
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Sial..." Jeon Ian bergumam, matanya mengikuti arah sinar senter di tangan, mencoba menyusuri tanah yang berlumpur di sekitarnya.
Baru beberapa detik yang lalu ia bersusah payah bangkit dan tak sampai 2 menit tubuhnya kembali berguling setelah satu kakinya salah mengambil langkah. Rasa ngilu tak tanggung-tanggung menyerang hingga denyutnya terasa sampai ke otak membuatnya menarik napas panjang pun terasa sulit.
Ia yang merasa sedikit panik lantas memeriksa tas pinggangnya lalu mengeluarkan sebuah senter kecil untuk kemudian ia nyalakan. Untung saja ia menyiapkan dua senter sehingga ia tidak akan terjebak seorang diri dalam situasi yang gelap gulita di dalam hutan.
"A-aghh shh.. sialan sakit sekali" desisnya saat rasa ngilu terasa berdenyut di bagian pinggangnya yang sudah dua kali menghantam kerasnya batang berkayu.
"Dimana ini? Sudah sampai di kaki Selatan kah?" tanyanya bergumam seorang diri. Senternya ia arahnya ke sekitar seraya mencoba mengenali lokasi tempatnya berada sekarang, sebelum atensinya tertuju padas sebuah tongkat besi berwarna hitam yang tergeletak di dekat pohon tak jauh dari tempatnya berdiri.
Dengan perlahan dan penuh hati-hati, kakinya melangkah mendekati tongkat tersebut dengan tangan yang berpegangan erat pada tiap ranting pohon di dekatnya.
Tongkat daki berhasil ia raih, ia pun lanjut melangkah menuruni jalan berlumpur dengan bantuan tongkat dan senter yang selalu ia arahkan ke sekitarnya.
"Hahh... nafasku..hhh.. sebentar"
Tubuhnya bersandar di sebuah batu. Setelah hampir 15 menit akhirnya ia pun sampai di dekat sungai yang ia yakini berada di kaki gunung bagian selatan. Dada berototnya terlihat naik turun terasa berat akibat nafas yang tersendat-sendat. "Jam berapa ini?" gumamnya lalu mengambil ponsel di dalam tas pinggangnya. Layar ponsel yang terlihat retak ia nyalakan dan terlihat deretan angka yang membuatnya terdiam.
00.05 KST
"sudah sejauh ini dan Jungkook masih tidak ditemukam" gumamnya. Cahaya senter ia arahkan, menyusuri panjangnya aliran sungai yang membasahi kedua kakinya.
"JEON JUNGKOOK-! KAU MENDENGARKU?!"
srakhh.. srakhh..
Ia terdiam, spontan cahaya senter ia arahkan ke sumber suara yang terdengar dari arah kirinya.
Kosong.. tidak terdapat sesuatu yang aneh, hanya dedaunan dan ranting yang bergoyang karena hembusan angin.
Tap.. Tap..
"Siapa disana?" Tanyanya sedikit berteriak dengan tubuh yang sedikit menegang saat suara khas langkah kaki terdengar. Cahaya senter terarah dengan pandangan ia tajamkan mencoba memperhatikan dengan jelas figur sosok yang terlihat melangkah semakin mendekatinya.
...----------------...
Cklekk..
Jeon Jungkook membuka matanya setelah bunyi sesuatu yang tertutup terdengar jelas di telinganya, aroma lavender bercampur vanilla yang lembut langsung berhembus memasuki indera penciuman membuat salurannya melebarkan diameter tanpa sadar. Mengerjapkan matanya, ia pun mencoba memfokuskan penglihatannya yang buram.
"Jimin.." ucapnya saat mendapati Jimin yang berdiri di depan lemari.
Yang disebut namanya lantas berbalik, tubuh mungil dengan kulit seputih susu berbalut kaus dan celana pendek melangkahkan kakinya mendekati Jungkook yang mendudukkan diri. "Kenapa bangun? ini masih malam" ucapnya dengan nada lembutnya yang khas.
Jungkook menggeleng kecil, kepalanya menoleh ke sisi kasur di sebelahnya, "dimana Myne?"
"Myne?"
Ia mengangguk lalu menatap ke arah Jimin yang telah duduk di kursi sebelah kasurnya. "Kucingmu" jelasnya.
"ahh.. dia sedang jalan-jalan.. nanti juga pulang" jawab Jimin setelah mengerti apa maksud dari pria di hadapannya. Ia tersenyum, "Bagaimana kondisimu? sepertinya sudah membaik"
Mendengar itu lantas Jungkook mengangguk dengan bahu yang mengedik singkat. "Ya, begitulah.. terimakasih sudah merawatku" ucapnya yang di balas senyum manis dengan manik biru yang berkilau terpantul sinar rembulan yang menembus dari celah dinding kayu. Melihat itu ia terdiam, "Myne..." gumamnya tanpa sadar.
