Not Twins

Not Twins
Episode 20



"Liana, tumben banget lo datang ke sekolah pagi-pagi? " heran seorang pria yang memasuki ruang kelas.


"Gw lagi bosan di rumah. " Lagi-lagi Liana harus mengucapkan kata "gw". Ayolah ini benar-benar sangat asing di lidahnya.


"Wih siapa nih yang datang pagi-pagi begini?! Gw lagi gak mimpi kan? " sahut teman dari pria tersebut.


Entah mengapa Liana merasa gugup saat teman dari pria itu mengajaknya berbicara. Pria yang membuatnya tertarik kemarin walaupun melalui sebuah foto, kini pria itu berada di hadapannya. Siapa lagi kalau bukan Arthur Carrington.


Liana hanya menatap lekat wajah tampan milik Arthur tanpa memperdulikan lingkungan sekitar. Menurut Liana Arthur lebih tampan dilihat secara langsung daripada melalui foto. Seojun yang sedari tadi memperhatikan Liana langsung menegur gadis itu secara terang-terangan.


"Li, lo ngapain liatin Arthur sampai kayak begitu? "


Hal itu membuat Liana kelimpungan mencari alasan. "A-aa itu. Ada kotoran di wajah lo Thur! " dusta Liana.


Sontak Arthur menyentuh wajahnya. "Serius Li?! Ion coba bersihin kotoran dari wajah gw! " pinta Arthur dengan polosnya.


Dion yang terkejut karena wajah Arthur yang tiba-tiba mendekat, langsung memundurkan wajah Arthur dengan jari telunjuknya. Tidak lupa dengan ekspresi julidnya. Seojun yang menjadi saksi kekonyolan kedua sahabatnya hanya bisa tertawa. Sedangkan Liana hanya bisa tersenyum kecil.


"Wihh tumben banget lo senyum Li! " seru Seojun lagi ketika melihat Liana tersenyum.


"Berisik lo! Apa-apa lo komenin! " geram Liana kesal.


"Udah ya, dari pada lo diamuk sama tuh anak. Mending lo duduk aja di tempat lo! " tegur Dion pada Seojun sembari berjalan ke tempat duduknya.


Seojun yang mendengar teguran Dion ikut duduk di tempatnya, yaitu di samping Dion. Begitu juga dengan Arthur. Tingkat kegugupan Liana meningkat karena duduk bersebelahan dengan Arthur. Tapi mau bagaimana lagi. Karena sejak Liana masih bersama Linda, Arthur sudah duduk di tempat itu.


"Li, lihat tugas biologi kemarin dong! " pinta Arthur.


Liana tersentak dan tersadar dari lamunannya. "Hah? " bingung Liana.


"Gw mau lihat tugas biologi dari Pak Ibnu. " ulang Arthur.


"O-oh iya-iya, sebentar. "


Sebenarnya Liana sendiri tidak tahu bahwa kelasnya memiliki tugas biologi karena Lucy sendiri tidak memberi tahu. Dengan tangan yang bergetar dan jantung yang berdebar cepat, Liana mencari buku catatan biologi di tasnya.


Tidak lama kemudian, Liana mendapatkan buku tersebut dan segera memberikannya pada Arthur. Dengan cepat Arthur mengambil buku catatan Liana dan mencari tugas yang diberikan gurunya itu. Liana memperhatikan penuh was-was, karena dia sendiri tidak tahu tugas tersebut sudah dikerjakan oleh Lucy atau belum.


"Li, ini nomor 8-10 belum lo kerjain ya? " tanya Arthur.


"Oh itu, emmm kemarin gw ketiduran jadi tugasnya gak selesai. " bohong Liana yang berusaha untuk tenang dan santai.  Dan lagi-lagi Arthur percaya dengan kebohongan Liana. Tentunya itu membuat Liana merasa lega.


_________________________


Setelah 2 jam berada di kelas selama pelajaran, akhirnya bel istirahat berbunyi. Semua siswa berhamburan keluar kelas termasuk Liana, Arthur, Dion, dan Seojun. Biasanya keempat remaja itu berada di kantin, namun kali ini mereka berada di taman sekolah. Itupun atas permintaan Liana.


Arthur dan Seojun juga sedang bertengkar karena mangkok bakso mereka yang tertukar. Arthur kesal lantaran bakso miliknya tidak menggunakan banyak sambal, sedangkan bakso milik Seojun sangat pedas karena Seojun memasukkan banyak sambal di baksonya. Dan itu membuat Arthur kepedasan.


Dion yang sudah biasa melihat kejadian itu hanya bisa menggelengkan kepala. Liana yang baru beberapa jam mengenal mereka bertiga hanya tertawa kecil melihat tingkah konyol kedua orang itu. Dan pastinya itu bukan hal yang biasa untuk Dion lihat.


