MYNE (The Last Guardian Cat) KOOKMIN

MYNE (The Last Guardian Cat) KOOKMIN
Chapter 2



...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Hahh.. kukira aku akan mati.. haishh hahhh"


Di tengah malam, tepatnya di bebatuan pinggir sungai terlihat seorang pemuda dengan susah payah naik ke tanah setelah beberapa menit bertahan hidup dengan tubuh terombang-ambing dan beberapa kali terantuk bebatuan saat tubuhnya hanyut terbawa arus air yang begitu deras.


Jeon Jungkook, pemuda yang nyaris mati karena hanyut itu pun melangkah terhuyung dengan mulut yang terus mengumpati nasibnya sendiri. Ringisan pelan sesekali terdengar saat rasa nyeri menyerang di beberapa titik tubuhnya yang terluka. Sepasang kakinya melangkah menjauhi sungai hingga kini masuk ke dalam hutan dengan kegelapan total yang menyelimuti seluruh penglihatannya. Kakinya berhenti melangkah saat keheningan mulai terasa, kepalanya menoleh ke kanan dan ke kiri, mengedarkan pandangan mencoba mencari sesuatu yang dapat ia lihat.


"Ini memang gelap atau mataku yang sudah buta?!"


tangannya meraba-raba tas pinggungnya yang kini sudah basah, sebelum tubuhnya tersentak saat sebuah suara terdengar dari arah belakang.


Grrrhhh....


Dengan cepat kepalanya menoleh, jantung mulai berdetak kencang saat mengenali dengan pasti jenis geraman yang terdengar dari arah belakangnya tersebut. Dengan perlahan, langsung saja kakinya melangkah ke depan seraya mengulurkan tongkat lipat andalannya setiap mendaki yang baru saja ia keluarkan dari dalam tas. Lalu dengan pasti langsung saja ia berlari saat bunyi geraman tersebut terdengar semakin keras dan terasa semakin dekat.


Grrhhhh...


Sontak Jungkook menolehkan kepalanya kesana kemari. Pupil matanya membesar, mencoba melihat apakah ada sesuatu di balik gelapnya malam tanpa ada cahaya apapun di sekelilingnya.


Sepasang kaki yang terus melangkah cepat dengan sebuah tongkat bantu ia ulurkan kedepan untuk mencegah tubuhnya menabrak pohon atau apapun itu. Satu tangannya sibuk meraba isi tas pinggangnya. "Sialan senterku hilang! aku harus lari kemana? disini terlalu gelap!" umpatnya teringat akan senternya yang hilang ketika ia dan Taehyung terjebak arus sungai.


"Sialan Kim Taehyung, tidak cukup menyusahkanku dan sekarang kau membuatku terjebak disini!"


Blashh..


Ctaashh..


Segaris cahaya putih kebiruan melintas tepat di sebelah kepalanya dari arah depan dalam waktu yang begitu singkat, membuat Jungkook sukses menghentikan langkahnya dengan tubuh membeku. Suasana kembali hening dengan warna hitam yang kembali memenuhi penglihatannya.


Jungkook tertegun sebelum dengan cepat kembali menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri, berusaha memeriksa apa yang telah terjadi. "Ha? apa tadi?" gumamnya. Taklama lubang hidungnya kembang kempis saat aroma gosong khas daging terbakar memasuki indera penciumnya. Dua kali matanya mengerjap sebelum membelalak lebar.


"Petir?! Tadi itu petir?! astaga aku melihat petir menyambar sesuatu di depan mataku?!" Serunya dengan raut yang kelewat kaget.


srakh.. srakh..


Sebuah suara kembali terdengar, dengan cepat Jungkook memasang pose siaga dengan kepala yang menoleh kesana kemari. Matanya begerak mengedar dengan tidak fokus keseluruhan sisi di dalam kegelapan. Tak lama cahaya terlihat terang dari dua buah entah bagaimana Jungkook menyebutnya, cahaya berwarna putih kebiruan itu muncul dari dua buah benda seperti tanduk. Tubuhnya terdiam kaku saat cahaya dengan tinggi sebatas pinggangnya bergerak semakin dekat kearahnya.


Matanya menyipit untuk memfokuskan penglihatan sebelum membelalak sempurna, "AAAAAA-!!!"


...----------------...


Ian terbangun dari tidurnya, ia langsung duduk untuk melihat sekitar dimana orang-orang yang berada di dalam tenda sudah tidur. Rintik hujan masih terdengar samar, membuatnya menghembus nafas pelan. memakai jaket parasutnya, Ian memutuskan untuk keluar dari tenda.


Kakinya melangkah ke arah sisi yang berhadapan denga hutan, langkahnya terhenti saat atensinya menangkap punggung pemuda yang duduk menghadap hutan.


"Taehyung.." gumamnya.


Kakinya melangkah mendekati Taehyung kemudian mendudukan diri di atas karpet tepat di sebelah pemuda tersebut. Taehyung merasakan adanya kehadiran seseorang di sebelahnya lantas menoleh, "Hyung.."


"Kau belum tidur?" tanya ia setelah mendudukan dirinya. Taehyung menggeleng pelan, "aku tidak bisa tidur" jawabnya pelan yang hanya direspon Ian dengan anggukan kepala.


Keheningan mulai menyapa dengan dua pasang mata memandang jauh ke dalam kegelapan hutan. Taklama Taehyung menunduk setelah melirik ke arah Ian yang berdiam diri dengan tatapan sayu dari mata yang selalu memasang tatapan tegas.


