OBSESSED WITH HEART

OBSESSED WITH HEART
UNLUCKY MAN



Kai sedang memandangi foto ibunya di ponselnya. Wajahnya tidak bisa ditebak. Tidak menggambarkan bahagia tidak juga sedih. Entah perasaan apa yang sedang mengisi hatinya. Amat lama ia memandang foto mendiang sang ibu.


“Woy!” Dika mengejutkannya dari belakang. Kai langsung mematikan ponselnya. Dika lalu duduk di sebelahnya. “Who’s that?” tanya Dika. Rupanya ia sempat melihat foto seorang wanita di ponsel Kai.


“Bukan siapa-siapa,” jawab Kai, ketus.


“Liar !” ucap Dika. Ia berusaha merebut ponsel Kai tapi tak berhasil. “Lo punya cewek trus lo mau ngejar si Ziyan lagi? emang fuckboy lo yah... Heran gue, kok bisa-bisanya gue mau bantuin lo nyakitin anak orang.” Paparnya yang tak mengetahui kalau wanita itu adalah ibu Kai.


“Bukan cewek gue,” tegas Kai. Dika pun diam tak berkata lagi. “Lagian, bantuan lo nggak ada satupun yang berhasil,” sindirnya.


“Hei... Bukan cara gue yang nggak mempan. Lu aja yang kurang profesional. Nggak ada bakat jadi buaya lo,” cecar Dika.


“Ehhh, sebodoh-bodohnya gue, ngapain juga gue jadi binatang,” balas Kai.


“Maksud gue bukan buaya binatang. Ahhh, udahlah. Kirain bahasa lu udah standar anak gaul Indo. Ternyata jauh di bawah itu,” kesal Dika. Ia melipat tangannya di depan dada.


Dari kejauhan, Dika melihat Ziyan keluar dari gedung sekolah. Ia duduk di bangku, sedikit jauh dari mereka, di dekat asrama putri. Ia membaca buku yang di bawanya. Udara hari ini cukup terik. Ziyan berkali-kali mengibaskan tangannya. Dika menepuk-nepuk pundak Kai lantas menunjuk ke arah Ziyan.


“Perang antara Jepang dan Rusia diawali dengan persaingan dalam memperebutkan wilayah Manchuria dan Korea yang pada saat itu berada di bawah kekuasaan China.” Ziyan membaca paragraf demi paragraf dalam buku sejarah yang dibawanya, berusaha mengingat kata demi kata.


Ia kembali mengibaskan tangannya entah untuk yang keberapa kalinya. Tiba-tiba ia merasakan sesuatu memayunginya. Ia pun menoleh. Ternyata Kai sedang memayunginya menggunakan blazer. Ziyan tertegun sesaat. Untuk kedua kalinya ia memandang wajah Kai dari jarak yang lumayan dekat. Senyum merekah di bibirnya membuat siapapun yang melihatnya pasti tak akan menafikan ketampanannya. Tak terkecuali Ziyan, walaupun selalu kasar dan cuek pada Kai, namun ia jugalah wanita. Melihat wajah tampan Kai dengan sangat jelas, jantung Ziyan tiba-tiba berdegup kencang.


Murid-murid yang melihat adegan tersebut menjadi heboh. Seakan lupa kalau mereka sedang makan, semuanya berhambur untuk melihat Kai dan Ziyan. Siswi-siswi menjerit heboh, ingin merasakan apa yang dialami Ziyan. Siapa yang tidak mau dikejar-kejar oleh lelaki tampan. Hanni yang berdiri di antara para murid, membelalakkan matanya. Pemandangan yang tak pernah ia lihat selama berkawan dengan Ziyan. Sedangkan Dika, ia berharap agar caranya kali ini berhasil dan Kai akan meneraktirnya.


Kai, bagaikan seorang idol k-pop bagi mereka. Wajahnya yang tampan dan menurut Hanni mirip Lee Taeyong NCT, sikapnya yang dingin, gayanya yang cool, Namun jiwanya kalah setiap berhadapan dengan wanita yang disukainya. Dambaan setiap wanita. Pantas saja mereka yang melihat seolah menonton sebuah drama Korea.


“Isshhh…” Di tengah kerumunan tersebut, ada seorang siswi yang mendengus kesal. Dialah Rachel. Ia yang tak suka melihat hal tersebut segera pergi dari kantin.


“Chel !” Panggilan teman-temannya tak ia pedulikan. Ia merasa ingin mati melihat Kai dan Ziyan.


Ziyan tersentak oleh teriakan Pak Dharma yang menyuruh murid-murid bubar. Ia langsung bangkit dan menjauh dari Kai. Kai menyodorkan segelas minuman dingin berperisa stroberi pada Ziyan.


