Not Twins

Not Twins
Episode 25



"Nomor antrian 055. "


Terlihat seorang wanita berjalan menuju meja kasir untuk mengambil pesanannya. setelah membayar, wanita itu pergi keluar restoran. Sedangkan seorang gadis yang kini berada di meja kasir melirik ke arah dapur restoran seperti mencari sesuatu.


Tidak lama kemudian datang gadis muda lain yang lebih tua beberapa tahun darinya dari arah dapur. Gadis itu datang dengan tergesa-gesa sembari merapikan pakaian dan rambutnya. Sesampainya di meja, dia meminta kembali name tag kasir dan topinya.


"Makasih ya Cy sudah mau gantiin gw sebentar. " ucapnya sembari memakai topi dan name tagnya.


"it's okay, lagian tadi pekerjaan mudah. " balasnya.


Baru saja ingin berbincang lebih lama lagi, tiba-tiba ada seorang waiters laki-laki yang datang menghampiri mereka berdua. "Lucy, itu ada pelanggan. Layanin sana! Nih buku menunya. "


Lucy menerima buku menu tersebut, lalu memakai topi dan name tag yang bertuliskan 'waiters'. Setelahnya dia pergi menuju meja pelanggan yang ditunjuk temannya tadi. Tidak lupa dengan buku menu dan buku catatan untuk mencatat pesanan di tangannya.


Saat mulai dekat dengan meja pelanggan, Lucy menajamkan penglihatannya. Dia seperti mengenal pelanggan itu. Setelah memastikan penglihatannya benar atau tidak, Lucy kembali berjalan menuju pelanggan itu.


"Apa kabar Tn. Daffa? We meet again. " sapa Lucy.


Daffa yang mendengar namanya disebut langsug menoleh ke arah gadis muda di sampingnya. Wajah terkejut Daffa terlihat jelas di mata gadis itu. Daffa merasa bingung dan terkejut, dia bingung siapa yang kini berada di hadapannya. Lucy atau Liana? Dan Daffa terkejut karena bertemu secara tidak sengaja di restoran itu.


"Gimana kabar Liana? " tanya Lucy lagi karena Daffa yang tak kunjung berbicara.


"Liana? " tanya Daffa dengan ekspresi bingungnya.


Alih-alih memberi penjelasan, Lucy malah memberikan buku menu pada Daffa. "Pesan makanan dulu. Nanti gw ceritain. " ucap Lucy.


"Gw pesan americano saja. Lo nanti pulang jam berapa? " tanya Daffa.


"15 menit lagi gw pulang, why? " 


"Ada yang mau gw sampaiin ke lo. " jawab Daffa. Lucy mengangguk pertanda mengerti.


"Serius cuma pesan americano? " tanya Lucy memastikan. Daffa hanya mengangguk sembari menyalakan laptopnya.


"Oke. " balas Lucy dengan malas. Lucy berjalan kembali ke meja kasir sembari memutar bola matanya.


Sedangkan Daffa sama sekali tidak peduli dengan lingkungan sekitarnya. Dia hanya fokus pada laptopnya dan berusaha mencari sesuatu yang akan dia tunjukkan pada Lucy. Daffa tidak ingin membuang kesempatan, dia harus memastikan apakah anak kecil yang mengalami kecelakaan itu adalah Lucy atau bukan.


5 menit berlalu, americano pesanan Daffa datang. Kali ini yang mengantarnya bukan Lucy, karena Lucy sedang melayani pelanggan lain. Daffa yang melihat pesanannya sudah datang hanya mengatakan terimakasih tanpa menatap lawan bicaranya.


Tepat 15 menit setelah Daffa memesan, Lucy sudah keluar tanpa seragam dari ruang ganti restoran. Lucy pun segera menghampiri Daffa yang masih sibuk dengan laptopnya. Entah apa yang sedang dikerjakan oleh pria itu.


"Apa yang mau lo sampaiin ke gw? " tanya Lucy sembari duduk berseberangan dengan Daffa.


"Lo dulu yang jelasin! Jelasin kenapa lo ada di sini? Terus apa maksud lo nanyain kabar Liana? " tanya Daffa.


"Serius lo gak tau? " tanya balik Lucy.


"Apa perlu gw lompat ke jurang biar lo mau jelasin tanpa basa-basi? " cerca Daffa.


"Gw sama Liana sudah bertukar posisi beberapa hari yang lalu. " beritahu Lucy.


"Pantas sifatnya beda. Terus mobil merah yang lo bawa ada di mana sekarang? " tanya Daffa lagi.


"Di rumah gw. Tenang saja, mobilnya terawat kok. " balas Lucy.


"Kok lo bisa secepat itu nemuin Liana? Gw dari dulu nyari Liana saja belum berhasil, malah anaknya pulang sendiri ke rumah. " heran Daffa.


