
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Sekarang ini namamu siapa hyung?"
Sebuah pertanyaan terlontar membuat pemuda berambut abu-abu mengalihkan atensi ke pemuda lain yang lebih tinggi darinya.
"Park Jimin.." Jawab Jimin, matanya menatap kearah Roha yang mengangguk.
"Nama yang bagus dan cocok untukmu hyung" ucapnya, satu tangan mengusap dagu runcingnya sebelum kembali mengangguk dengan yakin, "Ok, aku sudah mendapat nama yang bagus untukku" lanjutnya dengan semangat membuat mata Jimin langsung berbinar antusias.
"Kamu mau membantuku?!" tanyanya cepat yang langsung di balas anggukan dari yang lebih muda.
"Tentu, kau lebih penting dari apapun hyung.." ucapnya sebelum kedua sudut bibirnya terangkat, menampilkan senyum manis di wajah simetrisnya. "Lagipula aku dibebas tugaskan selama membantumu, iya kan?"
Jimin mengangguk, "Uhum.. Morne hyung sudah membebas tugaskanmu sampai gerhana bulan terjadi." jawabnya yang langsung mendapat seruan girang dari sang adik. "Kalau begitu siapa nama dan apa latarbelakang yang akan kamu gunakan? kamu harus bisa memastikan agar penyamaranmu tidak terbongkar selama bertugas" lanjutnya bertanya diiringi sebuah peringatan.
Mendengar itu lantas Roha mengangguk paham, "iya aku paham. Namaku Park Eunwoo"
"Park? kamu memakai marga yang sama denganku?" tanya Jimin.
Roha mengangguk, "hm, bukankah aku adikmu? tentu aku memakai marga yang sama denganmu"
"Tidak boleh! Kita tidak boleh menjadi keluarga selama menyamar, itu akan terlalu mencurigakan. Tapi— yasudahlah.. penduduk bumi juga banyak yang memakai marga itu, yang penting kamu jangan bertingkah seolah kita keluarga sebelum waktunya tepat, karena itu bisa merusak semua rencanaku"
Mendengar itu Roha menghela nafasnya berat, kepala mengangguk pelan dengan bibir yang mencebil, "huh.. baiklah" ucapnya pasrah.
...----------------...
Cuitt.. cuitt..
Takk.. Takk..
Di dalam sebuah gubuk di tengah hutan yang terletak di kaki gunung bagian selatan, terlihat seorang pemuda bertubuh mungil tengah sibuk dengan kegiatannya menggunakan beberapa alat memasak yang terletak di sudut ruangan, kedua tangannya aktif bergerak untuk memotong dan mengaduk beberapa bahan yang akan ia hidangkan sebagai sarapan pagi. Sedangkan di dekat jendela tepatnya di atas sebuah kasur, terlihat pemuda bertubuh bongsor yang tampak menggeliat pelan dengan kelopak mata yang masih terpejam.
"Eumhh.."
gumaman terdengar dari arah kasur, tampak Jungkook yang tengah menggeliat dan sedikit berguling sebelum mendudukkan dirinya. Kelopak mata berusaha membuka dengan tangan menggaruk leher yang terasa gatal.
"Jam berapa ini?" gumamnya dengan kepala menoleh ke kanan dan ke kiri, kelopak matanya sedikit membuka dengan kening mengkerut khas orang yang baru bangun.
Aroma masakan bercampur dengan aroma lavender dipadukan dengan vanila yang lembut sukses berhembus masuk ke dalam rongga hidung, membuatnya langsung menoleh dan melihat tubuh mungil yang tengah membelakanginya.
"nghh.. Myne, masak apa?" tanyanya bergumam. Membuat yang ditanya sontak menghentikan gerakan kemudian menoleh ke arahnya. Jungkook menguap, rambut berantakan semakin ia usak sembarang dengan mata yang mengerjap malas. "Apa? Kenapa melihatku begitu Jimin-ssi?" tanyanya lagi dengan suara seraknya.
Sedangkan Jimin terdiam, manik biru menatap lekat ke arah Jungkook yang kembali menguap lebar sebelum menggeleng.
