
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Semua sudah siap?"
"Sudah, tapi.. kau yakin semua anggota baru ini ikut?"
Sebuah pertanyaan terdengar, membuat seorang pemuda bertubuh kekar dengan tattoo memenuhi lengan mengalihkan atensinya yang tengah menutup rapat resleting tas gunungnya. Kepalanya menoleh, melihat seorang pemuda dengan kulit tan tengah menatapnya dengan raut ragu yang terpatri di wajahnya. Ia mendengus pelan, "Mereka semua yang ingin ikut, dan mereka juga yakin untuk bisa menjaga diri sendiri terlepas dari pengawasan yang tentu selalu kita lakukan"
Tepukan pelan ia lakukan ke pundak pemuda itu, "Percaya dirilah, ini bukan kali pertamamu membawa anak baru untuk mendaki, Kim Mingyu.. Sekarang beri pengumuman untuk semuanya berkumpul di lapangan"
"Siap Ketua!" Serunya dengan kepala mengangguk dan wajah tegas yang kembali terpatri. Kim Mingyu, pemuda yang disebutkan namanya yang sedaritadi berbicara dengan sang ketua umum pun langsung mengambil toa nya dan menyalakan sirine singkat sebelum mengucapkan pemberitahuan untuk semua anggota berkumpul di tengah lapangan.
Pada siang hari, tepatnya di sebuah lapangan Universitas Swasta yang cukup terkenal di Korea Selatan kini terlihat sekumpulan mahasiswa dengan rompi khas Organisasi berwarna coklat berkumpul berbaris rapi dengan beberapa orang yang berdiri tepat di hadapan mereka.
MAPALA atau Mahasiswa Pencinta Alam merupakan salah satu Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) yang begitu diminati dimana Organisasi ini merupakan wadah bagi mahasiswa untuk melakukan kegiatan di alam bebas, berkontribusi bagi masyarakat, serta peduli terhadap pelestarian lingkungan sekitar.
Dan kali ini tepat di hari jadi terbentuknya UKM Mapala ke 10 tahun di BIGHIT University, HIT MAPALA mengadakan kegiatan mendaki dan camping selama 3 hari 3 malam tepat di puncak gunung Seorak, salah satu dari gunung tertinggi di Korea Selatan yang terletak di provinsi Gangwon, sebelah timur Korea Selatan.
Biasanya, yang akan ikut kegiatan ini hanya beberapa orang penting seperti pengurus atau anggota tua (senior) serta beberapa anggota baru yang sanggup dan berani. Namun sepertinya untuk tahun ini, semua anggota baru memiliki keberanian yang begitu tinggi serta semangat yang membara sehingga semuanya langsung berebut untuk menuliskan nama mendaftarkan diri setelah pengumuman kegiatan di sebarkan. Peserta kegiatan yang biasanya tidak pernah mencapai angkat 20 kini malah terlewat jauh hingga tembus sampai 40 peserta ditambah para pengurus sehingga total yang akan ikut mendaki sebanyak 75 pasang kaki.
Mengetahui hal tersebut tentu membuat para pengurus dan pembina menjadi senang dan bangga akan semangat berpartisipasi dari oara anggota baru. Namun, dibalik rasa senang tentu ada kekhawatiran dimana semakin banyak peserta maka keamanan dan hal lainnya juga harus ditambah dan ditingkatkan.
Oleh karena itu, Christian Jeon atau dikenal dengan Jeon Ian sebagai ketua umum HIT MAPALA yang kini menjalankan masa kepemimpinannya di periode kedua harus berusaha keras berpikir untuk meningkatkan keamanan dan hal lainnya hingga harus menghubungi dan meminta bantuan beberapa alumni yang untungnya bersedia. Tak lupa ia pun juga harus berusaha keras untuk memaksa Jeon Jungkook, sang adik yang menjabat sebagai wakil tapi begitu jarang ikut kegiatan karena malas kini dipaksa untuk ikut dan melakukan peran wajibnya sebagai wakil ketua serta menjadi penanggung jawab bidang keamanan.
"Jeon Jungkook.. laporkan tentang struktur keamanan yang telah disiapkan"
Jungkook mengangguk lalu membuka note kecil dari saku rompinya.
"4 Regu keamanan sudah disiapkan, Tim 1 terdiri dari 5 anggota dipimpin oleh Bambam akan berjaga di barisan depan, Tim 2 terdiri dari 10 anggota dipimpin oleh Wonho untuk berjaga di sepanjang sisi kanan dan kiri barisan, Tim 3 aku yang akan memimpin dan kami berlima akan berjaga di barisan belakang. Dan terakhir Tim 4 terdiri dari 5 orang akan berjaga di puncak bersama tim medis dan konsumsi. Mereka sudah berangkat 15 menit yang lalu.."
