
“Eh, lo tau NCT nggak, Zee?” tanya Hanni, saat keduanya usai mengantri untuk membeli makanan dan hendak mencari tempat duduk.
Ziyan tak langsung menjawab. Matanya fokus mencari tempat kosong untuk mereka berdua. Kantin memang selalu ramai bahkan terkadang sampai tak tersisa satu tempat kosong pun. Disaat ia mulai pasrah karena tak terlihat satu tempat kosong pun, seseorang melambai-lambaikan tangan padanya.
“Zee !” Dia adalah Fadhel, teman sekelas Ziyan dan sahabat dari Rey. Fadhel mengisyaratkan agar Ziyan dan Hanni datang pada mereka.
“Eh Zee, sepertinya kursi mereka masih ada yang kosong,” ujar Hanni.
Hanni dan Ziyan pergi ke tempat Fadhel. Rupanya tak hanya ia seorang. Rey dan satu lagi sahabatnya, Arka, juga ada disitu. Melihat Ziyan datang, Arka yang duduk di sebelah Rey langsung berpindah tempat ke samping Fadhel. Ia mempersilahkan Ziyan duduk di sebelah Rey. Sedangkan Hanni duduk di sebelah Arka.
“Zee, lo belom jawab pertanyaan gue tadi,” keluh Hanni.
“Pertanyaan apa?” tanya Arka.
“Ihh... Cowok kok kepoan,” canda Hanni.
“Apa sih tadi yang lo tanyain? K-Pop yah?” tanya Ziyan yang memang tak terlalu mendengar jelas pertanyaan Hanni.
Wajah Hanni cemberut karena Ziyan tak mendengarnya. “Itu loh, gue tanya lo tau NCT nggak?” tanya Hanni, mengulang pertanyaannya beberapa menit yang lalu.
“NCT? Wahh... gue tau tuh,” sahut Arka. “Si Kim Taehyung itu kan?” ucapnya dengan bangga.
“NCT apaan? Itu BTS kali !” kata Hanni, sedikit kesal.
“Ohh... Iya, si Haruto kan?” tanyanya lagi.
Hanni memutar bola matanya. “Itu Treasure, gaje !” jawab Hanni. “Udah, lo diam aja.” Tangannya tanpa sadar menjitak kepala Arka.
Arka pun diam dan melanjutkan makan. Setelah itu, ia tak berkata apapun lagi.
“Kenapa emangnya, Han?” tanya Ziyan.
“Menurut gue, Kai itu mirip sih sama Lee Taeyong, leader mereka,” jawab Hanni.
“Nggak kenal, gue.” Ucap Ziyan. “Malah... menurut gue dia mirip dengan Rey,” tambahnya dengan melirik kepada Rey.
Mendengar ucapan Ziyan, Rey yang sedang minum sontak tersedak. Ziyan segera memberikan tisu pada Rey.
“Lo ada-ada aja, Zee. Mana mungkin gue mirip sama dia,” tutur Rey sambil tertawa garing.
“Ya, mungkin mata gue kali yang rada error,” canda Ziyan.
Kemudian ia membaca doa dan hendak menyantap makanannya. Akan tetapi, rambutnya yang terurai membuatnya sedikit kesulitan ketika harus menunduk agar makanannya tak berhamburan. Apalagi yang ia makan adalah mie ayam yang notabenenya adalah makanan berkuah.
Rey yang sedari tadi tak bersuara, tiba-tiba mengeluarkan sebuah ikat rambut dari saku blazernya lalu mengikatkan rambut Ziyan. Ketiga orang yang duduk di hadapan mereka pun berdehem-dehem tak jelas. Ziyan terdiam membisu saat Rey mengikat rambutnya.
“Kok lo bawa-bawa pengikat rambut sih, Rey?” tanya Fadhel sambil menaikkan alis matanya sebelah.
“Karena gue ingat, dia suka makan makanan berkuah dan suka rambut terurai. Tapi nggak pernah ingat bawa ikat rambut,” jawab Rey seraya memandangi Ziyan.
“Wuiiihhh...” goda ketiganya yang justru membuat Ziyan semakin terdiam tak bisa berkata apa-apa.
“Yaudah. Lanjut gih makannya,” ujar Rey.
Mereka semua pun melanjutkan makan. Setelah makanannya habis, Ziyan dan Hanni beranjak ingin kembali ke kelas. Sementara Rey, Arka dan Fadhel masih duduk sambil bercerita.
“Bentar !” tahan Rey, saat Ziyan hendak pergi.
Ziyan membalik menghadap Rey. Belum sempat ia bertanya ada apa, Rey bangkit lalu mendekati Ziyan. Ziyan mengeryitkan keningnya. Rey melepas ikatan rambut Ziyan.
“More beautiful,” ujarnya.
