Nara's Story

Nara's Story
Curiga



"NARA?! LO KENAPA HEH? DIAPAIN VARO SAMPE MASUK RUMAH SAKIT GINI, HA?! ARAAAA WOY-- hmmp,"


Varo yang kesal akan teriakan sepupunya itu, langsung mengambil sebuah kue di atas nakas lalu memasukkannya ke dalam mulut Tari.


Hop


Tepat sasaran!


"Hmm enak, kue apaan nih?" tanyanya setelah menelan kue tadi.


"Ck, diem juga lo!"


"Emangnya kenapa, ha?! Masalah buat lo?"


"Iyalah, lo tuh berisik banget! Udah tau si Ara butuh istirahat, malah lo goyang-goyangin gitu badannya,"


"Oh iya! Nara.. lu kenapa hikss, jangan tinggalin gue. Nanti gue gaada temen buat ngejailin si Varo hikssrroott.." rengeknya seraya menggoyangkan badan Nara lagi. Varo yang gemas sekaligus geram akan perkataan sepupu laknatnya itu pun hanya bisa melampiaskannya pada rambutnya yang tak bersalah.


"Dia bukan mau mati anjg! Astagaa stres gue lama-lama," ujarnya frustrasi. Ia mengacak rambutnya dengan gemas, dan hal itu sukses membuat ketampanannya bertambah berkali-kali lipat, uhuy. Namun, gadis-gadis di ruangan itu adalah tipe gadis yang bodoamatan. Jadi, tak ada tatapan kagum ataupun terpesona dari mereka kala melihat pemandangan yang aduhay itu.


"Cih, gausah sok gemess.. gak bakal ada yang ngelirik lo haha," sahut Fira yang sukses membuat Varo ingin mencekiknya.


"Ssstt diem kalian semua!" seru Tari yang kini tengah berada di samping ranjang Nara.


Krik krik


"Eh kok pada diem?" tanya Tari dengan polosnya.


"Lah anjirr, lu yang suruh diem lu juga yang tanya kenapa kita pada diem. Gimana sih!" gerutu Fira dengan kesal.


"Ya terus ngapain juga kalian mau-mau aja gue suruh?" balasnya dengan ketus seraya berkacak pinggang.


"Hayolooo gue gak ikutan yak.." sahut Adel yang tengah mengangkat kedua tangannya ke atas.


Tari dan Fira pun saling melempar tatapan sinis. Varo hanya geleng-geleng kepala, bagaimana bisa ia berteman dengan cewek-cewek gesrek ini. Sepertinya ia harus segera mencari teman yang waras, agar kejiwaannya tetap aman.


Sedangkan keadaan Nara yang tengah bersembunyi dibalik selimut


"Ihh kenapa mereka gak pergi-pergi sihh, sumpek banget disini astaga.." gumamnya kesal karena teman-teman laknatnya itu belum keluar dari ruangannya.


"Ya Tuhan.. pliss help me," ucapnya lirih.


Sepertinya Tuhan mengabulkan doanya untuk kali ini. Seseorang membuka pintu ruangannya, dan ternyata orang itu adalah Vio, dokter keluarga Atmajaya sekaligus dokter yang merawat Nara untuk saat ini.


"Permisi,"


Aaaa penyelamatkuu.. -Nara


"Eh, kak Vio.. ada apa kak?" tanya Tari seraya berjalan mendekati Vio.


"Ohh ituu.. kakak mau kasih Nara obat nih," jawabnya sambil menunjukkan beberapa jenis obat-obatan.


"Hah?! Sebanyak ini? Emang si Ara sakit apa sih kak? Kok Ari gatau?" tanya Tari dengan wajah yang panik dan khawatir.


"Emm nanti aja ya kakak kasi tau" jawabnya sambil melirik sebentar Adel dan Fira. Adel yang mengerti pun langsung berdiri, hendak berpamitan. Sedangkan Fira, ia hanya diam memperhatikan Adel. Ia tak mengerti. Maklum lah dia orangnya gak pekaan.


"Kita pamit duluan ya, kata Fira dia udah laper," ungkapnya sambil menarik tangan Fira agar ikut berdiri, "Eh kapan gue ngomong kek gitu?" tanya Fira seolah tak terima akan perkataan Adel.


"Udahlah.. gausah malu kali, ama temen sendiri juga," ucapnya pada Fira sambil mengerlingkan matanya. Lagi-lagi, Fira tak paham dengan kode-kode yang Adel berikan. "Lu sakit mata, Del? Mata lu kok kedip-kedip mulu?" tanyanya dengan alis yang mengernyit.


"Aelah kelamaaan, kita pergi dulu ya guys byee.." pamitnya yang langsung menyeret Safira untuk keluar dari ruangan Nara.


