MYNE (The Last Guardian Cat) KOOKMIN

MYNE (The Last Guardian Cat) KOOKMIN
Chapter 3



...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Tak.. Tak..


Srrsshh...


Kedua kelopak mata terbuka perlahan. Hal pertama yang tertangkap di penglihatannya adalah sebuah atap jerami dengan sebuah lampu gantung dalam keadaan mati.


"Kau sudah bangun.."


Sebuah suara lembut terdengar, Jungkook menolehkan kepalanya sebelum meringis saat denyut nyeri langsung menyerang. "A-akhh.."


"Jangan terlalu banyak bergerak.." seruan kembali terdengar.


Jungkook kembali membuka matanya untuk kemudian melihat sosok remaja laki-laki bertubuh mungil tengah menatap khawatir ke arahnya. Jungkook bangkit duduk dengan ringisan yang kembali terdengar, dengan bantuan remaja itu ia pun berhasil mendudukkan dirinya dan bersandar di dinding papan di punggungnya.


"Dimana ini? apa yang akh.. sial sakit sekali"


Sebelah tangannya memegang perut sebelum kepalanya langsung menunduk untuk melihat sebuah kain putih meliliti perutnya dengan gumpalan entah apa di balik kain itu tepat di bagian yang terasa perih di pinggangnya.


"Jangan disentuh.. Itu obat, pinggangmu terluka kerena tertusuk ranting"


Penjelasan singkat itu cukup menyadarkan Jungkook akan apa yang telah ia alami. Matanya sedikit melebar dengan tubuh membeku.


Sialan.. apa aku ini kucing yang punya 9 nyawa?!


Jungkook membatin. Lagi-lagi ia selamat dari maut, entah memang keberuntungannya atau ia emang seperti yang dipikirkan, sudah beberapa kali ia mengalami peristiwa naas dan ia selalu berhasil selamat. Bahkan kejadian 8 tahun yang lalu pun hanya ia yang selamat seorang diri.


"Ini minumlah.."


Sebuah gelas berisi cairan bening kecokelatan terulur ke arahnya. Jungkook hanya diam dengan satu alis yang terangkat, bertanya dengan tatapan yang tertuju tepat di manik biru remaja di hadapannya.


"Ini obat herbal, campuran daun teh, daun mint dan jahe.." Sebuah tangan menunjuk kearah beberapa bahan yang masih tersisa di atas sebuah meja kayu sebelum tatapan merwka kembali bertemu, "sedikit pahit tapi ini baik untuk kesehatanmu."


Dirasa tak ada yang mencurigakan dan tak mendapat kebohongan dari wajah tembam dengan manik biru yang begitu terang karena terpantul sinar matahari, Ia pun akhirnya menerima gelas tersebut dan menyeruput cairan pekat perlahan. Rasa pahit menyerang seisi mulutnya, Jungkook mengeryit sebelum memutuskan untuk meneguk habis saat binar harap terpantul dari manik biru tertangkap di manik coklatnya.


"Wahh.. aku tidak menyangka kau menghabiskannya dalam satu kali tegukan" seru remaja itu dengan antusias mengambil kembali gelas yang terulur ke arahnya.


Jungkook berdeham pelan merasakan rasa pahit yang masih menempel di lidah, matanya menatap punggung sempit berbalut mantel kulit yang tengah membelakanginya.


"Jadi.. ini dimana? dan kau.. siapa?" tanyanya.


"Aku Park Jimin dan kau ada di rumahku, kaki gunung bagian selatan. Aku menemukanmu di tertimpa pohon di jurang"


"Ya? tertimpa pohon?!"


Jungkook kembali membulatkan sedikit matanya. Lagi-lagi ia selamat dari maut. Dengan kondisi tertimpa pohon bukankah seharusnya ia sudah pergi menyusul orangtuanya? tapi ia malah selamat dan hanya terluka di beberapa bagian tubuhnya seperti kepala dan perutnya. ahh.. bahkan kaki dan tangannya masih dapat bergerak dengan leluasa, hanya terdapat beberapa luka lecet menghias kulitnya.


Jimin mengangguk, ia berbalik kemudian memutuskan untuk duduk di lantai menghadap ke arah Jungkook. Kedua kakinya bersilang dengan kedua tangan yang bertumpu ke lantai di depan tubuh. Sepasang mata dengan manik biru mengerjap memperhatikan setiap pergerakan yang Jungkook lakukan.


Jungkook yang diperhatikan sebegitu intens tentu jadi merasa canggung, rasa dejavu tiba-tiba terlintas membuatnya mengeryitkan kening sebelum sebuah suara lembut kembali menyadarkannya.


