
Bel berdering kencang menggema ke segala penjuru sekolah. Siswa-siswi berlarian masuk ke kelas masing-masing. Beberapa saat kemudian, halaman dan koridor sekolah pun menjadi hening. Di kelas, siswa-siswi berdoa berdasarkan kepercayaan mereka dipimpin oleh ketua kelas masing-masing. Tepat seusai mereka berdoa, bel kembali berbunyi menandakan jam pelajaran pertama akan segera dimulai. Dari ruang guru, satu per satu guru keluar dan bergegas menuju kelas tempat mereka mengajar.
Pak Dharma, selaku guru mata pelajaran pertama untuk kelas XII.1 IPA masuk ke dalam kelas. Di belakangnya
ikut seorang siswa baru. Wajahnya tampan dengan muka tirus dan mata sipit khas Asia Timur. Seisi kelas mendadak saling tatap-tatapan dan berbisik-bisik.
“Selamat pagi anak-anak,” sapa Pak Dharma, seraya meletakkan bukunya di atas meja guru, yang langsung dibalas serempak oleh seisi kelas.
“Bapak ada kabar gembira. Hari ini kita kedatangan teman baru pindahan dari Seoul,” papar Pak Dharma.
“Woaahh…” Seisi kelas sontak bersorak.
“Annyeonghaseo,” teriak seorang siswi sambil menunjukkan mini love dengan ibu jari dan telunjuknya.
“Huuuu…” sorak para siswa pada siswi tersebut.
“Paan sih…” Sang siswi menjelingkan matanya dengan sinis.
“Cukup!” tegur Pak Dharma sedikit meninggikan suara. “ Ekhm... Introduce yourself !” Pak Dharma mempersilahkan siswa baru itu untuk memperkenalkan diri. Dan tentunya dengan bahasa Inggris yang khas aksen Indonesia campur Jawa.
“Yaelah Pak, paling juga dia ngerti bahasa Indonesia. Ngapain pindah ke Indo kalau nggak bisa bahasanya, ya nggak guys?” Ledek seorang siswa yang duduk di pojok ruangan sebelah kiri paling belakang. Siswa yang lain ikut riuh mengiyakan.
“Cukup! Ryan, jangan buat gaduh ini masih pagi,” tegur Pak Dharma.
“Namaku Kai, Hyun Kai,” Ucapnya singkat, padat dan jelas ditambah dengan gayanya yang menunjukkan keangkuhannya.
Seluruh siswa kembali berbisik-bisik. Kai memperhatikan semuanya satu persatu dan ia menyeringai. Tiba-tiba tatapannya tertuju pada seorang siswa yang duduk di samping jendela di deretan ketiga baris paling pinggir. Siswa dengan wajah tampan dan kacamata yang bertengger di hidungnya yang mancung, serta tubuhnya yang tegap. Siswa itu nampak tak peduli dengan kehadiran si siswa baru. Ia menatap jauh keluar. Tangannya dilipat di dada, wajahnya datar, tatapannya fokus dan tajam entah apa yang dilihatnya.
“Kai, silakan duduk di bangku kosong itu,” perintah Pak Dharma sambil menunjukkan bangku yang terletak di bagian belakang dekat jendela.
Kai mengangguk pelan. Ia lalu berjalan menuju bangku yang ditunjukkan. Seluruh mata melirik kearahnya terutama para siswi. Ia melewati siswa yang diperhatikannya tadi. Namun kali ini, Kai tak melirik sedikitpun. Justru siswa itulah yang melirik sinis saat Kai melewatinya. Kai dapat melihat dari ekor matanya dan ia hanya menyeringai sambil membenarkan dasinya.
“Ahh… Ziyan,” panggil Pak Dharma pada seorang siswi.
“Iya Pak?” sahut siswi bernama Ziyan itu, seraya bangkit dari duduk.
“Nanti kamu temani Kai berkeliling sekolah yah. Pasti dia masih asing dengan lingkungan sekolah kita,” pesan Pak Dharma. “Kamu kan ketua kelas,” tambah beliau.
“Hmm… Tapi pak…” Ziyan tak sempat meneruskan kalimatnya.
“Oke, terima kasih,” ucap Pak Dharma. “Oke anak-anak, kita mulai saja pembelajaran kali ini,” sambungnya, membuka pembelajaran.
Bibir Ziyan manyun dan wajahnya cemberut karena kesal kalimatnya dipotong. Hanya saja, ia memilih kembali
duduk. Ziyan menoleh kebelakang ke arah Kai dan saat bersamaan Kai pun melihat ke arah Ziyan. Tatapan keduanya pun bertemu. Ziyan cepat-cepat membalikkan kepalanya dan melihat ke papan tulis. Kai masih memperhatikan Ziyan padahal Pak Dharma sudah memulai pelajaran.
