
Sudah 2 minggu lamanya Lucy memantau Liana melalui bodyguardnya. Dan sampai sekarang gadis yang ia awasi belum menyadari hal tersebut. Dari hasil pemantauan, Lucy mengetahui bahwa Liana selalu menjadi korban perundungan.
Ada beberapa alasan mereka merundung Liana, tetapi alasan yang paling kuat untuk Lucy ketahui adalah Liana tidak memiliki orang tua yang lengkap. Mereka tahu bahwa sebenarnya Liana atau lebih tepatnya dirinya hanyalah anak yang diasuh oleh seorang perawat.
Tentunya itu tidak dapat Lucy maafkan. Ada rasa bersalah yang timbul di hatinya juga. Seharusnya yang berada di posisi Liana adalah dirinya. Kalau pun Lucy yang berada di posisi itu, mereka juga tidak akan berani untuk terus merundungnya. Karena Lucy akan membalas perbuatan keji itu.
"Gw harus akhiri ini. " Setelah mengucapkan kata-kata itu, Lucy langsung pergi entah kemana.
Lucy menaiki mobilnya dan langsung pergi dari lingkungan rumah. Joy yang melihat mobil Lucy yang melaju cepat keluar halaman hanya bisa terheran-heran. Ada apa dengan adiknya itu?
"Daffi, lo tahu gak kenapa Liana bawa mobil pakai kecepatan tinggi gitu? " Tanya Joy ketika ia melihat Daffi yang berada di ruang tamu.
"Entah, gw juga bingung. Tiba-tiba dia keluar dari kamar sambil lari-lari terus pergi. Ditanyain juga diam saja tuh anak. " jelas Daffi.
Aneh, pikir Joy. Tidak biasanya di hari libur seperti ini Liana pergi di pagi-pagi buta. Bahkan gadis itu belum sarapan sama sekali. Pasti ada sesuatu yang sangat penting, tapi apa? Melihat Joy yang melamun, Daffi langsung menegur kakaknya itu.
"Sudahlah gak usah dipikirin, paling ke runah teman-temannya. " Joy hanya menghela nafas panjang.
__________________________
Rasa kegugupan kini sedang memenuhi hati seorang gadis yang kini sedang berdiri di depan rumah seseorang. Tangannya yang mengepal terangkat seperti ingin mengetuk pintu tersebut, namun ada sedikit ada keraguan.
Gadis itu menurunkan tangannya kembali. Ia menarik nafasnya secara perlahan lalu menghembuskannya kembali. Setelah merasa tenang, ia mengangkat tangannya kembali. Ia memberanikan diri untuk mengetuk pintu rumah tersebut.
Namun baru saja gadis itu ingin mengetuk pintu. Tiba-tiba pintu terbuka dan menampakkan seorang gadis yang seusia dengannya. Dapat terlihat ekspresi terkejut dari gadis itu. Ia sudah menduga pasti hal ini akan terjadi.
"Bisa saya masuk? " izinnya pada gadis yang tubuhnya masih mematung.
"Saya akan jelaskan semuanya. "
Karena si pemilik rumah juga penasaran dengan apa yang terjadi saat ini, ia hanya bisa menganggukkan kepalanya. Setelah mendapatkan persetujuan dari pemilik rumah, gadis itu masuk mengikuti si pemilik rumah.
"Silahkan duduk! " Gadis itu duduk di sofa, sedangkan si pemilik rumah pergi ke arah dapur. Sepertinya ia ingin membuat minuman.
Penasaran dengan isi rumah yang ia datangi, gadis tersebut bangkit dari duduknya dan berkeliling. Hingga pandangannya mengarah ke sebuah bingkai foto. Di sana terdapat sebuah foto seorang anak perempuan yang berfoto dengan seorang wanita.
"Kau sedang apa? " Suara seorang gadis mengalihkan atensinya.
"Nothing, aku hanya melihat-lihat. "
Gadis pemilik rumah hanya mengangguk-angguk sembari meletakkan minuman yang ia bawa di atas meja. Awalnya gadis pemilik rumah ingin melontarkan pertanyaan, namun terpotong oleh sang tamu.
