Nara's Story

Nara's Story
Lelaki berhoodie



Sesampainya di Rumah Sakit


- Ruang VIP Nara -


Brak


Terdengar suara dobrakan pintu yang sangat keras membuat 3 orang yang tengah sibuk berdiskusi di ruangan itu terkejut dan menoleh ke sumber suara itu berasal.


"Adel, Fira.." gumam Tari.


Melihat kedatangan kedua temannya, Nara segera menutup tubuh dan wajahnya dengan selimut. Namun hal itu segera dihentikan oleh Fira.


"Eettt, dibuka dulu dong, gausah malu, sama temen sendiri juga," ujarnya santai sambil memegang tangan Nara agar melepaskan selimutnya dan memperlihatkan wajahnya.


"Raa, udah deh, kita tuh udah tau siapa lo sebenernya, jadi bisa gak lo jelasin sejelas-jelasnya ke kita?" pinta Adel yang mulai mendekat ke ranjang Nara.


Nara mulai menurunkan selimutnya, lalu menatap mereka dengan wajah yang memelas.


"Huaaaaa Adel sama Fira ihh.. masa iya baru mulai nyamar udah ketauan ma kalian.." rengeknya sambil menunjukkan wajah cemberut sekaligus marah.


Adel dan Fira hanya bisa mesem saja. Bukankah seharusnya mereka yang marah pada Nara, kenapa malah ia balik memarahi mereka?


"Kalian tau darimana sih? Padahal kan niatnya mau cari jodoh eh ketaun ama kalian," ujarnya tak masuk akal.


"Heh, gak nyambung oneng!" Tari yang kesal akan tingkah sepupunya itupun dengan senang hati langsung menggeplak kepalanya.


"Aduh, sakit Kari.." keluh Nara setelah mendapat geplakan manjah dari sepupunya yang paling baik tapi boong.


"Ra! Ceritain ihh..!" desak Fira yang tak sabar mendengar penjelasan teman barunya yang sudah ia anggap sahabat itu.


"Iya dehh.. gini, gue nyamar jadi nerd karna pengen punya temen yang tulus aja ma gue, udah gitu doang.." jelas Nara.


Adel yang nampak tak puas akan jawabannya pun bertanya. "Tapi kenapa harus jadi nerd?"


Mau tak mau Nara menceritakan semuanya tentang teman lamanya, Stella. Gadis yang berteman dengan Nara hanya karena Nara berasal dari keluarga kaya dan terkenal. Setelah tau akan kebusukan Stella, Nara pun langsung memutuskan hubungan pertemuannya dengan Stella. Dan akhirnya terjadilah perang dingin diantara kedua gadis itu.


Setalah mendengar cerita pertemanan Nara yang gagal, Adel dan Fira hanya manggut-manggut. "Kesiaann.. sabar ya nak, inget! Semua akan indah pada waktunya, habis gelap terbitlah terang.." ucap Fira sok bijak tapi malah kelihatan alay di mata Tari.


"Firaa! Kumat dah alaynya," celetuk Tari.


"Eh lu gausah ikut-ikutan! Ngompor-ngomporin aja!" Fira berkacak pinggang sambil menatap garang Tari layaknya seorang emak-emak yang tengah memarahi anaknya.


"Udah-udah, kalian kalo mau ribut jangan disini, gue mau istirahat!" gerutu Nara dengan alis yang menyatu, marah.


"Ah gak seru si Ara, yuk kita gelut ke lapangan!" ajak Tari pada Fira yang langsung dibalas dengan anggukan. Akhirnya mereka pun pergi dari ruangan tersebut.


Varo, Adel, dan Nara melongo.


"Gblk nya murni pemberian Tuhan!" celetuk Varo sembari geleng-geleng kepala.