Ziyan membalik ke belakang. “Han, pinjem pulpen dong, habis nih…” keluhnya dengan berbisik pada Hanni yang duduk di belakangnya, sambil menunjukkan tinta pulpennya yang habis.
Matanya tak sengaja melirik ke arah Kai. Yang ternyata Kai masih memperhatikan dirinya. Ia langsung mengalihkan pandangannya. Pura-pura tak peduli padahal ia menjadi sangat gugup. Selama ia bersekolah di sini, belum pernah ada yang memperhatikannya begitu lama. Setelah Hanni meminjamkannya pulpen, Ziyan cepat-cepat kembali melihat ke papan tulis dan tak menengok kebelakang lagi hingga jam pelajaran berakhir.
Kriiing… Kriiing…
Bel istirahat berbunyi. Setelah guru menutup pelajaran, siswa dan siswi berhamburan keluar dari kelas menuju
berbagai tempat. Ada yang ke kantin, perpustakaan, ataupun sekadar nongkrong di taman sekolah. Tak ketinggalan Ziyan, segera setelah guru keluar dari kelas mereka ia buru-buru membereskan peralatan belajarnya, menaruhnya dalam laci. Lalu ia bersama Hanni hendak keluar dari kelas.
Ketika akan keluar, ia teringat pesan pak Dharma padanya. Ia pun menengok ke arah Kai yang masih duduk di
bangkunya. Beberapa siswi datang mengerumuninya. Akan tetapi, Kai tampak tak peduli. Ia asyik memainkan ponsel dan memakai sepasang earphone, tanpa menggubris sama sekali siswi-siswi yang mengerumuninya. Ziyan pun kembali dan menghampiri Kai. Hanni yang terlihat bingung, akhirnya menyusul Ziyan.
“Tumben lo tertarik,” Ledek seorang siswi disusul dengan tawa mengejeknya.
“Gue hanya memenuhi permintaan Pak Dharma,” balas Ziyan, cuek. “Hei!” Panggilnya dari jarak dekat pada Kai.
Kai sepertinya tak mendengar suara Ziyan. Ia terlalu asyik dengan ponselnya. Ziyan melihat sepasang earphone yang dipakai Kai. Tanpa peduli ia melepas salah satu earphone Kai.
“Woyy!” bentak Kai seraya bangkit. Namun ia tak berkata apa-apa saat melihat Ziyan menatapnya dengan datar. Ia malah melepas earphone yang masih ia pakai dan menaruh ponselnya. Ia lalu melipat tangannya di dada.
“Ada apa?” tanyanya dengan angkuh.
“Saat masih jam sekolah, siswa dilarang menggunakan peralatan elektronik kecuali saat mata pelajaran TIK,”
tegur Ziyan.
“Huh… Peraturan apa itu? Yang penting kan bukan saat belajar. Sekarang jam istirahat,” lontar Kai sambil
tertawa.
Ziyan memutar bola matanya. “Aku ingin memberitahumu, kalau aku ada urusan lain yang lebih penting. Kamu tetap ingin melihat-lihat sekolah atau tidak?” tanya Ziyan.
“Tentu saja,” jawab Kai.
“Okay. Kamu bisa memilih salah satu di antara mereka. Siapa yang kamu inginkan buat menemanimu keliling,” ujar Ziyan, menunjuk pada siswi-siswi yang berdiri di hadapan Kai. Siswi-siswi itupun sontak kegirangan dan masing-masing menawarkan dirinya untuk menemani Kai.
“Bukannya kamu yang disuruh oleh guru? Kenapa menyuruh orang lain?” lontar Kai sambil mengubah gayanya. Kini tangannya dimasukkan ke saku celananya.
“Aku punya urusan yang lebih penting dari dirimu,” tutur Ziyan.
“Memangnya anak SMA sepertimu punya urusan penting apa?” tanya Kai dengan nada mengejek.
“Jangan kira anak SMA seperti kami nggak punya kesibukan yah! Sombong banget sih… Padahal masih newbie juga,” ketus Hanni yang berdiri di samping Ziyan.
“Apaan sih Han? Ngatain orang sombong seenaknya. Ngaca dong, emang lu nggak sombong?” balas salah satu dari siswi-siswi yang mengerumuni Kai tadi. Namanya Rachel.
“Nggak usah sok ngebelain deh, dia kenal lu aja nggak. Jangan bikin malu dong.” Emosi Hanni mulai meninggi.
Tak kalah juga dengan Rachel. Ia hampir saja menghampiri Hanni namun langsung ditarik oleh kawan-kawannya.
Sementara Hanni, malah maju mendekati Rachel.
“Han, jangan buat keributan!” tegur Ziyan. Hani pun mundur kembali. Berdiri di sebelah Ziyan.
