OBSESSED WITH HEART

OBSESSED WITH HEART
CAN YOU FEEL MY HEART ?



“Woy, Rey !” kejut Arka dan Fadhel bersamaan saat melihat Rey asyik melamun.


Pagi ini, disaat jam menunjukkan jam 9, mereka sedang duduk-duduk di kursi kafe sambil menikmati kopi hangat di awal hari. Semenjak datang hingga sekarang, Rey tak pernah berbicara. Ia selalu diam termenung. Arka dan Fadhel pun keheranan karena tak tahu apa yang ada di pikiran Rey saat ini.


Sementara Rey masih mempertanyakan maksud kedua orangtuanya tadi malam. Tersimpan banyak tanda tanya di hatinya. Itu sebabnya ia jadi lebih banyak termenung dan membuat bingung kedua temannya.


“Huh. Sudahlah, tak ada sangkut pautnya denganku,” gumam Rey pada dirinya sendiri. Ia berusaha menghilangkan semua pikiran-pikiran tentang Kai. Lagipula, ia sedari awal juga tak peduli tentang Kai. Untuk apa pula ia memikirkannya sekarang.


“Apanya Rey?” tanya Arka yang semakin terheran-heran dengan Rey.


“Nggak ada,” jawab Rey.


“Hari ini lo aneh banget tau nggak? Melamun terus bicara sendiri. Lo sakit?” cecar Fadhel.


“Gue fine aja,” balas Rey.


Arka dan Fadhel pun ber-oh ria sambil mengangguk-angguk. Padahal dalam hatinya masih penasaran.


“Gimana hubungan lo dengan Ziyan? Masih kalah sama rival lo?” tanya Fadhel.


“Dhel, kalau menurut gue sih, Rey ini lemah banget kalau soal dekatin cewek. Entah efek kebanyakan baca buku atau kalah menarik,” tutur Arka.


“Meremehkan lu,” komentar Rey yang tak terima dengan ucapan Arka.


“Rey, lo harusnya langsung jujur aja dengan Ziyan. Biar dia tahu perasaan lo. Daripada kedahuluan orang, gimana? Nggak takut lo?” ujar Fadhel.


“Gue susah buat ngomongnya,” balas Rey.


“Ya ampun, Rey.” Arka dan Fadhel sama-sama menepuk jidat masing-masing.


“Lebih baik nyatakan aja, daripada lo pendam,” anjur Fadhel.


“Kalau gue ditolak gimana?” tanya Rey sambil menyandarkan tubuh di kursi.


“Kalau soal itu, gue nggak tahu sih. Gue belum pernah ditolak soalnya,” ujar Fadhel.


“Gue juga,” timpal Arka. “Kini gue tahu dimana lemahnya Rey,” ungkap Arka.


Fadhel menghela nafas. “Ternyata... Pangeran sekolah kita nggak bisa apa-apa kalau urusan cinta,” tuturnya.


“Males gue ngomong sama lu berdua. Nista banget perasaan, gue dihadapan kalian,” keluh Rey. Sontak Arka dan Fadhel tertawa terbahak-bahak. Sampai-sampai orang-orang melihat ke arah mereka.


Ponsel Rey berbunyi. Ia pun segera mengangkatnya. Rupanya itu adalah telepon dari Ziyan. Rey hampir lupa kalau ia ada janji dengan Ziyan untuk menemaninya ke toko buku.


“Gue cabut, ya.” Rey lalu meninggalkan Arka dan Fadhel.


“Good luck, boy !” seru Arka.


Arka dan Fadhel kembali menikmati kopi. Beberapa menit kemudian, setelah kopi mereka habis. Keduanya baru tersadar kalau mereka sama-sama tak membawa uang. Mendadak keduanya jadi panik.


“Lu yang bayar, kan lu lebih kaya dari gue,” suruh Fadhel pada Arka.


Arka memeriksa dompetnya dan ingat kalau kartu kreditnya disita oleh ayahnya. Dikarenakan perihal ia sangat sering bermain dengan para wanita.