Tidak mungkin...
Jimin mematung dengan mata sedikit membulat. Manik birunya menatap lekat ke arah Jungkook yang beberapa detik kemudian tersentak dengan mata mengerjap.
"eh— maksudku matamu, mirip dengan kucingmu" jelas Jungkook cepat.
Menghela nafas panjangnya pelan, Jimin menarik dua sudut bibirnya menampilkan senyum manis. Ia hendak membuka suaranya sebelum suara Jungkook lebih dulu memotong.
"Ah ya Jimin.. aku ingin bertanya.."
Jimin mengangguk, "Apa itu?"
"Perban yang kau pakai di lukaku tadi.. ada bulu kucing?" tanya Jungkook setelah teringat akan pertanyaan yang sudah ia simpan beberapa jam yang lalu.
Jimin mengerjap pelan, membuat bulu mata lentiknya bergerak mengikuti kelopak mata yang terbuka dan menutup. Kepalanya pun mengangguk pelan, "Uhum.. itu sangat ampuh untuk mengobati lukamu" jawabnya membuat kerutan tercetak di kening pemuda di hadapan.
"Bulu kucing sebagai obat? aku baru tau kalau rambut mahkluk seperti itu bisa dijadikan obat"
Jimin menggeleng, "Tidak seperti itu, hanya buluku saja"
"bulumu?"
"uhm.. maksudku bulu kucingku"
Jungkook menganggukkan kepalanya. Matanya menatap lamat kearah Jimin yang terlihat mengerjap dengan tangan mengusap tengkuknya sendiri.
Dia.. sedikit aneh.
Tak lama matanya mengerjap saat teringat sesuatu. "Ah ya.." serunya membuat Jimin menatap penuh kearahnya. "Antarkan aku ke puncak" ucapnya kemudian.
Jimin mengeryit, "Sekarang?" tanyanya yang mendapat respon berupa anggukan dari pemuda tersebut. "Tengah malam seperti ini?" tanyanya lagi.
Jungkook menghela nafasnya panjang, "Tidak bisa kah?"
"Uhum.. di hutan terlalu gelap." Jawab Jimin dengan kepala mengangguk.
"Myne.. tanduk kucing itu bisa memancarkan cahaya kan?" tanya Jungkook lagi yang kembali mendapat respon berupa anggukan. "Ajak saja dia" lanjutnya memberi usul.
Jimin diam, matanya menatap intens ke arah Jungkook yang membelakangi cahaya.
'tidak mau, aku terlalu lelah kalau harus bertukar wujud lagi untuk saat ini'
Ingin sekali ia mengatakan kalimat tersebut, sebab baru beberapa menit ia kembali menjadi wujud manusia dan sekarang harus bertukar kembali? tidak, terimakasih. Dia bahkan belum tidur dan makan seharian ini.
"Mau apa?" Tanyanya bergumam saat melihat tubuh mungil telah merebahkan diri memunggungi di sebelahnya.
"Jimin? kau tidur?" tanyanya lagi setelah beberapa detik terdiam, namun pemilik tubuh mungil tidak merespon. Hanya berdiam diri dengan punggung sempit yang sedikit bergerak, seiring dengan suara nafas tenang yang berhembus pelan di tengah kesunyian malam.
Ia menghela nafas pelan, "fine.. besok pagi saja" gumamnya kemudian ikut merebahkan diri.
Tubuhnya terlentang dengan kepala menoleh, memperhatikan Jimin yang tidur membelakanginya. Rambut berwarma abu-abu sepanjang tengkuk itu terlihat tebal dan halus, punggung sempit yang terlihat rapuh namun terbentuk dengan tegas, kemudian matanya bergerak turun, memperhatikan lekukan pinggul ramping yang jika diperhatikan hanya selebar telapak tangan Jungkook, hingga akhirnya ia terdiam saat atensi mengarah ke satu sisi tubuh, yaitu bagian bokong yang tampak lebih menonjol.
Tubuhnya.. Sexy sekali..
Jungkook tersentak, "Sialan.. apa yang kupikirkan?!" serunya pelan, ia pun berbalik memutuskan untuk ikut memunggungi sebelum berdirinya pusat kehidupan.
...----------------...
Ian diam, wajah datarnya menatap penuh ke arah seorang pemuda yang berdiri tegak 2 meter darinya.
"Hai?"
Dalam diam ia memperhatikan pemuda dengan jeans hitam dan jaket bomber di hadapannya, atensinya terfokus pada sepasang kaki berbalut jordan.
Bagus.. masih menapak tanah
"uhm.. Hai?"
lagi, sapaan terdengar dari pemuda itu membuat Ian mengangguk sedikit dengan dehaman pelan terdengar darinya. Sedangkan pemuda di hadapan kini menggaruk tengkuknya dengan canggung.