“Thank you, tapi sorry gue alergi stroberi.” Ziyan tak mengambil


minuman yang diberikan Kai. “Gue mau ke kelas dulu, bye.” Setelah itu ia


berlalu dari hadapan Kai.


“Sayang banget yah, padahal nikmat sekali minum yang dingin-dingin saat cuaca panas.” Dika muncul dari belakang Kai, menyambar begitu saja minuman yang dipegang Kai. Ia duduk di bangku sambil mengangkat sebelah kakinya dan merentangkan tangannya di sandaran bangku tersebut. Ia meminum minuman itu. “Tapi, bisa jadi tambahan info juga buat lo. Inget, dia alergi stroberi,” katanya kemudian.


Kai melirik sinis pada Dika, rencananya tak berjalan mulus lagi. Ia malah dibuat malu karena ditolak. Kai masih memandangi Ziyan yang sudah hampir masuk ke gedung sekolah. Tiba-tiba ia melihat Rey sedang menghampiri Ziyan. Mereka berbicara sebentar lalu masuk ke gedung sekolah bersama-sama. Dika yang masih mengoceh di sampingnya, ia tinggal begitu saja.


“Bro! Bro!” panggil Dika yang tak dihiraukan oleh Kai. “Apakah setiap orang yang jatuh cinta akan mendadak jadi tuli? Untung saja aku tampan dan mempesona. Aku tak perlu merana karena ditolak,” ujarnya memuji-muji dirinya.


Dika melirik ke kantin. Matanya menangkap sosok Hanni yang hendak mengantri membeli makanan. Otaknya pun berputar. Diingatnya bahwa Hanni adalah sahabat karib Ziyan. Ia tersenyum, muncul sebuah ide dalam otaknya. Ia pun bangkit dan mempersiapkan dirinya untuk menarik perhatian Hanni untuk mendapatkan informasi untuk kawannya, Kai.


Hanni meletakkan nampan makanannya di atas meja. Ia memandangi nampannya yang berisi sepiring batagor kesukaannya dan segelas minuman rasa red velvet. Dengan parutan keju yang melimpah dan parutan coklat batang serta taburan oreo halus. Ia menjadi tak sabar menyantapnya. Usai membaca doa, ia pun siap menyantap batagornya. Tetapi seseorang tiba-tiba saja duduk di hadapannya tanpa permisi.


Barusan ada orang yang berani duduk di hadapannya tanpa izin ketika ia sedang makan. Hanni memanglah terkenal tomboy. Tak ada yang berani membuatnya marah apalagi mengganggunya saat makan. Saat paling sakral dalam hidupnya. Dan lelaki ini, muncul di hadapannya. Mengacaukan moodnya untuk makan. Ia sekadar memandangi lelaki itu makan.


“Hai...” sapa lelaki itu di tengah makan, yang adalah seorang Dika. Yah, Dika, siapalagi kalau bukan dia. Hanni tak menghiraukannya dan terus menatap Dika dengan sinis.


“Kenapa lu nggak makan?” tanya Dika.


“Nggak selera,” jawab Hanni, ketus.


“Sinis amat. Sayang loh wajah cantiknya ntar pudar,” goda Dika seraya menunjukkan senyumnya yang paling terbaik.


“Peduli apa,” balas Hanni, tambah sinis.


“Yah sayang dong. Ntar sekolah kita kekurangan siswi cantik.”


Hanni berdiri. Ia tak jadi melahap makanannya malah meninggalkannya begitu saja. Melihat Hanni pergi, Dika menghentikan makannya lantas mengejar Hanni. Tak lupa ia membawakan minuman es yang belum di sentuh Hanni tadi.


“Hei!” Dika menghadang Hanni. “Aku belum selesai bicara.” Ia menghalangi Hanni untuk pergi. Hanni berusaha menghindar namun tubuh Dika selalu menghadangnya. Bisa dibilang, Dika sangatlah berani.


“Move!” perintah Hanni, masih berusaha santai.


“Huffttt...” Hanni menghela nafas panjang.


Bukkk…


Dika terjatuh ke lantai. Bibirnya mengeluarkan darah segar. Yap, baru saja Hanni meninju pipinya hingga ia terhempas dan kepalanya sedikit terbentur di kursi. Dika mengerang kesakitan. Semua yang berada di kantin


terkejut. Suasana mendadak hening. Hanni tetap menampakkan tak peduliannya. Ia pergi begitu saja. Tapi, baru beberapa langkah, ia berhenti. Ia membalik ke belakang. Dika masih belum berdiri. Ia mengelap darah yang keluar dari bibirnya. Ia mengerang lagi memegang kepalanya. Hanni yang entah mengapa merasa kasihan, ia pun kembali, membantu Dika berdiri, lalu memapahnya, mengantarnya ke UKS.


