
Kamar Tari -
"Ra.. masuk sini, diluar dingin," Tari yang kesal, segera menghampiri Nara yang sedari tadi hanya berdiam diri saja di balkon kamar.
"Ra, ntar lo masuk angin ihh.. gue juga yang dimarahin si Varo," bujuk Tari.
Varo tidak ikut menginap di rumah Tari yaa, untuk jaga-jaga agar tidak ketahuan kalau Nara baru keluar rumah sakit, ia harus pulang dan membual pada orangtuanya bahwa Nara baik-baik saja dan sedang menginap di rumah Tari.
Nara menghela nafas panjang sebelum akhirnya ia mulai berbicara, "Kira-kira apa ya yang disembuyiin Varo dari gue? Gue kepo tauu.."
"Helloooo!! Lo tanya gue, gue tanya sapa?!" balas Tari dengan ketus.
Melihat Nara yang lagi-lagi melamun sambil menatap langit malam yang mendung, dengan segera Tari menarik tangan Nara untuk masuk ke dalam kamar. Ia menutup pintu balkon kamarnya.
"Gue masih pengen diluar," kata Nara yang kesal karena tiba-tiba ditarik masuk.
"Sekarang lo tidur, atau lo mau gue tidurin, ha?!" ancam Tari sambil mengacungkan jari telunjuknya tepat di depan muka Nara.
Nara langsung menepis tangan Tari dan merebahkan tubuhnya ke kasur, "Mesum lo, Ri..!!"
Dan mereka berdua pun tidur.
Keesokan paginya
"Harus banget ya lo dandan segitunya?" tanya Tari yang sedikit terkejut melihat dandanan Nara yang terlihat berlebihan.
"Sstt.. lo cukup diem, oke?" ucap Nara yang tengah sibuk membuat tanda freeckles di wajahnya. Tak lupa juga dengan kacamata tebalnya. Dan terakhir, rambut kepang dua.
"Tapi apa gak sebaiknya lo istirahat dulu, Ra..?" tanya Tari yang terlihat sedikit khawatir dengan keadaan Nara yang belum sepenuhnya pulih.
"Alah lebam doang, gapapa kalik. No problem, gwenchana gwenchana~" Nara menanggapi nya dengan santai seolah kemarin tak terjadi apa-apa.
"Yaudah kalo lo kesakitan atau apalah intinya gue udah nyuruh lo istirahat dulu, oke? Jadi kalo si Varo nyalahin gue, lo harus belain gue,"
Lagi-lagi Nara seolah tak peduli dengan apa yang diucapkan Tari, jadi ia hanya manggut-manggut saja.
"Yuk lah berangkat!" seru Nara yang berjalan lebih dulu.
- Tak jauh dari pintu gerbang sekolah -
"Gue turun sini aja, thanks tumpangannya," ucap Nara lalu turun dari mobil Tari.
"Lo yakin gak mau bareng aja?"
"Kalo gue bareng, hancur sudah penyamaran gue nanti,"
"Eh iya juga sih, yaudah gue duluan ya, byee.."
Mobil pun melaju pergi. Nara mulai melangkahkan kakinya menuju ke sekolah barunya itu, tempat dimana ia di buat babak belur oleh syaiton berwujud manusia yang menjadi Kakel menyebalkan bernama Vanya.
"Siapkan mental dulu ygy haha.."
Baru memasuki halaman sekolah, ia sudah mendapat banyak makian dari siswa/i disana.
"Semoga yang ngomongin gue, mulutnya bau ta*" gumam Nara yang mulai panas mendengar gosip-gosip para siswi kurang kerjaan.
Nara berjalan memasuki kelas. Untung saja kelasnya itu isinya orang-orang waras semua, waras dalam artian tidak suka menggosip ria seperti siswa/i lainnya. Mungkin karena mereka kurang lebih sama seperti Nara. Kelas mereka juga kelas terbaik alias kelasnya orang-orang pintar.
Baru saja duduk, ia sudah dikerumuni teman-teman kelasnya, entah apa yang merasuki mereka.
"Nara, kita minta maaf ya, karna kemaren gak bisa bantuin lo.." ucap salah seorang siswi yang berdiri di samping Nara.
"Ya ampun, sampe segininya yaa? Maaf ya Naraa.." kata seorang siswi yang duduk di depan Nara seraya mengelus pelan luka lebam di wajah Nara.
"Iya, gapapa kok, lagian cuma gini doang, gue kan setrong tenang ajaa.." ucap Nara sambil mengulum senyum manisnya. Ia senang bisa mendapatkan teman kelas seperti mereka. Berbeda sekali dengan saat dia di SMP nya dahulu. Di depan sok baik, di belakang suka membicarakan dan menjelek-jelekkan dirinya.
"Eh ada apaan nih? Kok pada kumpul-kumpul?" Adel dan Fira yang baru datang pun langsung ikut bergabung.
"Ini.. kita mau minta maaf sama Nara, baru aja dateng ke kelas ini tapi dia udah dibully aja sama Genk nya kak Vanya, emang paling gak bisa ya liat orang sekolah damai damai tentram, huh!!" ucap salah seorang siswa dengan nafas yang menggebu-gebu.
