
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Senang bertemu lagi denganmu Myne..—ahhh akhirnya kamu bisa pulang, noona kira kamu sudah lupa dengan jalan pulang.." Seorang wanita berucap dengan nada yang dimainkan di akhirnya membuat seorang pria yang duduk tepat di sebelahnya menoleh dengan raut yang menunjukkan sebuah teguran.
"Sudahlah sayang.." tegurnya membuat wanita dengan sebuah mahkota kristal yang menghias kepalanya terkekeh pelan. Pria itu mendengus pelan, "ia baru pulang dan kamu sudah menggodanya.."
Pemuda yang jadi bahan perbincangan hanya membungkukkan tubuhnya singkat, wajahnya datar namun bibir tebalnya tak tahan untuk mengerucut karena rasa kesal yang ia rasakan. "Senang bertemu lagi dengan kalian, Raja Morne dan Ratu Agis.." ia menyapa dengan nada tenangnya.
Morne mengangguk, sudut bibirnya tertarik menampilkan lesung dalam di kedua pipinya. Senyum teduh tercetak dari wajah pria dengan sebuah mahkota api di kepalanya itu. "Setelah 120 tahun lebih akhirnya kamu pulang juga.. sepertinya ada kabar baik yang ingin kamu sampaikan pada kami"
Myne terlihat mengangguk, kini kepalanya terangkat lalu menatap kedua orang yang tengah duduk di singgasana dengan mata yang berbinar. Kepalanya mengangguk begitu cepat membuat dua orang di hadapannya menggeram menahan gemas.
"Ada apa hm? kamu sudah menemukannya?"
"Nde.!"
"waahh.. bagaimana rupanya yang sekarang? apakah dia cantik, Myne-ya?" Tanya Agis dengan semangat. Matanya berbinar dengan senyum cerah terpahat di wajah ovalnya. Akhirnya setelah 120 tahun menunggu, sang adik pun mendapat kembali tuannya sehingga ia bisa menapakkan kaki kembali ke rumah mereka. Namun tak lama senyumnya luntur saat sang adik ipar menggeleng, kerutan tercetak samar di dahi mulusnya.
"Huh? dia tidak cantik?! apa kali ini kamu telat sehingga dia sudah berwujud wanita tua?!"
Myne menggeleng, "Tidak noona, dia seorang pria" ucapnya dengan wajah lesu.
"Apa?! seorang pria?!" teriak Agis tak bisa menahan rasa kagetnya. Ia berdeham pelan saat mendapati beberapa pasang mata dari pelayan yang berada di dalam ruangan tengah menatapnya, hal itu tentu membuat mereka dengan spontan langsung membuang muka dan menunduk.
"Bagaimana bisa?" Morne bergumam dengan dahi mengerut. "Selama ini ia selalu berwujud seorang wanita dan hanya butuh waktu paling lama 50 tahun setelah kematiannya untuk terlahir kembali.." lanjutnya.
Drapp.. drapp..
"MYNE HYUNG KAU SUDAH KEMBALII!!"
Brughh..
Seekor serigala besar berwarna abu-abu berlari memasuki ruangan lalu dalam hitungan detik tubuhnya berubah menjadi manusia dan menabrakkan diri ke tubuh Myne yang lebih kecil darinya. Pelukannya mengerat kemudian ia angkat tubuh mungil ke dalam gendongannya.
"ughh.. Roha turunkan aku!" Myne menggerutu, tangannya mendorong-dorong kepala sang adik yang tengah mengendus-endus lehernya.
"Roha.." tegur Morne saat melihat Myne yang kesusahan.
Lantas saja Roha langsung menurunkan kembali tubuh Myne dengan cengirannya. "Aku sangat merindukanmu, Hyung."
Myne tersenyum, sebelah tangannya terulur untuk kemudian mengusak rambut pria yang lebih dari tinggi darinya. "Aku juga merindukanmu Roha"
"Ekhem.. jadi bagaimana Myne? kau sudah yakin kalau orang itu adalah dia?"