Ia mengangguk puas mendengar penjelasan Jungkook yang begitu detail dan terstruktur. Sang adik memang bisa diandalkan walau terkadang begitu menyebalkan dengan selalu bersikap seenaknya.
"Baiklah kalau begitu.. Kita sudah menyediakan 2 Bus untuk membawa kita semua menuju lokasi. Dino, Verno, dan Yugyeom yang akan mengatur kalian.."
Ketiga nama yang disiapkan tentu langsung mengangguk dan melaksanakan tugasnya. Kini 40 peserta sudah dibagi menjadi 2 bagian untuk kemudian diarahkan memasuki bus yang telah disediakan. Beberapa panitia yang masih berada di tempat pun kini ikut terbagi dan membaur mengisi tempat kosong di dalam bus, beberapa ada yang berdiri di sepanjang lorong bahkan di pintu bus. Tak terkecuali Ian dan Jungkook yang kini berpisah membaur di kedua bus, Jungkook terlihat duduk di dekat pintu belakang Bus pertama dengan Taehyung di sebelahnya.
"Aku masih kaget waktu liat kau hadir di rapat kepengurusan kegiatan" ucap Taehyung dengan menghisap sebatang vape di tangannya lalu menghembuskan asap dengan aroma kopi susu dari belah bibirnya.
Jungkook mendengus, "aku bahkan lebih kaget saat kau dengan muka tololmu itu masuk ke ruangan dengan menggendong kucing gila itu" ucap Jungkook yang sukses mengundang tawa yang meledak dari Taehyung.
"Hahahah! mana kutau kalau kau akan hadir.. hahah sumpah itu kejadian yang harus selalu dikenang. Seorang Jeon Jungkook, pria bertubuh kekar dan bertattoo, adik dari seorang Jeon Ian si ketua Umum dua periode HIT Mapala, berteriak kayak perempuan dan lompat ngegelantung di kusen pintu! HAHAHAHA"
Tawa Taehyung yang menggelegar sukses memancing beberapa orang ikut tertawa pelan saat mendengar kejadian yang dialami si wakil ketua yang terkenal begitu garang kedua setelah ketua umum, Jeon Ian.
Jungkook mendesis dengan mata melirik tajam ke beberapa orang yang menoleh dan tertawa pelan sehingga mereka sontak berdeham pelan dan kembali menghadap depan karena takut.
"Berhenti tertawa sebelum kulempar kau darisini" desisnya dengan tangan yang telah mencengkeram erat kerah kaos Taehyung.
Taehyung mendengus, "Kau ini tidak seru sekali! Huh!" tukasnya seraya menyentak lepas cengkeraman Jungkook di kerahnya.
...----------------...
30 menit terlewati dan mereka pun akhirnya sampai di lokasi. Setelah mendaftar dan melapor ke pihak penjaga pendakian gunung, mereka pun mulai mendaki setelah sebelumnya mendengarkan serangkaian pembuka berupa sambutan dan arahan dari pihak penjaga gunung, doa, absen, serta terakhir menyanyikan yel-yel 'HIT Mine Mapala' dan arahan dari Ketua umum.
Mereka mulai bergerak mendaki dengan formasi yang telah direncanakan dimana Sang ketua umum, sekretaris, dan tim 1 keamanan akan memimpin barisan diikuti dengan para peserta dan 10 orang tim keamanan 2 yang akan berbaris 5 di sisi kanan dan 5 di sisi kiri, dan terakhir Sang wakil yaitu Jeon Jungkook, serta 5 orang Tim keamanan 3 menutup barisan berjaga di barisan paling akhir. Taehyung yang termasuk tim keamanan 3 kini berjalan tepat di sebelah Seungcheol dengan Jungkook di belakang mereka.
"Kunyah sedikit gula merah jika dirasa kalian haus, jangan minum dan jangan mengunyah apapun selain itu"
"Ndee..."
"Jalanlah.. aku akan membantumu dari sini, apa yang kau bawa? kenapa tas mu begitu berat?" Tanya Vernon yang berjalan di belakang seorang gadis dengan tangan membantu mengangkat dan mendorong tas gadis tersebut.
