Nara's Story

Nara's Story
Cowo Kutub



Di ruangan bernuansa putih, terlihat seorang gadis yang tengah tiduran eh pingsan di atas kasur UKS. Ya gadis itu adalah Nara, dan ia masih belum sadarkan diri. Di sebelahnya terdapat dua orang insan yang bernafas tengah memandangi gadis malang yang bernama Nara itu.


"Kamu tolong jaga dia ya, saya ada urusan sebentar" ucap seorang wanita berjas putih. Ia adalah seorang dokter sekolah, panggil saja Bu Nia.


"Tapi kenapa harus saya bu? Saya juga kan harus ke kelas" elaknya. Lelaki yang menabrak, oh salah yang Nara tabrak juga ada di UKS. Setelah kejadian Nara pingsan di depan umum, ia langsung membawa Nara ke UKS.


"Kan kamu yang bawa dia kesini, udahlah cuma bentaran doang kok. Kayaknya bentar lagi juga dia bakal sadar. Nanti kalau dia udah sadar, tolong kasihin obat yang di atas meja yah. Ibu pergi dulu" balas Bu Nia. Ia langsung saja pergi meninggalkan mereka berdua di UKS.


"Ck! Nyusahin aja sih lu!" ucapnya dengan kesal lalu mengambil sebuah kursi untuk didudukinya.


"Eungh.."


"Gue dimana?"


"Aduh, pala gue!!"


Nara yang baru tersadar langsung duduk dan itu membuat kepalanya makin pusing. Melihat hal itu, lelaki yang ia tabrak langsung berdiri lalu mengambil obat yang sudah Bu Nia siapkan di atas meja.


"Nih, minum! Bisa sendiri kan? Gue mau pergi" Lelaki itu menyodorkan sebotol air mineral dan obat pereda pusing. Nara mendongak. Mengerjapkan matanya berkali-kali. Oh, ayolahh lelaki ini sangat tampan dan sayang jika dilewatkan, kapan lagi ia bisa cuci mata, live di depannya, nyata hidup pulak. Tanpa sadar, ia malah termenung sambil menatap lelaki di hadapannya ini.


Jodoh gue kan ini? Busett ganteng banget lahh!! -Nara


"Heh! Malah bengong, nih minum!" Ia menyodorkan obat dan air sekali lagi.


"Ah iya, makasih!" Nara menunduk malu karena ketahuan menatap lelaki itu sambil termenung.


Lelaki itu hanya menanggapinya dengan deheman. Ia beranjak pergi, tapi tak jadi karena pekikan gadis itu yang menghentikannya. "Tunggu!"


Lelaki itu menoleh. "Apa lagi?" tanyanya dengan muka datar. Nara menghela nafasnya sebentar sebelum akhirnya ia angkat bicara. "Boleh tolong anterin ke ruang kepsek gak?" pintanya dengan wajah memelas. Lelaki itu seperti tak tega, lalu dengan terpaksa ia pun mengangguk. "Ayo!"


Mata Nara langsung berbinar, "Beneran? Kalo gitu bentar!" Ia langsung meminum obatnya lalu berdiri dan berjalan ke arah lelaki itu.


Mereka mulai berjalan menuju ruang kepsek. Tak ada obrolan. Hanya ada keheningan karena memang sedari tadi sudah bel masuk kelas.


Karena tak tahan dengan keheningan itu, Nara memberanikan diri untuk memulai pembicaraan, "Btw, lo anak kelas mana?"


Lelaki itu menoleh ke Nara. "Gak perlu tau, bukan urusan lo,"


Kan gue cuma nanya anjirr, menohok banget jawabannya! Udah sih fiks lo jodoh gue -Nara


Akhirnya mereka pun tiba di depan ruang kepsek. "Gue pergi dulu," Tanpa mengatakan apa-apa lagi, lelaki itu langsung meninggalkan Nara yang masih berdiri di depan pintu.


"MAKASIH KUTUB!!" teriak Nara dari kejauhan


✒️ Di sisi lain


Tok tok tok


"Permisi," ucapnya lalu membuka pintu ruangan kepsek itu. Ia melihat sekeliling, tak ada orang. Namun, tak lama kemudian ia dikejutkan oleh suara seorang pria paruh baya yang baru masuk ke ruangan itu.


"Kamu siapa? Ada perlu apa kesini?" tanya pria itu. Ternyata ia adalah Kepsek sekolah ini. Seseorang yang Nara cari.


"Begini pak, saya murid baru disini. Perkenalkan nama saya Anara Putri" Nara sengaja tak menyertakan marganya, karena ia memang sedang menyamar.


"Sebentar, biar saya cek dulu data-datanya" ujarnya seraya mengambil salah satu map diatas meja kerjanya. "Kamu di kelas 10 IPA 2, ayo saya antarkan!" Nara hanya mengangguk.


- Kelas 10 IPA 2 -


"Permisi Bu Rissa!" panggilnya pada seorang guru yang tengah mengajar di kelas. Guru bernama Rissa itu pun berjalan mendekati kepsek. "Iya pak, ada apa ya?" tanya Bu Rissa.


"Ini, saya kesini mau mengantarkan murid baru lagi. Tolong dibimbing dengan baik ya bu!" kata pak Kepsek. Nara terharu mendengar perkataan Kepsek sekolah barunya itu. Ia sama sekali tak memandang apakah ia kaya atau tidak, jelek atau cantik, ia memperlakukan semua muridnya dengan adil.


"Pasti kok pak. Yaudah, ayo nak masuk!" Nara dan Bu Rissa memasuki kelas. Kelas yang tadinya ramai dengan candaan para murid, seketika langsung hening kala ia dan Bu Rissa masuk.


"Ayo perkenalkan nama kamu!" suruh Bu Rissa pada Nara.


"H-hai, temen-temen! Perkenalkan namaku Anara Putri biasa dipanggil Nara. Aku murid pindahan dari SMA Bhakti Jaya. Salam kenal, semoga kita bisa berteman baik ya!" ucapnya kaku seraya tersenyum canggung. Jujur saja, ia gugup dan takut akan hinaan yang akan ia dapatkan setelah ini.


Tapi ternyata itu semua salah. "Hai Nara! Salam kenal juga!!" Satu kelas mengucapkannya dengan serempak disertai senyuman yang tulus, senyuman yang tak pernah Nara duga. Ia dengan senang membalas senyuman itu dengan senyuman terbaiknya juga.


"Baiklah, kamu boleh duduk di bangku kosong sana!" Bu Rissa menunjuk sebuah bangku kosong urutan ketiga dari belakang. "Baik Bu!"


Nara mulai melangkah menuju bangkunya. Ternyata Varo juga sudah duduk manis di meja nya yang terletak berseberangan dengan meja Nara.


(Note : Bangkunya terpisah, disusun satu-satu tidak ada yang digabung)


Varo menatapnya dengan satu alis yang terangkat seolah bertanya 'abis darimana lo?'. Nara yang melihat hal itu langsung balik menatap Varo seakan tau apa yang dikatakan Varo, 'Kepo lu kudanil!'.


Tanpa memperdulikan pelototan Varo, Nara langsung duduk di bangkunya.


"Hai Nara! Temenan yuk!!" sahut seorang gadis di sebelahnya. Nara pun menoleh lalu tersenyum manis. "Boleh!"


~~


Bersambung...