Myne diam, matanya mengerjap dengan kepala mengangguk pelan. Setitik keraguan tersirat di wajahnya dan itu terlihat jelas di mata Roha yang memperhatikannya.
"Kau berbohong hyung" celetuknya.
Mendengar itu Myne menghela nafasnya pelan, "Sebenarnya aku sedikit ragu. Aku tidak melihat satu pun tanda di tubuhnya, namun aku merasakannya, aku merasakan tanda itu tepat di bekas luka di pipi kirinya"
"hmm.." Morne membuka suara setelah keheningan beberapa detik melanda. Tatapan mengarah jauh ke atas, "Banyak yang janggal disini. Pertama, dia terlahir kembali setelah lebih dari 100 tahun. Berapa umurnya?"
"Menurut penglihatanku, umurnya 20 tahun hyung"
Morne mengangguk, "Dia terlahir kembali pas 100 tahun setelah kematiannya. Dan kali ini kamu termasuk terlambat menemukannya. Apakah kamu tidak merasakan tanda saat ia lahir?" Tanyanya yang kemudian direspon dengan gelengan oleh Myne.
"Tidak hyung. Aku hanya merasakan tanda saat ia sedang dalam bahaya.." Ungkapnya. Tak lama tubuhnya sedikit tersentak saat sebuah ingatan terlintas di kepalanya.
”Ada apa?" tanya Morne saat melihat perubahan wajah Myne.
"8 tahun yang lalu aku juga merasakannya. Aku menolong anak kecil dari sebuah kecelakaan mobil, namun aku tidak merasakan tanda di tubuhnya, hanya merasakan seseorang memanggilku dan memintaku untuk menolongnya"
"Apakah itu orang yang sama?"
Myne menggeleng, "Aku tidak tau Hyung. Aku tidak terlalu memperhatikan wajahnya. Aku hanya menolongnya lalu langsung kembali ke gunung karena anak buah monster gila itu mencoba mengganggu para pendaki."
"Tidak mungkin Moon Goddes salah meletakkan jiwa.." celetuk Morne. Kepalanya mendongak memandang jauh kedepan. "Sebelum terlahir kembali, semua jiwa yang terpilih akan melakukan kontrak di ruang sidang." gumamnya.
"Apa mungkin dia memang meminta untuk terlahir menjadi laki-laki? Kamu tau kan selama ini bahkan dia selalu terlihat lebih dominan dari Myne" Celetuk Agis.
Roha yang sedaritadi menyimak pun membulatkan matanya, "Ha?! Jadi dia ini sekarang seorang pria?!"
Myne mendengus, "Sedaritadi kupikir kamu sudah tau karena diam saja"
"Hehe.. tapi itu masuk akal. Mungkin dia ingin terlahir menjadi dominan yang sesungguhnya karena pelindungnya ini seorang Submisif sejati uhmm" Roha mengerling, kepalanya langsung menoleh lalu memperhatikan Myne dari ujung kaki ke ujung kepala. "Ahhh.. kali ini Myne hyung menjadi pihak yang dimasuki eoh?"
"HEH?! TIDAK MUNGKIN!"
...----------------...
Di sisi lain, tepatnya di salam rumah kayu beratap jerami. Jungkook tengah duduk berdiam diri setelah menyantap habis semangkuk bubur yang tersedia di bawah sebuah tudung saji kuno di atas meja. Matanya melirik ke arah seekor kucing yang tengah tertidur di atas sebuah kursi.
"Oi.." Panggilnya. Tangannya meraih sebuah sapu lalu ia ulurkan untuk kemudian ia senggolkan ke tubuh kucing tersebut hingga yang acara tidurnya diganggu pun membuka mata dan mengangkat kepalanya.
"eh maaf.. niatku cuma nyenggol dikit tadi" ucapnya saat melihat raut terganggu dari mata kucing yang terlihat menukik. Tak lama kucing itu pun kembali merebahkan kepalanya dengan manik biru menatap ke arahnya.
”Kapan tuanmu akan pulang? Ini sudah mau malam dan aku harus kembali ke perkemahan"
Kucing itu tak merespon, namun dengan tiba-tiba tanduknya bercahaya dengan kepala yang terangkat menoleh ke arah pintu.