"ugh? aku tidak tau, aku hanya membawa apa saja yang kurasa penting"
15 menit sudah terlewati, perjalanan pun terasa mulai menguras tenaga dengan tubuh yang terasa memberat saat rute yang dilalui semakin menanjak. Setiap orang pun mulai bahu membahu, saling membantu bagi yang mulai merasa kesulitan untuk berjalan. Jungkook yang di belakang sekali pun tak luput mengerahkan tenaga saat seorang gadis terlihat mulai kehabisan nafas dan merasa tak sanggup untuk lanjut berjalan. Ia pun memutuskan untuk mengangkat tas gadis tersebut dari belakang dan mendorong tubuh gadis itu agar tidak perlu mengeluarkan terlalu banyak tenaga dengan Taehyung yang membantu memegang sebelah lengan gadis tersebut, satu tangan lainnya melakukan hal yang sama seperti Jungkook, mendorong tubuh gadis lain di depannya untuk lebih muda berjalan.
Bunyi sirine toa terdengar singkat sebelum suara Ian terdengar dari toa.
"Perhatian, di depan ada tanah berlumpur. Perhatikan tanah yang akan kalian pijak dan saling berpegangan tangan, Jangan sampai tergelincir dan pastikan teman kalian tidak ada yang tertinggal"
Setelah mendengar itu, sontak saja semua menjadi lebih waspada dengan tangan yang saling berpegangan. Tidak perduli siapa yang berada di sebelah atau di belakangnya, baik wanita maupun pria semua langsung berpegangan tangan mengikuti dengan patuh perintah dari Ketua umum yang memiliki tanggung jawab yang besar selama kegiatan berlangsung.
...----------------...
30 menit berlalu, kini mereka semua telah sampai di posko istirahat yang memang tersedia dengan beberapa petugas wisata pendakian yang bertugas menjaga. Mereka pun memutuskan untuk beristirahat selama 5 menit dan melakukan absen untuk memastikan apakah anggota yang ada masih berjumlah sama seperti awal. Setelah memastikan semua sanggup untuk melanjutkan perjalanan, mereka pun kembali bergerak dengan formasi yang penjagaan yang sama seperti awal.
"Hujan..." seru seorang gadis dengan kepala mendongak. Telapak tangannya menengadah merasakan titik demi titik air yang jatuh, hingga tak lama rintikan air tersebut pun mulai terasa semakin banyak dan cepat.
"Kita berhenti dulu, lalu semuanya cepat pakai jas hujan yang sudah kalian siapkan sebelum hujan semakin deras!"
Dengan cepat, mereka pun bergegas dengan sedikit terburu membuka tas lalu memakai jas hujan seragam yang memang sudah disediakan dan mengancing-nya dengan erat. Setelah itu, dengan saling bergandengan dan saling membantu mereka kembali melanjutkan perjalanan dengan perlahan dan hati-hati dikarenakan tanah yang mulai licin akibat terguyur hujan.
"Sialan.. banjir.." umpat Ian saat melihat aliran air mengalir di sepanjang rute yang mereka lalui. Hujan yang semakin deras pun membuat jarak pandang juga semakin menipis. Dengan cepat namun berusaha tenang, ia edarkan pandangan ke sekitar mencoba mencari rute alternatif yang lebih aman.
Sirine toa kembali ia bunyikan, "Ikuti aku, tetap berpegangan erat dan perhatikan langkah kalian!" ucapnya di toa lalu melangkah sedikit berbelok memimpin barisan kearah permukaan tanah yang sedikit berbatu untuk menghindari aliran air yang berpotensi besar untuk tergelincir.
Perjalanan menuju puncak gunung terasa berat dengan banyak hambatan dan rintangan yang harus dilewati. Tergelincir, kehabisan nafas, hingga digigit oleh hewan melata penghisap darah pun harus dilalui oleh tiap pasang kaki yang berjuang untuk sampai ke tempat tujuan. Tak terkecuali Jeon Jungkook, pemuda itu kini tengah menggendong seorang gadis yang lemas akibat kelelahan dan kaki yang habis dihisap oleh hewan bernama Lintah di punggungnya dengan tas yang berpindah ke depan dada, satu tangan yang lain tetap aktif mendorong seorang pemuda di depan yang terlihat sudah kesulitan untuk berjalan. Soobin yang awalnya berada di depan Taehyung dan Seungcheol yang tengah membopong masing-masing seorang anggota lain yang kelelahan kini bergerak mundur ke belakang Jungkook untuk membantu menahan atau sedikit mengangkat bagian bokong gadis tersebut untuk mengurangi beban Jungkook. Jungkook yang sempat melirik saat Soobin bergerak mundur ke belakangnya pun mengangkat satu sudur bibirnya.