“Benarkan, begini lebih cantik?” tanya Ziyan sambil merapikan rambutnya. Rey menjawab dengan anggukan.
“Lo emang sahabat gue yang paling pengertian. Hanni aja kalah,” ujar Ziyan seraya menyubit pipi Rey. Ucapannya membuat Arka dan Fadhel tertawa.
“Kenapa?” tanyanya pada kedua orang itu. Arka dan Fadhel menggeleng sambil menahan tawa.
“Yaudah, gue ke kelas. Yuk Han !” Setelah berkata demikian, Ziyan dan Hanni meninggalkan Rey dan kedua temannya.
“Wah, sepertinya lo benar-benar terjebak friendzone akut, brother...” kata Fadhel setelah Ziyan dan Hanni pergi. Rey hanya mendengus mendengar ledekan sahabatnya itu.
“Padahal lo pujaan siswi-siswi. Tapi, Zee betul-betul nggak tertarik ke lo,” timpal Arka disusul tawanya. “Penasaran gue, tipe idealnya si Zee seperti apa...” imbuhnya.
“Kalau yang tampan dan pintar seperti Rey aja nggak masuk list. Terus, yang masuk nominasi yang gimana dong?” ujar Fadhel. “Kalau menurut gue sih, anak baru itu juga lumayan. Sebanding lah sama Rey,” lanjutnya.
“Iya sih. Tapi menurut gue, emang si anak baru itu lebih tampan. Mukanya aja mirip idol. Wajar sih, kalau dia langsung jadi pusat perhatian. Mengalahkan big boss kita,” tutur Arka.
“Weiss... lo jangan bilang begitu. Ntar sih big boss marah. Bisa hancur nilai kita,” kata Fadhel.
“Sadar juga kalian?” celetuk Rey. Arka dan Fadhel malah cengengesan. Sadar kalau Rey selalu membantu memberikan contekan untuk mereka.
~*~
Hanni dan Ziyan berjalan menuju kelas. Wajah Hanni Nampak sekali ia ingin menanyakan sesuatu pada Ziyan. Namun ia takut akan menyinggung hati sahabatnya. Berulang kali ia berfikir. Sampai akhirnya, saat mereka berada di lift, Hanni memberanikan diri untuk mengungkapkan apa yang ada di fikirannya.
“Zee, lo beneran nggak ada perasaan apapun buat Rey?” tanya Hanni yang berdiri di samping Ziyan. Ziyan mengangguk yakin.
Hanni berdiri di hadapan Ziyan agar dapat melihat ekspresi sahabatnya. “Menurut gua, Rey itu beneran suka sama lo,” ungkap Hanni.
“Han, dia itu sahabat gue. Nggak mungkin lah gue naksir sama Rey,” papar Ziyan. Ia menarik Hanni menyingkir dari hadapannya saat pintu lift terbuka dan mereka sampai di lantai 3.
“Orang sahabatan juga bisa kali saling suka. Bahkan bisa menikah,” ujar Hanni.
“Tapi nggak buat gue. Lo tau kan, gue tipe yang susah tertarik dengan cowok?” balas Ziyan.
“Iya sih, tapi…”
“Han, I can love someone. But, not him,” papar Ziyan yang membuat Hanni tak berani lagi mengungkit hal tersebut.
“Gue mau ke toilet dulu, yah...” ucap Hanni saat mereka sudah dekat dari kelas. Ziyan mengiyakan. Tanpa aba-aba, Hanni langsung berlari ke toilet.
Ziyan sampai di pintu kelas. Langkahnya terhenti sampai di pintu. Ia melihat ke dalam kelas. Tepatnya pada Kai yang duduk di bangkunya sambil melihat ke arah luar melalui jendela. Ziyan tertegun memandangi Kai yang
berwajah datar tanpa ekspresi. Entah apa yang sedang ia fikirkan tentang anak baru itu.
Lama Ziyan memandangi Kai. Sampai akhirnya Kai sadar dengan kehadirannya dan menoleh pada Ziyan. Ziyan tersadar dan buru-buru masuk ke dalam kelas. Ia duduk di bangkunya lalu merebahkan kepalanya di atas meja. Perlahan ia memejamkan matanya.
Belum ada lima menit ia memejamkan mata, tiba-tiba ia merasakan ada sesuatu yang mengganggu di telinganya. Ia mendengar sebuah musik. Sepertinya seseorang mencoba memasang sebuah airpods di telinganya. Ziyan menahan tangan orang tersebut seraya membuka mata.
Ziyan mendapati Kai sedang mencoba memasang airpods di telinga Ziyan. Bukan hanya itu, wajah Kai berada sangat dekat dengan wajah Ziyan. Keduanya sama-sama kaget dan saling pandang untuk beberapa saat.
