
Siang ini Lucy masih saja mencari rumah sakit Liana di rawat. Sudah ada 6 rumah sakit di kotanya yang sudah dia kunjungi. Tapi tidak ada pasien yang bernama Liana Winifred dari 6 rumah sakit itu. Namun hal itu sama sekali tidak membuat gadis itu menyerah.
Kini Lucy sedang berada di rumah sakit *****. Ini adalah rumah sakit ketujuh yang dia kunjungi. Kali ini Lucy berharap ini adalah rumah sakit terakhir yang akan ia kunjungi. Jujur dia sudah lelah karena harus mengendarai mobil berjam-jam.
Tapi mau bagaimana lagi, dia harus bisa menemukan Liana tenan kecilnya itu. Hatinya saat ini benar-benar tidak tenang. Lucy merasa bersalah karena telah merebut posisi Liana di keluarga itu. Terlebih lagi baru saja ia mendapat kabar kalau orang tuanya telah meninggal 14 tahun yang lalu.
"Permisi. "
"Iya, ada apa kak? " tanya suster itu.
"Saya mau tanya, apa ada pasien yang bernama Liana Winifred yang di rawat di sini 14 tahun yang lalu? Emmm tepatnya tanggal 09 Desember 2008. " Mendengar pertanyaan Lucy, resepsionis itu langsung mencari nama pasien di buku data.
"Bisa Anda ulangi nama pasiennya? " tanya petugas itu.
"Liana Winifred. "
"Liana Winifred korban kecelakaan rujukan dari rumah sakit Permata Sari? " Lucy menganggukkan kepala. Dia sangat yakin bahwa itu adalah Liana yang dia cari, karena nama rumah sakit yang disebutkan sama persis dnegan rumah sakit yang pertama ia kunjungi.
"Pasien tersebut sudah keluar dari rumah sakit pada tanggal 01 Januari. Pasien tersebut mengalami luka pada kepala yang mengakibatkan dirinya hilang ingatan. " beritahu petugas itu.
"Bisa saya tahu di mana tempat tinggalnya sekarang? " tanya Lucy penuh harapan.
"Kalau boleh saya tahu, Anda siapanya pasien ya? " tanya petugas itu balik.
"Saya keluarganya! " bohong Lucy. Mau bagaimana lagi, berbohong adalah satu-satunya cara yang bisa dia lakukan.
Petugas resepsionis itu memberikan alamat rumah Liana tinggal sekarang. Lucy mendengarkannya dengan cermat lalu mencatatnya di aplikasi note pada ponselnya. Setelah mendapatkan apa yang dia inginkan, Lucy pergi meninggalkan gedung putih itu. Tidak lupa ia berterima kasih pada sang resepsionis.
Dengan segera gadis itu memasuki mobilnya dan pergi meninggalkan lingkungan rumah sakit. Pertama-tama gadis itu menghentikan mobilnya di salah satu restoran terdekat. Mengingat sudah memasuki jam makan siang, dia memilih untuk mengisi perutnya terlebih dahulu.
Setibanya di sana, Lucy langsung duduk di salah satu kursi kosong dan memanggil pramuniaga. Lucy hanya memesan mango rice dan lemon tea. Setelah itu sang pramuniaga itu pergi untuk menyiapkan pesanan Lucy. Melihat perginya pramuniaga, Lucy langsung mengeluarkan ponselnya.
Gadis itu ingin mencari alamat rumah Liana melalui maps di ponselnya. Namun tidak lama kemudian ada yang duduk di depannya tanpa izin. Sontak Lucy melemparkan tatapan tajam pada orang itu. Sedangkan sang pelaku hanya tersenyum tanpa dosa.
"Ngapain lo di sini? " tanya Lucy.
"Liana, ini itu tempat umum jadi gak lo doang yang boleh ke sini! " balas pria itu.
"Ck maksud gw, lo ngapain duduk di sini? Kan masih banyak tempat kosong! " geram Lucy.
"Gak papa, pengen duduk di sini aja. Omong-omong kenapa muka lo kayak kebingungan gitu? " tanya pria itu pada Lucy.
"Dion, kalo gw cerita lo bisa jaga rahasia kan? " tanya Lucy memastikan sebelum bercerita pada sahabatnya itu, yang tak lain adalah Dion.
"Gw janji! Lo tahu kan di antara kita berempat yang paling bisa jaga rahasia itu gw. " bangganya.
Lucy menghembuskan nafasnya kasar sebelum bercerita. Sepertinya gadis utu bingung ingin bercerita dari mana. Karena dia juga belum sangat yakin bahwa info yang ia dapatkan tadi 100% benar. Hingga pada akhirnya Lucy menceritakan dari dirinya yang menemukan foto dirinya dan Liana.
Lalu menemukan kejanggalan, mencari informasi dari anak buahnya, mendapatkan info bahwa dirinya dan Liana sama-sama hilang ingatan, dan pergi ke berbagai rumah sakit untuk mencari Liana. Tidak lupa Lucy membongkar identitas aslinya sebagai Lucy. Tentu saja Dion sangat terkejut.
Ingin rasanya pria itu berteriak keras, namun dia ingat tempat. Dan lagi wanita yang berada di depannya itu sudah menatapnya tajam saat dirinya hampir berteriak. Dengan penuh rasa penasaran Dion menanyakan perkembangan dari masalah Lucy sekarang.