πŸ€πŸ€


- SMA Alaska-


Bel pulang yang ditunggu-tunggu akhirnya berbunyi, menandakan sudah waktunya pulang dan kelonan dengan guling serta kasur tercinta. Dengan semangat 45, para rakyat sekolah langsung berhamburan keluar dari zona nyaman mereka, eh salah. Zona sekolah maksudnya. Tak terkecuali 3 most wanted yang tengah berjalan menuju parkiran ini. Ya, siapa lagi kalau bukan Duo G3 alias Ganteng-ganteng Gesrek (Ken-Vino) dan si kutub jadi-jadian (Reyhan).


"Eh denger-denger, si Vanya anak kelas sebelah yang ngefans berat ama lu ngelabrak cewek nerd yang lu tolongin lho.." ujar Vino dengan semangat.


"Ya trus?" balas Reyhan dengan acuh.


"Tu anak udah kelewatan! Dia sama temen-temennya mukul, nendang, nampar, ama jambak tu nerd ampe babak belur. Lu gak kasian emang? Tadi aja pas di kantin, dia cuma disiram sama disentak doang langsung lu tolongin. Sebenernya, lu ada hubungan apa sih ama tu nerd?"


"Apaan sih! Gue sama dia gak ada hubungan apa-apa!" jawabnya kesal lalu pergi meninggalkan kedua temannya itu.


"Entah kenapa, gue jadi penasaran ama tu cewek," gumamnya pelan.


Saat akan membuka pintu mobil, tiba-tiba saja lengan kirinya dipeluk oleh seseorang. Dengan cepat, ia menepis kasar tangan seseorang itu. Ia menoleh dengan mimik muka yang menahan amarah.


"Lo! Ngapain sih! Lo tau kan, gue gak suka dipegang-pegang!" sentaknya dengan kasar pada seseorang itu.


Bukannya minta maaf, seseorang itu malah makin mengeratkan pelukannya dan menunjukkan wajah sok imutnya. Hmm siapa lagi kalau bukan Vanya. Ya, gadis itu tengah bergelayut manja di lengan kiri Reyhan.


"Iihh Reyhan.. kamu dipegang cewek nerd itu aja mau, masa aku pegang gak mau si?" ucapnya dengan nada manja. Reyhan menatap jijik gadis disampingnya ini. Muak, itulah yang ia rasakan.


"Ck! Lepasin! Gue muak sama kelakuan lo Vanya!!" sentaknya sekali lagi yang membuat Vanya terdiam lalu melepaskan pelukannya secara perlahan.


Namun, dengan segera, ia meraih wajah tampan Reyhan agar menatapnya.


"Reyhan! Liat gue! Gue sayang sama lo, gue cinta sama lo! Apa lo gak bisa buka hati lo buat gue sekaliii aja, hah?" ungkapnya memelas.


"Gue gak bisa dan gak akan pernah bisa!!" tegasnya sembari menurunkan kedua tangan Vanya yang memegang wajahnya.


"Yang lo rasain itu obsesi, bukan cinta yang sebenernya! Lo cuma penasaran dan merasa tertantang buat naklukin gue! Lo gak cinta sama gue, dan lo tau itu. Gue harap lo berhenti ngejar gue dan mulai nyari cinta lo yang sebenernya,"


Setelah mengatakan itu, Reyhan memasuki mobilnya lalu pergi meninggalkan Vanya yang diam mematung sambil merenungkan apa yang baru saja ia dengar. Ia bingung, apa yang harus ia lakukan. Apakah perkataan Reyhan benar adanya? Apakah selama ini ia hanya obsesi pada Reyhan? Semua pertanyaan tersebut tiba-tiba muncul di benaknya.


🍁🍁


- Ruang VIP Nara -


"Nih, gue bawain makanan!"


"Wuihh tumben banget si Aro baik, hehe,"


"Itu bukan buat lo Ari, itu buat Ara!"


"Idih, pake segala dibeda-bedain.. yodah-yodah jadi mana punya gue? Mana sini, gue dah laper nih!"


"Apaan dah minta-minta, beli aja sendiri wlekk,"


"Varo geblek! Sini gue sleding pala lu!"


Dan bertengkar lah mereka berdua. Memang sih, dua sepupu ini kalau ketemu pasti aja berantem. Malahan berantemnya mereka lebih awrkwar daripada berantemnya si kembar Ara-Aro.


