OBSESSED WITH HEART

OBSESSED WITH HEART
RIVAL



Tanpa terasa malam pun tiba. Sinar bulan mulai menerangi belahan bumi bagian timur. Menggantikan matahari yang sudah selesai melaksanakan tugasnya. Seperti malam-malam biasa, bintang dengan segala keindahannya menghiasi langit gelap.


Rey baru kembali dari tempat les. Ia memarkirkan motornya di garasi rumah. Dengan sedikit berlari, ia menaiki beberapa anak tangga. Rumah mereka memang sedikit lebih tinggi.  Ada sekitar 6-7 buah anak tangga untuk sampai di teras rumah. Rey memencet bel rumah. Tak lama kemudian, sang bibik membuka pintu untuknya.


“Baru pulang, Mas?” tanya Bik Murni disertai senyum lebar.


“Iya, Bik.,” jawab Rey. Mama dan Papa ada di rumah?” tambahnya menanyakan orangtuanya.


“Ibu lagi di kamar, dipijat sama Siska. Kalau bapak, sepertinya akan pulang beberapa menit lagi, Mas,” jawab Bik Murni.


Siska adalah anak Bik Murni. Ia masih SMP. Orangtua Rey juga membiayai sekolah Siska sejak SD. Yah, Bik Murni sudah lama bekerja di rumah Rey. Sudah sejak orangtua Rey baru menikah. Ia bahkan tahu betul bagaimana dan apa yang terjadi dengan keluarga Rey.


“Ohhh... Aku naik ke kamar dulu yah, Bik.”


“Iya, Mas.”


Rey meninggalkan Bik Murni. Ia menaiki tangga untuk ke lantai dua. Kamar Rey terletak tak jauh dari tangga dan berhadapan langsung dengan kamar Kai. Sampai di kamar, Rey langsung masuk ke kamar mandi, setelah meletakkan barang-barangnya, untuk membersihkan diri.


Seusai mandi, ia berbaring sebentar untuk melepas letih di tempat tidurnya. Kemudian ia bangkit kembali, memakai kacamata minusnya dan duduk di meja belajar. Sudah menjadi keharusan dalam hidupnya untuk mengulang kembali semua materi yang di sampaikan di sekolah serta merangkum poin-poin penting dalam satu materi. Biasanya ia baru akan tidur jam 11 malam karena juga harus mengerjakan tugas-tugas yang diberikan mentor lesnya.


Namun, entah mengapa malam ini ia merasa sedikit malas. Terlintas dalam otaknya untuk menghubungi Ziyan. Di ambilnya ponselnya yang tergeletak begitu saja di atas tempat tidur.Ia memencet beberapa angkat yang menjadi kombinasi nomor telepon. Nomor telepon milik Ziyan. Panggilan pun diteruskan ke nomor tersebut.


Di kamarnya, di asrama sekolah, Ziyan ternyata juga sedang mengulang pelajaran. Ponselnya berdering. Ia meraih ponsel di sampingnya sambil matanya tetap fokus membaca buku pelajaran.


“Halo, assalamu’alaikum. Siapa?” sapa Ziyan, bertanya tanpa basa-basi.


“Ini gue Zee,. Rey,” jawab Rey, diseberang sana.


“Ohhh, ada apa?”balas Ziyan seraya melihat layar ponselnya yang menampilkan nama “Ketua OSIS”.


“Ngapain?”tanya Rey, basa basi.


“Belajar.” jawab Ziyan, singkat.


“Lo sudah makan?”


“Nih sambil makan popmie.”


“Popmie lagi? Nggak bagus buat kesehatan.”


“Males turun ke ruang makan soalnya.”


“Belajar sih belajar, Zee. Tapi kesehatan juga wajib dijaga.”


“Yah...”


“Kalau gitu. Gue belikan makanan deh. Bentar yah... Assalamu’alaikum”


“Nggak...”


Rey langsung memutuskan panggilannya sebelum sempat Ziyan menolak. Ziyan malah terbingung-bingung. Ia mengangkat bahunya lalu melempar ponselnya ke tempat tidur dan melanjutkan belajarnya.


Rey buru-buru mengganti pakaiannya. Di sambarnya jaket yang tergantung di dekat lemari. Sambil memakai jaketnya, ia memastikan ponsel dan dompetnya tidak tertinggal. Ia juga mengambil salah satu topi yang tergantung di deretan koleksi topinya. Kemudian ia turun ke lantai satu rumah. Di ruang makan kedua orangtuanya sedang menyantap makan malam.


“Rey, makan!” panggil mamanya saat Rey masih menuruni tangga.


“Nggak lapar, Ma,” balas Rey.


