OBSESSED WITH HEART

OBSESSED WITH HEART
I LIKE YOU



{ Kai POV }


Ahhh… Deringan jam weker itu memekik di telingaku. Membangunkanku dari tidur nyenyak. Dengan mata yang masih sedikit tertutup, tanganku mengulur untuk meraih jam tersebut dan menekan tombol off. Aku pun bangun, namun tak langsung bangkit dari kasur. Tanganku mengucek-ngucek mata agar penglihatanku menjadi jelas. Aku melihat ke arah jam yang telah kuletakkan kembali di atas nakas. Ternyata sudah jam 6 lewat beberapa menit. Aku pun beranjak dari kasur menuju kamar mandi.


Beberapa menit kemudian, aku keluar dari kamar mandi dengan handuk yang membalut pinggang hingga lututku. Aku berdiri di depan cermin besar di samping lemariku. Cermin itu menampakkan tubuhku dari ujung rambut hingga kakiku. Kuulurkan tangan untuk mengambil seragam di gantungan yang tak jauh dariku. Aku mulai memakainya satu persatu hingga seluruh tubuhku kini terbungkus oleh pakaian. Setelah memakai dasi, aku mulai menyisir rambutku.


Tok… tok…


“Siapa?” tanyaku setengah berteriak pada seseorang di luar yang mengetuk pintu kamarku.


“Bibik, Mas,” jawab orang tersebut. Bik Murni melanjutkan, “Mas Kai, ndak ingin sarapan? Bapak dan Ibu sudah pergi ke kantor. Mas Rey lagi sarapan tuh di ruang makan. Tinggal Mas yang belum. Kalau mau, bibik siapkan. Kalau ndak ingin, yah ndak papa, biar ndak buang-buang makanan toh, Mas.”


Aku yang masih menyisir rambutku pun menyahut, “Aku nggak sarapan, Bik.”


“Ohh... begitu. Yasudah, bibik tidak jadi siapkan. Bibik, balik ke dapur yah, Mas.” Setelah kuiyakan, Bik Murni kembali melakukan pekerjaannya di dapur.


Mataku kembali melirik jam. Sudah jam 7 lewat. Untung saja sekolahku masuk jam 8.15, jadi aku masih memiliki waktu setengah jam. Aku memasukkan buku-buku pelajaran ke dalam tas. Kemudian aku keluar dari kamar.


Aku menuruni tangga dan kulihat Rey sedang menyantap sarapannya sambil membaca sebuah buku pelajaran. Huft... Apakah semua anak unggulan seluruh waktunya dipakai untuk belajar. Bahkan makan disambil dengan


belajar. Ataukah hanya dia yang terlalu keras pada diri sendiri. Untung aku bukan murid unggulan sepertinya. Tapi bukan berarti juga aku tidak sepandai dirinya.~~~~


“Seragammu tidak lengkap,” tutur Rey yang kukira ia tak memperhatikanku karena matanya fokus membaca buku.


Aku melihat diriku sendiri. Ternyata aku lupa memakai blazer. Aku pun kembali berlari ke kamarku untuk memakai blazer. Hampir saja aku membayar denda karena seragam yang kurang lengkap. Aku kembali turun dan tak memperhatikan Rey lagi. Dan langsung bergerak ke sekolah menggunakan motor kesayanganku.


Ini baru hari keduaku di sekolah baruku. Namun, keadaan memperlihatkan seolah aku telah lama bersekolah di sekolah ini. Yang biasa terjadi pada murid baru adalah tentunya ia belum memiliki teman. Tetapi aku, hampir


semua yang berpapasan denganku menyapa seolah sudah sangat mengenalku. Utamanya siswi-siswi yang entah mengapa berkumpul di sepanjang koridor.


Pemandangan seperti ini bukan pertama kalinya bagiku. Saat di sekolahku yang dahulu pun begitu banyak orang yang tiba-tiba mendekatiku padahal saat itu aku belum bisa berbicara Bahasa Indonesia dengan lancar.


“Hai Kai…”


“Hai...”


“Pagi, Kai…”


“Morning, Kai…”


Aku hanya membalas seadaanya sapaan-sapaan mereka. Kulihat, siswa-siswa melirik sinis padaku. Aku berusaha bersikap biasa saja. Wajahku kubuat terlihat sedatar mungkin.


“Hai, Kai !” Seorang siswi tiba-tiba muncul di hadapanku. Membuat langkahku berhenti.


“Juga,” tukasku.


