Not Twins

Not Twins
Episode 18



Dalam perjalanan pulang, tiba-tiba ponsel Liana berbunyi. Ternyata dia mendapatkan pesan dari Lucy. Lucy mengirim nomor ponsel para kakaknya dan ketiga sahabatnya yang tak lain adalah Arthur, Dion, dan Seojun. Tapi sepertinya bukan hanya itu. Lucy tampak sedang mengetik suatu pesan pada Liana.


Hingga 5 detik kemudian, pesan Lucy terkirim. Di sana terdapat sebuah foto dengan pertanyaan di captionnya. Siapa pria itu? Begitulah pertanyaan yang dilontarkan Lucy. Liana terdiam sejenak ketika melihat foto tersebut.


Seketika di kepalanya terlintas beberapa kejadian menyedihkan yang pernah ia alami. Kejadian itulah yang membuat dirinya sering dibuli oleh Laura. Tanpa Liana sadari air matanya jatuh tepat di atas ponselnya begitu saja.


Sehingga lamunan Liana buyar karena suara bodyguard yang memanggilnya. "Nona baik-baik saja? "


"Ahh iya s-saya baik-baik saja. " balas Liana dengan gugup, lalu Liana mematikan ponselnya tanpa membalas pesan Lucy.


Di sisi lain Lucy sedang menggerutu lantaran pesannya hanya dibaca oleh Liana. Sepertinya gadis itu tidak ingin memberi tahu informasi tentang pria tersebut. Tapi bagaimana caranya? Haruskah dia menyamar kembali menjadi Liana?


Tidak-tidak baru beberapa menit dia kembali menjadi Lucy, dia tidak bisa begitu saja mengubah identitasnya menjadi Liana kembali. Kali ini Lucy memang harus memutar otaknya untuk mencari rencana yang bagus supaya dia mendapatkan informasi pria tersebut.


___________________________


Liana kini telah tiba di rumahnya. Liana tercengang melihat rumah megah bertingkat 2 itu, ditambah dengan halaman yang sangat besar. Rumah ini sangat berbeda dengan rumah Linda. Hingga ada suara seseorang yang mengganggu kekagumannya.


"Liana! Lo dari mana saja?! " Liana menoleh ke belakang, ternyata yang memanggilnya tadi adalah Vivian.


"Eee itu kak habis dari rumah teman. "


Vivian mengerutkan dahinya, sepertinya dia menyadari perubahan gaya bicara Liana. "Tumben banget ngomongnya halus?! Biasanya lo nyolot mulu sama gw! "


"Emang gak boleh apa ngomong halus?! " Dengan tidak sengaja Liana menaikkan sedikit nada bicaranya. Sekarang pikiran negatif sudah memenuhi kepala Liana. Akankah dia dimarahi oleh Vivian?


"Baru saja lo ngomong halus, sekarang ngegas lagi. Tapi gak papa, gw lebih suka lo yang ngegas. " ucap Vivian sembari merangkul Liana. Liana merasa sedikit lega mengetahui Vivian tidak memarahinya. Lalu mereka berdua pun masuk ke dalam rumah.


Ketika Liana tiba di ruang tamu, Liana melihat sebuah banyak lukisan di dinding termasuk lukisan yang ada di mimpi Lucy. Liana bertanya-tanya, siapa yang melukis lukisan-lukisan itu? Vivian yang melihat Liana memperhatikan lukisan-lukisan itu mengerutkan dahinya.


"Kenapa? Owh jangan-jangan lo mau jual lukisan lo yang ini? " tanya Vivian sembari menunjuk salah satu lukisan yang dibuat Lucy. Liana hanya menggeleng sebagai respon.


"Oh iya kak ak --- gw ganti nomor ponsel. Sudah gw chat ya, bye mau ke kamar. " Liana sengaja mengalihkan pembicaraan supaya Vivian tidak membahas lanjut tentang lukisan.


Setelah Liana pergi, Vivian memeriksa ponselnya. Benar saja ada sebuah notif dari nomor yang tidak dikenal. Langsung saja dia menyimpan nomor tersebut dan menghapus nomor lama Liana yang ada di ponselnya.


Liana yang sudah melarikan diri sekarang kebingungan mencari kamarnya. Ada banyak sekali ruangan di lantai dua. Hingga Liana menemukan pintu yang berwarna putih yang terkunci. Dia berpikir bahwa ruangan di balik pintu itu adalah kamarnya.


Tapi di mana kunci pintunya? Liana melihat sebuah laci di samping pintu itu. Sepertinya kuncinya berada di laci tersebut, mungkin. Karena penasaran, Liana mencari kunci tersebut. Sehingga Liana menemukan sebuah kunci di laci itu.


"Mungkin ini kunci pintunya. " gumam Liana.