"Maafkan aku, hyung.. ini semua salahku"


Ian menoleh, senyum tipis ia lampirkan di wajah kerasnya sebelum tepukan lembut ia lakukan di pundak Taehyung.


"Jangan terus menyalahkan dirimu.. Musibah tidak ada yang tau kapan dan dimana ia akan datang"


Mendengar itu, Taehyung tentu tak merasa tenang. Kepalanya semakin menunduk dengan segala umpatan untuk dirinya sendiri ia layangkan di dalam hati.


"Aku tau Jungkook masih bisa bertahan. Kau tau sendiri dia itu kuat.. bahkan bisa lebih kuat dariku" Ian kembali membuka suara, ia terkekeh pelan dengan mata yang memandang jauh ke depan. Sebuah senyum tipis kembali ia lampirkan, "Aku tau dia akan baik-baik saja" lanjutnya dengan kepala mengangguk pelan.


Taehyung tetap diam, namun kepalanya ikut mengangguk pelan dengan pandangan yang kembali mengarah ke dalam hutan.


Bertahanlah, Jungkook-ah...


...----------------...


"YAK.. MUNDUR! JANGAN MENDEKATIKU!"


Di sisi lain, jauh di dalam hutan yang gelap. Terlihat Jungkook yang entah bagaimana caranya sudah memanjat pohon dan kini tengah terlungkup memeluk ranting pohon dengan terus berteriak marah.


Disana.. tepat kurang lebih dua meter di bawahnya, berdiri seekor makhluk yang paling membuatnya merinding dari seluruh makhluk yang pernah ia temui, bahkan makhluk paling mengerikan yang paling banyak ditakuti seperti ular, buaya, harimau dan lainnya masih kalah dengan makhluk yang tengah berdiri mendongak menatap kearahnya.


"miauw.."


"KUBILANG JANGAN MENDEKAT!!" Teriaknya panik.


Seekor kucing berwarna putih dengan sepasang tanduk berbahaya di kepalanya kini duduk mendongak dengan mata mengerjap melihat ke arah Jungkook yang hampir terkencing di atas pohon.


"Hahh.. ya, begitu.. Duduk diam, jangan bergerak okay?"



Seakan mengerti, Kucing bertubuh besar itu pun duduk diam dengan mata yang masih memandang ke arah Jungkook. Dirasa aman, Jungkook pun menghela nafasnya kasar sebelum mengubah posisi menjadi lebih nyaman.


"Hahh... entah apa dosaku.. mungkin aku kualat dengan ian hyung hingga harus terkena sial secara beruntun seperti ini"


"Miauww.. ungg.."


Kelopak mata yang hendak terpejam kembali terbuka, kepalanya menoleh ke bawah lalu melihat kucing tersebut masih dalam posisi yang sama, melihatnya di tengah kegelapan dengan bermodalkan cahaya dari sepasang tanduk di kepala. Kembali ia menghembus nafasnya kasar.


"Hahh.. untuk malam ini tolong tetap diam disitu dan terus nyalakan cahayamu itu. Jangan mendekatiku dulu karena aku terlalu lelah untuk kembali berlari.. okay?"


Hening. Kucing tersebut tidak merespon namun ketika Jungkook melirik kembali ke bawah, kucing tersebut sudah mengubah posisi menjadi posisi kucing biasa yang hendak tertidur dengan cahaya tanduk yang masih menyala. Sepasang mata yang tadi terlihat menyeramkan karena terpantul cahaya kini terlihat menutup. Kucing tersebut tidur, membuat Jungkook menghela nafas lega.


"Pintar.. Tidurlah, dan aku juga akan tidur.. ranting ini lumayan nyaman untuk tubuhku.."


Posisi tubuh ia benarkan dengan hati-hati menjadi terlentang, sebelah tangannya terlipat menjadi bantalan kepala dengan mata yang kini memandang langit malam.


"Malam ini banyak bintang" gumamnya saat mendapati taburan bintang menghiasi langit. Ada beberapa titik lebih terang dan tidak berkelip, yang Jungkook yakini itu adalah sebuah planet. Hembusan nafas pelan terdengar, sebelum kelopak matanya menutup. Jungkook kini telah tidur, mengistirahatkan tubuhnya di tengah suasana yang entah mengapa terasa begitu hangat dan nyaman. Layaknya tidur di atas kasur dengan selimut tebal yang membungkus tubuh, Jungkook tertidur nyenyak dengan pakaian total basah karena jas hujan yang sobek sudah ia lepas setelah ia berhasil keluar dari sungai beberapa menit yang lalu.


...----------------...


Krik.. Krik..


Cuitt.. Cuitt..


Bunyi jangkrik dan cuitan burung terdengar saling bersahut. Suara gesekan dedaunan yang terbawa angin juga ikut terdengar di tengah hutan yang temaram karena cahaya pagi yang menembus masuk dari celah-celah dedaunan pohon. Namun, berisiknya suasana alam disekitar tampak tak membangunkan seorang pemuda yang masih asik tertidur di atas ranting kokoh sebuah pohon.


"Eumh.." Dalam tidurnya Jungkook bergumam. Tubuhnya sedikit berbalik sebelum matanya spontan membuka, "Aduh!!" ringisnya kuat saat sesuatu yang keras tertimpa dan menekan kuat pinggangnya.


Dengan cepat ia kembali terlentang dan meraba apa yang ada di dalam tas pinggangnya. "Ha? senter?" Gumamnya sebelum bangkit duduk.


Sebuah senter berwarna hitam kini berada di genggaman. Senter yang ia yakini semalam tak di temukan keberadaannya di dalam tas kini berada di genggaman dengan kondisi kering.