"Terimakasih.. tetap perhatikan langkahmu, jangan sampai terjatuh"
Soobin mengangguk, "Baik.. Hyung-nim!" sahutnya dengan sedikit berteriak.
Detik demi detik, menit demi menit, hingga jam demi jam oun berlalu. total 3 jam perjalanan telah terlewati dan kini mereka berhasil sampai di puncak tepat ketika langit sudah gelap dengan bulan yang sudah menampakkan dirinya.
Satu persatu mulai berjatuhan merebahkan diri di atas tanah basah dengan nafas tersengal yang terasa perih.
"Hahh.. hahh.. sial, nafasku seperti lewat begitu saja, tidak ada yang singgah ke paru-paru" seru Beomgyu dengan mata terpejam. dadanya kembang kempis dengan tarikan nafas yang terdengar nyaring. Beberapa orang di sekitar pun tampak melakukan hal yang sama, tanpa menghiraukan air hujan yang terus mengguyur deras tubuh mereka.
Ian yang terlihat juga terengah namun masih memiliki tenaga karena terbiasa melakukan hal seperti ini pun berjalan menuju tim medis dan konsumsi.
"Periksa satu persatu, pastikan rawat semua yang harus mendapatkan perawatan. Ada anggota pria yang nyaris pingsan bernama Nikki di arah jam 3, dan ada yang lemas karena banyak mengeluarkan darah karena lintah tak jauh di sebelahnya"
Para tim medis pun mengangguk patuh lalu berpencar untuk memeriksa tiap anggota. Satu persatu anggota kini mendapat perawatan dan sudah mulai diperbolehkan mengkonsumsi minuman dan makanan yang sudah di sediakan. Hujan yang masih turun deras tidak menghambat mereka yang menikmati makanan setelah 3 jam melewati perjalanan yang panjang.
Ian melangkah mendekati Seokjin, Penanggung Jawab Konsumsi yang tengah membagikan minuman ion ke dalam beberapa botol. Melihat Ian datang mendekat, sebuah botol minuman ion terulur dan langsung disambut oleh pemuda tersebut. Tanpa menunggu lama, setelah tutup botol terbuka cairan segar penambah Ion tersebut mengalir membasahi kerongkongan kering dalam tegukan besar.
"Hahh.. buatanmu memang yang terbaik" serunya dengan raut puas.
Seokjin mengangguk dengan tangan yang aktif mengaduk sesuatu di dalam panci agar tetap hangat. "Tidak menyuruh mereka membangun tenda? hujan sepertinya akan semakin deras" tanyanya.
Ian menggeleng, rambut basah ia sisirkan dengan tangan ke belakang. "Biarkan mereke beristirahat 10 menit. Aku juga harus memastikan tempat ini cocok untuk menampung beberapa tenda untuk 75 orang—" ucapnya sebelum mata elangnya menangkap figur sang adik yang berjalan tergopoh dengan seorang gadis dipunggung. Ia pun langsung berdiri, "Ya ya cepat bantu dia!" serunya pada beberapa panitia dan tim medis yang baru saja berjalan mendekat. Dua orang panitia dengan satu orang tim medis pun langsung bergerak mendekati Jungkook diikuti dengan Ian yang berjalan di belakang. Gadis yang berada di punggung Jungkook pun langsung diambil alih, kini pemuda itu berjalan ke tenda Jin dengan nafas tersengalnya.
"Hahh.. hahh.. tak kusangka akan menggendongnya sejauh ini!" seru Jungkook setelah menjatuhkan diri ke atas kursi lipat dengan kaki yang terjulur lurus ke depan. Kepalanya mendongak dengan mata yang terpejam. Mulutnya terbuka karena berusaha mengais pasokan udara yang terasa hanya melewatinya saja tanpa memenuhi tiap ruang alveolusnya.
"Minum ini dulu, lalu minum jahe hangat"
Jungkook membuka matanya, sebuah botol terulur dari tangan bertattoo. Matanya melihat ke arah Ian yang berdiri di depannya lalu diambilnya botol tersebut untuk kemudian dibuka dan langsung diteguk cairan segar bak orang kesetanan.
"Kau istirahatlah dulu, setelah itu bantu bangun tenda—" Ian mengalihkan pandangannya ke Seokjin, "Kalian sudah memeriksa tempat ini? muat untuk berapa tenda?" tanyanya kepada Seokjin yang mengangguk.
