Not Twins

Not Twins
Episode 5



12.45 PM


Di keesokan harinya, gadis kecil yang bernama Liana itu belum kunjung bangun. Padahal dokter mengatakan kalau Liana sudah bisa bangun di kemarin malam atau hari ini, namun belum ada tanda tanda Liana akan bangun.


Bahkan di tengah siang seperti ini, gadis itu belum bangun dari pingsannya. Karena tidak mendapatkan kepastian kapan anaknya bangun, Agatha memilih untuk memanggil dokter yang kemarin mengobati anaknya.


Saat dokter telah sampai di ruang perawatan, ia langsung memeriksa keadaan Liana ulang. Dokter mengatakan kalau keadaan Liana baik baik saja. Mungkin karena kondisi tubuh Liana lemah, jadi Liana belum bisa bangun dari pingsannya. Begitulah yang katakan oleh dokter.


Karena ini sudah waktunya untuk makan siang, Agatha mengajak keempat anaknya untuk pergi ke kantin rumah sakit. Baru saja ia keluar dari ruang rawat, tiba tiba dokter yang tadi memeriksa Liana datang menghampirinya.


"Ada apa ya dok? " tanya Agatha.


"Begini bu, kemarin kan ibu ingin memesan kamar rawat VIP. Jadi ada satu kamar VIP dilantai 3 yang sedang kosong. Apa ibu masih berminat buat menempati kamar itu? " tanya sang dokter.


"Beneran dok, kalo gitu saya ingin anak saya dipindahkan ke kamar itu saja. " balas Agatha.


"Baik kalau begitu, ibu bisa tandatangani surat ini. " Agatha menerima map yang diberikan oleh dokter. Ia membaca isi surat tersebut, barulah ia menandatangani surat tersebut.


"Anak ibu akan kita pindahkan ke ruang rawat VIP 2 pukul 1 siang nanti. "


"Baik terima kasih dok. " Setelah itu dokter pergi meninggalkan Agatha dan keempat anaknya. Begitu juga dengan kelima orang itu, mereka segera pergi ke kantin untuk makan siang.


...****************...


13.10


Seorang perawat memasuki ruang rawat lily kelas 2. Ia awalnya hanya ingin memeriksa pasien yabg kemarin ia tangani. Tapi ketika ia tiba di sana, sudah tidak siapa siapa di kasur tengah tersebut. Kebetulan ada temannya yang baru saja menangani pasien di ruangan itu juga.


"Sari, pasien yang ada di kasur ini kemana ya? " tanya perawat itu pada temannya.


"Owh, pasiennya udah dipindahin ke ruang VIP 2 10 menit yang lalu. " jawab Sari.


"Dipindahin? Siapa yang mindahin? "


"Masa lu gak tau sih Lin? Dia kan pasien lu. " tanya Sari heran. Linda menggelengkan kepalanya.


"Ibunya yang mindahin dia. " Linda semakin heran mendengar jawaban dari Sari. Bukankah anak kecil itu korban kecelakaan? Yang membuatnya lebih heran lagi kedua orang tuanya kan sudah meninggal. Bagaimana mungkin ia memiliki ibu?


"Bukannya dia korban kecelakaan, terus kedua ortunya kan udah meninggal. " ucap Linda.


"Korban kecelakaan? Bukan tau, dia itu anak kecil yang gak sengaja jatuh ke selokan. Kalo yang korban kecelakaan, ada di pojok situ. " Linda berjalan melihat orang yang ada di kasur pojok ruangan. Benar saja, di sana adalah gadis kecil yang merupakan korban kecelakaan. Tapi mengapa kasurnya berpindah? Bukankah kemarin tempat gadis itu berada di tengah?


"Dah ya Lin, gw harus periksa pasien lain. " pamit Sari. Sari pun pergi meninggalkan Linda yang sedang kebingungan. Ini beneran pasien korban kecelakaan atau ia salah orang kemarin? Pertanyaan itu terus berputar di kepalanya sejak tadi. Tapi ya memilih untuk memeriksa pasien tersebut.


Di kamar rawat VIP, Agatha sangat senang. Akhirnya anaknya bisa mendapatkan kamar VIP. Selain untuk Liana, ia memesan kamar VIP untuk keempat anaknya juga. Itu ia lakukan supaya anak anaknya dapat nyaman saat menjenguk Liana di rumah sakit.


Saat ia sedang mengelus kepala Liana lembut, tiba tiba jari tangan anaknya itu bergerak. Dan di detik itu juga Liana membuka matanya. Sontak itu membuat Agatha sangat senang. Bukan hanya Agatha, keempat kakak Liana juga sangat senang melihat itu. Namun rasa senang itu harus menghilang. Ketika membuka mata, Liana kebingungan saat melihat Agatha dan keempat anaknya.