Sementara di tempat lain, Kai membuntuti Ziyan dan Rey yang sedang menuju ke ruang guru. Disaat Ziyan dan Rey masuk, Kai terpaksa menunggu di luar sedikit jauh. Mereka bercakap-cakap dengan seorang guru untuk beberapa saat sebelum akhirnya mereka diminta untuk membawa buku-buku baru ke perpustakaan. Buku-buku tersebut lumayan banyak. Demi rasa hormat dan menghargai, Ziyan dan Rey pun membawa tumpukan buku itu.


Kai bersembunyi di balik sebuah tanaman ketika melihat Ziyan keluar. Seorang adik kelas tanpa sengaja menabrak Ziyan saat ia berlari masuk ke ruang guru. Membuatnya hilang keseimbangan. Dan… buku yang dibawanya pun jatuh. Rey hendak menolong Ziyan. Ia meletakkan kembali buku yang sudah diangkatnya di atas meja. Saat berbalik, seseorang sudah lebih dulu datang membantu Ziyan. Dia Kai yang sedari tadi mengikuti mereka.


“Terima kasih,” ucap Ziyan saat buku-buku itu sudah tertumpuk lagi dengan rapi. Ia hendak mengangkatnya. Akan tetapi, Kai sudah lebih dulu mengangkat buku-buku tersebut.


“Ehh... biar gue saja,” kata Ziyan.


Kai tersenyum. “Biar gue saja, nggak papa,” balasnya. “Aku kan laki-laki. Aku juga lebih kuat. Biar aku saja yang bawa.”


“Nggak perlu. gue yang diperintahkan.” Ziyan tak mau kalah.


“Benaran, nggak apa-apa.” Kai tetap kekeuh ingin membawa buku itu.


Rey menghampiri mereka. “Wahh, untung banget. Dia kan lebih kuat dari kita, Zee. Pasti bakal lebih cepat dari kita,” tutur Rey.


Bel berdering menandakan pembelajaran akan dimulai lagi. “Beneran nggak apa-apa?” tanya Ziyan. Kai mengangguk dan tersenyum paksa. Ia harus tetap menjaga image di depan Ziyan. Meskipun hatinya menggerutu kesal pada Rey.


“Kalau begitu kita ke kelas dulu yah. Ntar diizinkan kok,” ujar Rey. “Ayo, Wa,” ajaknya pada Ziyan. “Thanks yah.” Rey menepuk pundak Kai lalu pergi menuju kelas bersama Ziyan.


Dalam hati Kai menyumpahi Rey berkali-kali. Ia merasa dikerjain oleh Rey. Padahal ia berniat agar Ziyan menaruh perhatian padanya. Yang terjadi malah sebaliknya, lagi-lagi Rey yang menang. Ia terpaksa mengangkat semua buku-buku ke perpustakaan. Untung saja sekolah ini pakai lift. Kai pun tak merasa begitu kelelahan meskipun bolak balik lantai tiga dan lantai satu.


Di UKS


“Saya nggak gager otak, kan dok? Soalnya tadi kepala saya terbentur di kursi,” tanya Dika, ketakutan kalau-kalau otaknya jadi bermasalah, pada dokter di UKS, dokter Hanum.


“Nggak, kok. Semuanya baik-baik saja,” jawab sang dokter. “Kalau boleh tahu, memangnya kok bisa sampai jatuh?” lanjutnya.


Dika melirik Hanni yang berdiri di belakang dokter sambil melipat tangan di dada dan memperhatikan dokter mengobati luka Dika. “Gara-gara dia nih,” tuduh Dika, menunjuk ke Hanni.


Sang dokter membalik ke Hanni. Hanni hanya mengangkat bahu dan memasang muka bingung. “Lain kali hati-hati, mangkanya,” pesan dokter. “Sudah selesai. Silahkan kembali ke kelas.”


“Hey!” panggil Dika sambil mengisyaratkan Hanni untuk memapahnya lagi.


“Lo kan punya kaki. Yang sakit kan kepala lo bukan kaki. Jalan sendiri lah,” lontar Hanni yang lalu pergi begitu saja.


Dika mengejar Hanni yang akan kembali ke kelas. Ia memanggil-manggil nama Hanni. Hanni berjalan dengan cepat sambil menutup kedua telinganya. Semakin cepat ia melangkah semakin cepat pula Dika mengejarnya.


“Sepertinya lama-lama gue bisa depresi berhadapan dengan orang ini,” batin Hanni.


“Hey !” Dika menarik tangan Hanni ketika sudah dekat dengan kelas mereka. Ia tak sempat berbicara karena tiba-tiba terdengar suara kegaduhan dari dalam kelas mereka.


“Lo pasti yang menyembunyikan buku catatan gue, kan?” tuduh Rachel sambil mendorong bahu Ziyan.


~*~