"Sudah, dengan dua tenda milik kami dan tim medis, masih muat 10 Tenda dengan isi 5 atau 6 orang pertenda. Tapi, hindari sisi barat karena bebatuan dan tanah yang basah rentan longsor"
Ian mengangguk puas, "Okay.." Kakinya melangkah keluar dari tenda konsumsi dengan toa di tangannya. Sirine toa ia nyalakan singkat untuk memusatkan atensi semua orang ke arahnya.
"Perhatian semuanya, 10 menit sudah cukup untuk kita beristirahat. Kepada panitia segera bagikan 10 tenda yang telah disiapkan dan semuanya wajib untuk membantu. Setiap tenda mampu diisi hingga 6 orang dan hindari area barat. Setelah selesai kalian akan dibagi 10 kelompok yang akan berlaku hingga hari terakhir kegiatan. Paham?"
"PAHAM!!"
Seruan serentak menggelegar, membuat Ian mengangkat satu sudut bibirnya melihat semangat semua anggotanya yang seperti tak mengenal lelah walau hujan deras masih mengguyur mereka dengan tanpa ampun, "Bagus.. segera laksanakan! waktu untuk membangun tenda selama 15 menit dimulai dari sekarang!"
Sirine toa kembali ia nyalakan singkat sebagai pertanda. Membuat Panitia yang sudah bersiap langsung bergerak membagikan tenda yang langsung disambut oleh para peserta untuk dengan segera dibangun secara bersama-sama.
Ian melangkah ke seorang gadis yang tengah mencatat sesuatu di tenda tim medis, "Irene-ah, kelompokkan 40 peserta menjadi 10 kelompok dan letakkan 2 atau 3 panitia kedalam setiap kelompok untuk menjadi penanggung jawab" ucapnya tepat setelah ia melangkah masuk.
"Sudah.. aku sudah membaginya setelah mendengar pengumumanmu tadi" jawab irene dengan menyerahkan sebuah kertas yang diletakkan di atas sebuah papan dan berbalut plastik transparan.
"Bagus.. tidak sia-sia kau menjawab dua periode" ucap Ian memuji. Ia pun melangkah ke arah Mingyu yang tengah berdiri seraya mengkoordinir peserta yang tengah membangun tenda. Ia serahkan data nama tersebut ke Mingyu yang langsung menoleh dan menerimanya. "Setelah 15 menit, umumkan ini" perintahnya kepada Mingyu yang mengangguk.
Di sisi lain, Jungkook masih terduduk di tenda konsumsi dengan Seokjin yang masih sibuk menghangatkan jahe di pancinya.
"Hah... inilah yang membuatku malas untuk ikut, terlalu membuang tenaga"
Kekehan terdengar dari Seokjin, "Aku masih kaget saat kau datang rapat kemarin. Kali ini apa yang dia berikan sehingga kau rela ikut dan mengeluarkan semua tenagamu untuk kegiatan hari ini?"
Jungkook diam, sebelah sudut bibir dengan sebuah piercing kecil terpasang disana terangkat, menampilkan sebuah seringa di belah bibir tipisnya. "Ia memberikan motor kesayangannya untuk ku"
Seokjin membulatkan matanya sebelum sebuah tawa meledak, "Ha?! Hahahah.. wahhh Ian mengorbankan banyak hal demi kegiatan ini" serunya berdecak kagum akan semua yang dilakukan oleh ketua umum dua periode organisasi mereka. "dan kau, memang adik yang kurang ajar.. mau membantu kalau diberi imbalan" lanjutnya.
Jungkook hanya mengedikkan bahunya acuh, "itu bayaran yang setara setelah dia memaksaku untuk tetap menjabat sebagai wakil dan memaksaku untuk ikut"
...----------------...
15 menit telah berlalu, semua peserta dan panitia kini berkumpul di tengah 10 tenda yang mengelilingi. Mingyu yang menyalakan Sirine berdiri menjadi titik pusat di tengah untuk kemudian memberikan informasi mengenai pembagian kelompok serta siapa saja panitia yang bertanggung jawab untuk tiap kelompok. Setelah kelompok dibagi, setiap kelompok pun berpencar ke depan tenda masing-masing untuk kemudian berdiskusi mengenai pembagian tugas mencari kayu sebelum sirine kembali berbunyi, membuat semua menoleh kearah Mingyu yang masih berdiri di tengah kali ini dengan Jungkook di sebelahnya sudah mengambil alih toa di tangan.