Ziyan mendengus berusaha menahan emosi. “Urusanku adalah urusanku. Penting atau nggaknya, nggak ada hubungan denganmu.” Cakapnya.
“Memang tak ada urusannya denganku dan aku pun tidak peduli. Tapi kamu yang ditugaskan untuk menemaniku dan aku tidak mau orang lain,” ujar Kai dengan menatap kedua mata Ziyan. Ziyan menelan ludah lalu mengalihkan pandangannya menghindari tatapan Kai.
“Kenapa sih?” bisik seorang Rachel pada teman-temannya. Matanya memancarkan ketidaksukaan pada Ziyan.
“Aku yang akan menemanimu, aku tidak mengerjakan apapun.” Terdengar suara seorang siswa tak jauh dari mereka, Rey. Rey bangkit dari bangkunya kemudian menghampiri Kai. “Biarkan dia selesaikan urusannya,” katanya, mendorong pelan tubuh Kai untuk menjauh dari Ziyan.
“Huh… Okay,” balas Kai.
“Sorry yah Rey, gue mau ngerjain PR di perpus soalnya. Gue belom selesai,” bisik Ziyan pada Rey yang
berdiri di depannya.
“Nggak papa, Zee. Pergi aja,” ucap Rey tanpa berbalik menghadap Ziyan.
Ziyan menarik tangan Hanni keluar dari kelas. Keduanya hendak menuju ke perpustakaan sekolah. Sekolah mereka ini berbasis sekolah asrama. Namun tak semua siswa atau siswi wajib tinggal di asrama. Ada yang memilih tinggal di rumah. Ziyan adalah salah satu dari puluhan murid yang memilih tinggal di asrama.
Perpustakaan terletak beberapa meter dari bangunan sekolah. Berada di sisi kanan kawasan sekolah tepatnya di antara asrama putri dan gedung serbaguna.
Di lain tempat, Kai dan Rey berjalan beriringan tanpa berbicara sedikitpun. Mereka mengelilingi sekolah mulai dari lantai satu sampai lantai empat. Kemudian ke kantin, laboratorium, ruang komputer, ruang musik, ruang kesenian, sampai ke asrama putra.
“Lo suka sama dia?” Tiba-tiba Kai bertanya saat mereka sedang berjalan di jembatan yang menghubungkan antara lantai dua sekolah dengan lantai dua asrama putra. Ia menghentikan langkahnya dan menatap ke suatu arah.
Rey memandang ke arah dimana Kai memandang. Itu adalah bangunan perpustakaan. Rey melihat Helwa dan Hanni baru keluar dari perpustakaan. Ziyan dan Hanni tampak berjalan sambil bercanda ria.
“Bukan urusan lo!” tegas Rey. “Dan… Oh iya, jangan gunakan ponsel saat jam sekolah atau itu akan disita dan tidak dikembalikan oleh pihak sekolah,” cakap Rey mengingatkan Kai.
Kai tertawa. “Lu peduli sama gua?” tanyanya. Tetapi Rey hanya diam.
“Atau lo juga beranggapan bahwa gue selalu membuang-buang uang yang diberikan Pak Regar?” tanya Kai lagi.
“Gue nggak pernah peduli dengan urusan lo maupun hubungan lo dengan Papa,” ketus Rey. “Lagian untuk apa
membahas itu. Ini sekolah bukan rumah,” lanjutnya.
Kai tertawa lagi. Ia lalu menatap Rey. “Lo suka kan sama dia? Dari awal lo nggak pernah peduli dengan kehadiran gue. Why suddenly lo mau gantiin dia temani gue?” sembur Kai tanpa jeda.
“Gue udah bilang itu bukan urusan lo!” tegas Rey. Ia lalu berjalan meninggalkan Kai.
“Berarti bukan urusan lo juga kalau gue suka dengan dia,” ujar Kai yang membuat Rey berhenti berjalan. Ia membalik dan mendekati Kai.
“Jangan lu coba-coba ganggu hidup dia. Dia bukan seperti perempuan-perempuan lain yang lu jadikan pacar,” kata Rey.
“Lu kan bukan siapa-siapanya dia. So why?” balas Kai.
“Gua emang bukan siapa-siapanya. Tapi gue tetap nggak akan biarin lo deketin dia. Ingat Kai, udah berapa banyak cewek yang lu sakitin dan permainkan.” Rey menarik kerah baju Kai.
Kai menyingkirkan tangan Rey dari kerah bajunya. Ia kemudian pergi meninggalkan Rey. Wajahnya memerah. Kai berjalan dengan cepat. Tangan kanannya mengepal.
