
Pagi hari yang cerah bagi Anara Putri Atmajaya atau biasa dipanggil Nara. Ia sangat senang karena telah diizinkan untuk nenjadi seorang nerd. Kini, ia sedang berada di meja makan memandang heran keluarga nya.
Ngapain pada liatin gue? -Nara
Wajah yang dipenuhi dengan bintik-bintik coklat (freeckles), alis yang sengaja dibuat tebal seperti ulat bulu, sebuah kacamata tebal, dan terakhir rambut yang dikepang dua. Penampilan Nara berubah 360°. Ia dulu terkenal di sekolah lamanya karena kecantikannya yang natural, tapi saat penyamaran ini dimulai mungkin ia akan lebih banyak mendapatkan hinaan daripada pujian.
"MAK OI..!! LO SIAPA HEH?!" teriak Varo saat melihat wajah kembarannya yang mirip.. akhh ia sampai tak bisa berkata-kata.
"Apaan sih, lebay!" tanpa basa-basi Nara langsung menyantap sarapannya.
"Kamu siapa?" tanya seorang pria paruh baya dengan wajah terkejut, bingung, dan.. heran. Seingatnya, ia hanya punya 2 anak. Tapi ini anak siapa? Dan darimana?
Nara yang mendengar hal itu langsung menepuk jidatnya pelan. Menghela nafas sebentar lalu menoleh ke arah Ayahnya, "Aku Nara, Ayah.." jawabnya dengan malas.
"APA?! Masa..?" tanyanya lagi, tapi kali ini dengan wajah yang menjengkelkan.
"Astaga, Bun! Dari sekian banyak laki-laki yang menawan, kenapa bisa Bunda lebih milih Ayah??" Nara sudah sangat kesal dengan Ayahnya yang sok-sokan tak mengenalinya, padahal ia yakin bahwa Bundanya sudah menceritakan perihal ia menjadi nerd.
"He! Gini-gini Ayahmu pernah jadi idola sekolah tau?!" ujarnya pada Nara dan Varo.
"Ah, masa iya?" ucap mereka serempak diiringi dengan tos ria ala-ala anak remaja.
"Gini amat punya anak!! Bun, nambah satu yuk, yang waras gitu gak kek dua parasit ini!" keluhnya dengan kesal sambil menoleh pada istrinya.
"Seperti anjuran pemerintah, 2 anak lebih baik!" Sang Ayah yang mendengar jawaban dari istrinya itu langsung cemberut. Bukannya terlihat imut, ia malah terlihat sangat aneh. "Ayah! Mukanya jangan digituin, mirip kek om-om pedofil dehh!!" celetuk Varo, si anak laknat.
"Bun.. masa muka Ayah dibilang mirip kayak om-om pedofil" adu nya pada sang istri yang hanya dibalas anggukan saja, "Emang mirip kok".
"Ihh Bunda mah, gak sayang ma ayah!" ucapnya dengan nada kesal sok ngambek.
"Udah ah, Nara mau berangkat dulu ya, bye Bun..Yah.." Setelah meminum susu kesukaan nya yakni prisin plag rasa coklat limitid edisyen, ia beranjak mencium pipi kedua orangtuanya dan langsung melenggang pergi meninggalkan kembarannya.
"Woy, tungguin! Bun, Yah.. Varo juga berangkat dulu!" ucapnya dengan terburu-buru. Ia langsung menyusul saudara kembarnya yang sudah nongki cantik di depan rumah. "Ehh pak supir, ayo pak berangkat!!" gurau Nara yang langsung dibalas dengan geplakan oleh Varo.
"Eh, kudanil! Gua lebih tua ya dari lu! Seenaknya bae main geplak-geplak pala cantik gua!" Bagaimana Nara tidak marah, ia digeplak kembarannya sampai hampir terjungkal.
Varo berdecih pelan, "Beda 10 menit doang juga!"
"Tapi tetep aja gue lebih tua dari lu, jadi hormatin dikit kek!!" balas Nara yang tak membiarkan adiknya menang dalam adu bct yang unfaedah ini.
"Yaaa ngaku tua, baru sadar situ udah bau tanah?" Nara yang mendengar jawaban Varo langsung terdiam.
Lah iya ngapain gue ngaku-ngaku tua?
Asem nih anak!! -Nara
Akhirnya, karena sudah muak dengan perdebatan dengan adik kembarnya, Nara memilih untuk masuk ke mobil Varo. Maklum holkay, masing-masing anak punya mobil sendiri, tapi berhubung Nara lagi nyamar jadi dia nebeng sama adek laknat tapi ganteng nya itu.
Tak jauh dari SMA Negeri tersebut, terlihat sebuah mobil hitam nan mewah tengah berhenti di pinggir jalan. Oke, mari kita intip dalamnya!
"Gue turun sini aja nil, tar kalo gue ikut masuk kan berabe!" ucap seorang gadis yang tengah sibuk merapikan dandanan nerd nya.
"Berapa kali gue bilang! Gue bukan kudanil, gue Alvaro!!" sanggah Varo.
"Yo, sekarepmu wae Mas!" Tak ingin berdebat, Nara langsung membuka pintu mobil dan..
BRAK
Varo kaget, ia kira tadi itu petir namun mana ada petir di pagi-pagi bolong seperti ini. Ia melihat ke luar jendela, menatap datar kembarannya yang tengah cengengesan, "Makasih ya pak supir. Saya pergi dulu, jangan kangen yakk" goda nya pada Varo.
"Nyeh," Karena sudah kesal, Varo memilih untuk pergi.
"Hahaha dasar kudanil ganteng! Untung adek, kalo bukan udah gue jodohin ama mba kekey," Nara pun mulai melangkah menuju sekolahnya yang sudah di depan mata.
Baru saja ia memasuki pekarangan, sudah banyak sekali murid-murid yang meng-ghibah tentangnya.
'Yaa cupu! Ngerusak pemandangan aja dehh'
'Siap-siap aja kena bully, haha'
'Jelek amat sih neng, mau abang ceburin got gak? Biar makin jelek! hahaha'
'Jijik banget dah gua liatnya'
"Apa muka gue keliatan peduli gitu? Engga lah, lagian lo siapa gue ha?! Idup sendiri aja belom bener pake ngurusin idup orang laen!! Dasar human gak ngotak!" gumam Nara dengan pelan karena takut ada yang mendengar, kan berabe ntar! Apalagi dia murid baru disini. Ntar aja baku hantamnya, oke?
Karena sibuk mengomel, Nara tak sengaja menabrak dada bidang seorang lelaki yang berjalan berlawanan arah dengan Nara.
DUAK
Lelaki itu bahkan tak bergerak sama sekali ketika ada seorang gadis yang tak sengaja menabraknya. Sedangkan Nara, ia hampir terjatuh ke belakang jika tangan lelaki itu tak langsung menarik tangan Nara. Entah apa karena terlalu kencang tarikan lelaki itu, yang pasti tubuh mereka berbenturan cukup keras yang membuat Nara langsung pusing karena jidat mulusnya terbentur ke dada bidang lelaki itu, lagi.
Oh my god! Ini apaan? Kenapa ada banyak bintang di kepala gue? Bentar gue itung dulu, satu.. dua.. tiga.. lima.. sepuluh.. tujuh belas.. buset banyak banyak banget dah -Nara
"He, cupu! Lo gapapa?"
Suara seorang lelaki membuat Nara mendongak dengan kepala yang masih keliyengan. Ia mencoba melihat siapa yang memanggilnya, tapi tak lama pandangannya mulai kabur, dan gelap.
Ia pingsan.
~~
Bersambung...