"Jadi, siapa namamu?"


"Jeon Jungkook.." Jawab Jungkook. Matanya tetus memperhatikan posisi Jimin yang duduk bersimpuh di lantai


Aku seperti pernah melihatnya. Tapi dimana? Kapan?


"Hai tuan Jeon Jungkook.. aku Park Jimin!" ucap Jimin dengan wajah cerianya. Senyum manis terpatri dari belah bibir tebalnya.


"ekhem.. ah ya, hai Jimin.." balas Jungkook singkat.


Keheningan kembali melanda sebelum Jungkook tersentak sadar akan sesuatu. Ia langsung bangkit hendak berdiri sebelum terduduk kembali dengan ringisan yang keluar karena rasa nyeri menyerang dari perutnya.


"Jangan banyak bergerak tuan Jungkook, lukamu masih basah" seru Jimin yang langsung berdiri kemudian membantu Jungkook untuk kembali duduk bersandar.


"Aku harus kembali ke perkemahan, mereka semua menungguku"


"oh— perkemahan? yang ada di puncak itu?"


Jungkook mengangguk cepat, matanya menatap penuh ke arah Jimin, "Ya! kau tau?!" tanyanya pada Jimin yang mengangguk.


"Uhum.. aku melihat kalian lewat saat hujan malam kemarin"


Bagus.. dia pasti bisa menunjukkan arah kepadaku.


"kalau begitu, apa kau tau arah kembali menuju puncak?" Tanya Jungkook pada Jimin yang kembali mengangguk.


"Bagus.. ayo antarkan aku kesana sekarang!" serunya. Namun kini Jimin menggeleng, membuat Jungkook mengerutkan kening tanda tak terima.


"Kesana sangat jauh dan jalannya begitu curam dan licin"


Jungkook menggeleng, "Aku tidak masalah.. kalau kau takut, cukup tunjukkan arah mana saja yang harus kulewati"


Lagi-lagi Jimin menggeleng, "aku akan mengantarmu nanti, tapi untuk beberapa jam ini tidak bisa. Lukamu masih basah, bahaya jika terlalu banyak bergerak"


"Aku tidak masalah! aku bisa menanganinya" ucap Jungkook membantah, Tubuhnya bangkit mencoba berdiri. "Aku bahkan masih bisa— aakhhh"


Erangan terdengar, tubuhnya kembali terduduk di atas kasur dengan posisi bersandar. "Sialan.. shhh" desisnya. Luka pada perutnya terasa begitu perih hingga denyutnya terasa sampai ke otak. Matanya melirik ke arah Jimin yang diam menatapnya dengan mata yang mengerjap.


Jungkook menghembuskan nafasnya kasar, "Ok, fine.." kedua kakinya bergerak naik kembali ke atas kasur. Kepalanya bersandar di dinding kayu dengan mata tertutup, nafasnya menghela panjang mencoba meredakan nyeri yang masih terasa. "Jam berapa ini?"


"Jam? Aku tidak tau, tapi sepertinya ini tengah hari. Langitnya begitu terang"


Kening Jungkook mengkerut, kelopak matanya kembali terbuka lalu melihat kearah Jimin yang tengah berdiri di dekat Jendela. "Kau tidak punya jam?" tanyanya pada Jimin yang merespon dengan gelengan kepala.


"Coba lihat jam di ponselmu.."


"Ponsel? Ponsel itu apa?"


Kini sebuah pertanyaan terlontar membuat kerutan di kening Jungkook semakin tercetak jelas. "Ha?! kau tidak tau ponsel?!"


Jimin kembali menggeleng dengan mata yang mengerjap bingung, "apa itu?" tanyanya dengan lugu.


Jungkook mendengus kasar dengan tangan mengusap wajahnya sendiri, "Tidak heran kalau kau tidak punya ponsel karena kau tinggal di gunung, tapi.. yang benar saja masa kau tidak tau apa itu ponsel?!" seru Jungkook sebelum matanya sedikit melotot saat melihat Jimin yang kembali menggeleng.


Jungkook memejamkan matanya sejenak dengan nafas yang dihela panjang. ”Kalau begitu, mana tas ku.. ponselku ada di sana"


"Tas? ah ya.. sebentar"


Jimin melangkah lalu berhenti tepat di depan sebuah lemari kayu berukuran kecil. Jungkook mengerutkan keningnya saat melihat isi lemari yang hanya terisi beberapa helai kain, hanya ada sekitar 3 atau 4 kain yang terlipat rapi. "Pakaianmu sedikit sekali.." celetuknya tanpa bisa ditahan.