“Kenalin gue Rachel. Kita dari kelas yang sama,” cakapnya dengan mengulurkan tangan. Aku tak membalas uluran tangannya sehingga ia pun terlihat menjadi canggung. Ia gadis yang sama dengan gadis yang beradu mulut dengan sahabat Ziyan kemarin.


“Kai, gue anggota media sekolah. Gue mau mewawancarai lo, boleh?” tanyanya.


“Sepertinya masih banyak hal yang lebih bermanfaat ketimbang gue,” jawabku sambil lalu meninggalkannya. Kuyakin ia pasti merasa kesal sekali.


Mataku menangkap sosok seorang murid perempuan sedang berjalan di arah yang berlawanan denganku. Dia adalah Ziyan, si ketua kelas yang menolakku mentah-mentah kemarin. Aku berlari secepatnya kearahnya dan langsung menghadangnya. Tanpa rasa terkejut, ia berhenti dan menatapku dengan datar. Aku pun tersenyum padanya. Ia berkali-kali mencoba menghindariku namun aku selalu menghadangnya.


“Maaf, bisa minggir nggak?” tanyanya dengan ketus.


Aku membuka tasku lalu mengeluarkan sebungkus coklat. Kusodorkan coklat itu pada Helwa. “Buat lo,” ucapku.


“Aku nggak suka coklat. Misi !” balasnya sambil berlalu dari hadapanku.


“Hey, ini halal kok,” ucapku, mengikutinya berjalan di sebelahnya. Ziyan mempercepat langkahnya. “Mau kemana?” tanyaku lagi.


“Ruang OSIS,” jawab Ziyan. “Bisa nggak jangan ngikutin? Orang-orang pada melihat tau,” sinisnya, karena aku terus mengikutinya.


Ia berbelok hendak masuk ke ruang OSIS. Tanpa sadar aku segera menahan tangannya. Ia menatapku dan


lagi-lagi dengan tatapan sinis. Kusodorkan kembali coklat tadi padanya sembari tersenyum. Ia melirik pada tanganku yang memegang pergelangan tangannya. Aku yang baru sadar langsung melepaskan.


“Emmm… Mianhe. Aku nggak bermaksud…” Belum lagi aku menyelesaikan kalimatku, Ziyan langsung menyela.


“Lo ada masalah apa sih, sama gue?” tanyanya dengan sorot mata yang menyelidik.


“Aniyo. Gue cuman mau kasih ini, nih,” jawabku sembari menunjukkan coklat yang ingin kuberikan padanya.


“Please, Jangan membuat rumor-rumor aneh muncul,” lontar Ziyan yang akhirnya menerima coklat pemberianku.


“Well... Lo jangan kegeeran deh, Wa. Baru juga dapat coklat. Huh...” cibir Rachel, yang tahu-tahu muncul dari belakangku.


“What do you mean ?” tanya Ziyan,mengeryitkan keningnya.


Ziyan menyeringai sinis. “Maaf banget, gue nggak sama seperti lo.” Setelah berterima kasih padaku, ia masuk ke ruangan OSIS.


Tak tahu mengapa aku merasa gembira sekali. Setelah berkali-kali ditolak, akhirnya usahaku tak sia-sia. Ziyan menerima pemberianku meskipun wajahnya terlihat sedikit terpaksa. Mungkin karena kasihan terhadapku. Tapi


peduli apa, yang jelas ini berarti aku masih punya peluang untuk mendekatinya. Aku berjalan menuju lift tanpa mempedulikan Rachel yang mengikutiku.


“Kai, lo jangan dekat-dekat dengan cewek itu. Dia bukan cewek yang baik. Katanya dia dengan Rey, sekarang dia malah menggoda lo. Sudah pasti, dia nggak cocok dengan lo,” celoteh Rachel, disaat sedang menunggu lift.


Telingaku terasa panas. Ingin sekali aku menyumbat mulutnya itu. Namun aku berusaha seolah-olah tak mendengar ocehannya. Sampai saat pintu lift terbuka, kupikir ia akan berhenti mengikutiku. Nyatanya, ia tetap ikut masuk ke lift yang sama denganku.


“Dia memang anak unggulan. Tapi dia itu terlalu sombong sebagai manusia. Buat lo yang baik, cocoknya yah dengan yang baik juga.” Rachel masih menyambung ocehannya.


Omongannya membuatku muak. “Darimana lo tau kalau gue orang baik? Lo nggak takut hanya berdua dengan gue di lift?” Aku menatap matanya seraya terus mendekatinya. Hingga tubuhnya bersandar di dinding lift. Matanya juga menatapku, namun menyiratkan ketakutan. Ku majukan wajahku hingga hanya berjarak sejengkal dari wajahnya.