"Terus? Kalau kalian berdua ada di rumah sakit yang sama pasti keluarga gw ketemu sama lo. Tapi waktu itu kita gak ketemu sama sekalli. "


"Orang tua gw sudah meninggal, sedangkan gw cuma dapat luka di bagian kepala. Kalau kata mama Linda, Liana sempat di pindahin ke rumah sakit lain. Makanya kita tidak bertemu. Dan mungkin kita tertukar saat itu. " jelas Liana lagi.


"Lo pernah kecelakaan? Di mana? " tanya Daffa lagi.


"Entah. Menurut informasi yang gw dapat, gw kecelakaan di sekitar jurang. " jawab Lucy sembari menyesap americano milik Daffa.


"Jadi selama ini yang ada di rumah gw itu Liana?! " tanya Daffa memastikan. Lucy hanya mengangguk sebagai jawaban.


"Kenapa lo gak bilang dari kemarin?! Liana juga kenapa diam saja?! " protes Daffa.


"Kan yang tahu kalau gw sama dia ketukar cuma lo. Kalau yang lain dikasih tahu bisa ribet urusannya. " balas Lucy.


"Now, what do you want to tell me? " tanya Lucy sembari menyesap americano milik Daffa lagi.


"Pesan sendiri! " kesal Daffa sembari menarik americanonya yang hampir tandas.


"Gw mau kasih lihat video ini. " Daffa memutar laptopnya hingga layarnya menghadap ke arah Lucy.


Daffa juga telah memutarkan video yang dia lihat tadi bersama Arya. Dia hanya penasaran, apakah keluarga yang mengalami kecelakaan itu adalah keluarga Lucy atau bukan? Dan kini Daffa hanya menunggu jawaban Lucy sambil bermain ponsel.


Sedangkan Lucy menonton video tersebut dengan seksama. Selain itu ada sebuah ingatan yang tidak jelas yang terus berputar di kepalanya. Ingatan tersebut memperlihatkan ada seorang anak kecil perempuan yang kebingungan disertai rasa takut. Dan anak tersebut dipeluk oleh seorang wanita yang sedang ketakutan juga.


Ingatan tersebut terus berputar disertai rasa pusing dan sakit kepala. Walaupun begitu Lucy tetap menonton rekaman cctv yang diperlihatkan oleh Daffa. Lucy mencoba untuk menahan rasa pusing dan sakit kepalanya itu, karena dia pun penasaran dengan isi rekaman cctv yang diperlihatkan oleh Daffa.


Hingga muncullah mobil yang akan mengalami kecelakaan itu. Saat mobil itu jatuh ke jurang, terlihat anak kecil perempuan yang melompat keluar dan tersangkut di pohon. Kejadian itu juga berada di dalam ingatan Lucy, di mana ada anak kecil yang dipaksa melompat keluar oleh wanita yang ada di sampingnya.


Hingga meledaklah mobil tersebut. Saat rekaman cctv menampilkan adegan ledakan, secara tiba-tiba Lucy berteriak keras sembari menelungkupkan kepalanya dan menutup kedua telinganya. Tentu hal itu membuat Daffa sangat terkejut.


"Lucy, are you okay? What happened?! " tanya Daffa sambil mendekati Lucy.


Karena Lucy tidak merespon, Daffa mencoba mengangkat kepala Lucy. Di saat yang bersamaan, Lucy menoleh ke arah Daffa. Terlihat jelas air mata Lucy yang sedang mengalir deras dan membasahi seluruh wajahnya. Daffa merasa bingung, mengapa Lucy menangis?


"What's wrong with you? Lo kenapa nangis? "


Lucy hanya menggeleng. Dia sendiri tidak mengerti dengan dirinya sendiri dan dia juga tidak tahu mengapa dirinya menangis saat ledakan mobil tadi terjadi. Ada sesuatu yang membuat dirinya merasa sangat sedih, marah, dan entah kenapa hatinya merasa kosong.


"Cerita ke gw, lo kenapa? Jangan begini, nanti gw disangka apa-apain lo. " desak Daffa.


"I don't know. Gw sendiri gak tau kenapa gw nangis! I just feel empty in my heart! " balas Lucy yang masih terisak.


Daffa sendiri menjadi bingung dan linglung. Apa yang harus dia lakukan jika dia tidak tahu penyebab dari tangisan Lucy. Bahkan orangnya sendiri yang sedang menangis tidak tahu alasan dia menangis.


Terlebih lagi ada banyak orang yang memperhatikan mereka karena suara teriakan Lucy tadi. Tidak hanya itu, banyak yang menduga kalau Lucy dan Daffa sedang bertengkar sehingga membuat Lucy frustasi dan berteriak. Hal itu semakin membuat Daffa bingung dan kalang kabut. Padahal bukan seperti itu kejadiannya.


Segini dulu ya.


Jangan lupa vote dan komen.


See you next time.


Bersambung...