MYNE (The Last Guardian Cat) KOOKMIN

MYNE (The Last Guardian Cat) KOOKMIN
Chapter 9



...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Bangsat lama sekali dia ini.." umpat Ian saat dirasa arus sungai mulai terasa naik, Banjir mulai datang.


"Hyungnim.. maaf lama"


Kepalanya mengangkat, terlihat Eunwoo yang berjongkok di depannya. Mendengus pelan, "Si bangsat.. satu menit saja telat, kau kutinggal" ketusnya sebelum berdiri lalu berjalan menjauhi sungai. Tudung jaket parasut ia eratkan, mencegah air hujan masuk sampai ke baju bagian dalam.


Mata elang mengedar, memandang ke segala penjuru hutan. Hela nafas panjang ia hembuskan, "Harus kemana lagi aku mencarimu" gumamnya.


"Sekarang apa yang akan kita lakukan?" Tanya Eunwoo yang berhenti tepat di sebelahnya. Matanya memandang menyusuri sungai lalu menoleh ke Ian. "Lanjut mencari adikmu?" tanyanya lagi.


Ian diam tak merespon, kembali matanya memandang jauh menyusuri hutan di sekelilingnya. Hela nafas panjang kembali ia hembuskan dengan mata yang kembali memerah serta rahang mengeras. "kita kembali ke posko" putusnya kemudian melangkah, meninggalkan Eunwoo yang menatap punggungnya dengan lamat.


Yang tadi itu adiknya. Haruskah ku beritahu?


"anu.. gimana kalau kita cari dulu di sana?" ucap Eunwoo mengusulkan dengan tangan menunjuk hutan di seberang, arah dimana Jungkook dan kakaknya berada.


Mendengar itu Ian berhenti melangkah. Ia menoleh lalu mengikuti arah yang ditunjuk. Beberapa detik ia terdiam sebelum menggeleng setelah sempat melirik ke langit.


"Tidak perlu, kita kembali saja. Hujan semakin deras, teman-temanku juga pasti sudah melapor ke penjaga gunung, tim penyelamat pasti akan segera bergerak" ucapnya lalu kembali melangkah, berusaha mendaki tanah berlumpur.


Eunwoo mengerjap, kepalanya menoleh memandang jauh ke hutan di seberang sungai, lalu menoleh ke arah Ian yangberjalan cukup jauh di depan. Ia menghela nafas pelan lalu mengedikkan bahunya singkat, "Baiklah kalau begitu" ucapnya sebelum melangkah mengikuti Ian.


...----------------...


"Jimin.. Kau sudah bangun?"


Jungkook langsung merangkak mendekat saat melihat sepasang kelopak mata terbuka, menampilkan manik biru yang langsung menatap ke arahnya. Sudah hampir satu jam ia terduduk menunggu seekor kucing untuk sadar setelah sebelumnya dijilati oleh seekor serigala yang kemudian langsung pergi.


"Bagaimana perasaanmu? ada yang sakit? kuperiksa lukamu sudah sembuh, bahkan tidak ada bekas luka satupun" jelasnya pada seekor kucing yang hanya berdiam diri menatap kearahnya. "Jimin? kau mendengarku?" panggilnya lagi.


"Miauw.."


Jungkook terdiam dengan mata mengerjap, dilihatnya kucing yang menatap dengan mata biru yang mengerjap.


"Miauw.." kembali kucing itu mengeong, kini dengan kepala yang mengusal ke lengan Jungkook membuatnya langsung tersentak dan menarik mundur tangannya.


"apa yang terjadi? kau kehilangan suaramu?" tanyanya


atau yang tadi itu hanya halusinasiku saja?


"Miauw..?"


