
Saat tengah sibuk celingukan mencari lelaki berhoodie tadi, ia sampai tak sadar bahwa dibelakangnya ada seseorang. Ia berbalik dan..
BRUK
Lagi-lagi, ia jatuh karena menabrak seseorang.
"Lo gapapa?" tanyanya datar seraya mengulurkan tangan.
"Gapapa gimana?! Ini gue jatoh, sakit tau!" gerutu Nara yang masih menunduk membersihkan bajunya yang sedikit kotor karena ketumpahan minuman yang dibawa seseorang itu.
Seseorang itu terlihat menghela nafas panjang sebelum akhirnya membantu Nara berdiri. Nara yang terkejut pun langsung melihat seseorang itu, dan hendak memarahinya.
Namun, ia mengurungkan niatnya kala tau siapa seseorang itu. Dia, seseorang itu, adalah Reyhan.
Mati gue! Kenapa dia ada disini sihh.. -Nara
Nara mulai panik, ia dengan segera mengambil ancang-ancang untuk berlari sekencang mungkin. Dan yaa, ia lari tak tentu arah. Pokoknya yang penting lari dah.
Ia bersembunyi di sebuah ruangan. Entah itu ruangan siapa, ia tak tau. Ia hanya asal masuk.
"Nara, lo ngapain disini?"
Nara terperanjat kaget. Sepertinya ia mengenal suara ini. Perlahan tapi pasti, ia menoleh ke sumber suara tersebut.
"Adel? Hufftt.. syukurlah," Ia menghela nafas lega setelah mengetahui bahwa yang memanggilnya adalah Adel.
"Ada apa? Dan.. gimana lo bisa tau ruangan nyokap gue?" tanyanya heran.
"Emm ceritanya panjang, nanti aja ya gue ceritain," Adel hanya mengangguk. Pusing dengan kelakuan aneh teman yang sudah ia anggap sahabat ini.
"Kamu siapa? Kamu temennya anak saya yaa?" tanya Nyonya Maheswari alias Mama Adel.
"Eh, iya Tante. Saya temen barunya Adel. Nama saya Anara biasa dipanggil Nara hehe,"
Mama Adel terlihat mengernyit seperti mengingat sesuatu. "Kamu anaknya Nico sama Diana kan?"
"Lho tante kenal sama orang tua saya?"
"Haha iyalah kita tuh satu circle dulu, pas jaman-jaman kuliah,"
Adel dan Nara cengo. Orang tua mereka sangat gaul ternyata.
"Semenjak nikah, kita semua pisahan, ada yang pindah luar kota, bahkan ada yang ke luar negeri. Jadi, mereka sekarang ada disini? Tante boleh gak ketemu sama mereka?"
Nara terkejut, ia bingung harus menjawab apa. Ia pun menoleh pada Adel, memohon bantuannya. Adel mengangkat sebelah alisnya. "Kenapa?"
Sepertinya sia-sia. Okelah, kali ini ia sendiri yang akan menanganinya.
"Mereka lagi diluar kota Tante, baru aja tadi saya telponan sama mereka. Jadii.. lain kali aja ya ketemunya,"
"Oh, yaudah gapapa, nitip salam ya buat mereka," kata Mama Adel dengan raut wajah sedikit kecewa.
"Iya Tante, pasti."
Ya Tuhan, tolong ampuni dosaku karna udah bohongin Mamanya Adel.. T_T -Nara
"Emm kalo gitu, saya pamit balik ke ruangan saya dulu ya Tante, Adel. Permisi,"
Tanpa menunggu jawaban dari mereka, ia langsung melenggang pergi.
- Sesampainya di Ruangannya -
"Ra, darimana aja sih? Kita tuh nyariin lo kemana-mana tau?!" omel Tari yang terlihat cemas.
"Gue jalan-jalan bentar tadi. Gausah se-khawatir itu kali. Btw si kudanil mana?"
"Dia nyariin lo ke lantai bawah,"
"Duhh kesiannyaa kembaran gue, haha"
"Dasar! Udah dicariin kemana-mana, ketemunya malah disini!" gerutu Varo yang baru saja datang.
"Utututuu gue tu dh gede, ngapain juga dicariin, ntar juga gue balik sendiri, cih!" goda Nara pada dua insan dihadapannya ini.
"Nara!!" Tanpa diduga, Varo malah menanggapi perkataan Nara dengan serius. Ia sedikit membentak Nara, dan hal itu membuat Nara langsung menunduk dan tak berani bicara lagi.
"Maaf.." cicitnya.
Greb
Tiba-tiba, Varo memeluk Nara dengan erat, seolah tak ingin kehilangan Nara.
Nara mengurai pelukan tersebut. Ia merasa ada sesuatu yang disembunyikan Varo darinya. Ia menatap mata Varo dalam-dalam.
"Lo nyembunyiin sesuatu dari gue?"
