OBSESSED WITH HEART

OBSESSED WITH HEART
THE ONE AND ONLY



“Gue serius, Zee,” ujar Hanni.


Hanni dan Ziyan masuk ke kamar Ziyan. Tanpa berganti seragam, keduanya langsung merebahkan diri di kasur. Hari ini, rasanya adalah hari terberat yang pernah mereka lalui.


“Zee, gue lihat dengan mata kepala gue. Bagian belakang tubuh Kai itu penuh luka-luka. Sampai gue sendiri seram lihatnya,” terang Hanni.


“Mungkin karena bertengkar kali. Lo lihat sendiri aja tadi, si Gilang hampir mati dibuatnya,” tutur Ziyan.


“Menurut gue sih nggak. Soalnya, lukanya lebih seperti bekas siksaan. Ngeri deh,” tukas Hanni.


“Yaudahlah, setiap orang punya privasi. Lo tuh, ngapain ngintip cowok ganti pakaian. Nggak takut dosa lu?”


“Huh... Gue udah kena balasannya,” keluh Hanni.


“Maksudnya?” tanya Ziyan.


Hanni menceritakan kejadian saat ia tertangkap basah oleh Dika sedang mengintip Kai. Ia juga menceritakan sambil bergerundel saat Dika menyatakan rasa sukanya pada Hanni. Ziyan yang serius mendengar gerutu kawannya itu pun tertawa. Ia belum pernah mendengar ada orang yang tanpa basa-basi berani menyatakan suka pada Hanni.


“Lo malah ketawa sih? Udahlah, gue mau istirahat.” Hanni memperbaiki posisinya, menarik selimut, lalu memejamkan mata.


“Gue mau ke apotek. Kepala gue tiba-tiba pusing,” cakap Ziyan, bangkit dari kasur. Ia kemudian pergi mengganti pakaian.


“Han, gue pergi dulu yah,” ujarnya sambil mengalungkan tasnya di leher. Ziyan menggoyangkan tubuh Hanni. Hanni hanya berdehem dan mengangguk. Ziyan pun meninggalkan Hanni di kamar.


~*~


Kai pergi ke apotek untuk membeli plester dan betadine untuk lukanya. Ketika ia hendak membayar, ia bertemu dengan Ziyan yang baru datang. Ziyan membeli obat penghilang rasa sakit. Kai pun membayarkan obat yang dibeli Ziyan.


“Luka lo... masih sakit nggak?” tanya Ziyan, saat keluar dari apotek.


“Masih sih, sedikit,” jawab Kai. Ziyan mengangguk-angguk.


Keduanya diam beberapa saat. Sampai kemudian Kai mengajaknya ke cafe. Ziyan awalnya menolak, namun karena ia merasa Kai sudah menolongnya ia pun menerima ajakan Kai. Di kafe, mereka juga tak banyak bicara. Kai sibuk mengoleskan betadine ke lukanya.


“Ribet banget sih, kelihatannya,” celetuk Ziyan ketika melihat Kai kesusahan mengoleskan betadine di lukanya sambil memegang cermin. Ia lalu berpindah tempat, duduk di sebelah Kai.


“Mau dibantuin nggak?” tanya Ziyan karena Kai malah menjauhkan kursinya.


Kai diam saja. Ziyan pun kembali mendekat ke arah Kai. Ia mulai mengoleskan betadine di luka Kai. Kai memandangi Ziyan yang fokus pada luka di wajah Kai.


“Harusnya, tadi lo nggak usah ikutan. Kan wajah lo jadi babak belur,” ucap Ziyan.


“Lo nggak suka kalau gue tolongin?” Kai terus memandangi wajah Ziyan yang amat dekat dengan wajahnya. Dadanya sesak. Jantungnya berdegup lebih kencang dari biasanya. Berkali-kali ia menelan salivanya, menahan diri agar tetap santai.


“Bukan begitu,” balas Ziyan.


“Oh… jadi lo suka kalau gue tolongin?”


Ziyan menegakkan tubuhnya dan menatap Kai dengan kesal. “Lo kenapa sih, nggak jelas banget?”


“Lo yang nggak jelas.”


Ziyan memasang wajah julid. Ia melanjutkan mengoles betadine di luka Kai. Wajahnya yang amat dekat dengan wajah Kai, membuat Kai dapat melihat setiap sudut wajah Ziyan. Kai sungguh mengagumi keindahan wajah Ziyan. Matanya tak bisa beralih dari kecantikan gadis tersebut. Pesona Ziyan sanggup membuat Kai tak bergeming sedikitpun.