"Hujan semakin deras, pencarian kayu untuk sekarang akan terlalu beresiko. Lebih baik semuanya masuk ke dalam tenda, rapikan semua barang kalian dan susun tenda semenarik mungkin. Akan ada penilaian pertama untuk penampilan tenda. Mengerti? ada yang ingin ditanyakan? Ya, silahkan"
Jungkook mengangguk, "Ok.. Untuk pencarian kayu akan segera dilakukan setelah hujan reda. Untuk saat ini cukup nyalakan lampu emergency dan senter yang sudah kalian bawa."
"ada lagi yang ingin ditanyakan?"
Sebuah tangan kembali terangkat, kini dari seorang gadis yang berdiri tepat di hadapannya. "Silahkan"
"Baik, izin bertanya, apakah kami tidak boleh bermain ponsel?"
Sebuah pertanyaan yang tidak disangka akan ditanyakan membuat Jungkook mengangkat sebelah alisnya singkat sebelum mengangguk, "tentu boleh, tapi coba kalian periksa apakah ada sinyal untuk kalian bisa betah membuka ponsel dalam waktu yang lama"
kekehan kini mulai terdengar dari beberapa anggota senior yang merasa lucu akan pertanyaan retorika dari seorang gadis yang bisa dipastikan adalah anggota baru. Gadis yang bertanya pun sedikit meringis malu setelah sadar akan pertanyaannya sendiri lalu mengangguk pelan membuat Jungkook ikut terkekeh sebelum kembali mengedarkan tatapan ke semua anggota di hadapan.
"Kurasa cukup itu saja, kalau ada pertanyaan lain silahkan tanyakan ke penanggug jawab kelompok kalian masing-masing." Jungkook mengangguk lalu kembali menyerahkan toa ke Mingyu yang langsung mengambil alih.
"Okay guys sekarang lakukan tugas kalian. Penilaian akan dilakukan tepat jam 00!" seru Mingyu membuat semua orang langsung bergegas dan kembali sibuk di tenda masing-masing.
Jungkook melangkah mendekati satu tenda di sisi kirinya. Terlihat Taehyung tengah menyusun sendal sembari memberikan arahan ke anggotanya. Taehyung yang merupakan panitia diberi tugas tambahan menjadi salah satu penanggung jawab kelompok 2 bersama Bambam dan Soobin.
"oi" panggilnya membuat Taehyung menoleh. "Ayo"
"ha? kemana?" Tanya Taehyung dengan kening mengkerut. Tidak lihatkah Jungkook kalau ia sedang sibuk dengan tendanya. Bisa-bisanya kelinci gila ini mengajaknya membolos.
Jungkook mendengus, "tidak usah sok sibuk. Kuperhatikan sedaritadi kau hanya memerintah dengan tangan memutar-mutar posisi sepatu" cercanya membuat Taehyung langsung memasang cengiran. "ga usah nyengir, makin burik mukamu gitu.. Ayo kita periksa kondisi sungai"
Taehyung yang mendengar itu mendengus namun kepalanya tetap mengangguk, "Sebentar"
Setelah menyerahkan beberapa perintah ke dua partnernya dan mengambil senter, Taehyung pun melangkah mengikuti Jungkook yang lebih dulu berjalan memasuki hutan. "Kebetulan aku juga mau buang air" serunya dengan berlari kecil menyusul Jungkook.
Kini keduanya melangkah perlahan menyusur hutan di tengah hujan yang mulai sedikit mereda, entah memang sudah reda atau karena tertahan tiap dahan pohon. Bermodalkan cahaya senter, keduanya membelah kegelapan hutan untuk menuju ke arah sungai yang beberapa menit yang lalu mereka lewati.
"Kau yakin mau nyeberang?" Tanya Taehyung melihat Jungkook yang telah memasukkan kakinyan air sungai. Terlihat arus sungai yang sedikit deras karena faktor hujan membuat Taehyung menjadi ragu dan sedikit takut. Sedangkan Jungkook yang sudah mencelupkan kakinya hanya mengangguk.
"Ya.. aku harus memastikan rute yang aman untuk mencari kayu. Kenapa? kau takut?"
Tentu saja Taehyung menggeleng setelah mendengar sebuah pertanyaan bernada mengejek tertuju ke arahnya. Ia pun kembali melangkah dan ikut mencelupkan kakinya mengikuti Jungkook yang sudah berjalan menyeberangi sungai.
Grrughhh...
Taehyung terdiam.
'Sial.. air membuat rasa buang airku jadi semakin besar'
"Ya yaa Jungkook-ah..!" Panggilnya. Sebelah tangannya memegang perut yang tiba-tiba terasa melilit. "Jungkook-ah!!"