“Apa-apaan lo?” tanya Ziyan seraya berdiri menjauh dari Kai.
“Nggak. Gue cuman mau ngajak lo dengar lagu.” Kai menunjukkan layar ponselnya yang sedang memutar sebuah lagu.
“Lo lupa kalau dilarang menggunakan barang elektronik?” tanya Ziyan, lagi. “Gue nggak mau ikut-ikutan dihukum gara-gara lo...” lontarnya.
Rey, Arka, dan Fadhel baru kembali dari kantin dan akan masuk ke kelas. Tapi, ketiganya berhenti ketika melihat Kai yang memeluk Ziyan. Rey menarik kedua temannya untuk bersembunyi. Ia memperhatikan Ziyan dan Kai dari luar. Arka dan Fadhel melebarkan kelopak mata, terkejut dengan apa yang mereka lihat. Keduanya lalu melirik Rey yang Nampak sangat kesal dan kecewa.
“Rey…” Fadhel tak melanjutkan kalimatnya karena Rey menarik kerah bajunya. Tapi ia masih melihat ke dalam kelas. Fadhel melirik Arka. Arka pun mengisyaratkan agar Fadhel diam.
Di dalam kelas.
Kai melepas pelukannya pada Ziyan dan langsung menjauh. Ia tak berkata apapun karena gadis itu menatapnya.
“Maaf !” ucap Kai. Tak tahu mengapa, dirinya seakan kehilangan kosa-kata dan hanya mengingat kata tersebut.
Jantung Kai berdegup kencang. Ia terus mundur saat Ziyan mendekatinya. Ziyan menarik tangan Kai. Saat tangan gadis itu menyentuh tangannya, sontak tubuh Kai membatu. Jantungnya seperti berhenti berdetak. Namun, matanya tak ingin beralih dari memandangi gadis itu.
“Ini...” Ziyan melepas airpods milik Kai dan mengembalikannya.
“Ahhh... Iya.” Kai mengambil kembali airpods tersebut lalu kembali ke bangkunya. Baru kali ini ia merasa mati kutu saat berhadapan dengan seseorang.
Rey berbalik pergi. Fadhel memanggilnya tapi tak dibalas oleh Rey. Arka dan Fadhel bermaksud menyusul Rey, namun, tahu-tahu saja bel masuk kelas berdering. Walhasil, mereka terpaksa mengurungkan niatnya dan masuk ke kelas.
~*~
Ziyan menyadari Rey tak ada di kelas. Ia bertanya pada Arka dan Fadhel. Namun keduanya hanya mengangkat bahu. Tak lama, Pak Dharma masuk ke kelas untuk mengajar.
“Pak, Rey tidak masuk kelas,” lapor Ziyan.
“Ohhh… Rey. Dia izin karena tidak enak badan,” ucap Pak Dharma sembari membuka lembaran-lembaran buku.
Ziyan yang tadi melihat Rey baik-baik saja menjadi terkejut. Ia menoleh ke Arka dan Fadhel bergantian. Keduanya tetap saja hanya menggeleng dan mengangkat bahu tanda tak tahu menahu tentang Rey.
“Pertemuan sebelumnya, kita telah membahas tentang sistem saraf. Ada yang bisa sebutkan kembali saraf manusia terbagi menjadi berapa dan apa saja kelainan atau penyakit pada saraf?” tanya Pak Dharma, mengetes pemahaman para murid terkait materi sebelumnya.
Ziyan mengangkat tangannya.
“Oke, Ziyan, silahkan jawab !” cakap Pak Dharma, mengira Ziyan akan menjawab pertanyaannya.
“Saya izin ke WC, pak,” ucap Ziyan.
“Ohh... silahkan !” Pak Dharma mempersilahkan Ziyan ke WC.
“Pak !” giliran Rachel yang mengangkat tangan. Pak Dharma juga mengira Rachel akan menjawab pertanyaannya. Ia lalu mempersilahkan Rachel.
“Buku catatan saya ketinggalan di loker. Izin ambil, Pak,” ungkap Rachel. Pak Dharma menghela nafas kemudian mengizinkan Rachel untuk mengambil catatannya.
“Ada yang bisa menjawab?” tanya Pak Dharma, berharap akan ada murid yang menjawab pertanyaannya.
Kai mengangkat tangannya. Pak Dharma sangat senang karena difikirnya, Kai yang akan menjawab pertanyaannya.
“Pulpen bapak jatuh,” ucap Kai.
Pak Dharma melihat ke bawah dan cepat-cepat mengambil pulpennya. Ia mendengus kesal karena tak ada yang menjawab pertanyaannya. Ia memutar bola matanya, pasrah.
“Baiklah, mungkin bapak harus jelaskan dari awal lagi,” ujar Pak Dharma sambil menulis di papan tulis.