“Kartu kredit gue disita,” cakap Arka.


“Kenapa lu nggak bilang?” Fadhel menjitak kepala Arka dan membuatnya meringis sakit. “Terus gimana dong?”.


Arka mengangkat bahunya. “Mana gue tahu. Kan Rey bilang dia yang mau bayar,” Cakap Arka sambil mengelus-elus kepalanya yang habis dijitak Fadhel.


“Si Rey pakai cabut duluan segala,” ucap Fadhel.


Arka dan Fadhel bangkit dan pergi menuju kasir dengan harapan Rey sudah membayarkan pesanan mereka. Dan, nasib baik sedang berpihak ke keduanya. Untung saja, Rey sudah membayarkan semua yang mereka pesan. Keduanya lantas memuji-muji Rey. Hampir saja mereka terpaksa menjadi pelayan sebagai ganti pembayaran.


“Rey, gue nggak akan nistain lo lagi,” gumam Arka setelah keluar dari kafe.


“Woy.” Fadhel datang mengejutkannya dari belakang. “Tadi Rey bilang mau kemana?” tanyanya.


“Perpus,” jawab Arka, ketus. Ia merasa kesal pada Fadhel yang datang-datang mengagetkannya. Untung jantung tidak berhenti seketika, batinnya.


“Sama Ziyan kan?” tanya Fadhel lagi.


“Lo udah tahu kenapa masih nanya sama gue?” Arka mendorong tubuh Fadhel menjauh.


“Anjir, santai aja kali !” Sinis Fadhel. “Gue ada ide. Kita susul yuk !” Ajaknya. Rey menyetujui ajakan Fadhel. Mereka lalu pergi menyusul Kai. Entah untuk mendukung atau malah menistakan.


~*~


Kini Rey sedang bersama Ziyan di sebuah toko buku. Ziyan suka mengajak Rey disaat ia ingin membeli buku. Rey sangat pintar memilih buku yang cocok jadi refrensi belajar. Juga, Rey akan selalu senang hati menemaninya.


Rak demi rak mereka lewati. Rey tak henti-hentinya memandangi Ziyan yang sedang memilih-milih buku. Sesekali Ziyan bertanya pendapat Rey tentang buku yang ingin dibelinya. Ziyan masih saja tak sadar kalau Rey memperhatikannya.


Tanpa sepengetahuan Rey, Arka dan Fadhel sampai di toko buku yang sama dengan yang Rey dan Ziyan datangi. Setelah mereka tiga kali salah tempat dan berkeliling toko buku mencari teman mereka. Hampir saja mereka dituduh yang tidak-tidak.


Keduanya masuk sambil melirik kesana kemari mencari sahabatnya. Dengan bersembunyi diantara rak-rak buku agar Rey tak menemukan mereka.


“Itu mereka,” bisik Fadhel. Ia dan Arka pun pergi mendekat.


Rey tak tahu kalau kedua temannya kini ada sedang berjongkok di balik rak yang ada di depannya.


“Rey...”


Akhirnya Rey tertangkap basah oleh Ziyan sedang memandanginya sambil tersenyum.


“Lo kenapa, senyum-senyum gitu lihat gue?” tanya Ziyan.


“Hmmm... Nggak apa-apa,” jawab Rey, membalik ke belakang untuk menyembunyikan wajahnya yang malu. “Zee...” Kai membalikkan badan dan mendapati Ziyan tepat di hadapannya. Ekspresi Ziyan seolah bertanya ada apa pada Rey. Tapi, Rey hanya diam.


“Rey?” Tanya Ziyan. Rey masih diam memandanginya bagikan patung. Ziyan menggelengkan kepala lalu kembali memilih buku.


“Rey bodoh !” umpat Arka, pelan. Lalu ia teringat ucapannya tadi yang tidak akan menistakan Rey lagi. “Sorry, Rey. Habis lu bikin orang gemes,” ucapnya dalam hati.


“Bisa kedengeran, sialan !” bisik Fadhel.