Tiba-tiba Kai muncul dari pintu rumah. Ia juga baru pulang. Rey sudah menebak kalau Kai baru kembali dari balapan. Diketahuinya dari helm yang dipegang Kai serta jaket hitam biru yang selalu dipakai Kai kalau pergi balapan. Ia berpapasan dengan Kai. Mereka diam satu sama lain.


“Kai, habis balapan lagi?” tanya mama Rey. “Sudah makan belom?” sambung beliau.


“Aku nggak lapar.” Kai lalu berlalu tanpa menoleh sedikitpun.


“Mau kemana malam-malam?” tanya papanya setelah memperhatikan pakaian Rey.


“Tempat teman,” jawab Rey. Ia lalu meninggalkan kedua orangtuanya.


“Tempat teman tapi parfumnya wangi banget,” celetuk Pak Regar, papanya.


Ucapannya tersebut didengar oleh Kai yang masih di tengah-tengah tangga. Ia berhenti menaiki anak tangga. Ditolehkan kepalanya pada Rey yang masih memakai sepatunya di depan rak sepatu yang terletak tepat di samping pintu.


“Namanya anak muda, Pa. Ternyata Rey udah besar yah...” balas Bu Ranti, mamanya, diselingi dengan tawa kecil. Sang papa tertawa sambil menggeleng-gelengkan kepala.


“Anak-anak zaman sekarang. Terlalu cepat mengenal cinta. Tapi, yasudah lah. Hak mereka toh,” ujar papanya.


Kai tidak jadi masuk ke kamarnya. Ia malah kembali turun untuk menyusul Rey.


“Loh, Kai, mau kemana lagi?” tanya Mama Rey sedikit berteriak, saat dilihatnya Kai kembali turun dan memakai sepatunya. Akan tetapi, Kai tak menjawab. Ia bergegas ke garasi untuk mengambil motornya agar tak tertinggal


oleh Rey.


“Anak-anak ini kenapa, sih?” gumam Mama Rey seraya geleng-geleng kepala.


Kai mengikuti mobil Rey sedikit jauh di belakang, agar tak diketahui oleh Rey bahwa ia membuntutinya. Mobil Rey berhenti di salah satu restoran yang berada di pinggir jalan. Kai mengamati dari jauh. 12 menit kemudian, Rey keluar dari restoran dengan di tangannya memegang sebuah kantung plastik. Ia masuk kembali ke mobil lalu mengemudikan mobilnya menuju ke sekolah. Kai yang mengikutinya dari belakang sudah menaruh firasat kalau Rey akan menemui Ziyan ketika mobil Rey membelok ke jalanan yang mengarah ke sekolah mereka.


Rey memarkirkan mobilnya di pinggir jalan dekat dengan gerbang utama. Setelah Rey memasuki halam sekolah, Kai pun turun dari motornya. Ia mengintip dari gerbang. Ia mengeluarkan ponselnya dan mengirim pesan WhatsApp pada seseorang.


“Nih...” Rey menyodorkan kantung plastic yang dibawanya tadi dari restoran, yang berisi sebuah kotak makanan dan segelas plastik thai tea ice di kantung yang satunya.


“Rey, sebenarnya gue mau nolak tadi.Tapi lo keburu matiin. Dan kalau gue nolaknya sekarang, kasihan lo-nya yang udah jauh-jauh kesini,” ujar Ziyan.


“Yah berarti lu nggak punya pilihan lain selain terima,” balas Rey.


“Nah itu dia masalahnya. Lo udah makan, belum?” Ziyan duduk di bangku yang berhadapan dengan Rey. Mereka dibatasi oleh sebuah meja yang berada di tengah-tengah.


“Gue nggak laper. Lo makan aja.” Rey membukakan tutup kotak nasi itu untuk Ziyan. Ziyan lalu mengucapkan terima kasih dan memakannya.


Dari kejauhan, Kai memandangi keduanya dengan hati yang kesal. Dika berlari menghampirinya dari arah asrama putra. Ia memang tinggal di asrama sekolah. Dan orang yang di kirimkan pesan WA oleh Kai tadi adalah dirinya. Ia berdiri di hadapan Kai sambil ngos-ngosan. Di pegangnya dadanya seraya mengatur nafas. Kai menarik Dika ke sampingnya agar tak terlihat oleh Rey. Dika pun mengerutkan keningnya, bingung.


“Sebenarnya lo ngajak gue ngapain sih Kai?” tanyanya sambil memperbaiki gaya rambutnya.


Kai hanya diam dengan wajah kesalnya. Dika pun ikut memandang ke arah yang sama dengan Kai. Ia terkejut lalu memandang wajah kesal Kai.


“Sabar, Bro. Lo masih pendatang baru. Udah gue bilang juga apa. Rey itu susah disaingi,” ujar Dika diakhiri dengan tawanya.