Jungkook mengeryit, "Ada apa? kau melihat se—"
CTAARRR!
Tubuhnya terlonjak. Dari arah luar, terlihat kilat cahaya begitu terang diikuti suara petir yang terdengar begitu keras, menandakan ada suatu benda yang tersambar. Matanya yang masih membola kaget langsung melirik ke arah kucing itu lagi. Cahaya di tanduknya kembali padam, tak lama kucing tersebut mengubah posisinya dan kini tengah asik menjilati tubuhnya sendiri.
"Apa itu tadi? Tandukmu bisa mendeteksi bahaya?" tanya Jungkook. Kepalanya menoleh keadaan luar dimana hujan mereda lalu kembali mengarah ke kucing bertanduk. "Atau tandukmu bisa mendeteksi petir?" tanyanya lagi pada kucing yang sama sekali tak meresponnya.
"Hahh.. baiklah. Sepertinya aku sudah mulai gila karena berbicara dengan hewan berbulu ini"
Kepalanya tertunduk kemudian menatapi perutnya yang terlilit kain putih. Rasa perih yang beberapa jam lalu terasa begitu menusuk kini sudah tidak terasa lagi, bahkan ia tidak merasa seperti ada luka apapun di sana.
Dengan penasaran, tangannya membuka lilitan kain tersebut untuk memeriksa. "Heh?!"
Matanya sedikit membulat dengan kening mengerut, ia tak menemukan bekas luka apapun di sana. Kulit pinggangnya terlihat mulus tanpa bekas luka apapun kecuali bercak darah, dedaunan dan..
Kerutan di dahi tercetak semakin dalam, beberapa helai bulu berwarna putih menempel di kulitnya. Lantas ia pun melihat lebih jelas gundukan di kain yang sedari awal membuatnya penasaran.
"Sialan apa ini?!" serunya dengan tubuh tersentak kaget. Disana, terdapat gumpalan bulu berwarna putih yang sedikit lengket menempel di kain. Matanya melirik ke arah kucing bertanduk, "Ini bulu kucing? —Heh! mau apa? jangan mendekat!!" Teriaknya tiba-tiba merasa panik.
Bagaimana tidak panik saat dirinya tengah duduk bersandar di atas kasur, seekor kucing bertubuh besar mendekat dan mengendusi bekas lukanya. Melihat itu tentu saja tubuhnya bergetar, ingin rasanya ia dorong kucing itu menjauh namun rasa takut membuat kakinya menjadi lemas. Matanya melotot, rasa kasar dari daging bertulang lunak menyapu kulitnya, sensasi dingin langsung terasa saat cairan bening mengkilap melumuri kulitnya yang baru saja dijilat bersih.
"A-apa yang—" Kalimatnya terhenti dengan tubuh mematung. Kucing itu naik ke atas kasur lalu mengendus-endus wajahnya sebelum mendusalkan kepalanya ke pipi Jungkook.
Jungkook hendak menjauhkan kepalanya sebelum geraman terdengar membuatnya langsung mati kutu. "A-aku hanya takut tandukmu menusukku" cicitnya. Ia pun berdiam diri, memasrahkan pipi kirinya untuk menjadi tempat mendusal oleh kucing tersebut.
"Hoamm... kau membuatku mengantuk"
Beberapa detik kemudian dusalan dari kulit tertutup bulu yang mengegesek kulitnya lama-kelamaan membuat rasa kantuk menyerang. Saking mengantuknya, ia pun sudah tidak perduli jika keseluruhan pipi kirinya diendus dan dijilati, yang ia lakukan kini hanya menyandarkan tubuhnya lalu memejamkan matanya yang terasa pedas.
...----------------...
Jimin melangkah masuk. Langkahnya terhenti, manik birunya menatap ke arah Jungkook yang tengah tertidur di atas kasur dengan seekor kucing di sebelahnya. Satu sudut bibirnya sedikit terangkat dengan kekehan mengalir keluar saat matanya melihat posisi Jungkook yang tengah tertidur pulas dengan kepala nyaris tenggelam di bulu-bulu panjang kucing tersebut.