"Tidak, Mandilah dulu tuan Jungkook. Setelah itu kita sarapan bersama" ucapnya kemudian kembali melanjutkan kegiatan membuat sarapan yang sempat terhenti. Terdengar Jungkook yang bergumam tidak jelas diikuti langkah kaki yang melangkah melewatinya di belakang lalu menghilang setelah melangkah keluar dari pintu menuju kamar mandi yang berada di belakang rumah.
Tangannya yang hendak menuangkan sup ke dalam mangkuk terhenti, kepalanya menoleh seraya menggenggam erat sendok di tangan. "Dia memanggil namaku.." gumamnya.
Dia kah orangnya? Tyron.. apakah itu benar dirimu?
Di sisi lain masih di kaki gunung bagian selatan, terlihat Roha atau Park Eunwoo yang tak berhenti melemparkan kerikil kecil kearah Jeon Ian yang terus bergumam dalam tidurnya.
Tukk..
Tukk..
"Yaa manusia. Berhentilah menyebut nama kakakku.. Bagaimana bisa Tuan Tyron bereinkarnasi menjadi makhluk kelebihan otot seperti ini?"
"Myne hhhh.. tidak.. Myne.."
Tukk..
"Sebenarnya apa yang tengah kau mimpikan? Hey terduga Tuan Tyron, bangun!" Serunya sedikit berteriak. Dilihatnya raut wajah Ian yang terlihat gelisah, "Boleh tidak kalau aku mengintip mimpimu?" tanyanya kemudian.
"Tidak tidak.. itu tidak sopan, bisa mati aku kalau ternyata dia benar-benar reinkarnasi dari si penguasa bumi" gumamnya kemudian dengan kepala menggeleng cepat.
"Myne.. Myne.. MYNE!!!"
Brukhh...
Roha sukses dibuat melotot, dengan cepat tangannya terulur saat dilihat tubuh bongsor terlonjak dan berguling jatuh dari ketinggian pohon. Dengan mudah ia mengangkatnya kembali ke atas sebelum tubuh itu menyentuh tanah. Ia langsung menurunkan tangannya lalu bersandar santai saat dilihat Ian yang membuka matanya dengan lebar.
"Hahhh.. sial— mimpi itu lagi" gumaman terdengar dari Ian yang mengusap wajah dengan kasar.
"Akhirnya kau bangun juga.." seru Roha seraya memainkan satu buah peach yang entah kapan sudah berada di genggamannya. Dilemparnya buah tersebut yang langsung ditangkap dengan sempurna oleh Ian.
"Woahh.. refleksmu sangat bagus" serunya lagi merasa takjub.
Ian mendengus pelan, dilihatnya buah peach di tangan lalu menoleh ke Roha yang menggigit sebuah peach lainnya. "Dimana kau mendapatkan ini?" tanyanya mengeryit bingung.
"Disana.." tunjuk Roha ke satu arah sebelum kembali menggigit apel. "Ada pohon peach tak jauh dari sini" lanjutnya.
Ian yang mendengar itu lantas mengeryit namun kepalanya mengangguk, "Kau mengambilnya sendiri?" tanyanya lagi yang kemudian direspon anggukan santai dari pemuda di atas pohon sebelahnya. "Terimakasih" lanjutnya kemudian menggigit peach yang terasa begitu segar di kerongkongannya yang sedikit kering.
"Ngomong-ngomong tadi kau mengigau.. Myne, siapa Myne?"
Pertanyaan yang terdengar sukses membuat Ian terdiam lalu mengedikkan bahu singkat, "Tidak tau.. hanya saja dia selalu masuk di mimpi anehku" jawabnya.
"Mimpi apa? jadi penasaran nih"
Satu alis terangkat, dilihatnya Eunwoo yang menatapnya dengan mata berbinar antusias. Dengusan pelan terlontar, ia alihkan pandangan dari pemuda itu seraya menggigit kembali buah peach di tangan.
"Setelah ini kita akan bergerak kembali mencari adikku" ucapnya mengalihkan topik, mengabaikan Eunwoo yang mendengus kecewa.
"dasar pelit huh" ucapnya dengan bibir sedikit mencebil.
Setelah menghabiskan sebuah peach segar, keduanya kini kembali menyusuri sungai setelah beberapa saat berhenti untuk minum membasuh wajah. Tak henti keduanya meneriakkan nama Jungkook di setiap langkah yang mereka ambil.
