
Seorang gadis remaja yang berusia 18 tahun, kini melangkahkan kakinya menuju kelasnya. Gadis itu adalah siswa dari kelas 12 F, kelasnya berada di ujung lorong. Dan parahnya kelas itu berada di lantai 5. Hal itu sangat membuat dirinya kesal.
Kakinya berasa ingin patah saat berjalan menaiki tangga. Sebenarnya di sekolah ini lift, namun lift itu sedang dalam perbaikan. Sudah dua bulan lebih lift itu tidak bisa digunakan. Terpaksa para siswa harus ke kelas menggunakan tangga.
Ketika ia baru sampai di kelas, ketiga teman prianya malah menariknya keluar kelas. Oh god, apa yang akan mereka lakukan lagi hari ini? Ia lelah menaiki 3 lantai, dan ketiga temannya itu tidak membiarkan dirinya untuk beristirahat.
"Li ada berita bagus Li. " ucap salah satu temannya dengan semangat.
"Apa? " tanya gadis itu dengan malas.
"Dekel yang ganjen itu mau pindah sekolah dari sini. " jawabnya excited.
Alih alih gembira, gadis remaja itu pergi meninggalkan ketiga teman prianya itu sambil berkata "oh". Kesal tidak dihiraukan oleh gadis itu, pria ini merengek pada gadis remaja tersebut.
"Kok lo gitu sih Li, jahat. "
"Thur udah elah gitu aja ngambek. " tegur temannya.
"Tau nih si Arthur, dikit dikit ngambek. Kek cewek. Udah tau Liana anaknya kayak gitu. " timpal yang lain.
"Lo pada yakin mau di luar kelas, bentar lagi ada guru yang mau masuk lho. " Ketiga pria yang ditegur oleh Liana segera masuk ke kelas.
Karena guru belum masuk kelas Arthur melanjutkan berita yang ia sampaikan tadi pada Liana. Kebetulan Arthur, Liana, dan dua teman prianya tadi duduk depan belakang. Dan yang duduk sebangku dengan Liana adalah Arthur, jadi ia lebih mudah untuk berbicara pada Liana.
"Lu mau tau gak dekel itu mau pindah kemana? " tawar Arthur.
"Kemana? " tanya Liana. Sebenarnya ia tidak terlalu penasaran, tapi ia tidak mau melukai hati Arthur. Arthur anaknya memang sensitif dan mudah sekali marah.
"Dia pindah ke Sulawesi, bagus deh kalo dia pindahnya jauh dari sini. " jawab Arthur.
"Bagus deh. " balas Liana.
"Ion, lo udah ngerjain pr matematika dari Bu Clara? " tanya Liana pada Dion. Dion mengangguk lalu memberikan buku tugas matematikanya pada Liana. Dengan cepat Liana mengerjakan prnya tersebut.
Tidak butuh waktu lama, Liana sudah selesai mengerjakan tugasnya itu. Sebelumnya di rumah ia sudah menulis semua soal pr nya, jadi di sekolahh ia hanya menulis jawaban dari temannya. Tapi tidak semua jawaban pr ia menyalin dari temannya.
Hanya pada pelajaran matematika yang ia melakukan itu. Untuk pelajaran lainnya ia bisa mengerjakannya sendiri. Menurut Liana matematika membuat kepalanya pusing. Selain itu ia juga tidak suka dengan fisika. Sungguh ia benci yang namanya menghitung.
"Li, kakak lo yang namanya Vivian kemarin masuk kuliah jurusan apa? " tanya teman pria Liana satu lagi.
Atensi Liana beralih ke temannya itu, "Kayanya kedokteran, kenapa mangnya? " tanya Liana.
"Gak papa, gw kira kakak lo masuk jurusan akuntansi. " balas temannya.
"Jun, emang lo mau masuk jurusan akuntansi? " Seojun menjawab pertanyaan Dion dengan anggukan.
Tidak lama kemudian guru biologi mereka memasuki kelas. Liana yang tadinya mengerjakan tugas matematika, langsung mengehentikan kegiatannya. Bisa bisa ia dihukum kalau ketahuan oleh guru lain karena dianggap tidak menghargai guru.
Selama jam pelajaran dimulai, Arthur tak henti henti untuk menginformasikan kepindahan adik kelas mereka. Mulai dari alasan pindah, sekolah yang akan ditempati oleh adik kelas itu, dan daerah yang akan ditinggali olehnya.
Namun siapa yang peduli akan hal itu? Itu adalah urusan mereka bukan urusan dia atau kita. Karena suara Arthur saat mengajak berbicara terlalu keras, guru mereka akhirnya menegur Arthur. Kali ini yang terkena teguran bukan hanya Arthur, Liana, Dion, dan Seojun ikut kena tegur.