"Apa sih?!" seru Jungkook yang telah sampai di ujung, dilihatnya Taehyung yang tergesa-gesa berjalan menyusulnya melewati sungai. "Oi pelan-pelan.. kau mati tergelincir?!"
Taehyung total mengabaikan, kini tujuannya yaitu sebuah batu besar yang terdapat di sisi kirinya. "Kau tunggu disini sebentar dan awasi aku!"
Jungkook mengerutkan keningnya, dilihatnya Taehyung yang menghilang di balik batu, "Mau ngapain?!" tanyanya sedikit berteriak.
"Mau Berak.. sumpah ga tahan!!!" Teriak Taehyung sukses membuat Jungkook mendengus dan mengalihkan wajah saat bunyi 'broothh' terdengar nyaring dari balik batu.
Jungkook mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru hutan dengan cahaya senter yang ikut ia arahkan untuk melihat kondisi sekitar. Tak lama suara berisik air yang terdengar deras datang dari arah kanan.
Dengan cepat ia arahkan senter ke aliran sungai yang berasal dari atas.
"Sial!" gumamnya. Terlihat arus air begitu deras datang dari arah atas. "Sialan Banjir— ya Kim Taehyung cepatlah!"
"Sabar, perutku melilit ini aarghh sebentarhh"
Mata Jungkook semakin melotot menyadari banjir di sungai kini semakin deras, matanya melihat ke seberang dimana arah lokasi mereka berkemah sebelum kembali menoleh ke arah batu tempat Taehyung melakukan panggilan alam.
"Oi!!! banjirnya semakin deras, kita tidak akan bisa menyeberang lagi nanti!!"
"HA?! BANJIR?!!" teriak Taehyung merasa kaget saat kepalanya menoleh melihat arus sungai yang terlalu deras dan berwarna cokelat melewati batunya. "Sial-!"
dengan cepat ia membersihkan diri dan merapikan celananya. Kakinya melangkah mendekati Jungkook yang tengah sibuk mencari kayu. "Pegang ini! untuk berjaga biar tidak tergelincir" Sebuah ranting kayu lumayan besar dilemparkan ke arahnya yang untung saja bisa ia tangkap dengan benar.
"berjalanlah di depanku, cari pijakan yang aman. Aku akan berjaga di belakangmu" perintah Jungkook yang langsung diangguki oleh Taehyung.
Mereka berdua pun dengan perlahan berjalan menyusuri arus sungai yang menampar tubuh mereka tanpa ampun.
"TERLALU DERAS!! ASTAGA, KITA BISA HANYUT!!"
"TERUS JALAN!! SEBENTAR LAGI SAMPAI!!"
Terus berjalan tanpa menghiraukan tangan dan pelipis yang luka karena terjatuh dan hanyut kalau tidak ditahan oleh Jungkook, Taehyung terus melangkah berusaha sampai ke ujung sungai.
Brughh!!
"Akhh.. harusnya kita tidak kesini!!" Umpat Taehyung saat tubuhnya kembali tergelincir dan harus terantuk bebatuan sungai.
"Jangan keseringan mengumpat, sialan!! cepat jalan! Sungainya semakin deras! aku bisa hanyutt!!"
Mendengar itu, Taehyung pun mengumpulkan kembali tenaganya dan kembali melangkah hingga akhirnya sampai di ujung sungai. "Akhirnya sampai.. Ayo Jung— Jungkook?!!"
Matanya melotot, tepat setelah kakinya mengijak pinggiran sungai dan membalikkan badan, Jungkook yang sedaritadi selalu berada di belakangnya tidak ditemukan kehadirannya. Tubuhnya membeku dengan mata yang membelalak lebar. Jantungnya berdentum dengan cepat saat menyadari situasi yang kini terjadi.
sial...
"JEON JUNGKOOK!!!"
"sialan.. aishhh Kim Taehyung kau— aishhhh!!!" matanya mengedar panik dengan senter yang diarahkan ke arus sungai. Mencoba mencari tanda akan Jungkook yang mencoba bertahan setidaknya dengan berpegangan di salah satu batu. Namun setelah beberapa menit ia memperhatikan tiap sudut sungai, kehadiran sosok teman tetap tidak ditemukan membuat rasa ingin menangis menyerangnya dengan jantung yang berdentum menyakitkan.
"haaishhh..." umpatnya lagi kini dengan airmata yang mengalir di wajahnya yang sudah basah. Dengan tubuh yang bergetar ia melangkah cepat, berlari naik hingga ke tempat mereka berkumpul.
"TOLONG!!! TOLONG!!!"
