OBSESSED WITH HEART

OBSESSED WITH HEART
PERKARA BUKU CATATAN



Dika mengejar Hanni yang akan kembali ke kelas. Ia memanggil-manggil nama Hanni. Hanni berjalan dengan cepat sambil menutup kedua telinganya. Semakin cepat ia melangkah semakin cepat pula Dika mengejarnya.


“Sepertinya lama-lama gue bisa depresi berhadapan dengan orang ini,” batin Hanni.


“Hey !” Dika menarik tangan Hanni ketika sudah dekat dengan kelas mereka. Ia tak sempat berbicara karena tiba-tiba terdengar suara kegaduhan dari dalam kelas mereka.


“Lo pasti yang menyembunyikan buku catatan gue, kan?” tuduh Rachel sambil mendorong bahu Ziyan.


Ziyan yang masih duduk di bangkunya justru kebingungan. Rachel tiba-tiba berteriak menuduhnya padahal pembelajaran sedang berlangsung. Guru pelajaran mereka sedang cuti dan mereka disuruh untuk belajar mandiri. Tapi, di tengah-tengah keheningan ketika semua sedang serius belajar, Rachel malah membuat rusuh. Kelas pun menjadi gaduh.


“Lo ngomong apa sih? Gue nggak pernah sentuh buku catatan lo !” kilah Ziyan.


“Lo jangan mengelak. Lo emang benci kan sama gue makanya lo ambil buku catatan gue. Lo cuman baik di depan doang,” tutur Rachel dengan nyaring.


Brak...


Ziyan memukul mejanya. Ia berdiri dan menatap Rachel. “Gue nggak ambil buku lo !” tegas Ziyan.


“Heh ! Lo berani teriak depan gue?” Rachel mendorong tubuh Ziyan.


“Lo yang duluan nuduh gue. Gue bilang sekali lagi, gue nggak ngambil buku lo,” tekan Ziyan.


“Udah lah... Kalau udah salah yah ngaku aja. Jangan munafik deh...” sahut Gilang, sepupu Rachel. Murid-murid yang lain hanya diam.


“Rachel, lo jangan nuduh orang sembarangan !” teriak Rey.


Hanni dan Dika masuk ke kelas bersamaan. Mengetahui kawannya yang sedang bertengkar, Hanni segera menghampiri Ziyan.


“Heh ! Apa-apaan lo main tuduh sembarangan? Lo punya bukti?” geram Hanni sambil mendorong Rachel.


“Jangan ikut campur deh, lo !” sembur Rachel. “Lo emang munafik tau nggak !” ujarnya pada Ziyan.


“Kalau lo kesal karena nggak bisa saingi gue, lo nggak perlu fitnah orang sembarangan,” papar Ziyan.


Rachel makin geram dengan kalimat Ziyan barusan. Ia mendorong Hanni, menjauhkannya dari Ziyan. Mendadak ia menarik rambut Ziyan dengan kuat. Ziyan menjerit kesakitan. Hanni dan Rey pun berusaha melepaskan tarikan Rachel. Seorang siswi hendak melaporkan kejadian itu pada guru. Akan tetapi, ia ditahan oleh Gilang.


Plak…


Hanni menampar wajah Rachel usai ia dan Rey berhasil melepaskan tarikan Rachel di rambut Ziyan. Ziyan terjatuh di lantai.


“Lo berani nampar gue?” geram Rachel. Hanni kembali menampar pipinya yang sebelah. Saking kuatnya, Rachel sampai terjatuh ke lantai.


Gilang tak tinggal diam melihat sepupunya di tampar. Ia menghampiri Hanni dan ingin menamparnya. Namun Kai datang dan menahan tangannya.


“Cuma pecundang yang berani sakiti wanita !” lontar Kai, ketus.


“Memangnya lo siapa ? Huh ?” Gilang menepis tangan Kai yang menahannya.


Ia lalu mendorong Kai seolah menantang Kai. Kai hanya diam dengan wajah datarnya. Gilang tidak suka melihat Kai yang tak gentar sedikitpun padanya, meninju wajah Kai. Darah segar keluar dari bibirnya. Gilang tertawa, menyangka dirinya sudah menang. Kai mengusap darah tersebut seraya meringis kecil.


Kai maju dan langsung melayangkan tinjuan di wajah Gilang. Gilang menarik baju Kai sampai-sampai beberapa kancing terlepas. Dan Kai, ia seakan lupa kalau Gilang juga manusia. Ia benar-benar menghajar Gilang habis-habisan. Siswa-siswa yang tadi hanya menonton, kini sibuk memisahkan Kai dan Gilang.