"ya.. itu lebih dari cukup untukku. Aku jarang memakainya" Jawab Jimin yang terasa aneh bagi Jungkook. Sebuah tas pinggang yang terlihat kotor dan sedikit basah terulur kearahya. "Tas.. ini kan? tadi aku cuma mengusapnya pakai air. maaf tidak mencucinya karena sabunku sudah habis. Nanti akan kubuat lagi"


Jungkook mengambil tasnya dengan kerutan yang masih tercetak di keningnya. Matanya memperhatikan penampilan Jimin dari ujung kepala hingga ujung kaki. Rambut berwarna abu-abu yang sedikit panjang hingga leher terlihat begitu alus, mata kecil yang sedikit sipit dengan bulu mata lentik melindungi sepasang manik biru, hidung mungil yang mancung, belah bibir tebal yang terlihat ranum dengan warna merah mhda, serta kulit mulus seputih susu membalut tubuh tanpa setitik cacat atau noda jerawat satupun cukup membuat Jungkook yakin Jimin merupakan orang yang terawat. Bahkan ia terbilang begitu wangi, aroma lavender terus berhembus setiap ia berada di dekatnya.


*Ah.. dia pasti bohong.


bilang saja kau tidak mau menghabiskan sabunmu itu untuk mencuci tasku. Cih*...


"Aku tidak berbohong.. Sabunku memang sudah habis untuk mencuci kainmu" ucap Jimin seakan mengetahui isi pikiran Jungkook, membuat pemuda itu membelalak kaget.


Grudukk...


Jungkook hendak membuka suara sebelum bunyi gemuruh awan terdengar. Cahaya terang yang semula masuk melewati jendela dan celah dinding papan kini intensitasnya menurun menunjukkan kondisi dimana hujan akan turun sebentar lagi.


"Ah.. tunggu, Aku angkat bajumu dulu.."


Jungkook menoleh, dilihatnya Jimin yang berjalan menuju pintu lalu membukanya sebelum tubuh mungil menghilang dari pintu yang kembali tertutup. Keningnya mengkerut sebelum ia tersadar saat kepalanya menunduk hendak mengeluarkan ponsel dari tasnya.


Pantas saja daritadi dingin..


Ia membatin, ternyata sedaritadi ia bertelanjang dada dan hanya mengenakan celana joggernya. Ponsel kini berada digenggaman, rahangnya mengeras saat melihat layar ponsel yang memang sudah lama retak kini semakin retak. dengan beberapa bagian yang pecah.


"Sialan.." umpatnya saat ponsel itu sama sekali tidak mau menyala setelah beberapa kali ia coba.


wuushhhh...


wuushhhh..


brakhh..


Angin kembali berhembus, kini diikuti pintu yang terbuka karena tak mampu menahan hembusan angin. Kondisi di luar terlihat dari dalam. Terdapat sebuah kayu melintang diatas dua buah ranting panjang yang ditancapkan di tanah, dua buah kain yaitu kaosnya dan jaketnya terlihat menggangung di atas kayu tersebut. Namun Jungkook mengerutkan keningnya, sosok Jimin tal terlihat sama sekali di luar sana.


"dia kemana?"


beberapa menit Jungkool menunggu. Rintik hujan kini terdengar, namun sosok Jimin masih belum terlihat. Jungkook yang melihat pakaiannya akan kembali basah karena hujan dirasa akan semakin deras, dengan perlahan ia bangkit berdiri. Ringisan keluar dari belah bibir tipisnya, kedua kaki pun melangkah perlahan keluar.


"Jimin?" panggilnya setelah ia berhenti di depan pintu, kepalanya menoleh ke kanan dan ke kiri sebelum kembali tersentak saat bunyi petir terdengar dengan rintik hujan yang semakin deras. Ia pun kembali melangkah dan mencoba sedikit lebih cepat untuk mengambil pakaiannya dan kembali masuk ke dalam rumah.


Kaosnya ia letakkan di atas kasur, lalu jaket yang masih sedikit lembab ia pakai untuk menutupi dada telanjangnya. Kakinya kembali melangkah perlahan keluar rumah untuk mencari keberadaan Jimin yang tiba-tiba menghilang.


Srakhh .. Srakhh..


sebuah suara terdengar dari arah belakang rumah. Jungkook mengedarkan matanya dengan kepala menunduk untuk mencari sesuatu sebelum sebuah ranting sedikit tebal ia ambil di dekat pintu. Dengan menggenggam erat ranting di tangan, Jungkook kembali melangkah untuk memeriksa belakang.