"Dion sama Seojun juga, kalian kan sudah tau peraturan di sekolah ini. Dilarang makan di kelas, apa kalian tidak pernah membaca peraturan di mading sekolah? " lanjut Bu Indah.
"Kok saya juga kena sih bu?! Kan yang ngobrol cuma Arthur! " protes Liana.
"Iya dong, kan Arthur ngobrolnya sama kamu masa sama hantu. " balas Bu Indah.
"Sekarang kalian keluar dari kelas saya! " titah Bu Indah. Dengan rasa terpaksa, keempat remaja itu pergi meninggalkan kelas.
Dion dan Seojun yang baru saja ingin melangkahkan kaki, langsung dicegat oleh Bu Indah. Rupanya beliau menyuruh Dion dan Seojun untuk membawa mie yang mereka makan tadi keluar kelas. Dengan senang hati kedua orang itu membawa mie mereka keluar.
"Itu kenapa mie nya lu bawa? " tanya Liana.
"Orang disuruh sama Bu Indah. " sahut
Dion. Liana hanya berdecak kesal. Ia masih kesal karena harus ikut dihukum.
Padahal dirinya tidak melakukan kesalahan. "Lain kali kalo mau ngajak ngomong liat waktu. " tegur Liana pada Arthur.
"Iya iya maap dah. " sesal Arthur.
"Btw nanti jadi kan main ke rumah lu? " tanya Seojun pada Liana. Liana hanya membalas dengan anggukan.
"Kakak kakak lo gak ada di rumah kan? " Pertanyaan Arthur membuat Liana berpikiran buruk. Ia memicingkan matanya ke arah Arthur.
Paham dengan tatapan Liana, Arthur langsung memberi penjelasan. "Jangan salah paham ei, gw nanya gitu soalnya gw gak enak kalo main ada kakak kakak lo. Takut ganggu. "
"Owh, tenang aja mereka gak ada di rumah. " balas Liana.
Semenjak kejadian 12 tahun yang lalu, Liana dan keempat kakaknya sangat rajin bekerja. Mulai dari Liana yang selalu menyempatkan waktu luang untuk melukis, Joy yang selalu membuat tempat pensil dan bandana rajut. Daffa dan Daffi yang membuat komik, dan Vivian yang membuat cerita di aplikasi novel online.
Dari hal itu mereka mendapatkan uang yang dapat mencukupi kebutuhan mereka. Selain hasil kerja mereka, mereka juga mendapatkan uang dari hasil penjualan rumah milik orang tua mereka. Kalau untuk bayaran sekolah, om dan nenek mereka lah yang membayarnya.
Setelah lulus kuliah, kakak pertama Liana yaitu Joy. Awalnya bekerja sebagai karyawan biasa di sebuah perusahaan desain. Karena ia bosan, alhasil ia iseng iseng menggambar sebuah desain baju. Ketika atasannya melihat desain baju milik Joy, atasan Joy sangat tertarik. Dibuatlah desain gaun milik Joy menjadi gaun yang nyata.
Sejak saat itu Joy, Daffa, Daffi, Vivian, dan Liana membuat banyak desain baju dan perhiasan. Lalu desain desain tersebut diberikan pada atasan Joy. Karena itu, mereka mendapat banyak uang yang dapat menghidupi mereka. Dan pada akhirnya Joy mendirikan perusahaan desain miliknya sendiri.
Begitulah kehidupan yang dialami oleh mereka. Beruntung? Iya. Berbakat? Juga iya. Jika tidak ada dua hal itu, mana mungkin 5 anak kecil itu bisa bertahan hidup sampai saat ini. Dan sekarang Liana dan Vivian tidak lagi melukis dan membuat novel. Kini mereka membantu Joy membuat desain baju dan perhiasan yang indah.
Lalu bagaimana dengan Daffa dan Daffi? Kini mereka telah menjadi dua orang komikus yang terkenal. Sudah puluhan jilid komik yang mereka terbitkan. Komik buatan mereka tidak hanya terkenal di Indonesia, komik komik mereka sudah terkenal di Malaysia, Amerika, Australia, Jepang, China, Singapura dan masih banyak lagi.
Liana juga telah terkenal sebagai pelukis cilik. Ia terkenal sejak usia 12 tahun. Walaupun sudah lama, ia tetap dikenal oleh banyak orang. Selain Joy, Daffa, Daffi, dan Liana. Vivian juga terkenal sebagai penulis novel. Ia sudah menerbitkan sebanyak 5 novel, selain itu ia juga telah memenangkan banyak lomba menulis.
Segini dulu ya.
Jangan lupa like dan komen.
See you next time.
Bersambung...