Seolah olah, anaknya tidak mengenali dirinya dab kakak kakaknya. Liana juga tidak mengetahui siapa dirinya. Sontak Agatha sangat panik, akhirnya ia memanggil dokter untuk menjelaskan yang terjadi pada Liana. Tidak perlu menunggu waktu lama, dokter datang bersama seorang perawat.


"Dok, anak saya kenapa? " tanya Agatha.


"Sepertinya anak ibu amnesia. " jawab dokter setelah selesai memeriksa Liana.


"Amnesia? Gak mungkin lah dok, anak saya cuma jatuh ke selokan. Gak mungkin sampe hilang ingatan. " tanya Agatha keheranan.


"Dok amnesianya permanen ato tidak? " tanya Joy.


"Tenang saja, amnesia adik kamu tidak permanen. Asalkan dia tidak dipaksa untuk mengingat sesuatu dengan keras dan kepalanya tidak terbentur sesuatu. " jawab dokter.


Agatha sedikit lega setelah mendengar penjelasan dari dokter. Walaupun ia sendiri tidak tahu kapan Liana akan sembuh. Kemudian dokter keluar dari kamar rawat Liana. Agatha segera mendekat ke anaknya itu. Awalnya Liana memang takut pada Agatha dan keempat kakaknya.


Tapi mereka semua berusaha meyakinkan Liana bahwa mereka adalah keluarganya. Secara perlahan Liana percaya pada Agatha dan keempat kakaknya. Lagipula dirinya merasa familiar dengan kelima orang yang kini ada di depannya.


...****************...


Di meja kantin, seorang perawat bernama Linda sedang melamun. Entah ia sedang melamunkan apa hingga makanan makan siangnya tidak tersentuh. Ia lebih tertarik dengan apa yang ada di pikirannya dibandingkan dengan makanan yang lezat itu.


'Apa gw kemarin salah periksa orang kali ya? '


'Masa sih? Jelas jelas di data pasien, gadis itu ada di kasur tengah. '


Ya, dia sedang memikirkan pasien kecilnya itu. Dia masih sangat bingung dengan kejadian itu. Seketika lamunan Linda buyar begitu saja, karena Sari datang menghampirinya. Awalnya Sari ingin kembali ke tempat jaganya, tapi ia melihat Linda yang sedang melamun. Akhirnya ia memilih untuk menghampiri temannya itu.


"Lo napa Lin? " tanya Sari.


"Gw masih mikirin pasien yang tadi. Padahal gw gak pernah ngelakuin kesalahan kayak gitu. Dan gw yakin banget kalo anak itu ada di kasur tengah. " kekeh Linda.


"Siapa aja bisa ngelakuin kesalahan kok Lin, mungkin aja waktu itu lu salah orang karena wajah pasien lain mirip ma pasien yang lu tangani. " balas Sari.


Tiba tiba Linda mengingat suatu hal. Dia ingat kalau kemarin datang pasien baru yang wajahnya mirip dengan pasien yang ia tangani. Sudah ia duga, bukan dirinya yang salah orang. Tapi salah satu dokter di rumah sakit ini yang salah mengantar pasien.


Tanpa berbicara apa apa, Linda langsung pergi meninggalkan Sari dan makan siangnya yang belum tersentuh itu. Sari meneriaki Linda, namun Linda sama sekali tidak menghiraukan teriakan Sari. Ia terus berjalan memasuki rumah sakit.


Setibanya di ruang lily kelas 2, ia melihat tempat tidur pojok yang kini sudah kosong. Seharusnya ada seorang pasien yang tidur di sana. Tak ingin membuang waktu, Linda langsung bertanya pada orang yang jaga di resepsionis.


"Mel, pasien atas nama Lucy Angelina kemana ya? Kok gak ada di ruangannya? "


"Bentar ya gw cek dulu. " Amel membuka buku daftar pasiennya.


"Lucy Angelina korban kecelakaan bukan? " tanya Amel pada Linda. Linda pun mengangguk sebagai jawaban.


"Lucy udah pindah rumah sakit 15 menit yang lalu. " jawab Amel.


"Pindah rumah sakit?! " kaget Linda.


"Pindah kemana dia? " tanya Linda.


"Rumah sakit **** , kenapa sih emangnya? " Amel bertanya tanya, mengapa Linda sangat kaget dengan hal itu?


"Gak papa, gw cuma kaget aja. Harusnya dokter ngasih tau gw kalo dia dipindahin dari sini. " alibi Linda. Amel yang mendengar itu hanya mangut mangut, lalu kembali ke pekerjaannya.


Segini dulu ya.


Jangan lupa like dan komen.


See you next time.


Bersambung....