"Apa wanita ini yang bernama Linda? " tanyanya.
Sontak si gadis pemilik rumah ternganga. Belum selesai dengan rasa terkejutnya, gadis di depannya itu melontarkan perkataan lain yang membuatnya semakin terkejut.
"Kenapa hanya diam, Lucy? "
"B-bagaimana kamu tahu namaku? Siapa kamu sebenarnya? " tanya gadis pemilik rumah bingung.
"Kau ingin tahu? Aku adalah Lucy Angelina yang sebenarnya. " jawab Lucy sambil menatap lekat wajah gadis yang berada di hadapannya, yang tak lain adalah Liana.
"Tidak mungkin! Aku Lucy Angelina! Kau berbohong! " sergah Liana. Mana mungkin dia bisa percaya begitu saja pada orang asing yang tidak ia kenal.
Melihat Liana yang tidak percaya padanya. Lucy langsung mengeluarkan beberapa berkas yang ditata rapi, lalu dia memberikan berkas-berkas itu pada Liana. Awalnya Liana bingung, mengapa gadis itu memberinya banyak berkas?
Namun ia mulai mengerti ketika Lucy menyuruhnya untuk membaca berkas-berkas itu dengan tatapannya. Perlahan Liana membuka berkas tersebut. Liana membaca berkas-berkas itu dengan teliti.
Mulutnya ternganga seperti tidak percaya. Terlebih lagi saat Liana melihat foto mereka berdua saat kecil. Di mana foto itu memperlihatkan tanda lahir pada telapak tangan Lucy yang sebenarnya.
Secara spontan Liana melihat ke arah telapak tangannya, dan benar saja dia tidak memiliki tanda lahir itu. Dan hal yang paling membuat dirinya terkejut adalah saat ia mengetahui bahwa gadis yang ada di hadapannya merupakan sangat dekat dengannya.
"Jadi kita sama-sama hilang ingatan? " tanya Liana.
"Ya, aku hilang ingatan karena kecelakaan lalu kau karena jatuh ke selokan. " jawab Lucy santai.
"Aku jatuh ke selokan? Wait, siapa yang memberi tahu alasan itu? Itu hal yang konyol! " protes Liana.
"Kakakmu sendiri yang bercerita. " balas Lucy.
"Kamu percaya begitu saja? Bisa saja dia berbohong. "
"Jika aku mengatakan ibumu yang bercerita juga bagaimana? Kau masih tidak ingin percaya? " tanya Lucy. Liana hanya terdiam.
"Aku ada satu pertanyaan lagi. " celetuk Liana. Lucy menaikkan alisnya.
"Bukan, kita hanya teman dekat saat kecil. " jawab Lucy setelah meneguk minuman yang dibuat oleh Liana tadi.
"Aku belum mempersilahkan kamu untuk minum. " sindir Liana.
"Kau sudah membuat minuman ini untukku, berarti kamu sudah mempersilahkan aku untuk minum! " balas Lucy.
"Lalu tujuanmu datang ke sini apa? "
"Kau ini bodoh atau apa? " ketus Lucy. Liana yang mendengar ketusan Lucy hanya mengerutkan dahinya pertanda bingung.
"Tentu saja kita harus bertukar. Kau kembali ke keluargamu dan aku akan tinggal di sini. " jelas Lucy.
"Ehmmm sorry bisa gak kita bicara tanpa bahasa baku? Jujur gw gak nyaman. " sela Lucy ketika Liana ingin berbicara.
"Aku gak suruh kamu buat bicara pakai bahasa baku. Kamu sendiri yang milih bicara pakai bahasa itu kan. " sahut Liana.
Jujur mendapat jawaban seperti itu dari Liana, membuat Lucy merasa sedikit kesal. Dan yang membuat dirinya berpikir adalah sepertinya selain Liana disangka miskin dan tidak memiliki ayah, penyebab lainnya adalah gadis ini menyebalkan.
"Jadi kamu mau aku kembali ke keluarga asliku gitu? " tanya Liana memastikan. Lucy membalas dengan anggukan.
"Emang kamu siap hidup yang se sederhana ini? Sejak kita tertukar kan kamu hidup di keluarga berada. " lanjut Liana.