Setelah memastikan mereka pergi, Nara pun membuka selimutnya dengan kasar. "HAAH akhirnya.." Sekarang, ia bisa bernafas dengan lega. Oh sepertinya tidak! Masih ada satu masalah lagi, yaitu Tari.


Tari menatap heran sepupunya itu, "Lu keliatan baik-baik aja kok," Dengan cepat ia menoleh ke arah Vio yang tengah cekikikan sendiri.


"Jadi, si Ara sakit apa kak?" tanyanya pada Vio.


"Engga parah-parah amat kok, cuma luka kecil doang sih sebenernya, ini mah punya pasien sebelah hehe. Tadi kakak liat, si Ara ngumpet di bawah selimut dan keliatan kayak takut ama panik karna ada temen-temen barunya. Yaudah deh, kakak kesini, kasian soalnya," jawabnya diiringi kekehan kecil.


Tari yang mendengar jawaban yang kurang memuaskan baginya itupun mengernyit, "Ha? Gimana-gimana?"


"Gini lhoo, si A--" Belum sempat Vio menjawab pertanyaan Tari, Varo langsung memotong pembicaraan.


"Kalo mau tau jelasnya, tanya noh ama dia," ucapnya sambil menunjuk Nara yang baru saja membenarkan posisi duduknya. "Apaan? Kok gue?"


Tari pun langsung mengarahkan pandangannya ke Nara. Menatap Nara seolah minta penjelasan sejelas-jelasnya. Nara yang mengerti pun mengangguk pasrah, "Iya-iya gue jelasin." Tari yang mendengar jawaban Nara pun langsung antusias duduk di ranjang Nara.


"Jadi gini, gue lagi nyamar jadi nerd. Nah terus gue dibully dan jadilah kayak gini, udah tamat," jelasnya tanpa panjang lebar. Varo yang bodoamat pun hanya menyimak sambil memainkan hp nya.


"Jadi, lo Nara yang sama waktu gue di kantin tadi?"


"Hmm,"


"Trus lo dibully siapa? Karena apa?"


"Emm siapa yak namanya? Oy Varo, lo inget gak nama tu cewek?" tanyanya pada Varo.


"Vanya Akmalia" jawabnya dengan acuh. Sepertinya, ia masih kesal dengan apa yang gadis tersebut lakukan pada Nara.


"Iyaa, lo kenal sama tu cewek?" tanya Nara saat melihat wajah Tari yang mulai masam saat mendengar nama Vanya.


"Siapa sih yang gak kenal sama tu cewek! Udah sok cantik, suka bikin masalah, sok-sokan berkuasa di sekolah mentang-mentang ortunya donatur sekolah?!" ungkapnya dengan kesal.


"Emang dia ada masalah sama lo? Sampe-sampe lo segitu keselnya ama dia?" Giliran Varo yang bertanya. Sepertinya ia mulai tertarik dengan pembicaraan mereka. Ia juga penasaran dengan Vanya. Dan ternyata, saat ia mengotak atik hp nya, ia sedang mencari info tentang Vanya dan keluarganya.


"Ya, dia itu musuh gue. Dia ikut OSIS dan jadi bendahara,"


"Trus-trus?" tanya Nara dengan antusias.


"Dia nuduh gue ambil kas OSIS dan semua anggota OSIS percaya dong sama dia!" jelasnya dengan emosi.


"Dan parahnya lagi, setelah kejadian itu, dia malah diangkat jadi Waketos (Wakil Ketua OSIS) kan anjir rasanya," lanjutnya dengan emosi yang kian meledak-ledak.


"Dia? Waketos? Yang bener ajaa.. Ketosnya buta apa gimana sih?! Masa iya cewek uler itu diangkat jadi Waketos?!" sahut Varo yang ikut emosi.


"Ya makanya.. gue benci banget ama tu cewek! Blom tau aja dia lagi berurusan ma siapa,"


"Lah emangnya dia gak tau ya, lo dari keluarga Anastasia?" tanya Nara dengan kening yang berkerut.


"Kalo dia tau, dia gak bakal berani berbuat kayak gitu ke gue,"


"Hmm iya juga sih, tapi kenapa lo rahasiain identitas lo?"


"Bukannya ngerahasiain, tapi emang dirahasiain. Tau sendiri kan bonyok gue kek mana?"


Varo dan Nara pun hanya manggut-manggut. Sedangkan Vio, ia sudah pergi untuk memeriksa kondisi pasien lain.


Mereka berdua tau bahwa orang tua Tari memang posesif pada anak satu-satunya itu. Dulunya, ia bukan anak satu-satunya, tapi setelah kematian kakaknya, ia menjadi anak satu-satunya keluarga Anastasia. Dan sejak itulah, orangtuanya mulai posesif padanya. Salah satunya adalah dengan merahasiakan wajah serta semua tentang putri mereka dari publik. Berbeda dengan Nara dan Varo yang sering ikut dalam acara-acara bisnis ayahnya.