"Bagaimana bisa?" gumamnya pelan. Ia nyalakan senter tersebut lalu mengedarkannya ke sekitar. Lalu pandangannya terarah ke seekor kucing bertanduk yang terlihat masih tidur namun cahaya pada tanduk tersebut sudah tidak menyala lagi.


Seketika rambut halus di lengan dan tengkuknya terasa berdiri, "Sialan ini membuatku takut" gumamnya. Matanya kembali terarah ke senter di genggaman yang masih menyala. "Aku begitu yakin ini semalam tidak ada di tasku. Senter ini hilang waktu di sungai. Tapi kenapa—"


"Miauww.."


"Astaga!! kau mengagetkanku!" seru Jungkook yang terlonjak kaget saat mendengar kucing di bawahnya bersuara.


Cahaya pagi yang menelusup masuk ke hutan membuat Jungkook dapat melihat rupa kucing yang tengah mendongak menatapnya tersebut dengan sedikit lebih jelas.


Seekor kucing berwarna putih dengan bulu (rambut) yang panjang dan lebat. Terdapat beberapa corak bulu berwarna abu di sekitaran telinga, serta di keempat tungkai kaki sehingga terlihat seperti kucing tersebut memakai sepatu boots di keempat tungkainya. Sepasang mata berbentuk almond dengan pupil berwarna biru terang terlihat cantik dilengkapi dengan beberapa helai bulu yang terlihat seperti bulu mata berwarna abu-abu di kelopaknya. Tubuhnya besar, Jungkook tidak tau ukuran pastinya namun sepertinya tinggi kucing itu sebatas pinggang jika mereka berdiri bersebelahan. Telinga yang sedikit panjang dan rahang yang kuat cukup menjelaskan kepada Jungkook jika kucing di bawahnya ini adalah kucing hutan, kucing liar yang tidak bisa diajak bermain seperti kucing rumahan pada umumnya. Seketika tubuh Jungkook bergetar dengan bulu kuduk yang kembali berdiri.


"Tidak usah menatapku seperti itu! kau terlihat menyeramkan!" serunya lalu dengan cepat mengalihkan pandangan. Tubuhnya bersandar di batang pohon kemudian mengedarkan pandangan ke sekitar. "Setelah agak lebih terang, aku akan mencari jalan kembali ke perkemahan" gumamnya dengan yakin.


kruukkhh..


Suara remasa lambung yang kosong terdengar jelas. Jungkook memegang perutnya saat rasa lapar mulai menyerang, "ahh.. aku bahkan melewatkan jam makan malamku dan sekarang sudah masuk waktu sarapan"


Tangannya membuka resleting tas pinggang, matanya mengintip ke dalam untuk mencari apakah ada yang bisa ia makan untuk mengisi kekosongan lambungnya. Matanya berbinar saat melihat sebuah bungkusan plastik terselip di antara kertas dan dompetnya. Beruntung tasnya berbahan waterproof sehingga isi di dalam tas masih aman dari basah.


Bungkusan plastik itu ia ambil lalu ia buka, aroma daging dendeng langsung menyeruak membuat perutnya semakin berbunyi. "Terpujilah Ian hyung yang rajin membuat dendeng semalaman untuk bekal"


Tanpa menunggu lama, ia pun menggigit sepotong dendeng dan mengunyahnya dengan hembusan nafas puas. "Aku tidak tau kalau dendeng terasa seenak ini.."


potongan demi potongan daging dendeng telah masuk ke dalam pencernaan sebelum kepalanya menoleh ke bawah. Terlihat seekor kucing tengah mengeong pelan dengan mata menatap penuh harap kearahnya.


"Apa? kau mau ini?"


"ambil lah, lalu pergi.. hushh— Yak! jangan mendekatiku!"


Sepotong daging dendeng ia lemparkan ke tanah. Tubuhnya semakin merapat ke batang pohon saat kucing tersebut dengan semangat memakan daging tersebut lalu mendekat ke batang pohon. Matanya melotot saat tubuh panjang kucing tersebut terlihat sedikit berdiri dengan dua tungkai depan menancapkan kuku tajam ke kulit batang pohon.


"Miauw.."


"Tidak.. itu saja, ini persediaanku sampai ke perkemahan!"


"Miauw.."


"Tidak Tidak!"


"Miauw..."


Srukhh.. Srukhh..


"Aishhh.. iya iyaa jangan memanjat!! turun sana!!"


Sebungkus daging dendeng ia lemparkan ke tanah. Matanya menatap nanar ke daging dendeng berharganya yang dengan cepat dilahap oleh kucing bertanduk tersebut.


"Hahh.. anggap saja itu sebagai hadiah perpisahan kita" ucapnya dengan raut tak rela.


Dengan perlahan ia berdiri, kepalanya mengedar ke seluruh penjuru hutan mencoba mencari rute yang dapat ia lewati dengan aman mencari jalan kembali ke puncak. Setelah menemukan rute yang dirasa aman, dan cahaya yang mulai menerangi isi hutan, Jungkook pun dengan perlahan dan diam-diam turun dari pohon dan berjalan mengendap melewati kucing yang masih menyantap daging dendengnya.


Sedikit lagi.. dia tidak menyadariku..


Bagus!


Menghela nafasnya lega, Jungkook pun langsung memutuskan untuk berlari menjauhi kucing yang terlihat masih asik dengan daging dendeng. Setelah dirasa aman tak ada yang mengikutinya di belakang, Jungkook pun melambatnya langkah kakinya dari berlari menjadi berjalan.