“Kai !” Teriak Rey, menarik tubuh Kai. Kai justru balik mendorong Rey. “Kai cukup ! Dia bisa mati,” kata Rey yang tak menyerah memisahkan Kai, dibantu dengan siswa lainnya.


Rey berhasil menarik Kai menjauh dari Gilang. Ia meninju wajah Kai yang sudah babak belur karena berkelahi dengan Gilang. “Lo mau bunuh anak orang ? Huh ?” berangnya sembari mendorong Kai.


Gilang terbaring di lantai. Rachel mendekatinya. Sama seperti Kai, wajahnya juga babak belur bahkan lebih parah. Tapi, Gilang yang sudah terbiasa berkelahi, tenaganya hampir sebanding dengan Kai. Ia masih cukup kuat walaupun telah dipukul habis-habisan oleh Kai. Ia duduk lalu menatap tajam ke arah Kai.


“Ada apa ini?” Pak Dharma masuk ke dalam kelas. Suasana kelas sudah sangat berantakan. Bangku-bangku tak lagi tersusun rapi. Yang lebih membuatnya syok adalah kondisi Kai dan Gilang yang wajahnya lebam-lebam.


“Mau jadi jagoan kalian?” tanya Pak Dharma sambil menatap Kai dan Gilang bergantian. “Ayo ikut saya ke ruang BK,” lanjutnya.


Kai dan Gilang menurut dan menyusul Pak Dharma ke ruang BK. Sementara Hanni dan Rey membawa Ziyan ke UKS. Tak lama mereka berada di UKS, Ziyan pun ikut di panggil ke ruang BK.


“Az-Ziyan, katanya kamu mengambil buku catatan milik Rachel?” tanya Pak Dirga, ketika Ziyan berada di ruang BK dan duduk di hadapannya. Sementara Rachel duduk di sampingnya.


“Bukan,” tegas Ziyan.


“Lo jangan bohong ! Periksa lokernya sekarang, Pak. Supaya ketahuan,” ujar Rachel, masih tak mau kalah.


Orangtua Rachel datang. Rachel terlihat sangat bahagia. Ia langsung saja mengadu pada kedua orangtuanya. Ziyan hanya melihat sebentar. Kedua orangtua Rachel tampak sangat berasal dari keluarga terpandang. Keduanya mengenakan pakaian formal sepertinya baru dari kantor.


“Pak, apakah ini buku yang dimaksud?” tanya orang yang diutus oleh Pak Dirga, saat kembali ke ruang BK.


“Ini buku gue,” ucap Rachel, merebut buku yang dibawa orang suruhan Pak Dirga. “Benar kan, yang ngambil dia?”


“Tapi pak, buku itu kami dapat tergeletak begitu saja di ruang loker, pas di depan loker Rachel. Mungkin terjatuh,” papar orang tersebut.


Rachel terdiam. Ia merasa tidak terima kalau Ziyan ternyata terbukti tidak bersalah. Ia pun memarah-marahi Ziyan yang duduk santai tanpa meliriknya sedikitpun. Di tengah ia memarahi Ziyan, ibunya tiba-tiba menamparnya.


“Tidak bisakah kau belajar saja tanpa perlu buat masalah?” pekik ibu Rachel. Rachel memandangi ibunya sambil memegangi pipinya yang habis di tampar ibunya sendiri.


“Sayang, nanti kita selesaikan di rumah.” Ayah Rachel menarik tangan ibu Rachel untuk keluar dari ruangan. Akan tetapi ibu Rachel melepaskan tangan ayahnya.


“Nilaimu sudah rendah, dan kau sempat-sempatnya buat onar. Berhenti buat aku dan ayahmu malu. Kau hanya perlu belajar dan dapat nilai tinggi.” Wajah ibu Rachel memerah saking marahnya.


“Apa aku kurang memberimu uang? Aku kurang memberimu kasih sayang? Huftt... Bagaimana kau bisa masuk universitas yang bagus kalau nilaimu rendah dan attitude-mu buruk? Kau hanya akan buat malu keluarga.” ujar ibunya.


“Kau sampai melibatkan sepupumu. Ahhh... Aku tidak tahu bagaimana mau menghadap pada bibimu.”


Rachel hanya memandangi wajah ibunya yang berang padanya. Ia menangis tetapi tak bisa mengeluarkan apa yang ingin ia katakan.