"Kita harus balas dia!" celetuk Varo dengan semangat yang membara.


✒️️ Di sisi lain


Adel dan Fira kembali ke sekolah untuk mengambil tas mereka yang sempat ditinggalkan di kelas saking terburu-burunya mereka ke rumah sakit.


Sesampainya mereka di kelas, mereka sangat heran. Kenapa semua murid disini pada tegang? Itulah pertanyaan yang muncul di dalam benak mereka.


"Hey-hey..!! Kenapa pada tegang gini sih? Kalian kenapa?" tanya Fira yang sekarang sedang berdiri di depan papan tulis. Di depan para murid yang masih tegang itu.


"Kalian kenapa? Cerita dong.." pinta Adel pada salah satu siswi. Siswi itu menghela nafas berat lalu mulai menceritakan apa yang terjadi sehingga mereka semua bisa se-tegang ini.


"Tadi, kak Vanya kesini dan ngelabrak Nara. Gue gak tau apa sebabnya sampe kak Vanya se-marah itu sama Nara. Yang pasti, dia udah bikin Nara babak belur. Kita pengen nolongin dia, tapi kita takut dikeluarin sama kak Vanya. Sekarang Nara udah dibawa Varo entah kemana. Dan kita ngerasa bersalah banget sama Nara karna gak bisa nolongin dia," jelasnya panjang lebar.


Adel dan Fira kaget? Tentu saja, sangat malahan. Mulanya mereka akan pergi ke UKS, namun langsung dihentikan oleh seorang siswa di kelas itu. "Tunggu! Kalian mau kemana?"


"Ke UKS lah, emangnya mau kemana lagi?!" Fira menatap kesal siswa itu.


"Kalau niat kalian mau nemuin Varo sama Nara, jangan ke UKS. Mereka gak ada di UKS,"


Perkataan siswa itu membuat Adel dan Fira terdiam sejenak, lalu menoleh ke arah siswa itu.


"Trus mereka dimana?" tanya Adel.


"Di rumah sakit. Gue sempet liat Varo di ruang guru sambil gendong Nara. Dan gue juga denger kalo mereka ijin ke rumah sakit,"


"Lo tau rumah sakit mana?" tanya Adel lagi. Siswa itu menggeleng pelan.


"Trus gimana, Del?" tanya Fira yang mulai frustasi.


"Kita balik ke rumah sakit tadi, ayo!" ujarnya sambil menarik tangan Fira.


"Emangnya lo yakin Nara ada disitu?" tanya Fira di tengah-tengah perjalanan. Adel menepuk jidatnya. Ia lupa kalau sahabatnya yang satu ini sangat telmi. Ia menghela nafas, lalu mengarahkan pandangannya ke arah Fira.


"Apa lo gak curiga?"


"Ha? Sama siapa?"


"Astaga..!! Nara sama Varo yang di rumah sakit!"


"Kenapa mesti curiga?"


"Lo!! Diem dulu.. biar gue aja yang ngomong! Lo, cukup dengerin, oke?"


"Oke-oke, silahkan,"


"Apa lo gak curiga sama mereka berdua? Pertama, kayak yang lo bilang waktu di rumah sakit. Nama kembaran Varo sama Nara sama-sama Anara Putri, cuman bedanya kalo Nara temen kita gak ada marganya. Yang kedua, waktu kita masuk ke ruangannya Ara kembaran Varo, gue sempet liat kalo dia langsung nutup badan sama mukanya pake selimut. Lo inget kan? Waktu kita mau kenalan sama dia, Varo langsung ngelarang kita, dan itu aneh bagi gue. Masak iya kenalan gak boleh. Bahkan alesannya pun gak masuk akal. Kalaupun si Ara emang pemalu, kenapa dia mau diajak ke acara bisnis ayahnya, bolak-balik masuk tv. Bukannya dia seharusnya malah malu kalo ketemu orang sebanyak itu? Tapi ini kan kita cuma 2 orang doang, masa iya semalu itu dia sama orang yang jumlahnya lebih sedikit?" jelas Adel panjang lebar. Fira hanya mendengarkan dan sesekali mengangguk.


"Terakhir, kalau kita gabung cerita Nara sama Ara, pasti kayak cerita berlanjut kan? Nara dibully habis-habisan, Varo dateng nolongin Nara, trus dibawalah ke rumah sakit. Disisi lain, kita taunya kalo Varo lagi jagain Ara yang lagi sakit." sambungnya lagi.


"Emm.. agak gak paham sama poin terakhir, bisa intinya aja gak?" pinta Fira. Adel menghela nafas. Tak habis pikir dengan sahabat yang kini berada di sampingnya.


"Intinya, gue curiga kalo Nara, nerd di kelas kita itu adalah Ara, kembaran Varo, Anara Putri Atmajaya."


~~


Bersambung...