“Diam!” tekan Kai. Dika pun berhenti tertawa, seraya mengangkat bahunya. Ia lanjut memperhatikan Rey dan Ziyan.


Rey memandangi Ziyan yang serius menghabiskan makanannya. Sesekali ia tersenyum lalu berhenti ketika Ziyan memandangnya. Tiba-tiba Ziyan tersedak. Dengan cepat Rey menyodorkan minuman padanya. Ziyan langsung meminum es itu, tanpa mengambilnya dari tangan Rey. Rey malah jadi salah tingkah. Ia pura-pura


membenarkan kacamatanya sambil tersenyum dalam tunduknya.


Beberapa siswi yang lewat hendak menuju asrama melihat hal tersebut, berbisik-bisik. Mereka pun ikut senyum-senyum. Atau istilah anak muda zaman now dengan baper (bawa perasaan).


 “Ekhemmm…” ucap Dika sambil bertepuk tangan. Menambah kekesalan Kai.


“Diam. Udah, mending lo balik ke asrama aja sana. Bikin suasana tambah panas aja,” ujar Kai.


“Oke, kebetulan gue udah ngantuk,” balas Dika sambil menutup mulutnya yang menguap.


“Beneran nih? Gue balik yah?” tanya Dika setelah berjalan beberapa langkah meninggalkan Kai di gerbang.


“Iya. Udah sana!” jawab Kai. Dika pun pergi meninggalkan Kai. Dalam hatinya menertawakan kekesalan sahabatnya itu.


Ziyan telah menyelesaikan makannya. Rey membukakan tisu yang dibelinya serta menyodorkan pada Ziyan. Ziyan pun mengambil selembar tisu lalu mengelap sekitar mulutnya.


“Thanks yah, Rey atas makanannya.”


“Santai aja.”


“Lo emang temen gue yang paling baik setelah Hanni.”


“Oh iya, Hanni nggak nginep disini?”


“Nggak. Bokapnya lagi di rumah katanya.”


Rey mengangguk-angguk.


“Lain kali, kalau lo mau makan sesuatu tinggal bilang ke gue aja.


Pasti gue beliin.”


“Emang lu yang paling best. Tapi nggak perlu deh kayaknya. Sorry


ngerepotin lu.”


“Siapa bilang ngerepotin. Gue malah senang bantu teman gue.”


“Ya ampun, Rey.” Ziyan menepuk jidatnya sendiri.


“Kenapa?” tanya Rey, mengeryitkan kening.


“Gue lupa matikan kipas di kamar. Bisa-bisa beasiswa gue dipotong pakai bayar listrik,. Yaudah gue naik dulu yah. Makasih buat makanannya,” jawab Ziyan. Ia bersiap-siap untuk kembali ke kamar.


“Iya. Gue juga mau pulang, nih. Sampai besok.” Rey melambaikan tangannya. Ziyan mengangguk sambil menunjukkan senyum manisnya dan mengangkat alisnya. Ia pun meninggalkan Rey, kembali ke kamarnya di lantai 2.


Rey hendak kembali ke mobilnya yang terparkir diluar. Sampai di gerbang, tiba-tiba seseorang menariknya dan langsung mendorongnya ke dinding pagar yang terbuat dari batu. Orang itu adalah Kai yang sedari tadi menunggunya.


“Apaan sih, Kai?” tanya Rey, menahan sakit di bagian belakang badannya.


“Lu yang apa-apaan? Lu bilang lu nggak suka dengan dia. Kenapa lu malah ngehalangin gue?” sembur Kai.


“Lo kenapa sih? Nggak jelas banget deh.” Rey menyueki Kai, pura-pura tak mengerti.


Ia hendak meninggalkan Kai yang entah kerasukan setan apa. Tapi Kai mendorongnya kembali ke dinding serta menarik kerah jaketnya. Wajah Kai kini tepat di depan wajahnya. Ia bisa melihat mata Kai yang memerah karena amarah. Rey dengan santainya tersenyum menyeringai.


“Gue nggak pernah bilang gue nggak suka dia. Dan gue rasa hak siapapun buat suka dengan dia selama dia bukan milik seseorang. Termasuk lo,” tegas Rey, menatap bola mata Kai.


“Gue nggak suka ada orang lain yang menyukai cewek yang gue suka,” balas Kai.


Rey mendorong Kai menjauh darinya. Kemudian balik ia yang menghimpit Kai ke dinding dengan lengannya. “Lo yang harusnya sadar. Dari dulu, lo selalu ngambil yang gue punya. Dan lo tanpa tahu malu mau ngambil Ziyan. Gak akan gue biarkan! Ingat! Lo bukan tipe dia! Lo cuman bakal buat dia sakit, dan gue nggak akan biarkan itu!” tekan Rey. Ia lalu meninggalkan Kai.


~*~