
BRAK
"NARAA!!" pekik seseorang yang membuka pintu kelas secara kasar.
Mereka yang ada di kelas itu menoleh, melihat seseorang itu yang langsung berlari menghampiri Nara.
"Varo.."
Flashback On
Saat tengah istirahat dan minum air di pinggir lapangan, ia tak sengaja melihat sekumpulan siswa/i sedang berlari ke arah kelasnya yang berada di lantai 2.
"Itu kan kelas gue, ada apaan emang? Ngapain pada lari-larian kek gitu?" tanyanya pada diri sendiri.
Kebetulan, ada yang lewat dan kelihatannya ia juga akan kesana, jadi Varo memutuskan untuk bertanya.
"Tunggu tunggu!!" ucapnya sambil merentangkan sebelah tangannya di depan siswi tersebut. Siswi tersebut mendongak, menatap kagum seseorang di depannya. Tampan! itulah yang ia pikirkan.
"Boleh tanya bentar gak?" tanya Varo yang sama sekali tak memperdulikan tatapan kagum dari siswi itu. Siswi itu pun menjawab dengan senyum malu-malu, "Boleh kok, lama juga gapapa,"
Lagi dan lagi, ia tak memperdulikan hal itu padahal biasanya jika ada yang seperti itu, ia akan mulai mengeluarkan jurus buaya nya. Dan itu tandanya ia sedang serius.
"Lo tau gak kenapa mereka pada lari-larian ke lantai 2?" Varo bertanya sambil melihat ke arah seberang yang memperlihatkan cukup banyak siswa/i yang berlarian naik ke lantai 2.
"Ohh itu.. tadi kita dapat info kalo kak Vanya sama temen-temennya lagi ngelabrak cewek nerd yang ditolongin kak Reyhan di kantin tadi. Kalo gak salah di kelas 10 IPA deh, makanya kita pada lari-larian kesana mau liat-" Belum sempat siswi itu melanjutkan kalimatnya, Varo langsung berlari naik ke lantai 2. Siswi itu memandang sedih Varo yang berlari dan meninggalkan dirinya sendiri. "Yahh belom sempet kenalan, malah pergi duluan, huh!!"
Saat ia hampir sampai, ia mendengar suara teriakan Vanya. Ternyata benar!
Ia langsung menerobos kerumunan dan masuk ke kelas. Saat sampai di kelas, ia sangat terkejut. Ia melihat Nara yang sudah terbaring lemas di lantai dan Vanya yang hendak melayangkan pukulan pada Nara.
"NARAA!!" Dengan segera, ia berlari menghampiri Nara. Ia langsung memeluknya dengan erat.
Flashback Off
"Ra, lo gapapa?" tanyanya khawatir karena melihat wajah Nara yang memerah akibat tamparan Vanya.
"Apaan sih! Lebay lu ah, b.aja gini kok!" jawabnya dengan santai, karena ia tak ingin Varo terlalu khawatir padanya.
"Baik-baik aja gimana sih? Badan lo penuh luka gini?! Makanya gausah aneh-aneh Ra!!" omelnya pada Nara yang hanya dibalasi anggukan saja. "Iya-iya maaf,"
"Lo siapa ha?! Gausah sok-sokan jadi pahlawan deh, minggir!!" sentak Vanya dengan kasar.
Varo menoleh dengan wajah dinginnya, ia berdiri sambil menggendong Nara lalu beralih melihat name tag Vanya.
"Vanya Akmalia," Ia membaca apa yang tertulis di name tag itu. "Dari keluarga Akmalia ya?" tanyanya pada Vanya yang langsung diangguki dengan angkuh.
"Kenapa? Setelah tau gue dari keluarga mana, lo pasti langsung takut kan?" tanyanya dengan percaya diri.
Varo berdecih, "Emang seberapa besar kekuasaan lo sama keluarga Atmajaya sampe-sampe lo percaya diri gini kalau lo yang paling berkuasa disini?" tanya Varo yang langsung membuat Vanya terdiam.
"Gue pastiin lo bakal nyesel, Vanya!" tambahnya lagi. Ia pun langsung pergi meninggalkan Vanya yang masih terdiam.
Cika dan Luna menghampiri Vanya. Cika menggoyangkan tangan Vanya agar ia tersadar dan ternyata berhasil.
"Vanya! Gimana ini? Dia itu Alvaro, salah satu anak dari keluarga Atmajaya. Kita bakal dapet masalah, Van!" ucap Luna dengan panik.
Kedua temannya sibuk mengomeli dirinya karena sudah keterlaluan membully Nara dan akhirnya malah berurusan dengan keluarga Atmajaya, keluarga yang sangat berpengaruh di kota itu.
"KALIAN BISA DIEM GAK SIH?! GUE JUGA PUSING!" teriaknya dengan frustasi pada kedua temannya itu. Mereka langsung terdiam.
S!alan lo Nara! Siapa sih lo sebenernya?! -Vanya
Akhirnya, mereka pun pergi ke kelas mereka. Para siswa/i pun ikut bubar. Sekarang, situasi kelas itu pun sudah tenang. Murid-murid kelas hanya bisa bernafas lega. Mereka memang sedari tadi berada di kelas, namun tak ada satupun yang berani melawan geng TeQuBe (The Queen Bees). Karena orang tua Vanya adalah Donatur tetap sekolah itu. Jadi jika ingin lulus dengan tenang, maka jangan pernah berurusan dengan mereka (TeQuBe). Itulah prinsip mereka.