"Anu.. apa kau tau jalan menuju posko penjaga?" tanya pemuda itu.
Mendengar itu Ian sedikit mengerutkan keningnya. 'Apa dia juga pendaki yang tersesat? seingatku hari ini hanya kami yang mendaki di list penjagaan' batinnya dengan kembali memperhatikan pemuda tersebut.
Tak mendapat respon, pemuda tersebut memutuskan untuk kembali membuka suara.
"Aku tersesat, entahlah sudah berapa lama karena tas ku terjatuh ke jurang, tapi sepertinya aku sudah melewati 2 malam disini" ucapnya mencoba menjelaskan.
Sedangkan Ian yang mendengar hanya berdiam diri dengan raut datar yang setia terpasang di wajah tegasnya.
Dua malam? tapi penampilannya masih sangat bersih.
Orang ini mencurigakan..
Keraguan menghinggapi hatinya namun kepalanya tetap memberikan anggukan sebagai respon. "Aku juga tidak tau, tapi sepertinya kau bisa mendaki ke atas sana untuk lebih jelas mencari jalan daripada di kaki gunung ini" jawabnya kemudian setelah berdiam diri.
"Ah begitu—" pemuda itu mengangguk pelan sebelum kembali melihat ke arah Ian. "Ngomong-ngomong, apa yang kau lakukan disini? tersesat juga? mungkin kita bisa mencari jalan bersama?"
Ian menggeleng, "Apa kau melihat orang ini?" tanyanya tanpa menjawab pertanyaan dari pemuda itu. Sebuah ponsel ia ulurkan, menampilkan sebuah foto sang adik yang ia cari, Jeon Jungkook.
Pemuda itu mendekatkan sedikit wajahnya untuk memperhatikan foto tersebut, "hmm.." gumamnya dengan kening berkerut. Dilihatnya Ian yang berdiam diri menatap kearahnya dengan raut datar.
Ia pun mengangguk, "ahh.. kau sedang mencarinya?"
"Kau melihatnya?" Kembali Ian bertanya.
"Siapa? Temanmu? Adikmu?"
"Ya atau tidak?"
Sebuah pertanyaan terakhir terlontar dengan suara berat yang terkesan dingin. Membuat pemuda yang sedaritadi menatapnya dengan raut penasaran langsung terdiam seraya mengusap canggung tengkuknya sendiri.
"Tidak.. aku tidak—"
"Ok"
"Eh?! mau kemana?!"
Teriakan terdengar total diabaikan. Ian kembali melangkah meninggalkan pemuda tersebut setelah menyimpan kembali ponsel ke dalam tas pinggangnya. Sepasang kaki terus melangkah hingga ke seberang sungai, mengabaikan pemuda yang terus memanggil mengikutinya di belakang.
"Jangan meninggalkanku, aku takut sendirian disini. Biarkan aku ikut.. aku janji tidak akan—"
"Brengsek.."
Tap..
Ian menghentikan langkahnya lalu melirik tajam kearah pemuda yang berdiri tepat di belakangnya.
"Tutup mulut berisikmu itu atau menjauh dariku.." ketusnya kemudian kembali melangkah dengan cahaya senter dan mata yang mencoba fokus memperhatikan seluruh penjuru sekitarnya.
"hhh... Siapa nama orang yang kau cari?" tanya pemuda itu dengan nafas sedikit terengah. Keduanya sudah berada di atas ranting dua pohon yang bersebelahan, memutuskan untuk beristirahat setelah berjam-jam menyusuri hutan di kaki gunung bagian selatan.
"Jeon Jungkook.." Jawab Ian singkat. Tubuhnya bersandar di batang pohon dengan mata memandang lurus ke depan sesekali matanya melirik kearah pemuda yang terlentang di pohon sebelah.
"Namamu?"
"Jeon Ian"
"ahh.. ternyata kau sedang mencari adikmu. Ok, besok aku akan membantumu mencari adikmu dan setelah itu kita mencari posko penjaga bersama-sama"
Ian diam namun kepalanya mengangguk pelan. Sudah lebih dari 24 jam sang adik menghilang, dan hingga saat ini tanda-tanda kehadirannya tetap tidak terlihat bahkan di hutan terlarang di kaki gunung bagian selatan pun tidak ditemukan membuatnya sedikit putus asa dengan harapan yang mulai sirna.
Haruskah aku merelakanmu?
Taklama ia menoleh, melihat pemuda yang tampak mulai memejamkan mata. "Nama?" tanyanya yang membuat pemuda itu kembali membuka mata dan menoleh kearahnya.
"Ya? kau bertanya padaku? namaku?" tanya pemuda itu yang diangguki oleh Ian membuat pemuda itu menarik dua sudut bibirnya, menampilkan senyum di wajah orientalnya.
"Aku.. Park Eunwoo..."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...