"Hahh.. hahh.. Jeon Jungkook, saat berkemah pun kau masih rutin berlari pagi" gumamnya dengan nada menyindir diri sendiri. Jaket kulitnya ia lepas saat rasa gerah menyerang tubuh lengketnya lalu ia ikatkan ke pinggangn, menyisakan kaos tanpa lengan yang membalut tubuh berototnya.


langkah kakinya melambat saat suara gemericik air terdengar, "Sungai.." gumamnya lantas dengan segera kakinya melangkah ke sumber suara yang diyakini adalah suara sungai. dan Benar saja, sebuah sungai mengalir jernih tampak di depan matanya. Air sungai yang kembali jernih setelah beberapa jam yang lalu hujan berhenti membuat rasa dahaga Jungkook semakin menyerang.


"Okay.. aku akan minum dan membersihkan tubuhku dulu disini.."


Kakinya melangkah ke tepi sungai lalu setelah memastikan sekitar aman dan sungai yang tak terlalu dalam, ia pun melepas pakaian dan meletakkan di atas sebuah batu yang lebih besar dari yang lainnya. Dengusan puas keluar dari luban hidungnya saat sensasi dingin air menyentuh tubuh tanpa satupun benang yang menempel. Tubuhnya bersandar di batu tersebut dengan mata yang terpejam.


"Baiklah Jeon Jungkook.. mari kita berendam sedikit lebih lama untuk menjernihkan pikiran.." gumamnya pada diri sendiri.


slurpp.. slurpp..


Sebuah suara terdengar tak asing. Suara yang timbul dari pergerakan lidah saat menyeruput benda cair membuat Jungkook yang tengah menikmati kegiatan menggosokkan punggung ke permukaan batu langsung membuka mata.


"woa— AAAHH ASTAGA!! SEJAK KAPAN KAU DISITU?!" Teriak Jungkook dengan tubuh terlonjak kaget. Seekor kucing bertanduk kini tengah berdiri di hadapannya dengan kepala menunduk, terlihat kucing tersebut dengan santai menyeruput air sungai dengan lidahnya.


Nafas Jungkook memburu akibat rasa kaget yang masih menyerangnya. Matanya melotot dengan tubuh mematung tak berani bergerak menatap ke arah kucing yang masih asik minum di hadapannya.


*Bagaimana bisa?!


Aku yakin aku sudah berlari cukup jauh tapi— kenapa bisa dia ada disini?


apakah disini memang banyak kucing seperti ini*?


Cukup lama Jungkook terdiam mematai kucing tersebut sebelum sebuah tanda membuat Jungkook yakin jika ini kucing yang sama. Yaitu tanda berupa corak berbentuk beberapa bulan berwarna abu-abu di sepanjang punggung kucing tersebut.


"Kau mengikutiku sampai kesini?!" seru Jungkook yang berhasil menarik atensi kucing tersebut.


"Miauw.." Seakan memang mengerti, kucing itu merespon dengan suara yang pasti terdengar lucu bagi para penyuka kucing— tidak bagi Jungkook yang bahkan kini tubuhnya bergetar saat bertatapan dengan mata biru terang di hadapannya.


"Kenapa kau menatapku seperti itu? aku sudah tidak punya dendeng lagi untuk diberikan padamu"


"Miauw.." Kucing tersebut kembali merespon, kini dengan kelala yang sedikit dimiringkan dengan sepasang mata biru yang mengerjap. Entah kenapa Jungkook jadi merasa gugup sendiri.


Hey.. Siapa yang tidak gugup saat seekor kucing betina yang cantik menatapmu dengan wajah polos seperti itu?!


Berdeham pelan, Jungkook pun semakin menenggelamkan tubuhnya hingga sebatas leher. "Kau kucing betina kan? Berbalik sana! aku mau memakai bajuku!" perintahnya yang tentu saja tidak direspon oleh kucing tersebut.


Kucing itu tetap menatapnya dengan kepala yang miring dan mata yang mengerjap, "Miauww..”


Beberapa detik kemudian kucing itu pun berbalik dan berjalan menjauh dengan ekor yang terangkat mengibaskan bulu mekar terlihat seperti kemoceng. Namun atensi Jungkook bukan terarah ke ekor, matanya membulat dengan mulut membuka saat mata menangkap sepasang bola kecil tergantung di bagian bawah kucing tersebut.


"Sialan.. ternyata dia jantan" gumamnya merasa malu sendiri karena sempat gugup di depan kucing jantan. Maka dengan cepat ia pun bangkit berdiri dan mengabaikan kucing tersebut yang kembali melihat kearahnya, ia pun naik ke atas batu.


Tubuhnya sedikit melompat-lompat dengan tangan dan kaki yang sedikit menyentak untuk menghilangkan sedikit air dari tubuhnya.


"Miauww.."


Pergerakan Jungkook berhenti, matanya menoleh ke arah kucing yang masih memperhatikannya. "Apa? kau juga punya benda yang sama sepertiku kan? ahh— tentu saja milikku jauh lebih besar darimu" serunya dengan menggoyangkan pinggul. Tak lama ia langsung tersadar dan menoleh ke sana ke mari.


"Aman.." gumamnya lalu dengan cepat kembali memakain pakaiannya. Kini ia hanya memakai celana lengkap dan jaket kulit. Kaos tanpa lengan tidak ia pakai, hanya ia gulung sembarang lalu ia pegang di tangannya. Setelah kembali memakai sepatu yang sudah basah, ia pun melangkah perlahan turun dari batu lalu berhenti 1 meter di depan kucing.


"Miauw.."