Rumah Sakit Atmaja
- Kamar VIP 5 -
"Gak ada luka serius kan, Dok?" tanya Varo khawatir.
"Engga kok, cuma luka biasa. Habis diobati ntar juga sembuh.." kata Dokter Vio, dokter keluarga Atmajaya.
"Yakali habis diobati sakit lagi ihh.. kak Vio mah," sahut Nara yang sedang duduk-duduk diatas kasur.
"Hahaha, bercanda dikit kali dek.. tegang amat," balas Vio. Ia mendekati Nara, lalu bertanya apa penyebabnya jadi begini. Karena kalau Ayah dan Bunda Nara tau, ia yakin kalau mereka tak akan tinggal diam.
"Emm.. gara-gara ja--," Vio menggeleng seolah tau Nara akan menjawab apa. "Gak mungkin cuma jatoh doang sampe kaya gini, engga! Kakak gak percaya,"
"Udahlah, ceritain aja.." sahut Varo yang sibuk mengotak-atik hp nya.
Nara menghela nafas berat, "Iya deh aku jujur, ini bukan karena jatoh tapi karena dibully,"
Vio terkejut, bagaimana mungkin ada yang berani membully putri tunggal Keluarga Atmajaya? Cari mati nih yang ngebully, pikirnya.
"Kamu dibully? Kok bisa?" tanyanya penasaran.
"Ya bisalah, orang dia nyamar jadi nerd," jawab Varo yang masih sibuk dengan kegiatannya.
"APAA?!"
"Sstt.. kak pelan-pelan, nanti ada yang denger!" ujar Nara dengan muka panik. Varo yang melihat kembarannya panik sendiri itu hanya bisa memutar bola matanya malas. "Ini tuh lagi di rumah sakit, Ra! Lagian juga mereka gak bakal denger karena mereka bahkan gak ada disekitar sini,"
"Oh iya ya! Ada benernya juga lu kudanil," ucap Nara setelah ia memikirkan perkataan Varo barusan.
Baru saja ia bernafas lega karena penyamarannya masih aman, sedetik kemudian ia dikejutkan oleh kedatangan kedua temannya. Safira dan Adelia.
"Varo? Lo ngapain disini?" tanya Fira (kita panggil dia fira aja ye, kepanjangan kalo Safira). Mereka mulai memasuki ruangan tersebut. Sontak saja kedatangan mereka yang tiba-tiba membuat Duo A (Anara&Alvaro) kaget. Nara dengan cepat menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut. Vio yang sedari tadi hanya menyimak pun bertanya pada Varo, "Itu siapa dek?"
"Temen baru kita," bisiknya pada Vio. Vio hanya mengangguk, "Kalau gitu, kakak pergi dulu ya!" pamitnya pada Varo.
"Eh kak, jangan kasi tau Bunda ma Ayah ya kalo kita disini. Nanti urusan Nara biar Varo yang selesain," pintanya pada Vio. Vio hanya mengangguk lalu pergi.
"Oy, kita dikacangin nih?" Adel dan Fira pun duduk di sofa ruangan.
"Idihh.. emangnya kalian siapa main nyelonong masuk ke ruangan orang, ha?!" sindir Varo dengan ketus.
"Hellooo..! Ruangan orang juga ruangan kita lah, kita kan orang juga!" balas Fira tak kalah ketusnya. Varo hanya bisa menghela nafas, ia sedang tak ingin berdebat jadi ia akan mengalah kali ini. "Yayayaa serah.."
"Btw, ini siapa Ro?" tanya Adel sambil menunjuk seseorang yang sedang berbaring di kasur dan menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.
"Ohh dia kembaran gue, tau kan? Si Ara.." jawab Varo dengan santai.
"Namanya Nara temen kita sama kembaran lo hampir sama yak! Anara Putri," celetuk Fira, membuat Nara yang sedang bersembunyi semakin ketar-ketir.
"Emm boleh gak kita kenalan sama dia?" tanya Adel yang langsung dibalas dengan gelengan oleh Varo. "Eh jangan dulu! Dia orangnya pemalu, apalagi sama orang baru. Nanti-nanti aja ya, lagian juga dia butuh istirahat hehe," cegah Varo yang membuat Adel memicingkan matanya curiga.
"Oy, kalian dicariin juga malah ngeluyur kesini!" ucap seorang gadis yang tiba-tiba datang dan masuk ke ruangan itu.
"Lho, Varo? Lo ngapain disini? Siapa yang sakit? Om Nico atau Tante Ana? NARA?!" tanya gadis itu secara beruntun. Awalnya dia hanya terkejut biasa, namun ketika ia bertanya siapa yang sakit dan melihat nama yang tertera di papan keterangan pasien di kasur itu, ia langsung kaget dan spontan berteriak. Ternyata yang sakit adalah Nara, sepupu cerewetnya!
Dan gadis yang baru datang ke ruangan itu adalah Tari. Mentari Anastasia.
~~
Bersambung