"Ckckck, ribut mulu dah, mending gue cari makan sendiri,"


Karena sibuk berdebat satu sama lain, mereka tak menyadari kalau Nara sudah mencopot infusnya lalu beranjak pergi dari ruangan tersebut.


- Koridor -


Hari mulai gelap, Nara hanya berjalan dan melihat orang-orang yang berlalu lalang. Ia ingin ke kantin, tapi letaknya lumayan jauh. Lagipula kakinya juga masih sakit. Jadi, ia mengurungkan niatnya untuk mencari makan, ia hanya akan berjalan-jalan saja.


"Nona? Kenapa anda bisa disini? Bukankah keadaan anda belum sepenuhnya pulih?" tanya salah seorang suster yang tak sengaja lewat dan melihat Nara yang berjalan sendirian.


"Ahh gapapa kok sus, saya cuma mau jalan-jalan doang, cari angin. Bosen di kamar terus," jawab Nara dengan santai.


"Cari angin? Bukannya di ruangan anda ada ac nya ya? Kenapa musti cari angin keluar, Nona?" tanyanya lagi dengan polos.


"Astaga, bukan gituu.. udah ah! Lagian juga saya gak akan jauh-jauh kok, yayaya bolehin..??" bujuknya dengan wajah yang sengaja diimut-imutkan.


Usahanya memang tak pernah gagal, dengan terpaksa suster itu mengangguk pelan. "Tapi beneran lho, jangan jauh-jauh. Nanti saya juga yang disalahin karna bolehin Nona keluar,"


Nara hanya mengangguk lalu tersenyum manis, "Iya-iya gampang itumah, thanks sus,"


Dengan riang, ia pun mulai melanjutkan perjalanannya untuk sekedar berjalan-jalan sahaja. Eh? kok aneh kalimatnya. Ah sudahlah.


Ia mendekati sebuah jendela lalu melihat ke luar jendela tersebut. Indah! Itulah yang ada dibenaknya sekarang.


Ternyata ia sedang melihat taman yang berada di samping rumah sakit tersebut. Kebetulan, ruang VIP itu berada di lantai paling atas, yakni lantai 5. Jadi, ia bisa leluasa melihat pemandangan taman dan kota tempat ia tinggal. Sangat indah, ditambah dengan langit senja yang semakin membuat hati Nara menjadi tenang dan damai.


Tapi ternyata, ia tak sendiri. Ada seorang lelaki yang juga sedang memandangi langit senja.


Tiba-tiba, ia mendengar sebuah senandung yang sangat merdu dan halus. Ternyata senandung itu berasal dari lelaki di sampingnya. Karena penasaran, Ia pun menoleh.


Disaat yang bersamaan, saat ia menoleh pada lelaki itu, ternyata lelaki itu pun menoleh padanya.


Mereka bertatapan mata.


Satu detik,


Dua detik,


Tiga detik..


Mereka tersadar. Dengan segera, lelaki itu memalingkan wajahnya. Bisa dilihat kalau ia sedang malu. Terbukti dengan kedua daun telinganya yang mulai memerah.


Nara pun begitu. Ia segera memalingkan wajahnya dan merutuki kebodohannya karena tak kunjung melepaskan tatapannya dari lelaki disampingnya ini.


Ihh Nara geblek! Sadar woyy! Malu-maluin aja sih!! Ahh sebel, huaaa gue maluuu.. Bunda tolongin Naraa😭 -Nara


Dengan segenap keberanian yang masih tersisa, ia berbalik menghadap lelaki tersebut. Berniat untuk meminta maaf. Ia menundukkan kepalanya, "Ma-maaf yaa."


Hening..


Tak ada jawaban darinya. Karena penasaran, Nara mulai mendongakkan kepalanya.


"Hng? Kok gaada? Kemana dia?"


Ia celingukan mencari lelaki yang berhasil membuatnya tersipu malu itu. Kemana hilangnya lelaki berhoodie tadi?


~~


Bersambung...