Varo terkejut. Ia terdiam sebentar. Sedetik kemudian, ia langsung berteriak kencang.
"YAAAK LO KENA PRANK! Hari ini kan hari ultahnya si Fira, jadi kita ngerjain lo," jelasnya sambil memegang tangan Fira yang entah kapan ia datang.
"Apaan dah, ultah gue kan masih- hmmpp..,"
Belum selesai menjelaskan, Varo tiba-tiba saja membungkam mulut Fira. Fira yang tak terima langsung menginjak kaki Varo dengan kuat. Dan itu cukup untuk membuat Varo melepaskan tangannya.
"Aduhh sakit woy, kalo mau nginjek mah bilang-bilang kalik, biar gue ada persiapan!" gerutunya.
"Kalo ada persiapan mah kita tengkar itu, hayuk lah gaskeun!" balas Fira yang sedang mengambil ancang-ancang untuk bertengkar dengan Varo.
Tari dan Nara hanya diam melihat kelakuan mereka berdua yang sejak awal bertemu memang tak pernah akur.
*Sebenernya a**pa yang lo sembunyiin dari gue, Varo..? -Nara*
Nara terdiam, memikirkan apa sebenarnya yang kembarannya sembunyikan darinya. Ia tau kalau Varo berbohong. Yaa logisnya gini, baru kenalan satu hari masa udah tau hari ultahnya orang, kan aneh sih. Wajarnya kalo kita udah temenan lama sama dia, tapi kadang ada sih yang udah temenan lama tapi lupa sama hari lahirnya kita ke dunia. Ah malah curhat_-
"Ra, lo sebenernya darimana tadi?" tanya Tari.
"Oh ituu.. tadi gue keluar nyari angin bentar, sumpek tau disini," jawab Nara.
"Dih, gegayaan sumpek segala, disini kan ada AC oneng!" kesal Tari sambil menoyor jidat Nara.
"Gak peka lu, Kari! Gue tuh pengen cepet² pulang tau?!" jelasnya sembari mengusap jidat mulusnya.
Tari hanya ber-oh ria. Tiba-tiba saja muncul ide brilian di otaknya. "Gue ada ide!"
"Apaan?" tanya Nara dengan antusias.
"Lo tinggal di rumah gue aja, lagian bonyok gue lagi pergi ke luar kota, biasalah masalah kantor,"
"Wih ide bagus tuu, ntar lah gue ijin sama kak Vio,"
•
•
•
"Boleh ya kak, plisss.." ucap seorang gadis yang tak lain adalah Nara. Saat ini ia sedang berusaha untuk membujuk Vio agar membolehkannya untuk pulang.
"Gak bisa dek, kamu belum sepenuhnya pulih," kata Vio dengan sedikit penekanan.
Karena Nara terus merengek, akhirnya dengan terpaksa, ia mengiyakan permintaan Nara yang sudah ia anggap sebagai adiknya sendiri.
"Tapi inget, jangan lupa minum obat, oke?" pesan Vio pada Nara yang tengah sibuk memakai hoodie nya.
"Siap, bu!! Tenang aja, gue pasti cepet sembuh kok.." ucapnya untuk meyakinkan Vio bahwa dirinya akan baik-baik saja.
Vio hanya tersenyum menanggapinya.
- Rumah Keluarga Anastasia -
Sebuah mobil terparkir di depan rumah megah dengan warna kuning keemasan milik keluarga Anastasia. Beberapa remaja keluar dari mobil tersebut.
"Perasaan di renov mulu ni rumah," celetuk Nara saat melihat banyak perubahan di rumah Tari, karena memang ini kunjungan pertamanya ke rumah ini sejak terakhir saat ia masih berumur 6 tahun.
"Dih, lo nya aja yang gak pernah main ke sini semenjak pindah kota, padahal kan duit lu banyak tinggal nyewa helikopter kesini, gak kangen lu sama gue ha?!" Tari mendengus kesal mengingat betapa banyak alasan Nara yang tak mau datang ke rumahnya semenjak pindah ke kota lain.
"Aelah lupain yang dulu-dulu, kan dah ada gue disini sekarang," ucap Nara lalu beranjak memeluk Tari dengan sayang. Dan akhirnya mereka pun berpelukan layaknya sepasang kekasih yang tengah dimabuk rindu.
"Woy ini kapan masuknya? Banyak nyamuk nih," keluh Varo sambil menepuk-nepuk tangannya seperti sedang menepuk nyamuk (padahal mah cuma alesan, die nya ngiri gak diajak pelukan awokawok).
"Yuk yuk masuk, anggep aja rumah sendiri,"
Bukan Tari atau Nara yang mengatakan hal itu, melainkan Varo sendiri. Ia langsung masuk ke dalam rumah Tari. Sedangkan dua remaja perempuan itu hanya bisa tertawa melihat tingkah Varo yang lucu saat ia diacuhkan seperti tadi.
Duo Goblok emang
~~
Bersambung...