"Jimin?"


Jungkook menghentikan langkahnya. Tak ada satu orang pun di belakang, kehadiran tubuh mungil yang ia cari juga tidak ditemukan. Kakinya melangkah semakin mendekat hingga tak lama ia membeku dengan mata tertuju ke satu arah, terdalat sebuah mantel berbulu coklat tergeletak di atas sebuah tungku.


"Jimin? —akh shh.."


Jungkook melangkah cepat dengan ringisan yang terdengar. Tangannya mengambil mantel tersebut lalu mengedarkan pandangan ke sekitarnya. dua buah kain kembali terlihat tergeletak di dekat sebuah sumur. Jungkook membelalakkan matanya.


Tidak mungkin..


...----------------...


"Semua tempat sudah kalian telusuri?" Ian bertanya. Wajahnya sudab begitu muram dengan rahang yabg semakin mengeras saat Mingyu mengangguk lemah.


"Semua tempat sudah kami telusuri selain sisi selatan kaki gunung.. Kami tetap tidak—"


"Kenapa?" Potong Ian dengan nada dinginnya, membuat Mingyu menatapnya dengan raut bingung, "Kenapa tidak kalian cari kaki gunung bagian selatan?! Bisa jadi Jungkook ada disana!!"


Mingyu menggeleng, "Maaf ketua, tapi sisi selatan terlalu berbahaya karena tanahnya begitu licin dan curam. Penjaga gunung juga sudah melarang kita untuk memasuki area Selatan karena—"


"MASA BODOH DENGAN LARANGAN ITU SIALAN! ADIKKU MENGHILANG DAN TIDAK DITEMUKAN DI SEMUA TEMPAT SELAIN DISANA!!"


Semua terdiam, teriakan Ian yang membentak sukses membuat semua tubuh terdiam kaku dengan kepala menunduk. Tak terkecuali dengan Mingyu yang bahkan dibentak langsung oleh sosok di hadapannya. Hembusan nafas kasar terdengar sebelum sebuah kalimat membuat matanya membelalak lebar.


"Aku yang akan mencarinya sendiri" ucap Ian kemudian langsung memasukkan dua buah senter yang sebelumnya ia letakkan di atas meja konsumsi ke dalam tas pinggangnya.


"Jangan! Ian.. disana terlalu berbahaya! Penjaga gunung melarang kita karena itu area terlarang. Banyak yang tidak bis—"


"Shut the **** Up!" geram ia memotong, ia mendesis dengan raut sadis menatap ke arah Mingyu. "Aku tidak perduli.. kau tau? aku tidak takut mati, apapun akan aku lakukan untuk menemukan adikku.." tangannya menyentak kasar, melepas pegangan Mingyu di lengannya.


Jaket parasut ia kancingkan hingga sebatas leher, tudung jaket ia pasang lalu melangkah hendak turun memasuki hutan sebelum sebuah suara menghentikannya.


"Aku ikut oppa!"


Ian menoleh, mata tajamnya menangkap sosok Somi yang tengah menatapnya dengan mata sembab yang masi mengalirkan airmata. Ia menoleh lalu menatap datar kearah Mingyu kemudian ke arah Wonho yang berdiri di sebelah gadis tersebut.


"Jangan biarkan dia menjauh dari kalian dan selalu awasi dia.. lapor ke posko penjaga jika sudah lewat 24 jam kehilangan Jungkook" perintahnya singkat sebelum kembali melangkah pergi, meninggalkan Somi yang berteriak meraung ingin ikut dengan tubuh memberontak yang langsung ditahan kuat oleh Wonho.


Apapun akan ku lakukan..


Hidup dan matiku.. untuk satu-satunya harta berharga yang kumiliki..


Jeon Jungkook..


...----------------...


Deg!


Tidak mungkin...


Jungkook melangkah perlahan mendekati sumur, segala macam pikiran negatif bermunculan setelah mengenali kain yang tergeletak di dekat sumur adalah milik Jimin. Kepalanya sedikit demi sedikit bergerak maju untuk mengintip isi sumur.


Tidak mungkin kan Jimin tenggelam di sumur karena tertiup angin?


Kakinya melangkah sedikit dengan kepala yang semakin dekat dengan lubang sumur.


"Miauw..."


Brughh..


"ASTAGA— aarghh shhh..."


Jungkook jatuh terserungkup. Rasa nyeri kembali menyerang kini ditambah dari kepalanya yang terantuk tembok sumur. Jungkook mengerang lalu membenarkan posisinya jadi duduk bersandar dengan mata terarah ke seekor kucing bertanduk yang berdiri di hadapannya.