"Coba lo bilang kayak tadi di depan orangnya langsung," tantang Fira dengan wajah pongahnya.
"Cemen lu jadi cowo, yang gentle dong," sinis Fira.
"Udah-udah malah ribut, mending kalian semua duduk sana gih," Nara melambai-lambaikan tangannya seolah mengusir teman-temannya agar duduk di tempatnya masing-masing.
Dan mereka pun bubar. Tinggal mereka bertiga. Adel, Fira, dan Nara.
"Oh iya, lo belom jawab pertanyaan gue yang kemaren, Ra.." Adel menyeret kursi disampingnya, lalu duduk tepat disamping Nara.
"Pertanyaan apa? Yang mana?" Nara berfikir sebentar.
"Yang kemaren, waktu di rumah sakit, yang lo tiba-tiba aja masuk ke ruangan nyokap gue ituuu.." Adel memasang wajah kesal, ternyata Nara mempunyai penyakit pikun yang sepertinya sudah akut.
Setelah beberapa saat berfikir, akhirnya Nara mengingatnya, "Ohh yang ituu, emang lo nanya apaan? Hehe,"
Fiks, Adel harus membawa Nara ke dokter bedah untuk dibedah kepalanya dan melihat apakah otaknya hilang separuh ataukah sedikit miring hingga 90°.
"Ck, sumpah yaa lu jangan kek nenek-nenek dehh, masa kejadian kemaren aja lupa si.." kesal Adel.
"Emang ada apa kemaren?" tanya Fira yang sedari tadi tak mengerti arah pembicaraan dua insan di depannya ini.
"Ouu oke oke gue inget, waktu itu kan gue lagi jalan-jalan sih, trus gak sengaja ketemu sama kak Rey, nahh karna kaget gue lari entah kemana, dan yaa gue gak sengaja masuk ke ruangan nyokap lo, udah itu doang.."
"Kak Rey? Maksud lo kak Reyhan?" tanya Fira dengan raut wajah bingung.
"Iyaa namanya kan Reyhan tuh, gue singkat aja biar gampang manggilnya,"
"Gue juga baru tau lho, kalo ortu kita tuh satu circle dulu haha, lucu banget ya jalannya takdir," Adel tertawa mengingat Mama nya yang mengaku pernah satu circle bahkan bersahabat dengan orang tua Nara, lalu sekarang anak-anak mereka saling bertemu dan menjadi sahabat.
"Iya sih gak nyangka, kita nerusin jalannya circle ortu kita dulu, haha,"
Fira yang sedari tadi menyimak pun akhirnya bertanya apa yang sedang dibicarakan orang-orang di depannya ini, "Kalian bahas apaan sih? Kok gue gak ngerti ya?"
Melihat wajah Fira yang kebingungan, Adel dan Nara semakin tertawa. Hal itu tentu saja makin membuat Fira kesal bercampur bingung, "Kalian gak berhenti ketawa, gue sumpahin keselek air liur sendiri,"
Lagi dan lagi, mereka tertawa keras, sampai pada akhirnya..
"Uhuk-uhuk.."
Mereka berdua terbatuk-batuk. Sekarang ganti Fira yang tertawa puas, "Hahaha rasain tuhh,"
Tak lama kemudian, Varo datang dengan teman barunya, Adit.
"Masuk sini, anggep aja kelas sendiri, Dit.." Varo yang berlagak menyambut Adit di depan teman-teman kelasnya, yang langsung dibalas geplakan manis dari Adit.
"Apaan si lo, orang ini kelas gue juga,"
Adit, teman sekelas Nara dan Varo, umur otw 17, ganteng tapi rada sengklek mirip kayak Varo. Tinggi, putih dengan alis yang tebal. Dan terakhir dia adalah salah satu anggota klub basket SMA Alaska.
"Wih make up lo bagus, cupu!!" gurau Adit sambil menyentuh luka lebam Nara.
"Awh, jangan dipegang-pegang ihh, sakit tau?!" Nara menepis tangan Adit lalu beralih mengelus luka nya.
"Btw tu muka mulus banget dah kek jalan tol, pake skincare apaan lo?" tanya Adit sambil memicingkan matanya.
Nara sedikit terkejut, sedetik kemudian ia tutupi dengan mimik wajahnya yang terlihat senang.
"Ah masa si? Beneran nih, kaga boong?" tanya Nara dengan wajah berseri-seri.
"Iya dah, beneran suwer!! Coba aja lu copot tu kacamata, trus rambut kepangan lo itu, gue liat lu cantiknya alami kok,"
"Bahkan lebih cantik dari gue?" sahut seorang perempuan yang tengah berdiri di pintu kelas.
"Vanya? Ngapain tu orang kesini? Mau nyari masalah lagi sama gue?!" gumam Nara saat melihat Vanya dan teman-temannya berjalan mendekat.
"Hai, Nara.." sapa Vanya dengan ramah.
Satu kelas pun melongo dibuatnya, ni orang kesambet apaan coba, pikir mereka.
~~
Bersambung...