“Tante, seseorang tidak hanya dinilai dari tinggi atau rendahnya peringkat. Bagaimana orang lain mau menerima anak anda apa adanya, kalau anda sendiri melihat anak anda berdasarkan tinggi rendahnya nilainya. Anak itu bukan mesin dia manusia. Apa yang buat anda bahagia belum tentu adalah sesuatu yang dia inginkan. Kasih sayang bukan sebatas materi saja, dia lebih dari itu. Mungkin, anda fikir ini untuk kebahagiaannya. Tapi sadarkah anda, anda sedang berusaha menjadikannya mesin yang bisa anda perintah sesuka hati. Jangan sampai anda menyesal karena anak anda kehilangan sifat kemanusiaannya. Dan jangan salahkan dia apalagi orang lain. Anda sendiri yang mengubahnya,” tutur Ziyan panjang lebar. Tanpa melihat sedikitpun pada kedua orangtua Rachel, ia pamit pada Pak Dirga dan keluar dari ruang BK.


~*~


Kai keluar dari UKS dan langsung ke ruang loker untuk mengganti bajunya yang hampir terbuka. Untung saja ia menyimpan pakaian olahraganya di loker. Tanpa disadarinya, Hanni mengikutinya dari belakang. Ia mengintip dari kaca di pintu ruangan. Kai menghadap ke lokernya, membelakangi Hanni. Ia membuka bajunya tanpa mengetahui Hanni sedang mengintipnya.


Di luar, Hanni terkejut melihat bagian belakang tubuh Kai. Tubuhnya banyak bekas luka. Sepertinya ia pernah mengalami sebuah siksaan. Hanni menutup mulutnya dengan kedua tangannya karena kaget.


“Hei !” suara seorang laki-laki mengangetkannya.


Ia pun membalik dan mendapati Dika berdiri di hadapannya. Tangannya menyandar di pintu yang kini berada di belakang Hanni. Posisi Dika amat dengan dengannya, sehingga Hanni bisa mendengar degupan jantung Dika yang amat kencang.


Dika memandangi wajah Hanni tanpa berkedip. Ia merasakan sesuatu yang aneh pada hatinya. Yang tak ia rasakan sebelumnya saat bertemu Hanni. Hanni mendorong tubuh Dika jauh-jauh darinya. Dika masih tetap menatap Hanni dengan tatapan yang membuat Hanni risih. Ia kemudian pergi dari situ.


“Han !” panggil Dika. Ia mengejar Hanni yang berlari menjauhinya.


“Bentar,” Dika berhasil menarik tangan Hanni. “Gue suka sama lo,” ucap Dika, to the point.


“Huh?” Hanni mengeryitkan dahinya.


Ia bergidik ngeri mendengar pengakuan Dika. Hanni pun kembali berlari menjauhi Dika. Namun kali ini Dika tak mengejarnya. Ia malah tertawa kecil melihat Hanni.


Di tempat lain, di koridor lantai tiga, Ziyan berjalan lesu. Bukan karena tadi rambutnya habis dijambak oleh Rachel. Melainkan karena ucapannya pada ibu Rachel yang terkesan kurang sopan. Apalagi orangtua Rachel adalah orang-orang yang memiliki kekuasaan. Sedangkan Ziyan dapat bersekolah disini karena beasiswa yang ia terima. Ia berjalan sambil menunduk, mengkhawatirkan nasibnya.


“Zee !” suara Rey memanggilnya.


“Ada apa?” tanya Ziyan saat Rey menghampirinya.


“Tidak,” jawab Rey, singkat, sambil berjalan di samping Ziyan. “Lo yang ada apa?” tanya Rey balik.


“Rey, kira-kira kalau menyinggung orangtua murid, akan diberi sanksi apa?” tanya Ziyan.


“Tidak tahu, yah. Mungkin skors atau paling hukuman ringin. Palingan di ceramahi Pak Dirga dengan kumpulan kata-kata mutiaranya,” jawab Rey.


“Tamat nasib gue,” keluh Ziyan.


“Kenapa?” tanya Rey.


“Tadi tuh… Ahhh… gue nggak sopan banget sama orangtua Rachel,” jawab Ziyan.


Rey malah menertawakannya. Ia justru menyuruh Ziyan untuk santai saja. Padahal Ziyan sudah khawatir sekali dengan nasibnya. Kalau waktu bisa diputar, ia tak akan mengucapkan kalimat panjang lebar seperti tadi.


Seorang orangtua murid berhenti di hadapan mereka. Orang itu adalah ayah dari Rey. Entah mengapa ia datang ke sekolah. Rey menyuruh Ziyan untuk duluan ke kelas, karena ada yang ingin ia bicarakan dengan ayahnya. Ziyan mengangguk lalu meninggalkan kedua anak dan ayah tersebut.


~*~