MYNE (The Last Guardian Cat) KOOKMIN

MYNE (The Last Guardian Cat) KOOKMIN
Chapter 8



...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Splashh..


BLAARR-!!


Jungkook semakin merunduk, menempelkan kepalanya ke tubuh kucing Myne saat sebuah cahaya melintas kilat melewati tepat di atas kepalanya. Sesekali kepalanya menoleh melihat onggokan daging hangus setiap dentuman petir terdengar.


Petir itu.. Ternyata kemarin datang dari Myne— ah bukan.. dari Jimin?


Matanya melirik kearah tanduk yang terus memancarkan cahaya tepat sebelum petir datang menyambar monster-monster tersebut hingga kini hanya tersisa tiga ekor bertubuh paling besar. Jantungnya berdegub kencang saat tangannya merasakan detakan di dada Myne terasa begitu cepat dan tubuh kucing tersebut yang bergetar mendingin.


Dia sudah lelah.. apa yang harus kulakukan?


Brukhh..


Grrhhh...


Semua terjadi begitu cepat, tubuhnya terpental jauh hingga punggung menabrak batang pohon. Desisan keluar dari bibirnya, matanya sontak melebar saat terlihat tubuh Myne yang kini tergelak dengan tiga ekor monster mengigiti tubuhnya.


"MYNE!!"


Grrhhh...


Terlihat Myne yang memberontak, mencoba mencakar dan menggigit monster-monster tersebut. Melihat Myne yang semakin melemah lantas saja Jungkook dengan cepat berlari mendekat dan menarik seekor monster lalu melemparnya hingga menghantam pohon.


"**** wajah kalian terlalu jelek, membuatku mual" umpatnya seraya menggeram.


Duaakhh..


Satu tendangan ia layangkan dengan kuat membuat seekor monster yang sedaritadi mencoba mengoyak kaki Myne langsung terlempar menjauh.


Melihat Jungkook yang membantu, dengan susah payah Myne pun mencakar dan mengigit hingga terkoyak pada tengkuk monster terakhir yang tengah menggigiti perutnya.


BLAARR—!!!


CTAAZZHHH..!


Tiga cahaya kilat datang bersamaan dari langit dengan dentuman petir yang terdengar jauh lebih keras dari sebelumnya hingga membuat tanah bergetar. Ketiga monster bertubuh besar total hangus secara bersamaan dalam sekejap mata. Jungkook yang secara spontan berjongkok dengan tanpa sadar meringkuk menutupi tubuh kucing yang tergeletak di bawahnya. Kelopak matanya membuka dengan bergetar sebelum mengangkat kepalanya memeriksa apa yang terjadi lalu merunduk saat deru nafas tersendat terdengar dari tubuh di bawahnya.


"Myne..." gumamnya. rasa panik menyerang saat melihat tubuh kucing yang kembali ke ukuran yang sebenarnya kini tergeletak dengan luka di menganga di beberapa bagian. Pergerakan perut yang begitu cepat dengan lidah yang terjulur menunjukkan bahwa kucing tersebut sudah mencapai batas tenaganya.


"Jimin.. kau mendengarku?" panggilnya saat melihat kelopak mata kucing tersebut terlihat mulai menutup. Sebelah tangannya mengusap lembut pucuk kepala hingga tanduk yang sudah tidak memancarkan cahaya. "Apa yang harus kulakukan?" gumamnya.


rintik-rintik air menetes mengenai tangan, membuatnya mendongak untuk melihat langit yang mulai meneteskan air dari gumpalan awan hitam yang telah memberat. "Hujan.. sial, aku harus membawanya berteduh"


Kepalanya kembali menunduk, diusapnya rahang kucing tersebut, "Jimin.. apa kau bisa berubah wujud jadi manusia lagi?" tanyanya pelan. Taklama ia tersentak lalu menggeleng, "tidak.. tadi pakaiannya tertinggal di sana, kalau dia berubah sekarang— aahh sial! lebih baik kubawa dia ke tempat lebih teduh" lanjutnya lantas dengan cepat ia mengangkat tubuh kucing yang terbilang besar itu ke dalam gendongannya lalu berjalan sedikit berlari mencari tempat berteduh. Tanpa sadar akan roh Jimin yang mengikutinya dari belakang.


'Aku tidak bisa berubah selama luka di tubuhku belum tertutup sempurna.' ucap Jimin dengan mata melihat wujud kucingnya yang begitu tak berdaya dalam gendongan Jungkook. Denyut nyeri terasa di beberapa bagian tepat di mana luka terdapat di wujud kucingnya.


Sepasang kaki Jungkook terus melangkah, dengan sesekali mengibaskan kepala saat air hujan menyentuh matanya. tanda sadar akan tanduk kucing yang kembali bercahaya.