Seorang pegawai melihat ada dua orang yang berjongkok entah sedang melakukan apa. Ia pun datang menghampiri.


“Cari buku apa, Mas?” tanyanya.


Bukannya menjawab, Fadhel dan Arka kompak menarik tangan pegawai wanita itu dan ikut berjongkok bersama mereka. Menguping pembicaraan Rey dan Ziyan. Pegawai itu hendak berbicara lagi dan langsung diberi isyarat diam oleh Fadhel. Ia ikut saja, meskipun tak mengerti dan mengenal kedua orang aneh tersebut.


“Rambut lo kenapa diikat sih, hari ini?” tanya Rey dengan raut wajah tak suka.


“Hari ini lumayan panas soalnya. Bakal gerah banget kalau diurai. Kenapa?” tutur Ziyan diakhiri dengan pertanyaan.


“Gue lebih suka lihat lo dengan rambut terurai. Kelihatan lebih... cantik.” Rey memelankan suaranya ketika mengatakan ‘cantik’ dengan malu-malu.


“Bisa aja lu,” balas Ziyan. “Udah ketemu nih. Yuk !” ucapnya mengajak Rey untuk pergi membayar.


“Hah? Dimana?”


Rey rupanya sudah sadar dengan keberadaan Arka dan Fadhel. Ia lalu pergi ke balik rak. Arka dan Fadhel menutupi wajah mereka dengan buku. Walaupun begitu, mereka sudah ketahuan oleh Rey.


“Hey, dua cicak !” panggil Rey.


Arka dan Fadhel berdiri sambil tertawa. Sementara pegawai wanita tadi segera pergi dari situ. Ziyan membelalakkan mata, terkejut dengan kehadiran Arka dan Fadhel.


“Kalian juga ada disini?” tanya Ziyan. Keduanya hanya tertawa sambil mengangguk.


“Lu sih, gara-gara lu nih,” tuduh Fadhel seraya mendorong Arka.


Arka juga tak mau kalah. Ia balas mendorong Fadhel sambil berkata, “Kok gue, kan yang ngajak elu.”


“Ngapain lu pada disini?” tanya Rey, ketus.


“Cari buku dong Rey. Emang kalian aja yang senang cari buku buat belajar. Kita juga senang beli buku,” jawab Arka berbohong.


Ziyan tertawa. “Ohhh... Udah dapat bukunya?” tanyanya.


“Yaelah, Zee. Mereka itu buntutin kita bukan nyari buku. Mana ada orang cari buku sambil jongkok ngumpet-ngumpet,” ujar Rey.


“Yaudah lah. Biarin aja. Nggak boleh suuzon tau... BTW, kalian mau ikut kita ke perpus lagi habis ini?”


“Mau... Mau...” jawab Arka dan Fadhel bersamaan.


Rey terpaksa membolehkan kedua temannya itu ikut dengan mereka. Setelah membayar buku, mereka pun pergi dari toko buku menuju perpustakaan.


~*~


Di perpustakaan.


Rey duduk bersebelahan dengan Ziyan. Sedang Arka dan Fadhel ia suruh untuk jauh-jauh darinya. Pandangan Rey tak lepas dari Ziyan yang sedang mengetik di laptop. Ia mengeluarkan ponsel dan airpods. Satu airpods ia pasang di telinganya dan satunya lagi ia pakaikan ke telinga Ziyan. Ziyan tak menolak. Ia tetap fokus meneruskan apa yang dikerjakannya. Perlahan, lagu I can’t Make You Love Me by Adele.


Cause I can't make you love me if you don't,


(Karena aku tidak bisa membuatmu mencintaiku andai kau tidak (mencintaiku))


You can't make your heart feel,


(Kau tidak bisa membuat hatimu merasakan,)


Somethin' that it won't.


(Sesuatu yang tidak akan kau (rasakan))


And here in the dark, in these final hours,


(Dan di sini dalam gelap, dalam saat-saat terakhir,)


I will lay down my heart.


(Aku akan memberikan hatiku.)