Kembali ia tatapi kucing putih bertanduk yang tengah menjilati tungkai kakinya sendiri. Keningnya mengkerut seraya terdiam beberapa saat, tak lama nafas panjang ia hela dengan pelan. "Terserahlah" gumamnya kemudian matanya beralih melihat kondisi di luar goa. "Hujannya sudah tidak deras lagi" gumamnya lagi. Dilihatnya lagi Myne yang kini menatap penuh ke arahnya. "Sebentar, aku akan cek keadaan luar"


Bangkit berdiri, ia pun melangkah keluar goa. Pandangannya mengedar sebelum sedikit menyipit, "Aku kenal daerah ini!" gumamnya saat mendapati keadaan sekitar yang tidak asing. "ini sudah dekat dengan posko, mereka pasti sudah melaporkanku ke posko" gumamnya lagi. Ia pun melangkah masuk ke dalam goa.


"Jimin— tidak, maksudku Myne, kita sudah dekat dengan posko penjaga gunung. Ayo kita harus segera kesana!" serunya tepat setelah berhenti di depan Myne. Dilihatnya kucing itu yang seakan mengerti akan perkataannya, terlihat dari ia yang hendak berdiri.


Melihat itu, Jungkook lantas mengambil jaketnya yang tadi dijadikan alas untuk si kucing kemudian hendak melangkah duluan sebelum matanya menangkap sang kucing yang kembali terduduk.


"Kenapa? Kau lemas?" tanyanya berjongkok dengan raut panik.


"Miauw.." seakan mengerti, Myne menjulurkan tungkai kaki belakang sebelah kanannya lalu menjilati serta mengigiti tungkai berlapis bulu lebat. Seakan paham, Jungkook pun menyingkap bulu lebat tersebut, ia terdiam saat melihat ternyata ada luka yang belum sepenuhnya tertutup. Luka yang terbilang cukup parah, karena bekas gigi monster yang menancap menyebabkan luka bolong hingga membolongi tulang.


"Apa yang harus ku lakukan?" gumamnya.


Setelah berpikir beberapa saat, ia pun memutuskan untuk menggendong kucing tersebut setelah sebelumnya sempat membungkusnya dengan jaket kulit hitamnya.


"Myne.. kau memang tidak bisa bicara? Tapi, tadi Jimin.. kau.. kalian. Aku tidak mengerti!" ungkap mengeluh. Sepasang kakinya melangkah dengan tangan yang masih setia merengkuh serta mengangkat tubuh kucing dengan ukuran setengah dari tubuhnya. Satu tangannya mengusap dagu kucing tersebut, sesekali memainkan jarinya di bawah dagu.


"Tidak mungkin yang tadi cuma halusinasi!" kilahnya. "Aku tidak sedang mabuk atau merasa dehidrasi. Aku sadar 100% saat melihat Jimin berubah jadi kucing dan berbicara denganku.." lanjutnya dengan kepala mengangguk pasti. Tanpa sadar akan Myne yang sudah mendongak memperhatikannya mengoceh dari bawah.


"Dia bilang mau menjelaskannya padaku. Tapi apa? kucing ini bahkan cuma bisa mengeong.. ck! bahkan dia sekarang dia bisa berjalan karena monster menji—" Kalimatnya terputus, Jungkook membulatkan kedua matanya.


"Monster!!" serunya sedikit berteriak membuat tubuh kucing dalam gendongan langsung menegang dengan tanduk yang memancarkan cahaya.


Melihat itu, lantas Jungkook tersentak, "Eh?! Tidak.. tidak ada monster kok! maksudku, aku mengingat tentang monster tadi!" jelasnya dengan gelagapan. Ia meringis canggung saat manik biru menatapnya dengan lingkar mata menukik, seperti mata kucing yang hendak marah sebelum cahaya pada tanduk kembali padam.


"Maafkan aku, aku tidak.bermaksud membuatmu kaget" ucapnya merasa bersalah dengan mengusap pelan dagu sang kucing. "Tapi aku tidak menyesal. Respon cepatmu membuatku yakin kalau kamu adalah Jimin" lanjutnya dengan dua sudut bibir terangkat. Tangannya masih mengusap bawah dagu Myne hingga membuat kucing tersebut menggeru merasa nyaman.


"Kau tau.. ini semua aneh, tidak ada yang bisa dimasukkan ke akal hingga membuat kepalaku berdenyut pusing. Tapi aku percaya padamu yang mengatakan akan menjelaskan semuanya padaku, jadi aku akan menunggu untuk itu."