"Hahh.. sebenarnya apa yang terjadi?" Gumamnya seraya menghela nafas. Ingatan kembali ke beberapa detik yang lalu. Tepat ketika ia masih berada di Istana bersama saudara-saudaranya.
...********FLASHBACK********...
"HEH?! Tidak Mungkin!" Seru Myne menolak. Dahinya mengkerut dengan raut wajah tidak senang. "Itu tidak akan terjadi. kalau dia pria, tidak akan ada penyatuan" lanjutnya dengan tegas.
"Kalau begitu, dia akan mati dan tidak akan terlahir kembali. Kamu yang memutus siklusnya pun juga akan mati dan akan dihukum menjadi bulan yang baru" Ucap Agis. Sebelah tangannya menopang dagu dengan mata menatap datar ke arah Myne yang membeku.
Morne mengangguk, "Itu tidak boleh terjadi. Penyatuan harus dilakukan tepat saat gerhana bulan total terjadi. Kamu harus berhasil melakukannya atau semua akan hancur berantakan" ucapnya seraya menatap mata Myne dengan tatapan penuh harap.
"Kami semua mengandalkanmu, Myne.."
Myne terdiam, bibir bawah ia gigit sebelum kepalanya menunduk dengan mata yang menutup. Ia nyaris lupa akan tanggung jawab yang harus ia tanggung. Tanggung jawab yang begitu besar, tanggung jawab yang menyangkut keselamatan Bumi dan seisinya.
Ia pun nyaris lupa akan eksistensi Lucifer. Raja Iblis yang merupakan musuh utama Malaikat dan mereka, kaum pelindung. Lucifer, raja iblis yang hanya bisa dilawan oleh Tyron, penguasa Bumi yang sesungguhnya. Orang yang harus selalu ia lindungi hingga hari akhir kehidupan di dunia.
'MYNEE'
Myne tersentak, matanya dengan spontan terbuka saat suara teriakan terdengar jelas di telinganya.
'MYNE TOLONG!!'
Teriakan itu kembali terdengar. Dengan cepat kepalanya terangkat lalu menoleh ke belakang.
Jeon Jungkook?!
"Ada apa Myne?"
Myne memejamkan kelopak matanya. Dahinya mengerut saat terlihat sosok Jungkook yang tengah tertidur pulas di rumahnya.
Tidak, itu bukan Jungkook. Siapa?
'MYNE TOLONG —AARGHH!'
Myne membuka matanya lebar. Seorang pria yang berlari dari kejaran segerombolan serigala terlihat di pandangannya barusan.
"Aku harus pergi.." ucapnya cepat sebelum berlari pergi, mengabaikan teriakan dari keluarganya yang memanggil di belakang. Detakan jantung yang berdentum kuat membuatnya begitu tidak nyaman hingga membuatnya harus bergerak mengikuti sumber teriakan tersebut.
Tepat di depan Istana, Myne menggerakkan kedua tangannya memutar hingga sebuah portal dengan lingkaran biru muncul di hadapannya. Ia pun melangkah masuk hingga kini ia sudah berdiri tepat di atas sebuah pohon.
"Sialan!!! Aku tidak mau mati lebih dulu!"
Terlihat seorang pria berlari dengan segerombol serigala mengejar di belakangnya.
Itu bukan Jungkook.. Tapi kenapa—
"AARRGHHH"
Matanya membulat, seekor serigala berhasil menggigit kaki pria itu saat terjatuh karena tersandung ranting. Denyut nyeri langsung terasa di dadanya saat mata melihat darah yang mengalir dari kaki pria tersebut. Sontak saja tangannya mengepal, dalam hitungan detik tubuhnya berpindah ke belakang pria itu dengan tatapan tajam yang langsung terarah ke segerombolan serigala tersebut. Langit pun langsung menggelap dengan gumpalan awan yang berkumpul di satu titik.
CTAARRR!