"kubilang jangan mendekatiku!!" bentak Jungkook yang langsung membuat kucing tersebut terdiam dengan tubuh yang sedikit tersentak. Mata yang berbinar sedih membuat Jungkook membuang nafasnya kasar. "Pokoknya jaga jarak dariku.." Ucapnya lagi dengan suara sedikit lebih lembut.


Sepasangan kakinya mulai melangkah. Sesekali matanya melirik kearah kucing besar setinggi pinggangnya berjalan dengan jarak 2 meter di belakangnya. Langkah kucing tersebut pelan namun kakinya terkesan seperti tengah melompat-lompat pelan dengan ekor yang mengibas ke kanan dan ke kiri.


"Sumpah.. ini membuatku tidak nyaman" gumamnya merasa terusik karena rasa takut yang terus hinggap akibat kehadiran makhluk yang paling ia takuti tengah mengikutinya di belakang. Tangannya merogoh tas pinggang lalu mengeluarkan tongkat lipat mendakinya.


Tap..


"Kenapa kau selalu mengikutiku?! kau kehilangan tuanmu?"


Jungkook menghentikan langkahnya. Kepalanya menoleh dengan mata memicing kesal kearah kucing yang berjarak 2 meter darinya. Taklama ia menggeleng, "aku tidak berminat denganmu, jadi pergi sana!" serunya dengan tangan mengibas khas orang yang tengah mengusir.


"Miauw.."


"Jujur saja keimutanmu itu tidak berpengaruh bagiku! kau tetap menakutkan di mataku!" Tukasnya lagi dengan mendengus sebelum kembali melangkahkan sepasang tungkai kakinya.


"Jangan mendekat! jarak 2 meter dariku atau kupukul pakai tongkat ini!"


...----------------...


"Semua sudah berkumpul?" Ia menatap kearah Mingyu lalu beralih ke satu persatu anggota yang berdiri mengelilingi di hadapannya.


Tepat pukul 4 dini hari, Ian membangunkan semua anggota menggunakan sirine toa saat merasakan rintikan hujan tidak terasa lagi menandakan hujan telah reda. Setelah memberikan waktu 10 menit untuk mengumpulkan nyawa dan bersiap-siap. Kini mereka telah berkumpul di depan tenda medis dan konsumsi untuk mendengar arahan dari ketua.


"Kita akan berbagi menjadi 4 kelompok. Semua yang merasa pria kelompok 1 dan 2 akan bergabung, begitu juga 3,4 dan seterusnya. Kita semua akan turun menyusuri alur sungai untuk mencari Jungkook. Pastikan kalian selalu menjaga satu sama lain, dan tetap nyalakan senter kalian. Tembakkan petasan ini keatas Jika terjadi sesuatu atau jika kalian sudah menemukan keberadaan Jungkook. Kalian paham?!"


"PAHAM-!!"


"Bagus.. Kelompok 1 akan turun dari arah barat dan Kelompok 2 turun di bagian timur kalian cari aliran sungai lalu telusuri, Kelompok 3 dan 4 kalian turun ke bawah hingga mendekati kaki gunung, dan kelompok 5 kalian cari ikuti kelompok 2 lalu cari di seberang sungai.. aku sendiri akan mengikuti kelompok 3 dan Mingyu akan mengikuti kelompok 5 dikarenakan jumlah pria lebih sedikit. bisa dipahami?"


Semua mengangguk lalu dengan serentak menyahut paham. Mereka pun mulai bergerak mengikuti arahan dari setiap penanggung jawab kelompok. Ian pun hendak melangkah mengikuti kelompk Taehyung sebelum seorang gadis mengangkat tangannya dengan sedikit ragu.


Ian berhenti lalu mengangkat satu alisnya, "Berniat untuk bertanya atau tidak?"


Gadis itu tersentak sebelum dengan cepat dan dengan gerakan yakin ia mengangkat satu tangannya. Ian mengangguk pelan, "Silahkan"


"Baik, Izin bertanya. Uhm untuk kami yang perempuan, tidak ikut turun mencari?"


Ian menggeleng, "Tidak, terlalu beresiko.. Lebih baik kalian disini dan membantu tim konsumsi menyiapkan sarapan atau mencari kayu untuk api unggun di sekitar sini.. ada lagi?"


Gadis itu mengangguk lalu menggeleng, "Tidak ada, sudah paham.."


"Okay kalo gitu.."


"Ugh.. Oppa.."


Sepasang kakinya hendak melangkah sebelum sebuah suara kembali menghentikannya. Kepalanya menoleh dan kini menatap beberapa gadis yang tengah berdiri menatapnya. Satu alisnya terangkat memberikan isyarat kepada mereka untuk cepat membuka suara jika ingin menyampaikan sesuatu.


"Uhm.. Kami hanya ingin bilang, kalian harus berhati-hati.. dan.. dan.. kami yakin Jungkook oppa pasti akan kembali dengan baik-baik saja"


Ian terdiam, taklama sudut bibirnya tertarik menampilkan sebuah senyum diiringi kekehan tipis. Sebelah tangannya terjulur untuk kemudian mengusak rambut seorang gadis yang barusan berbicara.


"Terimakasih.. kalian yang rajin disini, dan tetap saling menjaga satu sama yang lain, ok?"


Dengan semangat gadis-gadis itu pun mengangguk cepat, "Ok oppa!! kembalilah dengan selamat!"


Kekehan kembali terdengar. Ian kembali melangkah setelah sempat menepuk lembut satu persatu pucuk kepala beberapa gadis tersebut yang kini menatap kepergian mereka dengan raut khawatir.


"woahh.. kalian beruntung sudah dielus ketua Jeon humm" Suara seorang wanita terdengar membuat mereka langsung berbalik menatap kearag Irene yang tengah menyusun beberapa kertas di atas meja di tenda medis.