Jam masuk kelas telah berbunyi. Rey bergegas kembali ke kelas. Ia berpapasan dengan Ziyan saat akan masuk kelas. Ziyan pun menanyakan tentang Kai. Rey hanya melihat ke dalam kelas, yang mana Kai sudah lebih dahulu sampai di kelas. Ziyan mengeryitkan dahi. Tiba-tiba pak guru muncul dari tangga. Mereka berdua pun segera masuk ke dalam kelas.
Beberapa jam kemudian, jarum jam pun menunjukkan pukul 15.20. Waktunya para murid untuk kembali ke asrama ataupun pulang ke rumah masing-masing. Rey memasukkan semua buku-bukunya dalam tas. Tak lupa ia memeriksa laci agar tak ada barang yang tertinggal. Setelah selesai. Ia hendak menghampiri Ziyan. Namun saat ia bangkit dari bangkunya, Kai sudah lebih dulu menghampiri Ziyan. Tampak Kai berbicara sesuatu pada Ziyan, akan tetapi Ziyan tak terlalu meresponnya.
“Maaf, gue nggak bisa,” cakap Ziyan.
“Come on, masa lo nggak mau bantu teman. Apalagi gue anak baru. Dan gue belum ngerti banyak bahasa
Indonesia,” ujar Kai, memohon. “Gue nggak minta ajarin gratis kok, tenang aja.”
“Gue udah bilang, gue nggak bisa. Lu bisa minta tolong sama yang lain kalau lu mau. And… lu kira gue mata
duitan? ” balas Ziyan.
“Gue minta maaf kalau gitu. Tapi, kalau gue maunya lo?”
Ziyan menatap Kai dengan tajam. “Gue nggak bisa,” balas Ziyan penuh penekanan.
“Ehh, anak baru! Kalau orang sudah bilang nggak bisa yah jangan maksa. Jangan berlagak kenal deh. Maksa banget sih!” sembur Hanni.
Kai memutar bola matanya. “Emang lu siapa sih? Ikut campur mulu kerjaan lu,” ketusnya.
Hanni tertawa lalu berkata. “Gue sahabatnya. Dan gue nggak suka lihat orang SKSD dengan sahabat gue. Apalagi yang berlagak kayak lu.”
“Huhh… sahabat?” sindirnya.
“Dan gue lihat bahasa Indo lu bahkan lancar. Ngapain minta bantuan orang lain? Alesan banget lu!” ujar Hanni.
“Han…” tegur Ziyan. “Gue sudah bilang ke lo, gue nggak bisa. So please, jangan maksa,” ucapnya pada
Kai.
Rey datang menghampiri mereka. “Ada apa, Zee?” tanyanya. Zee adalah sapaan akrab Ziyan dari sahabat-sahabatnya.
“Ehhh… Rey, kebetulan, mending lo aja yang bantu dia kerjakan tugasnya,” jawab Ziyan.
“Ohhh… Oke,” ucap Rey disusul anggukan kecilnya.
“No… no… no… Nggak perlu, ” ucap Kai pada Rey.
“Ohh… That’s good,” balas Rey. “Nggak balik, Zee?” sambungnya, bertanya pada Ziyan.
Hanni langsung menyeletuk. “Yah balik lah, Rey. Tapi gara-gara nih orang. Buang-buang waktu orang lain aja.”
Rey tertawa kecil mendengarnya. Ia melirik ke arah Kai yang matanya penuh kekesalan pada Hanni. Hanni tak peduli sama sekali. Ia menarik tangan Ziyan pergi dari kelas. Tinggallah Kai dan Rey dalam kelas.
“Fighting !” kata Rey dengan mengerlingkan matanya sebelah. Ia lalu meninggalkan Kai. Kai hanya mendengus
dan kemudian ia juga keluar dari kelas.
Kai sedang menunggu lift, ketika ada seseorang yang tiba-tiba merangkulnya dari belakang. Kai yang amat terkejut itupun sontak mendorong orang tersebut dengan kuat hingga ia terjatuh. Rupanya seorang anak lelaki dari kelas yang sama dengan Kai. Kai pun teringat, anak itu duduk di bangku paling depan di barisan yang sama dengannya. Kai melirik nametag yang terpasang di seragamnya. Namanya Deandra Dika.
\==========
Haloo guys. Terima kasih buat yang sudah baca. Jangan lupa komen yang kalau kalian suka.
Author mau kenalan dulu. ~~~~
Jadi, RAN FEI itu nama pena yah, bukan nama asli. Aku masih pemula sih, (meskipun udah beberapa kali nulis novel) tpi masih bisa dibilang amatir yah. Masih sering typo apalagi keluar dari topik cerita. Hihihi... Author kan, manusia biasa.
Once again, thank a lot buat semuanya. Love you...
Kalau pengen ada visualnya, boleh komen di bawah. Author dah siapin sih, tapi yah... masih mikir-mikir beneran mau pakai atau nggak. Hehe...