” Ucap sang waitress. Kemudian ia pergi ke dapur.


“Bro! Perasaan lu dari tadi diem aja. Ngomong gitu...” ujar Dika, melihat Kai tak berbicara sedikitpun, hanya memainkan ponsel. “Eh, btw, lu beneran dari Korea ? Indo lu lancar banget soalnya,” tanya Dika.


“Orang tua lu Korea asli?” tanya Dika lagi. Kai menatap Dika seakan ia tak ingin memberitahu apapun soal itu.


“Hmmm... Gue nggak jadi nanya itu,” ucap Dika beberapa saat kemudian. “Yang pasti, karena gue udah nolongin lu. Mulai sekarang, gue adalah sahabat lu. Kalau ada apa-apa lu bisa tanya gue. Oke!” tambahnya sambil mengacungkan jempol.


\==========


Rey dan ibunya sampai di halaman rumah. Sang ibu Nampak buru-buru masuk ke dalam rumah. Sampai-sampai, belum seratus persen Rey memarkirkan mobil, beliau sudah turun dan lupa menutup kembali pintu mobil.


“Bik... Bibik...!” panggil ibunya pada asisten rumah tangga mereka. Sang bibik pun tergopoh-gopoh menuju ruang tamu memenuhi panggilan nyonyanya.


“Ada apa, Bu?” tanya Bibik, Bik Murni.


“Kai udah sampai rumah, Bik?” ibu Rey balik bertanya.


“Belum sepertinya, Bu. Biasanya kalau pulang, Mas Kai selalu minta dibawakan minuman dingin ke kamarnya. Tapi ini belum ada,” jelas sang Bibik.


“Di kamarnya mungkin, Bik.” Mama Rey seakan tak percaya.


“Benar, Bu. Mas Kai belum pulang,” ucap Bik Murni meyakinkan.


Ibu Rey duduk di sofa. Wajahnya amat khawatir. Ia memegangi kepalanya yang terasa pening. Beberapa menit kemudian Rey masuk ke rumah. Ia langsung duduk di samping ibunya. Ia memberi kode pada Bik Murni untuk


meninggalkan mereka. “Udahlah Ma. Dia juga tau jalan pulang kok. Nggak bakal tersesat,” ujar Rey dengan santai.


“Rey, Mama itu takut kalau Kai salah pergaulan lagi. Anak yang tadi itu... siapa tahu bukan anak yang baik-baik,” balas Ibunya.


“Ma, tenang aja. Tadi itu Dika, teman sekelas Rey. Dia anak baik kok, nggak bakal macam-macam,” terang Rey.


Sang ibu menatap Rey. Rey pun memberi anggukan. “Yaudah, Mama istirahat aja dulu. Ntar juga Kai balik kok.”


“Oke... Oke... Kamu kasih tau Mama yah kalau Kai sudah pulang. Mama mau ke kamar dulu.” Setelah itu, ibunya pergi ke kamar.


“Dasar si Kai. Nggak tau terima kasih. Bikin orang khawatir aja. Awas aja lo!” umpat Rey dalam hatinya.


~*~


Di cafe, Dika mengobrol banyak hal dengan Kai. Meskipun lebih banyak ia yang berbicara ketimbang Kai. Kai hanya sesekali menyeletuk jika ia ingin. Dika anak yang mudah akrab dengan siapapun. Ia juga tidak pemalu, yah, meskipun terkadang lebih menjadi tidak tahu malu.


“Hei, lo tahu ketua kelas kita?” tanya Dika sambil mengaduk-aduk minumannya.


“Ya,” jawab Kai, singkat.


“Ahhh... Namanya Ziyan...”


“Gue tahu.” Kai memotong kalimat Dika.


“Oke... Oke... Dia termasuk kebanggaan kelas kami. Dia selalu mendapat nilai tertinggi kedua dari semua angkatan kami, saat ujian semester. Ziyan juga wakil ketua osis kami,” terangnya. Ia menyeruput minuman lalu


kembali melanjutkan, “Untuk ketua OSIS, siapalagi kalau bukan Rey, anak yang mengantarmu berkeliling tadi. Dia adalah siswa paling pintar di angkatan kami. Prince of school…”


“Gue nggak peduli,” potong Kai.


Dika mengangguk-angguk. “Lo tahu? Meskipun banyak yang menyukainya tapi belum pernah ada yang berani menyampaikan perasaannya pada Ziyan,” ujarnya.


“Kenapa?” tanya Kai, penasaran.


“Ada rumor yang bilang, Rey menyukainya,” jawab Dika, berbisik. “Siapa yang berani kalau saingannya Rey. Sudah pasti semua akan terlempar jauh,” sambungnya seraya menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi.


“Rey menyukainya?” Kai menaikkan alisnya sebelah, seolah bertanya mencari kepastian. Dika menjawabnya dengan anggukan.


“Gue sih kurang pasti. Tapi, rumor yang tersebar yah seperti itu,” jawab Dika.


“Huh... Apa yang ditakutkan pada anak itu? Biasa saja. Gue jauh lebih bisa mendapatkan cewek itu,” ujar Kai.


“Jangan bilang, lo juga menyukai ketua kelas kita?”


“Memangnya kenapa? Tidak boleh?”


“Bukan. Lo pasti akan gagal. Ziyan jarang menggubris lelaki. Setahuku, bahkan Rey, tidak bisa mendapatkan hatinya. Seolah dia mati rasa pada lelaki,” jelas Dika.


Dika meneguk minumannya. “Tapi, mungkin gue bisa bantu lo,” katanya beberapa saat kemudian.


“Huh... Gue nggak perlu bantuan orang lain.”


“Bro, gue bukan orang lain. Mulai sekarang, gue sahabat lo. Gue bakal bantu lo dapatkan si ketua kelas.” Dika mengacungkan jempol sambil memicingkan mata.


“Terserah lo.” Ketus Kai seraya memalingkan pandangannya. Fikirnya, entah remaja di hadapannya ini benar-benar akan menjadi sahabatnya ataukah hanya sekadar untung sama untung. Tapi mungkin persahabatan ini akan terikat sampai kapanpun.


\==========