"I know, but gak akan lama lagi pasti Kak Joy dan yang lainnya akan tahu kalau gw ini bukan Liana. Sebelum itu terjadi, kita sudah harus berada di tempat kita seharusnya. " jelas Lucy.
"Lo di rumah megah itu dan gw ada di sini bersama nyonya Linda. " tambah Lucy.
"Kak Joy? Siapa dia? " tanya Liana yang kebingungan.
"Ah gw lupa kalau lo juga hilang ingatan. Lihat note yang ada di ponsel gw! You will know everything. "
Liana mengambil ponsel Lucy. Sesuai perkataan Lucy, Liana membuka note yang ada di ponsel Lucy. Di sana terdapat foto 5 orang yang umurnya tidak berbeda jauh dengannya. Namun di antara mereka ada yang memiliki wajah yang serupa.
Sama seperti dirinya dan Lucy. Karena sudah sangat penasaran Liana langsung membaca note tersebut. Rupanya note itu berisi biodata Joy, Daffi, Daffa, dan Vivian, yang tak lain adalah kakak-kakak dari Liana.
Tidak hanya itu, di note tersebut terdapat perjalanan hidup keempat orang tersebut bersama Lucy selama ini. Dari ditinggalkan orang tua mereka yang tidak bertanggung jawab lalu bekerja keras agar mendapatkan uang untuk bertahan hidup.
Selesai membaca itu semua Liana menatap sendu Lucy. Dibalik tatapan tersebut ia merasa kasihan dan bersalah pada kelima orang tersebut, terutama pada gadis yang berada di hadapannya ini.
Ia merasa bersalah karena mereka semua bekerja keras untuk bertahan hidup, tetapi dirinya di sini hanya duduk dan dirawat oleh seorang wanita yang memiliki hati yang baik. Tetapi kehidupannya di sini juga sulit, walaupun tidak sesulit mereka berlima.
"Sudahlah gak usah kebanyakan mikir, itu keluarga lo sendiri. " cetus Lucy saat melihat Liana yang termenung seperti memikirkan sesuatu.
"Ta... "
"Apa? Lo gak enak sama gw karena gw udah kerja keras buat bertahan hidup sama yang lainnya? " Liana hanya mengangguk mendengar itu.
"Dengerin gw! Di sini yang hidupnya sulit bukan gw, lo juga. Lo di buli di sekolah kan? Jadi lo gak usah ngerasa gak enak sama gw. Karena hidup kita sama-sama susah. " jelas Lucy.
"Jadi? "
"Kita bertukar sekarang. Tapi lo harus ikut rencana gw. " jawab Lucy. Liana mengerutkan keningnya.
Lucy mengambil ponselnya dan milik Liana lalu mengeluarkan kartu nomor kedua ponsel itu. Setelahnya ia memasukkan kartu yang berasal dari ponselnya ke ponsel Liana. Begitu juga dengan kartu dari ponsel Liana.
"Kita bertukar ponsel, tapi tidak dengan nomor ponsel. Karena gw masih butuh ini. Nomor ponsel kakak-kakak lo udah kirim lewat chat. Jadi lo tinggal simpan nomor mereka. " ucap Lucy sembari mengutak-atik ponsel milik nya dan Liana.
"Kenapa harus bertukar ponsel? " tanya Liana.
"Pakai otak lo dong Li. Mereka dan teman-teman di sekolah tahunya Liana itu punya ponsel yang mahal. Kalau lo pulang bawa ponsel ini, yang ada mereka curiga. "
"Ah kita juga harus tukeran pakaian. Buka baju lo! " sambung Lucy.
"Are you crazy?!! Gak aku gak mau buka baju di sini. Aku ambilin baju aku yang lain. " Liana langsung berlari menuju kamar untuk mengambil pakaiannya.
Tidak lama kemudian Liana kembali dengan satu style baju miliknya. Setibanya di ruang tamu, ia sudah melihat Lucy yang tinggal memakai tank top dan celana pendek. Sungguh Liana sangat heran dengan Lucy. Mengapa ada gadis senekat ini?
Segini dulu ya.
Jangan lupa vote and komen.
See you next time.
Bersambung....