Atap posko sudah terlihat membuat matanya berbinar dengan pupil yang melebar antusias. "Untuk saat ini, ayo kita pulang. Kau akan ikut denganku dan aku akan merawatmu sampai kau sembuh dan bisa berubah wujud lagi. Setelah itu aku akan menagih janji penjelasanmu. mengerti?" tanyanya. Kepalanya menunduk hendak melihat manik biru sebelum matanya spontan menutup saat daging lunak berliur secara tiba-tiba menyerang menjilati hidungnya.


"Ugh.. Aku memang tidak takut lagi padamu. Tapi jujur saja bagian ini sungguh menjijikkan untukku!" eluhnya.


"Miauww~"


...----------------...


Sepasang kaki sontak menghentikan langkah. Eunwoo menunduk dengan telinga yang spontan menajam, dengan cepat kepalanya terangkat lalu menoleh ke sekitar.


Apa ini? Sesuatu terasa aneh di sini.


Sedangkan di depannya, Ian yang merasa tak menemukan respon dari orang yang sedaritadi ia ajak bicara lantas menghentikan langkah dan berbalik. "Ya Park Eunwoo, apa yang kau lakukan?" tanyanya melihat Eunwoo yang hanya berdiam diri dengan kepala menoleh ke sana ke mari.


"Sebentar" jawab Eunwoo singkat.


BLAARR—!


Keduanya sontak terlonjak kaget. Dentuman petir tiba-tiba terdengar begitu dekat di tengah cuaca yang mulai kembali terang. Mereka pun spontan menoleh, terlihat seonggok daging besar terlihat hangus dengan uap gosong yang menyebar.


"Apa yang.. terjadi?" gumam Ian dengan mata membulat yang mengerjap kaget.


Sedangkan Eunwoo terdiam. Matanya memandang lurus pada sosok yang berdiri di belakang pemuda bertubuh dua kali lebih besar darinya.


"Hyung.." gumamnya.


Sosok tersebut yang merupakan Roh dari Jimin atau Myne lantas menoleh ke arahnya. Seny tipis terukir dari wajah manis, membuat Eunwoo menunduk.


'Maaf hyung, aku telat mengambil tindakan karena terlalu lama mendeteksi' ucapnya dalam hati


'Tidak masalah Roha, kau sudah melakukannya dengan baik Setelah ini, tolong tetaplah di sampingnya dan lakukan tugas yang semestinya' Jawab Myne dengan sudut bibir yang semakin terangkat, menampilkan senyum manis.


Eunwoo pun sedikit menganggukkan kepalanya. '*Baik, Hyung."


'Baiklah, kalau begitu kalian lanjutlah, di sini sudah aman. Kami juga sebentar lagi akan sampai*'


Kembali Eunwoo mengangguk. Setelah mengangkat kepala, ia pun tersenyum ke arah Myne yang perlahan menghilang. Memperlihatkan Ian seorang diri yang kini bersiap melemparkan tongkat daki ke arahnya.


"Terus saja tersenyum seperti itu. Akan ku hancurkan mulutmu itu sialan! apa-apaan kau tiba-tiba tersenyum manis ke arahku?!"


Mengerjapkan matanya, Eunwoo yang tersadar lantas terkekeh sebelum menggaruk tengkuknya canggung. "Eh— anu maaf, aku hanya tiba-tiba teringat sesuatu yang aneh tadi." jelasnya setelah mencari alasan yang tepat.


Mendengar itu lantas Ian mendelikkan matanya sinis sebelum menghembuskan nafas kasar. "Awas saja kalau aneh-aneh. Habis kau di tanganku" ketusnya bergumam kemudian melanjutkan langkahnya.


Sedangkan di belakangnya, Eunwoo mencebilkan bibirnya, "Emosian sekali" gumamnya pelan.


'Sepertinya dia memang cocok kalau menjadi reinkarnasi yang Mulia Penguasa Bumi' lanjutnya bergumam. Kakinya pun ikut melangkah tidak jauh di belakang Ian.