Di WC, Ziyan bukannya buang air atau sekadar mencuci wajah. Ia justru menggunakan ponselnya. Karena hanya di WC lah yang bersih dari intaian CCTV. Ziyan menelpon Rey tapi tak diangkat oleh Rey karena ia sedang mengemudi. Ia pun mengirimkan pesan untuk Rey.
“Rey, gue dengar lo lagi nggak enak badan.”
“Lo sakit?”
“Jangan lupa minum obat, yah.”
“Gue nggak mau sahabat gue sakit.”
“Lo nyetir mobil? Kenapa nggak naik taksi aja?”
“Kalau lo kenapa-napa di jalan gimana?”
“Jangan lupa kabarin yah, kalau lo sudah sampai.”
Rey melirik ponselnya yang ditaruh di kursi penumpang di sebelahnya. Tampak notifikasi pesan dari Ziyan. Ia membaca sebentar pesan tersebut dan tidak membalas apapun.
~*~
Huftt...
Sepulang sekolah, Ziyan langsung menuju ke kamarnya. Sesampainya di kamar, ia merebahkan tubuhnya di atas kasur. Ia memandangi langit-langit kamarnya. Mendadak ia terbayang kembali kejadian saat wajah Kai begitu dekat dengan wajahnya. Ziyan berusaha mengusir bayang-bayang tersebut. Ia memejamkan matanya berharap akan segera tertidur dan melupakan kejadian tadi. Sayangnya, justru bayangan itu semakin jelas tergambar dalam ingatannya.
“Gue kenapa sih?” batinnya seraya menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
Ponsel yang ada dalam tasnya berbunyi. Menandakan ada sebuah panggilan masuk. Ziyan mengeluarkan ponsel tersebut. Dilayar tertera nama “Kakak”. Yah, itu adalah kakaknya yang menelponnya. Ziyan merasa sangat gembira dan langsung mengangkat panggilan video dari kakaknya itu.
“Halo, Kak. Apa kabar? Aku kangen banget, loh...” ujar Ziyan. Saking bahagianya, ia sampai lupa mengucapkan salam.
“Salam dulu, dong. Assalamu’alaikum,” balas sang kakak, Thibry.
“Hehehe... Waalaikumussalam,” ucap Ziyan.
“Kakak baik-baik aja. Kamu disana apa kabar?” ucap Thibry, menanyakan kembali kabar Ziyan.
“Aku juga baik. Kuliah kakak masih lama nggak sih?” tanya Ziyan.
Dua bersaudara ini hidup berjauhan antar negara. Thibry mendapat beasiswa kuliah di Marmara University, Istanbul, Turkiye. Sudah hampir 4 tahun mereka hidup berjauhan. Ziyan hanya hidup dengan kakaknya. Kedua orangtua mereka sudah lama tiada. Kedua alasan itu yang membuat Ziyan lebih memilih tinggal di asrama.
“Tinggal beberapa bulan lagi. Ini udah awal semester 8. Makanya, doain biar undergraduate thesis kakak lancar. Sabar yah, nanti kalau kakak pulang pasti bawain hadiah,” ujar Thibry.
“Aku nggak perlu hadiah. Kakak pulang dengan selamat aja udah jadi hadiah buat aku,” balas Ziyan.
“Zee, kamu masih belum berhijab yah?” tanya Thibry yang hanya bisa dibalas oleh Ziyan dengan senyuman.
Sudah sejak tinggal di Turkiye dan mengambil jurusan teologi Islam, Thibry selalu menginginkan adiknya agar berhijab. Tapi, belum ada kesiapan dalam diri Ziyan.
“Kapan kamu mau berhijab?” tanya Thibry lagi.
“Sepertinya sekolahku nggak memungkinkan deh, Kak. Nanti yah kita lihat, kapan...” jawab Ziyan.
“Hmm... Oke. Kakak nggak maksa. Tapi kamu jangan tinggal sholat, ngaji, dan jangan pacaran. Kakak nggak mau kamu sakit hati karena cowok. Kalau ada yang berani sakitin kamu, lapor sama kakak yah…” tutur Thibry. Ziyan hanya mengangguk dan tertawa.
“Yaudah, aku mau istirahat yah, Kak. Baru pulang sekolah nih,” kata Ziyan. Thibry mengangguk. Setelah mengucapkan salam, ia pun memutus panggilan video.
~*~
Huhuhu... kalau author jadi Ziyan mungkin dah pingsan kali yah. Palagi kalau ganteng kayak Taeyong. Auto nggak bisa napas.
Author ngetiknya sambil ngehaluin ditatap Taeyong. Hahaha...
Sengaja nggak di tampilin visual. Biar general aja. Terserah kalian mau bayangin visual Kai pakai siapa. Pakai bias kalian aja sekalian...