Seorang gadis mengangguk, "Uhum.. tapi aku juga khawatir eonnie.. mereka semua masuk ke dalam hutan dengan keadaan masih gelap seperti itu"


"Benar eonnie.. mereka semua akan baik-baik saja kan?"


"Tentu! mereka semua orang yang kuat.." sahutan terdengar, kini dari seorang gadis yang melangkah keluar dari tenda konsumsi dengan segelas jahe hangat di tangannya.


"Yaa.. Jeon Somi, kau hanya membawa jahe hangat untuk dirimu sendiri?! wah kau ini memang sangat pelit" seru Irene membuat Somi, gadis yang melangkah mendekat tersebut mendengus.


Tuk...


Gelas tersebut diletakkan tepat di atas meja di hadapan Irene. "Ini bukan untukku, tapi untukmu tuan putri!" ucapnya sebelum menoyor pelan kening Irene.


"Yakk.. kau ini tidak sopan sekali dengan yang lebih tua!" seru Irene kesal namun tak lama senyum lebar terpatri di wajahnya, "Hehe.. makasih Somi-ya.. kau memang yang terbaik!"


Somi merotasikan matanya dengan mulut mencibir. Kini tatapannya mengarah ke beberapa gadis di hadapan, "Sekarang siapa yang ingin ikut denganku mengumpulkan kayu bakar?"


Mendengar itu sontak dengan semangat beberapa gadis mengangkat tangannya. Somi pun berdecak puas saat melihat ada 8 orang yang mengangkat tangan. Mereka pun berjalan memasuki hutan dan mencari beberapa kayu di sekitar hutan di dekat perkemahan.


"Jangan masuk terlalu jauh! cukup cari yang ada di dekat sini!"


"Baik Eonnie!"


'*JEON JUNGKOOK...'


'JUNGKOOK-AH KAU MENDENGARKU*?!'


Somi menghentikan pergerakannya. Sayup-sayup suara teman-temannya terdengar dari dalam hutan. Meletakkan tumpukan kayu di tanah, Somi pun mengepalkan kedua tangannya lalu mendekapnya di depan wajahnya.


'*Jeon Jungkook.. kembalilah..'


'Jika tidak, aku akan mematahkan semua dvd pornomu'


'Tuhan lindungi Jungkook.. gapapa kalo sepupu gilaku itu dibikin lecet atau pincang.. eh jangan deh pincang, dia yang paling kuat setelah Ian oppa.. Bikin kepalanya keantuk sedikit juga boleh, tapi buatlah dia tetap hidup untuk bisa kembali kesini dengan selamat.. aamiinn*'


Somi kembali membuka matanya lalu memungut tumpukan kayu yang telah ia kumpulkan. Matanya beredar mengawasi beberapa anggota yang turut mencari kayu.


"Bawa semampu kalian, hati-hati licin.." serunya kemudian melangkah kembali menuju perkemahan dengan setumpuk kayu di pelukan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Srakhh.. Srakhh..


"apa itu?!" Jungkook menghentikan langkahnya saat suara gesekan dedaunan dengan tanah terdengar. Kepalanya menoleh dengan mata beredar ke segala arah.


"Ian Hyung? Taehyung? itu kalian?"


Srakhh.. Srakhh..


Suara tersebut terdengar semakin dekat. Matanya spontan menoleh ke arah seekor kucing yang berdiri dengan kedua telinga yang berdiri tegak. "Kau juga mendengarnya?" tanyanya yang tentu tak mendapat respon dari kucing tersebut.


Grrhhh..


Sialan...


Kedua bola matanya membulat penuh saat sebuah figur besar tertangkap di mata tengah merangkak mendekat. Tubuh besar dengan bulu berwarna cokelat kehitaman menutupi seluruh bagiannya itu terlihat dua kali lebih besar darinya, gigi runcing yang terlihat saat menggeram dengan cakar tajam di setiap jemari cukup membuat tubuh Jungkook bergetar dengan kaki yang melangkah mundur.


Grrhh raargghh-!


"****! aku baru tau ada Beruang disini!" Langsung saja Jungkook berlari setelah sempat mengumpat akan kesialannya untuk yang ke berapa kali selama kurang dari 24 jam. Kakinya terus melangkah tanpa menoleh sama sekali ke belakang, ia bahkan melupakan bagaimana nasib kucing bertanduk itu apakah sudaj lari atau malah termakan oleh beruang. ahh.. semoga saja yang terakhir tidak terjadi.


Auman serta geraman terdengar begitu sadis di belakangnya dengan derap langkah yang terasa semakin dekat. Jungkook semakin melajukan larinya tanpa sadar apa yang ada di hadapannya.


Bruughh...


Tanpa bisa mencerna apa yang terjadi, tubuh Jungkook sudah terguling. Tanpa bisa mendeteksi atau mengira, terdapat sebuah jurang di depannya dan Jungkook tanpa bisa mengelak kini terlompat bebas dan berguling jatuh ke dalam jurang. Matanya terpejam, tubuhnya terasa remuk dengan erangan yang keluar dari belah bibir tipis hingga tubuhnya terhenti tepat saat tubuh menghantam sebuah pohon tanpa bisa dicegah.


"a-aarghh.."


drapp.. drapp..


Grrhhh...


Jungkook membuka kelopak matanya perlahan. Pandangannya memburam namun figur tubuh seekor beruang berwarna cokelat kehitaman terlihat menongolkan kepalanya dari atas tebing.


Blashh.. Ctasshh..