"Akhh shh kau lagi.. sejak kapan kau disini?!"


Kucing itu tak merespon. Ia hanya menggerakkan empat tungkai kakinya kesana kemari dengan ekor yang berkibas. Jungkook menghela nafas, ia tersentak sebelum kembali teringkat akan tujuan awalnya yaitu mencari Jimin.


Dengan perlahan ia bangkit lalu dengan berpegangan di pinggiran sumur ia melongok ke dalam, "Jimin? kau disana?!!" panggilnya dengan mata memandang jauh mencoba melihar ke dalam genangan air. Tapi air tersebut begitu tenang, seperti belum tersentuh benda apapun, membuat Jungkook menjadi ragu dengan pemikiran tentang Jimin yang tercebur karena tertiup angin.


"Kalau bukan disini.. terus— kau!! KAU MEMAKAN JIMIN?!"


Jungkook berteriak. Dengan mata melotot, telunjuknya mengarah tepat ke wajah kucing bertanduk yang kini mengerjapkan matanya. "Miauw?"


"TIDAK USAH SOK POLOS! MENGAKULAH!!" bentaknya lagi. Tangannya meremat kain baju Jimin yang terasa kering di tangannya, "Jimin menghilang dan kau disini! semua baju jimin dan dalam keadaan kering —eh?"


Jungkook terdiam, kembali ia memperhatikan baju Jimin dengan matanya mengerjap. Tangannya meraba seluruh permukaan kain lalu matanya memperhatika celana dan mantel Jimin yang masih tergeletak di tanah.


Semuanya bersih.. dan kering ..


Kalau diterkam hewan harusnya...


"Miauww..."


"Eh eh?! Jangan menyentuhku!" seru Jungkook panik saat kakinya disundul dan diendus moncong kucing tersebut. Tentu saja ia langsung menarik kakinya menjauh, kemudian keningnya mengkerut saat melihat kucing itu menempelkan moncongnya ke tanah lalu sesekali berputar di tempat.


"Apa?"


"Miauw.. "


Kucing itu kembali melakukan hal yang sama, berputar di tempat dan menempelkan moncong ke tanah.


"ada sesuatu di sana?"


dengan perlahan Jungkook mengubah posisinya menjadi merangkak, kemudian mendekat dengan takut-takut untuk memeriksa apa yang coba kucing itu tunjukan. "ahh.. kau ingin menunjukkan ini?"


"Miauw.." Kucing itu mengeong lalu melangkah mundur saat Jungkook mendekat.


Jungkook sedikit mendekatkan wajahnya ke tanah, matanya mencoba memperhatikan ada seperti pahatan berupa tulisan di sana. "Ini apa sih? tulisan?" gumamnya. Keningnya mengkerut mencoba melihat dengan jelas.


"Aku.. e—epurgi.. ahh pergi.." Jungkook memiringkan kepalanya. Ia mencoba membaca tulisan acak yang sepertinya ditulis dengan ranting atau apapun itu yang tajam.


"Aku pergi dulu.. a—ada.. ada yang harus ku selesaikan.. hahh berantakan sekali tulisannya. Ini tulisan Jimin kah?"


Jungkook mendudukkan tubuhnya, matanya masih terfokus untuk mencoba membaca semua kata yang tercetak di tanah. "aahh benar, ini Jimin. oke, ulang.."


"Aku pergi dulu. Ada yang harus ku selesaikan dan itu mendadak. Aku.. Kucing.. aku— hah apasih!" Jungkook menggerutu saat tulisan tersebut semakin acak di akhir hingga ia tidak bisa membacanya. ia mendengus, "udahlah, intinya dia lagi pergi. Tapi kenapa bajunya— ia telanjang??"


Jungkook mengerjapkan matanya, segala pemikiran yang masuk membuat wajahnya tanpa sadar memerah. Tak lama ia berdeham canggung, lalu kembali melihat kucing bertanduk di depannya yang tengah melihatnya dengan ekor yang bergerak.


"Kau.. milik Jimin?"


Kucing itu tidak menjawab dan berbalik dengan menggigit mantel yang tergeletak di tanah untuk kemudian diseretnya menuju pintu rumah. Jungkook mendecak, bagaimana bisa Jimin meninggalkannya berdua dengan kucing raksasa bertanduk ini?


Tak ingin berlama-lama dikarenakan hujan yang semakin deras, Jungkook pun dengan susah payah berdiri lalu memungut pakaian Jimin dan melangkah masuk ke rumah.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...