And I will feel the power but you won't,


(Dan aku akan merasakan kekuatan, tapi kau tidak akan (merasakan))


No you won't...


(Tidak, kau tidak akan (merasakan)...)


Raut wajah Ziyan berubah. Sepertinya ia mengerti maksud Rey memutar lagu tersebut. ia tetap bersikap santai,


padahal hatinya sedang tak karuan. Di tambah Rey yang sesekali meliriknya disela-sela mengerjakan tugas. Ziyan bergegas menyelesaikan tugasnya agar tak berlama-lama disituasi ini.


Usai tugas mereka selesai. Segera mereka keluar dari perpustakaan. Rey dan Ziyan berjalan didepan sedangkan Arkan dan Fadhel mengikut di belakang mereka.


Cahaya matahari lumayan menyilaukan. Ziyan hanya menunduk untuk menghindari cahaya matahari yang


kebetulan mengarah ke mereka. melihat itu, Rey yang memakai topi melepaskan topinya dan memakaikan di kepala Ziyan.


“Memang sahabat yang perhatian,” puji Ziyan sambil tersenyum.


“Aku memang sahabatmu yang paling baik dan pengertian.” Rey mulai membanggakan dirinya. Meskipun cukup sakit saat ia hanya mendapat kata sahabat dari Ziyan.


“Hanni pasti mengamuk kalau mendengar ucapan lo barusan.”


“Ohh... Sebentar !” Rey berhenti. Ia mengeluarkan ponsel dan mengirim pesan suara kepada Hanni. “Gue adalah


sahabat terbaiknya Zee. Gue pengertian, baik, pintar, dan tampan.”


Arka dan Fadhel yang ada di belakang tertawa kencang. Rey mendengus. Memang susah punya sahabat seperti kedua orang itu.


Tak lama, masuk pesan balasan dari Hanni. Ia juga mengirimkan pesan suara. “Ngomong apa lo? Nggak ada yang bisa saingi gue sebagai sahabat terbaiknya Zee,” teriak Hanni di pesan suaranya. Hal itu membuat Ziyan dan Rey tertawa.


Tangan Rey merangkul bahu Ziyan. Ziyan pun melirik padanya. Namun, Rey tetap melihat ke depan dan tersenyum. Entah senyum untuk siapa. Ziyan tak ambil pusing, Rey memang sahabatnya.


“Apaan sih, lo megang-megang gue?” pekik Fadhel seraya menjauh dari Arka yang merangkulnya.


“Dih, gue najis yah dekat-dekat lo,” balas Arka. “Lo yang duluan rangkul gue,” imbuhnya.


Padahal mereka saling merangkul satu sama lain dan akhirnya saling menuduh.


“Gue lebih najis yah. Mending gue dipegang cewek ketimbang lo. Kena laknat gue,” timpal Fadhel, tak mau kalah.


“Mending gue disentuh kuntilanak daripada lo. Kalau mbak kunti bisa gue bacain ayat kursi. Lah, kalau lo, gue


bacain 30 juz juga nggak bakal hilang,” lempar Arka.


“Sok alim lu, 3 qul aja lo masih terbalik-balik.”


“Wahh... bawa-bawa agama lu yah? Emang ngaji lo udah bagus apa?”


Kedua lelaki itu tak sadar orang-orang yang lewat pada memperhatikan mereka. Untung saja wajah keduanya


tampan sehingga mereka tak langsung diusir dari area tersebut.


“Keributan apa lagi ini?” batin Rey dengan wajah pasrah.


Ia membalikkan tubuh ke belakang. Orang-orang pada melihat ke arah mereka. Pasti karena adu mulut antara dua temannya tadi mengundang perhatian orang banyak. Yang justru membuatnya heran, kedua temannya itu malah saling rangkul dan melempar senyum lebar padanya. Bukan hanya Rey, Ziyan pun ikut bingung.


“Jangan lo cari masalah lagi sama gue,” tegas Fadhel, pelan, setelah Rey dan Ziyan kembali membelakangi mereka.


~*~