
"Ayolah Bun.. yayaya please," ucap seorang gadis cantik dengan muka memelas pada ibunya.
"No, cantik!! Kalo Bunda bilang gak boleh ya gak boleh, ngerti?" balas seorang wanita berumur 40-an yang ternyata adalah Bunda gadis yang sedang memelas tersebut.
"Bunda isss.." Gadis itu mendesis kesal kala Bundanya mengatakan itu lagi. Ia sangat frustasi. Apa yang harus ia lakukan agar bisa meyakinkan Bundanya itu?
"Nak.." panggil sang Bunda dengan nada yang lembut. Gadis tersebut menghela nafas lalu menoleh dengan malas. "Apa Bun?"
"Kamu tuh kenapa sih pengen banget jadi nerd? Kamu kan cantik. Apa kamu gak bersyukur dikasih wajah cantik hm?" tanya Bundanya penasaran.
"Bukannya gak bersyukur Bun.. Nara tuh trauma punya temen kek si Stellanjing itu," ungkapnya dengan kesal. Ck! Mengingat namanya saja ia sudah muak. Dasar gadis bermuka dua!! Pikirnya.
"He! Gak boleh gitu Nara, siapa yang ajarin ngomong kek gitu?!" tegur sang Bunda. Rasanya ia tak pernah sama sekali mengajari putrinya itu untuk berbicara kasar seperti itu.
"Ini nih gara-gara bergaul sama si Stella Bun! Makanya, bolehin Nara jadi nerd ya di sekolah baru biar Nara bisa punya temen yang bener-bener baik dan tulus temenan sama Nara.." bujuknya dengan mata memelas. Bundanya tampak berfikir sebentar.
"Tapi kamu yakin gak bakal di bully? Bunda tau betul kalo jaman sekarang itu udah biasa sama yang namanya bully-bully an, dan Bunda juga tau kebanyakan korbannya itu nerd. Bunda takut kamu kenapa-napa sayang" Jujur, ia sangat takut putri satu-satunya ini mengalami nasib yang sama seperti anak saudaranya yang meninggal bunuh diri akibat bullying yang dilakukan oleh teman-temannya di sekolah.
Melihat wajah Bundanya yang khawatir akan dirinya, membuat Nara sedikit merasa bersalah karena telah membuat Ibu Peri nya ini khawatir. Tapi ia, sudah membulatkan tekadnya untuk menjadi nerd dan mencari seseorang yang akan menjadi sahabat yang menemaninya dalam suka maupun duka. Tak seperti Stella, yang ngakunya teman malah menusuknya dari belakang. Sudahlah muncul saat butuhnya doang. Memangnya Nara itu apa? Pom bensin?
"Bolehin ya Bun.. Nara janji deh bakal jaga diri, lagian kan si Varo juga ada! Yaa?" bujuknya sekali lagi, berharap ia akan segera mendapat izin dari Bundanya itu.
Melihat keseriusan putrinya itu, ia tak bisa menolak lagi. Dan dengan terpaksa ia pun mengangguki nya, "Tapi dengan satu syarat!"
Oke, sangat sulit untuk membujuk Bundanya ini! Tapi Nara tak semudah itu untuk menyerah. Ia menoleh ke arah Bundanya. "Apa syaratnya?" tanya Nara dengan sedikit keraguan. Ia sangat berharap itu bukan hal-hal yang aneh atauu merepotkan baginya.
"Aaa Bunda.. bikin Nara deg-degan aja deh. Iya-iya Nara janji gak bakal aneh-aneh, selalu jaga diri, sama selalu terbuka sama Bunda," ucapnya sembari bangkit dari tempat duduknya semula dan langsung memeluk Bundanya yang terlihat tak rela dan khawatir saat dirinya akan menjadi nerd.
Namun, tak lama suasana hangat tersebut menjadi hancur saat seorang remaja laki laki tiba-tiba ikut bergabung dalam adegan peluk-pelukan tersebut.
"Ihh Varo! Lo apa-apaan sih, main ikut-ikutan aja deh! Mending lo pergi sana!!" Nara yang kesal langsung menarik tubuh Varo, adik kembarnya agar menjauh dari Bundanya, eh ralat Bunda mereka maksudnya.
"Ini kan Bunda gue juga, ngapain lu sewot!" ucap Varo tak terima.
"Lu ganggu momen berharga gue, dasar kudanil!" balas Nara yang tak mau kalah.
"He! Lo ngatain gue apa? Kudanil?!"
"Iya, emangnya kenapa? Lagian nih yaa, kalian tuh sama kok dari segi badan sama muka. Behh miriiiipp banget, asli deh! Atau jangan-jangan.. lo itu bukan kembaran gue yak? Kembaran kudanil kah?" tebak Nara yang membuat Varo melotot hingga matanya hampir copot.
"Sembarangan aja lu kalo ngomong! Sini gue kepet lo!!" Akhirnya mereka pun saling kejar-kejaran. Tapi bukan kejar-kejaran manjah kayak di film-film India yaak.
Dan ya, seperti itulah tingkah dua remaja kembar tak identik ini yang mampu membuat Ayah Bundanya heran. Ini anak siapa sih? Mungut dimana coba? Pikir mereka. Hmm meresahkan.
~~
Bersambung...