Sebuah cahaya terang turun dengan begitu cepat membentuk garis. Segerombolan serigala itupun langsung gosong hangus dalam hitungan detik membuat pria yang tadi langsung tiarap menutup kepalanya di tanah kini mengangkat kepala dengan mata yang membulat sempurna.
Deg..!
Ia mematung, matanya terpaku saat melihat dengan jelas wajah pria tersebut.
Tanda itu..
Matanya tertuju ke satu titik di pelipis kanan pria itu. Titik dimana terdapat sebuah tanda yang terlihat bercahaya di matanya.
...********FLASHBACK END********...
Jimin menghela nafasnya pelan, "Moon Goddes.. sebenarnya apa yang sedang kau rencanakan?" gumamnya. Ia pun menutup matanya sejenak sebelum kembali terbuka.
Matanya melirik ke arah Jungkook yang berada tepat di sebelahnya, dengan perlahan ia menyingkirkan tangan yang melingkar di perutnya lalu kemudian bangkit berdiri. Langkah yang ringan nyaris tak berbunyi membawanya ke sebuah mantel di atas meja serta dua buah kain yang terlipat di sebelahnya. Dengan cepat kedua jenis benda berbahan kain itu terpasang rapi membalut tubuh telanjangnya. Mantel bulu pun ia ambil lalu ia simpan di dalam lemari.
Kembali matanya melirik ke arah Jungkook yang masih tertidur pulas di atas kasur. Ia mendekat, matanya tertuju ke arah pinggang Jungkook yang sudah sembuh total dan bersih.
"Sudah kembali seperti semula" gumamnya dengan jari telunjuk meraba letak luka yang sebelumnya terlihat parah hingga tak lama sebuah kaos tanpa lengan terpasang sempurna di sana, membalut tubuh kekar yang sebelumnya hanya terpasang sebuah jaket hitam.
"Semua ini membuatku bingung" Gumamnya lagi. Matanya menatap lamat sebuah garis berupa bekas luka di pipi pemuda itu, bekas luka yang terlihat bercahaya di matanya.
...----------------...
"itu tadi petir?!"
Ian mengangkat kepalanya. Beberapa detik yang lalu ia spontan tiarap saat suara petir terdengar begitu kuat di dekatnya hingga tanah terasa bergetar. Sepasang matanya membelalak lebar saat mendapati beberapa ekor serigala yang tadi mengejarnya kini sudah hangus dengan bau daging gosong berhembus memasuki hidung mancungnya. Kakinya langsung ia tarik menjauh saat menyadari berada begitu dekat dengan moncong serigala.
"F*ck! petir itu menyambar mereka tepat di dekatku" Umpatnya pelan. Jantungnya masih berdetak begitu cepat akibat dari rasa kaget yang menyerang. Tak lama ringisan keluar dari mulutnya. Dengan perlahan ia angkat sedikit celananya.
"Serigala sialan" desisnya saat mata menangkap sebuah luka bolong di betisnya dengan darah yang menetes. Tas pinggang ia buka, sebuah plester bergambar kelinci ia ambil lalu ia pasangkan menutupi luka tersebut.
"Untuk sementara supaya tidak infeksi" ujarnya.
Setelah menurunkan kembali celananya, ia pun berdiri dengan perlahan lalu kembali berjalan. "Aku harus cepat mencarinya sebelum matahari kembali terbenam" gumamnya seraya menyalakan senter di tangan. Ia pun kembali melangkah dengan hati-hati saat menuruni jalan yang curam dan sedikit licin. Sesekali pandangan dan pendengarannya menajam dengan waspada, mencegah kejadian beberapa menit yang lalu terulang kembali padanya.
"JEON JUNGKOOK!!!"
"KAU MENDENGARKU??!!"
Teriaknya di sepanjang perjalanan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Visualisasi Karakter.
1. Park Jimin alias MYNE
2. Jeon Jungkook
3. Christian Jeon atau Jeon Ian
4. King Morne
5. Queen Agis
6. Roha
7. Kim Taehyung
8. Kim Mingyu
9. Jeon Somi
......................
Karakter lain akan diperkenalkan seiring jalannya cerita. ♡