Suara itu lagi..


Jungkook mendengarnya, suara khas kilatan listrik menyambar sesuatu kembali terdengar di telinga Jungkook untuk kedua kalinya namun Jungkook tak dapat memeriksa apa yang terjadi. Penglihatannya sudah menghitam, kegelapan berhasil merenggut semua kesadarannya.


...----------------...


"Kalian menemukan tanda?"


Ian berkata setelah melangkah mendekati Taehyung dan beberapa orang yang kini sudah masuk ke dalam sungai. Dengan lesu mereka menganggukkan kepalanya membuat Ian lagi-lagi menghela nafas panjang dan mengusap wajah yang sudah terlihat lelah.


Matanya melirik ke arloji yang melingkar di lengannya. Tidak terasa sudah lewat 3 jam mereka mencari sang adik, namun satu tanda atau jejak pun tak ditemukan membuatnya merasa semakin gelisah dan kecewa. Setitik rasa bersalah dan menyesal kini muncul di hatinya. Seharusnya ia tidak memaksa sang adik untuk ikut, seharusnya ia membiarkan saja Jungkook ikut turnamen game online di kamarnya sendiri sehingga ia tidak akan mengalami hal buruk seperti ini.


Hela nafas kembali terdengar panjang, Ian mengedarkan pandangan ke anggota yang tengah sibuk mencari serta memanggil nama sang adik. Genggaman tangan mengerat pada toa sebelum ia angkat tinggi dan sirine toa kini ia nyalakan.


"Hari sudah pagi, waktunya kita kembali ke atas, sekarang.."


Taehyung membulatkan sedikit matanya lalu segera menoleh ke arah Ian, "Tapi Hyung—"


Kalimatnya terhenti, Ian mengabaikannya dengan melangkah terlebih dahulu dengan tangan yang mengangkat sebuah toa. Sirine toa kembali terdengar sebelum suara sang ketua kembali terdengar.


"Perhatikan langkah, pastikan tidak ada yang tertinggal.."


Taehyung menghela nafasnya, matanya menatap nanar ke sepanjang alur sungai sebelum dengan langkah lesu melangkah pergi bersama teman-teman yang lainnya.


Di pagi hari, di pagi yang cerah dengan langit yang begitu bersih tanpa satupun noda awan. Pagi yang seharusnya dimulai dengan kegiatan yang membangkitkan semangat, pagi yang seharusnya dimulai dengan kegiatan yang dimulai dengan keceriaan untuk memulai hari yang ceriah. Namun kini, tepat pukul 06.00 di puncak Gunung Seorak, kegiatan pagi tidak berjalan semestinya. Wajah yang kuyu dengan berapa pasang mata yang berkantung mata menghitam dan lengkung bibir yang membentuk garis datar hingga melengkung ke bawah cukup menunjukkan betapa suramnya suasana yang begitu kontras dengan cerahnya langit pagi.


Sesuai rencana, pagi ini seharusnya dibuka dengan acara senam pagi dan kemudian akan dimulai beberapa perlombaan di hari pertama. Namun untuk hari pertama semuanya tidak berjalan dengan lancar. Musik dengan nada yang membangkitkan semangat telah dinyalakan, namun itu tak cukup untuk membuat berapa pasang kaki bergerak sesuai dengan irama yang terdengar. Bambam dan Hoshi yang bertugas sebagai instruktur pun tampak sama, dengan wajah lesu tubuh mereka bergerak sembarang, begitu tak selaras dengan musik dan orang di sekitarnya pun sama.


Klik!


"Sudahlah.. ini percuma" ucap Mingyu setelah menekan mati musik senam yang menyala di speaker bluetooth. Ia menghela nafas, matanya menyusuri tiap tubuh yang kini terduduk lesu di berbagai titik sebelum tertuju ke Ian yang duduk di ujung tebing. Kakinya melangkah mendekat hingga berhenti tepat di sebelah sang ketua. "Ian.." panggilnya.


Yang dipanggil hanya berdeham merespon dengan mata memandang jauh ke hutan-hutan yang menutupi kaki gunung. "Menurutmu.." ia membuka suara, membuat Mingyu sukses memusatkan atensi ke arahnya. "Dia masih ada atau tidak?" lanjutnya dengan pertanyaan ambigu yang membuat Mingyu langsung terdiam dengan tangan mengepal.


"Apa yang kau pikirkan? Tentu saja dia masih ada! Kita semua tau dia orang yang bagaimana, tidak ada yang ia takuti selain hewan berbulu yang satu itu"


Kekehan kini terdengar diikuti tawa miris yang membuat Mingyu semakin mengepalkan tangan dengan mata yang berkaca-kaca. Kini di matanya, tertangkap di pandangannya.. seorang ketua Mapala yang terkenal tegas dan selalu mengeraskan rahangnya saat ini terlihat begitu sayu dengan aliran airmata melewati pipi tirusnya. Jeon Ian untuk pertama kalinya menangis, di depan orang selain ibunya sendiri.


"Hah.. ****! ada apa denganku.." umpat Ian dengan tangan mengusap wajahnya sendiri dengan kasar. Hembusan nafas kembali terdengar sebelum kepalanya menoleh ke arah Mingyu, "Umumkan kepada yang lain untuk berkumpul.." ucapnya kemudian yang diangguki oleh Mingyu.


Kini semuanya telah berkumpul, berbaris sedikit melingkar di depan tenda konsumsi dan medis. Semua wajah menampilkan raut yang sama, tak terkecuali beberapa orang yang berdiri di hadapan mereka. Ian yang kembali memasang wajah tegas pun tetap tak mampu menyembunyikan isi hatinya saat ini membuat semua pasang mata langsung menunduk tak sanggup untuk melihat.