...----------------...
Sebuah teriakan terdengar dari arah hutan, beberapa orang yang berada di dekat hutan pun langsung menoleh. Termasuk Minggyu dan Yugyeom yang tengah berkeliling memeriksa tenda.
"Taehyung-ah!!" seru Mingyu yang kaget saat melihat Taehyung berlari hingga akhirnya terjatuh terserungkup di depannya.
"Tolong!! Tolong!!! Jungkook.. Jungkook!!"
Dengan cepat Mingyu berjongkok membantu Taehyung bangkit dengan beberapa orang kini langsung berkumpul mengelilingi mereka. Yugyeom yang melihat kondisi Taehyung lansung saja berteriak memanggil tim medis, "Panggil Tim medis kesini! Ada yang terluka!"
Sedangkan Mingyu, melihat Taehyung yang terserang panik berusaha untuk menenangkan.
"Ya Kim Taehyung! Tenanglah.. tarik nafas—"
"Jungkook!! Tolong!! Ini salahku.. Jungkook!!!"
"Yak Kim Taeh—"
"Polisi!! Kita harus lapor Polisi!!! ponselku.. MANA PONSELKU!!"
PLAK!
Taehyung terdiam dengan tubuh membeku. Sebuah tamparan keras melayang di pipinya membuatnya tersadar, maniknya menatap nanar ke arah Mingyu yang menatapnya tajam.
"Tenanglah..! Tarik nafasmu dalam-dalam lalu ceritakan apa yang terjadi?" ucap Mingyu setelah berhasil menenangkan Taehyung dengan cara menamparnya.
Taehyung memejamkan matanya. Airmata kembali menetes seraya berusaha menarik napasnya dalam. "Jungkook.. "
Kelopak matanya kembali terbuka dengan airmata yang mengalir semakin deras, "Jeon Jungkook hilang.. dia hanyut terbawa banjir sungai" ucapnya membuat semua mata yang melihat membelalak kaget.
"APA?!"
...----------------...
Ian yang baru saja keluar dari salah satu tenda dengan Wonho setelah memeriksa kesiapan tenda tersebut langsung menoleh saat suara berisik terdengar dari segerombolan orang yang berkumpul di sisi dekat hutan. Kakinya melangkah mendekat lalu berjalan ke sumber tempat orang-orang berkumpul dengan mudah saat semua anggota langsung bergerak menyingkir saat melihat ketua umum melangkah mendekat.
"Apa yang terjadi?!" Tanya Ian dengan kening berkerut melihat Taehyung yang terduduk lemas dengan kondisi terluka dan jas hujan yang sobek di beberapa bagian. Matanya mengarah ke Mingyu, "Kim Mingyu.. Melapor!" titathnya pada Mingyu yang berjabat sebagai wakil keduanya.
"Lapor ketua.. Wakil Jeon menghilang. Dia pergi ke sungai bersama Taehyung, namun ia menghilang"
Deg!
"Bagaimana— BAGAIMANA BISA?!" Bentak Ian tanpa bisa dicegah, matanya memandang tajam ke arah Taehyung yang menunduk dengan tubuh bergetar, "Kim Taehyung.. Jelaskan apa yang terjadi!"
"Maafkan aku.. karena hujan arus sungai jadi terlalu deras, kami berdua terjebak di sana dan aku.. aku.. aku terlalu fokus pada diriku sendiri sampai tidak sadar kalau wakil Jeon sudah tidak ada di belakangku"
****-!
Ian mengusap wajahnya kasar. Segala umpatan nyaris keluar dari belah bibirnya sebelum hela nafas kasar ia lakukan saat melihat kondisi Taehyung, terlihat darah mengalir bercampur dengan air hujan di pelipis kanan pemuda tersebut.
"Hahh.. malam ini kita istirahat. Kita cari Jungkook saat matahari terbit" finalnya dengan nada dalam yang terkesan dingin membuat semua orang terdiam mematung, tidak ada yang berani menyela atau mengeluarkan suara sedikitpun karena tanpa dijelaskan mereka sudah tau jika pemuda itu tengah dalam emosi yang terguncang.
Ian melangkah menjauhi gerombolan menuju ke arah tenda konsumsi tempatnya untuk beristirahat malam ini, "Sial.. Hujannya semakin deras" umpatnya pelan saat merasakan tetesan hujan yang semakin deras mengguyur jaket parasut di tubuhnya. Dalam diam, ia melangkah memasuki tenda, menghiraukan tatapan cemas dari tiap pasang mata yang melihatnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...