Liana mencoba untuk memasukkan kunci pada lubang pintu. Dan ternyata memang itulah kunci dari pintu tersebut. Dengan perlahan Liana membuka pintunya dan memasuki ruangan itu. Tebakan Liana benar, ruangan ini adalah kamarnya.


Liana lagi-lagi terperangah melihat kamar tidur yang sangat besar. Berapa banyak uang yang mereka keluarkan untuk membuat kamar sebesar ini? Penasaran dengan ranjangnya, Liana mencoba untuk duduk di atas ranjang itu.


"Astaga ranjangku tidak seempuk ini! " kagumnya.


Dengan cepat Liana membaringkan seluruh tubuhnya di atas ranjang yang empuk dan lembut. Tidak hanya itu, Liana juga berguling-guling di atas ranjang. Jika ada orang lain yang berada di kamarnya, pasti orang tersebut akan menyebut Liana norak.


_________________________


"Liana ayo sarapan! " panggil Daffi sambil membuka pintu kamar Liana. Seperti biasa, Daffi selalu memanggil adik bungsunya ini untuk sarapan di pagi hari.


Saat pintu terbuka lebar, terlihat jelas Liana sedang merapikan seragamnya. Daffi terdiam dan terheran-heran untuk beberapa detik. Liana yang menyadari bahwa dirinya diperhatikan langsung menoleh ke arah Daffi.


"Kenapa? " tanya Liana.


"Tumben banget sudah rapi? Biasanya masih tidur. " heran Daffi.


Liana menunjuk jam yang terpajang di dinding. Daffi menoleh ke arah jam dinding. Kini jam sudah menunjukkan pukul 05.45 WIB. Tapi bukan itu yang Daffi maksud. Dia tahu kalau sekarang pukul 05.45 WIB. Setahu Daffi Liana biasanya masih berada  di kamar mandi atau di ranjangnya.


"Kalau itu gw tahu, tapikan biasanya lo jam segini masih di kamar mandi. " jelas Daffi.


"Emmmm ada perubahan sedikit gak papa kan? " balas Liana.


"Iya sih, cuma ini tuh bukan Liana yang gw kenal. Jadi agak aneh saja. "


"Oh iya, ayo ke bawah! Yang lain udah nunggu di ruang makan. " Daffi dan Liana segera pergi ke ruang makan.


Setibanya Liana dan Daffi di ruang makan, mereka semua langsung menyantap sarapan yang sudah dihidangkan di meja makan. Suasana di ruang makan menjadi sangat sunyi. Hanya terdengar dentingan sendok dan garpu yang berbenturan dengan piring.


Hingga Liana mengatakan sesuatu yang membuat kesunyian itu hilang. "Kak gw ganti nomor ponsel. " Ini adalah kedua kalinya Liana menggunakan kata-kata 'gw'. Dia menggunakan kata-kata itu karena suruhan Lucy.


Saat sedang memakai seragam, dia mendapatkan pesan dari Liana. Lucy mengatakan kalau dia harus menggunakan kata-kata yang sedikit kasar dan gaul. Hal itu harus dilakukan Liana agar semua kakaknya tidak curiga dan heran. Mungkin akan tetap terlihat perbedaan dari cara berbicara dan sifat.


Sifat Lucy yang cuek dan blak-blakan sangat berbeda dengan sifat Liana yang lemah lembut dan sedikit pasrah dengan segala hal. Perbedaan itulah yang membuat mereka sedikit sulit untuk beradaptasi dengan lingkungan baru mereka. Terlebih lagi keluarga.


"Tumben banget nada bicara lo rendah gitu? Biasanya bar-bar?! " heran Joy.


"Sedikit perubahan baik kan? " Jujur saja Liana sedikit sulit untuk meniru sifat-sifat dan cara berbicara Lucy. Namun dia masih ingin berusaha sebisa mungkin, walaupun tidak sama persis.


"Udah gw chat pakai nomor baru. Gw pergi dulu, bye! " Liana pergi begitu saja tanpa menunggu balasan dari keempat kakaknya.


Joy dan yang lain tidak menaruh rasa curiga pada Liana. Mereka berpikir Liana sedang terburu-buru untuk pergi ke sekolah. Padahal alasan Liana meninggalkan ruang makan karena dia tidak ingin diajak berbicara lebih lama.


Lebih lama ia berbicara pada keempat kakaknya, lebih cepat akan ketahuan bahwa dia dan Lucy sempat tertukar. Mungkin Daffa tahu tentang tertukarnya Liana dan Lucy, tapi untuk kali ini sepertinya dia tidak tahu bahwa Liana yang asli telah kembali.


Segini dulu ya.


Jangan lupa vote and komen.


See you next time.


Bersambung...