"Sebelumnya aku ingin mengucapkan kata maaf kepada kalian semua karena acara kita tidak dapat berjalan lancar sesuai dengan yang direncanakan. Aku secara pribadi pun meminta maaf karena telah membuat kalian susah di hari bahagia ini.."


Ian diam sejenak, sahutan-sahutan kecil yang mengatakan 'Tidak masalah' atau 'Ini bukan salahmu' terdengar membuat sudutnya sedikit terangkat.


"Sekali lagi aku ingin meminta maaf, kegiatan terpaksa kita undur untuk sementara waktu. Sebuah musibah telah terjadi tanpa bisa kita cegah. Wakil ketua kita, Jeon Ian menghilang malam tadi tepat di pergantian hari pukul 00. Semua usaha sudah kita kerahkan selama 4 jam untuk mencari namun takdir mengatakan hal yang lain, keberuntungan belum berada di pihak kita. Namun..."


Rahangnya mengeras, genggaman pada toa pun mengerat dengan mata yang mulai memerah.


"Namun kita semua yakin, ia pasti akan bertahan. Belum 24 jam dan kita masih memiliki waktu untuk mencari sebelum melaporkan kehilangan ke posko penjaga.."


"Setelah makan siang, jam 2 sampai matahari tenggelam kita akan kembali bergerak mencari dengan kelompok yang telah dibagikan, dan Ini adalah pencarian terakhir kita.. Aku mohon.. aku sangat memohon kepada kalian secara pribadi.."


"Aku.. Jeon Ian, ketua HIT Mapala dan kakak kandung dari Jeon Jungkook memohon kepada kalian.."


"Tolong.. tolong temukan apapun, baik itu tanda berupa barang atau apapun yang berhubungan dengan Jungkook.. Tolong, tolong temukan itu untukku.."


Klik!


Toa dimatikan, Ian menyerahkan toa ke Mingyu sebelum melangkah memasuki tenda medis dengan cepat. Mingyu yang mengerti pun langsung mengambil alih dan memberikan arahan kepada seluruh anggota sesuai dengan apa yang telah seluruh panitia diskusikan secara singkat.


Somi terlihat duduk seorang diri di belakang sebuah tenda. Matanya menatao jauh ke hutan dengan airmata yang terus mengalir dari sepasang matanya. "Ya Jeon Jungkook.." panggilnya dengan suara serak.


"Apa yang kau lakukan? tidak cukup kau selalu memancing emosiku dan kini kau menambahnya dengan membuatku khawatir?!" Sebuah kerikil ia lemparkan ke arah hutan.


"Tega sekali.. Kau meninggalkan kami dan membuat Ian oppa menangis! kau.. hiks.. kau tega! kau tega membuat kami semua khawatir denganmu!" teriaknya dengan suara serak. Airmata mengalir semakin deras setelah mengingat dirinya yang tanpa sengaja melihat sang kakak sepupu -Jeon Ian- menangis seorang diri di pinggir tebing.


Kedua tangan kini bergerak memeluk lututnya sendiri. Dagu ia tempelkan dengan mata sembab yang masih betah memandang jauh ke dalam hutan. "Apa yang sedang kau lakukan? Tidakkh kau lapar oppa? kau bahkan melewati makan malam dan sarapanmu"


"Tidakkah kau takut? hiks.. di sana pasti banyak kucing yang akan menempeli kakimu. Hiks .. ku dengar disana juga ada hantu kucing penjaga gunung. Hiks.. kau pasti sedang memanjat pohon karena ketakutan.."


Tawa pelan keluar dari bibir cherry-nya. Rasa sesak yang berdenyut perih semakin terasa di dada, "Jeon Jungkook.. hikss oppa.. kembalilah hiks.. nghh hiks.." sontak saja kepalanya langsung mengubur di antara lipatan tangan dan lututnya saat isak tangis sudah tak bisa ia tahan lagi. Rasa sedih dan khawatir bercampur begitu menyiksa dirinya, membuat tubuhnya kini bergetar hebat dengan isakan yang terdengar keras, mengabaikan beberapa pasang mata yang memandang sedih ke arahnya.


Grepp..


Sebuah rangkulan terasa membuat tubuhnya sedikit tersentak. Kepalanya menoleh lalu pandangan yang buram karena air mata menangkap sosok Jeon Ian yang kini duduk di sebelahnya dan merangkul pundaknya.


"Oppa.." langsung saja dengan cepat Somi menghambur masuk ke dalam pelukan Ian. Tangannya merengkuh erat tubuh kakak sepupunya dengan tangan yang kini mengusap punggung lebar tersebut. Punggung yang selalu memikul beban erat setelah kepergian orangtuanya dan kini semakin berat karena sang adik yang menghilag.


"Oppa hiks hiks.. nghh oppa.."


Lingkaran tubuh semakin mengerat. Isak tangis gadis di pelukan membuat rahangnya semakin mengeras, "Jangan menangis.. jangan menangis Jeon Somi" bisiknya. Namun, kelopak matanya terpejam dengan airmata hangat yang kini kembali membasahi pipi. Tanpa bisa mengelak, tanpa perduli image yang selalu ia bangun, kini untuk kedua kalinya ia menangis di depan orang lain selain ibu dan adiknya sendiri. Ia menangis di depan beberapa pasang mata yang ikut menitikkan airmata.


Dan untuk kedua kalinya Jeon Ian nenangis, menangis tersedu-sedu setelah 8 tahun kematian orang tuanya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...