Ctaashh..


Kilat cahaya meluncur cepat hingga menyambar pelan sebuah batu besar. Jungkook terdiam dengan langkah yang terhenti. Ia merunduk melihat Myne yang sudah membuka matanya lalu beralih ke depan, terlihat sebuah goa di dekat sebuah batu terletak beberapa meter di depannya. Merasa paham, ia pun berlari menuju goa tersebut.


...----------------...


Eunwoo mendongak, dilihatnya langit yang semakin menggelap dengan gumpalan awan yang berkumpul memadat menutupi cahaya matahari. "Morne Hyung" gumamnya. Atensinya kembali terarah ke arah yang sedaritadi ia pandangi.


'Morne hyung turun tangan. Mungkinkah??'


"Lucifer" gumamnya kemudian, tangannya mengepal dengan mata menutup. Sedangkan di sebelahnya, Ian yang tadi spontan semakin merapatkan tubuh ke batu menoleh melihar Eunwoo yang tengah memejamkan matanya.


Tak lama ia mendongak, "sial.." umpatnya pelan saat hujan mulai turun dengan deras. "Bisa-bisanya turun badai di saat yang seperti ini"


Pikirannya mulai bercabang. Rasa khawatir semakin menyerang mengingat kondisi Jungkook yang belum ditemukan, ditambah teman-teman dan semua anggotanya yang masih berada di puncak.


"Mereka akan dalam bahaya jika masih menetap di puncak saat badai turun" gumamnya dengan raut khawatir yang terpahat di wajahnya.


"Anu.."


Ia menoleh, dilihatnya Eunwoo yang meringis dengan tangan menggaruk pipinya sendiri. Mengangkat satu alis, dilihatnya Eunwoo dalam diam menunggu apa yang ingin disampaikan oleh pemuda itu.


"Itu.. aku mau buang air besar.."


Dengusan pelan terdengar dari Ian, ia mendongak melihat hujan yang semakin deras lalu kembali menatap ke arah Eunwoo yang terlihat gelisah. Lantas ia pun berdecak pelan, "Hujan deras" ucapnya.


"Tidak masalah! Cuma sebentar, aku sudah tidak tahan lagi"


"Ck.. cepatlah, sebelum banjir"


Dengan itu, Eunwoo pun langsung berdiri dan berlari keluar dari tempat mereka berteduh. Meninggalkan Ian yang kembali mendengus kasar, bebannya kini bertambah.. memastikan pemuda asing yang mengintilinya dari semalam agar tidak ikutan menghilang.


...----------------...


Jungkook mendudukkan tubuhnya, dua tangan bertumpu di atas lutut dengan mata tertuju ke seekor kucing yang tergeletak di atas jaket kulit hitam miliknya.


"Kau terlihat begitu lelah" gumamnya. Dilihatnya nafas kucing tersebut yang masih memburu. Tak lama maniknya bergerak, memperhatikan tiap luka yang terdapat di beberapa bagian. Ia terdiam, pandangannya menajam dengan diamtere yang melebar saat memperhatikan dengan jelas saat luka-luka tersebut terlihat bergerak menutup secara perlahan-lahan.


Aauuuu...


Ia tersentak, lolongan serigala terdengar dari luar goa diikuti dengan tanduk kucing yang kembali bercahaya.


Wooff.. Wooff..


Dengan cepat ia menoleh, terlihat seekor serigala berwarna hitam tampak berdiri di bibir goa dengan tubuh besarnya.


'sekarang apa? Brengsek, tidak bisakah kami istirahat dulu sebentar?' batinnya mengumpat. Tangannya meraih sebuah batu lalu menggenggamnya erat saat serigala tersebut mulai jalan mendekatinya. Dalam diam, matanya memperhatikan serigala hitam yang kini berhenti tepat di sebelah tubuh kucing Myne yang cahaya di tanduknya sudah kembali padam.


"Aku akan membunuhnya dengan batu ini.." gumamnya menatap awas serigala. "Eh— hushh!! mau apa kau?!"


Grrhhh...


Baru saja ia menjulurkan kakinya bermaksud untuk menjauhkan serigala yang hendak menjilati Myne sebelum geraman terdengar membuatnya terdiam membeku. Dilihatnya serigala yang kinj tengah menjilati luka-luka yang mulai menutup di tubuh kucing Myne.


"Jimin tenang saja, akan kupastikan kau tidak akan menjadi santapan serigala ini" ucapnya tanpa tahu kalau di sebelahnya, Jimin yang sudah terkekeh melihatnya.


Ia tersenyum, 'Roha.. terimakasih.' ucapnya membuat sosok Roha yang berwujud serigala menganggukkan sedikit kepala dengan moncong yang menyentuh wajah Myne berwujud kucing yang langsung memejamkan matanya sejenak.