Tanpa sadar Kai memegang tangan Ziyan. Ziyan terkejut dan memandang Kai. Tatapan keduanya bertemu. Entah apa yang mengendalikannya, Kai perlahan memajukan wajahnya. Jantung Ziyan seakan mau copot. Tubuhnya membatu. Ia menatap dalam-dalam bola mata Kai yang berwarna coklat itu. Rasa pusingnya mendadak hilang.


Semakin lama, wajah Kai semakin mendekat. Ziyan menelan ludahnya. Ia mencoba melepaskan genggaman tangan Kai pada tangannya. Namun, genggaman itu amat kuat. Ziyan hanya bisa memejam erat kedua matanya. Dan…


“Ekhmm... Permisi, Mbak dan Mas. Mau minum apa?” pertanyaan waiters mengejutkan keduanya.


Buru-buru Ziyan menjauh dari Kai setelah Kai melepaskan tangannya. Waiters tersebut malah merasa tidak enak karena mengacaukan suasana. Diam-diam ia tertawa melihat keterkejutan Kai dan Ziyan.


“Lemon tea aja, Mbak.” Kai menjawab pertanyaan sang waiters sambil menunduk saking malunya.


“Baik, ditunggu yah.” Setelah itu, waiters tersebut pergi.


Suasana menjadi amat canggung. Kai diam-diam melirik pada Ziyan dan tatapan keduanya kembali bertemu. Kai langsung mengalihkan pandangan, salah tingkah, begitupun dengan Ziyan. Mendadak keduanya menjadi bisu. Kai memandang keluar. Kakinya bergetar dan tangannya menggaruk-garuk lehernya yang tak gatal. Ia sampai lupa, lukanya belum di balut plester.


“Kai !” panggil Ziyan.


Kai menoleh dan langsung menahan tangan Ziyan yang hendak menyentuh wajahnya.


“Gue mau pasang ini nih,” ucap Ziyan, menunjukkan plester yang di pegangnya. Kai melepas tangannya. Ziyan lalu memasangkan luka Kai plester, satu per satu.


“Lihat tuh, muka lo. Dah mirip zombie aja. Hilang gantengnya...” ujar Ziyan seraya menyodorkan cermin untuk Kai melihat wajahnya. Ia sendiri tak sadar, barusan mengatakan bahwa Kai ganteng.


Kai memperhatikan wajahnya di cermin. Ia tersenyum, mengingat kalimat Ziyan barusan. “Menurut lo, gue ganteng?” tanya Kai, menggoda.


“Siapa bilang?” Ziyan tampaknya masih tak sadar dengan ucapannya. Kai tertawa. “Ngapa lo ketawa? Aneh banget sih,” lontar Ziyan, ketus.


Semenit kemudian ia baru sadar atas ucapannya. Ziyan pun memalingkan wajah, membelakangi Kai. “Bego banget sih, sumpah si Ziyan...” batinnya sambil memukul jidatnya sendiri. Ia kemudian menghadapkan wajah pada Kai. “Ralat ! Gue salah ngomong tadi. LO NGGAK GANTENG SEDIKIPUN !” ucapnya dengan mempertegas kalimat akhirnya.


~*~


Di rumah Arka, Rey dan kedua temannya sedang berkumpul. Rumah Arka atau lebih tepatnya kamar Arka,


merupakan basecamp mereka bertiga. Dikarenakan kamar Arka memiliki bangunan sendiri yang terpisah dari rumah dan terletak di bagian belakang. Walaupun mereka ribut, tak akan terlalu mengganggu penduduk rumah. Kamar Arka itu lebih seperti paviliun. Di rumah Arka yang amat besar itu, ada dua ruangan yang terpisah dari rumah. Kamar Arka dan kamar supir pribadi ayahnya.


Fadhel dan Arka sedang seru-serunya bermain game mobile. Sedangkan Rey sedang membaca sebuah buku di


depan rak buku. Arka punya banyak koleksi buku, hadiah dari ayahnya. Sayangnya, tidak pernah ia baca. Lama kelamaan, Fadhel dan Arka makin ribut lantaran permainan mereka semakin seru. Rey mengambil airpods dari dalam tasnya. Ia memutar sebuah lagu dan melanjutkan membaca buku.


“Yah... lo curang nih. Nge-cheat kan, lo !” tuduh Fadhel yang tidak terima dirinya kalah dari Arka.