Lucy menjawab bahwa dia masih mencari rumah yang ditinggali oleh Liana. Dion hanya mengangguk paham. Tidak lama kemudian pesanan Lucy dan Dion tiba. Yang awalnya Lucy akan makan siang sendiri, tetapi dengan datangnya Dion. Mereka malah makan siang berdua, dan terkesan seperti berkencan.
"Dion, gw peringati sekali lagi. Jangan sampai orang lain tahu masalah ini. Sampai ada yang tahu, siap-siap terima hukuman dari gw! " Lucy kembali memperingati dan mewanti-wanti Dion supaya tutup mulut.
Dion yang diperingati mengangguk patuh. "Iya Li---eh maksud gw Lucy. "
"Selama Liana belum ketemu, lo panggil gw Liana jangan Lucy. " Lagi-lagi Dion hanya mengangguk patuh.
Tidak lama kemudian, Lucy berdiri dan ingin pergi. Dion yang penasaran menahan tangan Lucy untuk bertanya kemana dirinya akan pergi. Lucy menjawab bawa dirinya akan pergi ke tempat kerja Liana. Tempat kerja Liana? Ya! Awalnya Lucy ingin bertemu langsung dengan Liana di rumahnya.
Tapi dia berpikir lagi, Lucy ingin tahu lebih dalam tentang Liana lagi. Maka dari itu ia meminta anak buahnya untuk mencari tahu kegiatan Liana lebih dalam lagi. Namun Lucy tetap menyebutkan nama Lucy Angelina pada anak buahnya, agar mereka tidak bingung.
"Gw pergi dulu! " Baru beberapa langkah Lucy meninggalkan tempat duduk, tiba-tiba gadis itu membalikkan badannya.
"Jangan lupa bayarin makanan dan minuman gw, thanks bro! " Setelah mengatakan itu Lucy langsung pergi dengan berlari. Dion hanya mendengus kecil dan tersenyum tipis.
Belum lama Lucy pergi dari tempatnya, tiba-tiba seorang wanita yang 2 tahun lebih tua dari Dion datang menghampiri Dion. Dion yang menyadari kehadiran wanita tersebut langsung tersentak kaget. Berbanding terbalik dengan si wanita, wanita itu malah melemparkan senyuman aneh.
"Kak Vivian ngapain di sini? " tanya Dion.
Bukannya menjawab, Vivian malah mendudukan bokongnya di kursi bekas Lucy duduk. Tidak hanya, senyuman aneh yang ia lemparkan tadi masih menempel lekat di wajahnya. Hal itu membuat Dion bingung dan merasa sedikit takut. Takut kalau orang yang di depannya sedang sedikit tidak waras.
"Eee Kak Vivian gak dengar pembicaraan gw sama Liana tadi kan? " tanya Dion memastikan.
"Emangnya kenapa kalo gw denger pembicaraan kalian berdua? " tanya Vivian balik.
"Kakak seriusan denger pembicaraan kita tadi?! " kaget Dion.
"Hahahah tenang aja gw gak beneran denger ucapan kalian, emang kalian ngomongin apaan sih? Kayaknya takut banget kalau gw denger! " tanya Vivian.
"Bukan apa-apa kok, gak penting juga hehehe. " bohong Dion.
"Aaaa gw tahu, lo berdua pacaran kan?! Ngaku lo! " desak Vivian.
"Enak aja, gw gak pacaran. Asal banget kalo ngomong! " protes Dion.
"Lah terus apaan dong? "
"Au dah. " ketus Dion.
"Ngaku aja sih Ion, lagian kalo beneran juga gw restuin kok. " goda Vivian.
"Serius?! "
"Haaa ngaku lo! Jadi lo beneran pacaran sama adik gw?! " teriak Vivian. Hal itu membuat mereka menjadi pusat perhatian seisi restoran. Vivian yang menyadari itu langsung meminta maaf.
"Lo sih kak! " keluh Dion.
"Ya maaf, by the way lo beneran pacaran sama Liana? " tanya Vivian lagi.
"Belum. "
"Belum? Owhhh gw ngerti, lo suka sama adik gw tapi lo belum nyatain perasaan lo kan? " Sungguh Dion sangat malu untuk menjawab pertanyaan Vivian. Semakin dia menjawab, semakin gencar Vivian untuk mencari tahu lebih dalam.
"Gak tau ah! " ketus Dion.
"Cieee, buruan tembak gih. Disamber orang baru nangis darah lo! " goda Vivian.
"Ck, udahlah kakak pergi aja! Jangan ganggu gw! " usir Dion.
"Oke oke gw pergi, bye Dionnn! " Vivian langsung pergi meninggalkan Dion sendiri. Di saat itu juga Dion mengacak-acak rambutnya seperti orang yang sedang frustasi.
Kalau kalian bertanya bertanya bagaimana Vivian bisa berada di restoran tersebut? Vivian sudah datang 1 jam lebih dulu dari pada Lucy dan Dion. Dia saat itu sedang makan siang bersama teman-temannya. Ketika ingin pulang, tanpa sengaja dia melihat Lucy dan Dion yang sedang duduk bersama.
Melihat kedua orang itu sedang berbicara serius, Vivian mendekat sedikit karena penasaran. Namun tetap saja obrolan mereka tidak terdengar. Saat Lucy pergi meninggalkan restoran, barulah Vivian datang menghampiri Dion.
Segini dulu ya.
Jangan lupa vote dan komen.
See you next time.
Bersambung....