...----------------...


"Bagaimana? Hujan sudah reda. Kami sudah menunggu dari semalam sampai sekarang. Dua teman kami menghilang dan kami tidak bisa menunggu lebih lama lagi" Ucap Mingyu setelah melihat cuaca di luar ruangan yang sudah mulai terang.


Dua pria dengan seragam khas penjaga gunung menganggukkan kepala, "Kami akan memulai pencarian. Sudah ada 4 tim yang akan bertugas mencari mereka berdua. Dua tim akan di fokuskan ke kaki gunung sebelah selatan" jelas salah satunya.


Mendengar itu Mingyu pun menghela nafas legah, ditatapnya Taehyung yang duduk di sebelahnya dengan raut penuh harap terpantul di manik cokelatnya.


"Kalau begitu kalian bisa kembali menunggu di luar. Kami akan bersiap lalu menemui kalian" ucap pria itu lagi. Mereka pun mengangguk lalu melangkah keluar setelah membungkuk seraya mengucapkan terimakasih.


"Bagaimana oppa? Kapan pencarian akan dilakukan?!"


Somi melangkah mendekat tepat ketika Mingyu dan Taehyung melangkah keluar dari gedung posko. Mata sembabnya menatap penuh harap ke keduanya. di sebelahnya ada Irene yang berdiri dengan tangan tak berhenti mengusap pundak dan punggung gadis tersebut.


"Pencarian akan dilakukan sebentar lagi. Mereka sedang bersiap." jawab Mingyu membuat semuanya menghela nafas lega.


Tidak sesuai rencana dimana seharusnya cuma Mingyu dan Taehyung yang turun ke posko penjaga tempat mereka beristirahat sebelumnya, saat ini semua anggota malah berbondong ikut menuju posko dikarenakan tidak mau kehilangan satu orang anggota lagi sehingga semuanya sepakat untuk mengantarkan dengans saling berjaga.


"Apakah mereka akan ditemukan dengan keadaan yang diharapkan?" tanya seorang anggota yang tiba-tiba bersuara membuat semua menoleh.


"Apa maksudmu?" tanya Bambam yang berada tepat di sebelahnya.


Pemuda itu mengedikkan bahunya singkat, "Entahlah.. tapi kalian semua dengar sendiri kan? dari semalam hingga pagi tadi kilat petir selalu berdatangan tepat di kaki gunung bagian selatan" jawab pemuda itu pelan dengan kepala menunduk. Perkataan berupa fakta itu total membuat semuanya terdiam, secercah harapan yang sebelumnya mulai bersinar kini kembali padam dengan situasi kelabu kembali melingkupi mereka, membuat semuanya kembali muram dengan rasa khawatir yang kembali menyerang.


"Ada apa dengan kalian?! kenapa kalian sangat mudah putus asa? tidak adakah harapan baik kalian yang mendominasi isi otak kalian?" Seru Taehyung tiba-tiba, membuat semua mengangkat kepala dan melihat kearahnya yanv mengeraskan rahangnya. "Aku yakin, sangat yakin jika mereka baik-baik saja. Kita semua tau kalau mereka berdua adalah orang yang sangat kuat dan tidak takut pada apapun. Apa kalian meragukan mereka? Kalian meragukan kekuatan dan ketangkasan ketua dan wakil ketua kalian sendiri?!" serunya lagi membuat semua total terdiam.


"Kita harus yakin kalau—"


"Hahh.. akhirnya aku menemukan kalian! Kalian tau, aku beberapa kali nyaris bertemu malaikat maut untuk sampai ke sini"


Sebuah seruan terdengar dari arah belakang anggota yang berbaris, membuat semua membalikkan tubuh dengan Mingyu yang langsung berjalan cepat menyingkiri beberapa anggota untuk melihat pemilik suara yang begitu familiar di telinganya.


"Jeon Jungkook?!!" Seru semuanya merasa kaget melihat kehadiran Jungkook yang melangkah santai dengan senyum kelincinya yang khas.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...