"Li? Tumben lo ketawa? " tanya Dion keheranan. Liana yang tersadar dengan perilakunya langsung terdiam.


Dion yang melihat diamnya Liana, Dion langsung mengerti keadaan yang terjadi saat ini. "Lo bukan Lucy kan? " tanya Dion memastikan dengan berbisik.


Takut, bingung, gugup, dan panik adalah kata-kata yang tepat untuk kondisi Liana saat ini. Bagaimana Dion bisa tahu dengan hal ini?Mengapa Dion tahu bahwa Lucy adalah orang yang menggantikan dirinya? Liana hanya terdiam sambil berusaha menghindari tatapan mata Dion.


"Lo tahu darimana kalau gw bukan Lucy? Terus lo juga tahu darimana nama Lucy? " tanya Liana bertubi-tubi dengan suara yang kecil.


"Gw tahu karena sifat lo sama Lucy itu beda banget. Walaupun lo berusaha semirip mungkin untuk niru sifat Lucy, tapi semua itu belum cukup buat nutupin sifat asli lo. Kalau masalah darimana gw tahu Lucy, Lucy sendiri yang cerita ke gw. " jelas Dion panjang lebar.


Liana terheran-heran, dia masih ingat betul dengan perkataan Lucy agar orang lain tidak mengetahui masalah ini. Tapi mengapa Lucy memberi tahu Dion tentang masalah ini? Apa ada hal lain yang tidak Lucy ceritakan? Aneh! Itu yang ada di pikiran Liana saat ini.


"Sekarang Lucy ada di mana? " tanya Dion pada Liana.


"Lucy ada di rumahku yang dulu. Mungkin sekarang dia lagi ada di sekolah. " jawab Liana.


Setelah beberapa detik menjawab pertanyaan Dion, seketika Liana seperti teringat suatu hal. "Astaga aku melupakan sesuatu! " teriakan Liana membuat Dion terkejut.


Bahkan Arthur dan Seojun menghentikan pertengkaran mereka. Mereka semua menatap Liana dengan tatapan bingung. Liana yang mendapatkan tatapan seperti itu hanya cengengesan tidak jelas.


"Lo kenapa Li? " tanya Arthur.


"Ahh g-gak papa, biasa ada urusan di rumah hehehe. "


"Owhh, bikin kaget saja lo! " kesal Seojun.


"Ya maaf. "


Sebenarnya itu hanyalah kebohongan Liana. Di dalam hati, Liana sedang gelisah dan khawatir pada Lucy. Dia baru saja ingat bahwa semenjak dirinya menjadi Lucy, dia terus menerus mengalami yang namanya pembulian. Dia khawatir hal itu terjadi pada Lucy juga.


Apakah Lucy baik-baik saja? Apakah Lucy dapat menangani pembulian di sana? Bagaimana keadaan Lucy sekarang? Semua pertanyaan itu terus berputar di dalam kepala Liana. Liana tidak ingin Lucy mengalami hal yang serupa dengan yang ia alami.


_________________________


"Lucy Angelina! " Lucy bangun dari duduknya dan menghampiri guru yang sedang membagikan hasil ujian.


Ketika Lucy mendapatkan hasil ujian tersebut, terbit senyuman kecil di wajahnya. Laura yang melihat senyuman Lucy merasa sedikit lega. Dia menduga Lucy mendapatkan nilai sempurna. Pastinya hal tersebut membuat Laura mengira nilainya sempurna juga.


"Prety Laura Lelapary! "


Dengan percaya diri Laura pergi mengambil hasil ujiannya itu. Tepat tiba di depan kelas, Laura mendapatkan kertas ujiannya itu. Seketika kedua mata Laura terbelalak saat melihat nilai yang tertera di kertas ujiannya.


Tatapannya mengarah kepada Lucy yang sedang melempar senyuman ejekan padanya. Melihat senyuman tersebut, Laura tersadar bahwa dirinya telah ditipu oleh Lucy. Kini tatapannya yang penuh amarah mengarah pada gadis yang masih menatapnya dengan senyuman yang menyebalkan itu.


"Laura baru kali ini kamu mendapatkan nilai yang buruk. Apakah kamu tidak belajar tadi malam? " tanya guru fisika tersebut.


Laura hanya diam membisu. Entah apa yang sedang dia pikirkan di dalam kepalanya. Yang pasti, raut wajahnya sangat memperlihatkan bahwa dirinya sedang kesal. Bahkan seisi kelas membicarakannya karena nilai buruk yang pertama kali ia dapatkan itu.


"Hahhh, kalau begitu kamu bisa kembali ke tempat dudukmu. " Dengan kesal Laura berjalan menuju tempat duduknya dengan perasaan kesal.


Segini dulu ya.


Jangan lupa vote and komen.


See you next time.


Bersambung...