“Lo nggak akan berani macam-macam. Lift ini pakai CCTV,” ujarnya dengan tegas namun suaranya bergetar. Kulihat keringat mulai membasahi keningnya.


Aku tertawa karena berhasil membuatnya takut. “Lo nggak bisa asal menilai buruk orang lain hanya karena lo kalah saing darinya. Strategi yang menjijikkan kalau lo menjatuhkan orang lain buat kemenangan lo.” Aku pun


menjauh darinya dan berdiri bersandar di sisi lift yang berhadapan dengannya.


Rachel terdiam seribu bahasa. Ia terpaku di tempatnya dengan menatap kearahku. Tapi kutahu, ia tak seberani tatapannya.


“Dan gue rasa, justru lo yang bukan cewek baik-baik,” sindirku sesaat sebelum aku keluar dari lift.


Tak lama setelah aku duduk di bangkuku di kelas, bel pun berdering. Mata pelajaran pertama adalah Fisika. Dan aku sangat tidak suka berhitung. Apapun itu yang berkaitan dengan angka aku tidak suka. Aku hanya suka melihat nominal uang. Dan fisika, aku sangat tidak pandai dalam mata pelajaran itu. Karena itu, selama guru menerangkan aku malah memandang keluar jendela. Hingga, tahu-tahu saja jam pelajaran pun berakhir.


“Baik, sampai sini dulu materi kita tentang tata surya. Bapak harap kalian semua memahami materi yang baru saya sampaikan. Jangan lupa untuk mengulang lagi pelajaran ketika sampai di rumah,” tutur Pak Fajri, guru muda yang baru mulai mengajar beberapa bulan yang lalu.


“Bapak…!” Seorang siswi mengangkat tangannya. Pak Fajri mempersilahkannya untuk berbicara. “Pak, kita semua sudah mengetahui kalau matahari itu adalah pusat tata surya, bukan?” tanyanya.


“Benar,” jawab pak Fajri.


“Tapi ada yang belum bapak ketahui,” kata sang siswi. Pak Fajri menampakkan raut wajah penasaran.


“Apa itu?” tanya Pak Fajri.


“Bapak belum tahu kalau bapak selalu menjadi pusat perhatianku,” jawab siswi tersebut.


Seluruh kelas tertawa mendengarnya. Pak Fajri, yang digombalin turut ikut tertawa. Tentu saja, kalau aku jadi dirinya aku juga akan salah tingkah saat ada yang menggombalku. Dan menurutku, wajah Pak Fajri lumayan


tampan untuk ukuran pria berusia 26 tahun sepertinya. Karena malu, Pak Fajri pun buru-buru keluar dari kelas.


Kelas masih riuh dengan tawa para murid. Aku terfokus pada Ziyan yang juga kebetulan duduk di sebelah kiri siswi yang bertanya tadi. Aku memperhatikannya yang sedang berbicara dengan siswi tersebut sambil sesekali


tertawa. Tak sadar, aku tersenyum ketika ia melihat padaku. Hanya sekejap, lalu ia kembali mengobrol dengan temannya.


Gadis itu, ia punya daya tarik tersendiri bagiku. Bukan karena wajahnya atau kepintarannya. Akan tetapi, ada sesuatu yang aku sendiri sulit untuk menjelaskannya. Sejak pertama melihatnya, hatiku seakan sudah terpaut


padanya. Meskipun sikapnya cuek dan sinis, justru itulah yang membuatku semakin penasaran dan ingin mendapatkannya.


“Woy, Bro !” Dika menepuk pundakku, membuyarkan lamunanku. “Sudah waktunya istirahat, lo nggak ke kantin?” tanyanya.


Aku terlalu serius memandangi gadis itu sampai-sampai aku tak mendengar bel berbunyi. Tampak Ziyan dan sahabatnya itu, Hanni, beranjak keluar kelas.


“No, gue mau sendiri,” balasku.


“Oke, gue ke kantin kalau begitu.” Dika pun meninggalkanku, pergi bersama beberapa teman sekelas kami lainnya.


Aku mengeluarkan earphone. Aku bukannya tak tahu tentang peraturan larangan penggunaan alat elektronik. Bukan juga karena tak tahu setiap kelas memiliki CCTV. Tapi aku merasa sangat bosan. Aku memutar lagu favoritku, I Like You by Day6.


Johahapnida, chameuryeo haebwassjiman


(I like you, I tried to hold it down)


Deoneun andoegseoyo


(But I can’t do this more)


Ijeya malhal su issgeseoyo


(Took me a long time to say this)


Saraghago sipeoyo geudael


(I want to love you)


\==========