“Fitnah aja lo ! Sirik bilang boss…” balas Arka, meledek.


“Fitnah lo tuh yang kayak fitnah dajjal…”


“Lo kayak ya’juj ma’juj !”


“Yee... gue anak soleh yah. Rajin ibadah. Emang lu, nongki mulu ama cewek.”


“Ngajak gelut lu, yah...”


Melihat kedua temannya bertengkar. Rey yang terganggu pun berteriak. “Lo pada kekanakan banget, sumpah. Masalah game doang sampai bertengkar. Mending belajar, deh.”


“Lah elu… kebanyakan belajar makanya jomblo terus. Kita nggak mau bernasib sama yah,” ledek Fadhel.


“Udah gitu friendzone akut lagi,” timpal Arka.


“Wahh... ngajak perang yah lu berdua.” Rey menyimpan kembali buku di raknya kemudian menghampiri Arka dan Fadhel.


“Tenang boss... Kelulusan masih lama. Ntar kalau udah lulus baru kita perang,” ucap Fadhel. Rey cuma menghela nafas. Ia duduk diantara Arka dan Fadhel, menghadap ke TV.


“BTW, lu nggak gercep amat sih ngedeketin Ziyan. Kayak anak baru itu dong,” ucap Arka seraya


menggantungkan lengan di bahu Rey.


“Bukan gue yang nggak gercep. Dia aja yang nggak peka kalau gue suka,” sanggah Rey.


“Bukan nggak peka. Lebih tepatnya, dia nggak tertarik sama lo,” seloroh Fadhel sambil tertawa.


“Rey... Rey... muka lo sih, muka-muka sad boy.” Arka ikut-ikutan meledek Rey.


Rey mendengus pasrah sekaligus kesal. Rupanya begini rasanya dinistain sahabat sendiri. Rey bangkit mengambil tasnya dan hendak pergi. Cepat-cepat Arka dan Fadhel menarik kembali tangan Rey hingga membuat Rey kembali duduk di tengah-tengah mereka.


“Boss, kita ikhlas aja udah. Masih banyak cewek lain. Tuh, Arka banyak kenalannya,” kata Fadhel. “Daripada lo jomblo mulu. Ye kan...” sambungnya.


“Lo tinggal bilang kriteria yang bagaimana. Langsung gue cariin deh.” Arka menunjukkan foto-foto wanita yang tersimpan di galeri ponselnya.


“Gue nggak butuh orang lain. Orang lain nggak bisa seperti Ziyan. Dan gue rasa, dia cuman satu


di muka bumi ini. Gue nggak akan bisa temukan Ziyan lagi selain Asy-Syifa Az-Ziyan,” papar Rey. Arka dan Fadhel mengangguk-angguk dengan ekspresi julid


mereka.


~*~


Habis sudah minuman yang dipesan Kai tadi untuknya dan Ziyan. Ziyan merapikan kembali sisa-sisa sampah plester dan obat merah tadi. Sementara Kai, ia sedang berada di kasir untuk membayar. Usai itu, ia kembali pada Ziyan yang masih duduk di tempat mereka tadi.


“Gue balik, yah.” Ziyan menggantung tasnya di pundak. Ia berbalik hendak meninggalkan Kai.


“Gue antar. Yuk !” ajak Kai.


“Nggak usah. Gue bisa pesan taksi online, kok,” tolak Ziyan dan bergegas pergi.


Kai menahan dan menarik tangannya keluar dari kafe. Ia tak melepas tangan Ziyan yang terlihat kebingungan. Mereka pergi ke tempat dimana motor Kai terparkir. Kai menyodorkan helm pada Ziyan. Terlihat oleh Ziyan tato salib di pergelangan bagian dalam tangan Kai.


Entah mengapa hatinya merasa sakit dan kecewa. Padahal, baginya ia tak menyukai Kai sama sekali. Tapi, melihat tato salib milik Kai, hatinya sakit. Tiba-tiba terlintas fikiran bahwa ia dan Kai tak akan bisa bersama.


“Untung gue selalu bawa helm lain,” kata Kai, memakai helmnya.


Ziyan masih belum memakai helm itu padahal Kai sudah menyalakan mesin motor dan menunggunya naik. Ia masih memikirkan tato tadi.


“Kenapa?” tanya Kai.


“Nggak,” jawab Ziyan, menggeleng. Ia terpaksa menuruti Kai dan segera naik ke motor. Perlahan motor Kai melaju menuju asrama sekolah tempat Ziyan tinggal.


~*~