BLAARR-!!
BLAARR-!!
"F*ck-! Apa yang terjadi?!" Umpat Ian dengan kaki mengambil langkah cepat mendekati sebuah batu besar di dekat pinggiran sungai. Ia berjongkok lalu menoleh ke arah Eunwoo yang masih berdiam diri. "YAAK.. KAU MAU MATI DISAMBAR PETIR HUH?!" teriaknya.
Eunwoo menoleh ke arah Ian lalu kembali menoleh ke sumber suara. Tak lama ia pun memutuskan untuk berjalan mendekati Ian dan ikut berjongkok di sebelahnya dengan mata yang masih menatap ke arah tersebut.
itu Myne hyung...
...----------------...
"Kau yakin tau arah menuju puncak?" Jungkook bertanya, sepasang kakinya melangkah di sebelah Jimin yang berjalan dengan mata memperhatikan kondisi sekitar.
"Kau meragukanku?"
"Tidak, hanya saja— yah begitulah.." ungkap Jungkook mengedikkan bahunya singkat, membuat Jimin mendengus pelan.
Tak lama Jimin menegapkan postur tubuhnya, matans melirik ke sekitar dengan tangan merogoh saku mantel berbulunya. Sebuah bucket hat berwarna hitam ia keluarkan lalu ia sodorkan ke Jungkook yang mengeryit.
"Pakai ini" ucapnya.
"Untuk apa?"
"Sudah pakai saja.."
Dengan cepat Jimin memakaikan topi dengan lebar 16 cm tersebut ke atas kepala Jungkook lalu menurunkan topi tersebut hingga nyaris menutupi mata bambi milik pemuda yang semakin mengeryit bingung.
Dua pasang kaki kembali melangkah dengan Jungkook yang terdiam dengan pasrah sebelah tangannya ditarik oleh Jimin yang berjalan di depannya. Satu tangan yang lain ia masukkan ke dalam saku jaket dengan mata memperhatikan sosok bertubuh mungil dengan aroma lavender vanila yang menguar dan berhembus kearahnya.
'aroma vanilla ini pasti dari sabun yang ada di kamar mandinya, tapi aroma lavender ini darimana? Shampoo-nya bahkan beraroma vanilla mint
Dalam diam, ia sibuk bertanya-tanya akan darimana sumber aroma lavender yang selalu tercium setiap berada di dekat Jimin. Aroma lavender yang menenangkan, aroma yang membuatnya tidak tahan untuk tidak menarik nafas dalam-dalam.
"Ada apa?" tanyanya saat Jimin menghentikan langkahnya dan menariknya untuk berdiri tepat di belakang tubuh yang dua kali lebih kecil darinya. "Kenapa?" tanyanya lagi dengan raut bingung melihat Jimin yang berdiam diri tidak merespon dengan kepala menoleh ke kanan dan ke kiri.
BLAARR-!!
F*ck— kaget!
Tubuhnya mematung dengan mata terpaku setelah beberapa detik yang lalu sebuah petir berkilat dengan bunyi menggelegar menyambar sesuatu tepat beberapa meter di depan mereka. Terlihat seonggok daging hangus dengan asap mengepul berbau gosong.
"Sudah kuduga ini akan terjadi" gumaman terdengar, membuat Jungkook lantas menatap Jimin dengan mata yang masih melebar karena kaget.
BLAARR-!!
Tubuhnya terlonjak, kepalanya menoleh hingga kembali terlihat di matanya seonggok daging hangus tepat beberapa meter di sisi kanannya.
Apa yang terjadi?!
"Mereka terlalu banyak.." gumaman Jimin kembali terdengar. Dilihatnya pemuda itu yang kini berbalik menghadapnya. "Tuan Jungkook, ini akan membuatmu kaget dan aku akan menjelaskannya nanti padamu. Tapi untuk sekarang tolong tetap diam dan mengikuti apa yang aku ucapkan"
Lantas ia mengerjapkan matanya, belah bibir bergerak terbuka hendak mengeluarkan suara sebelum diameter matanya dibuat semakin melebar sempurna.
"what the fu—"
"Tuan Jungkook, ayo naiklah. Kita harus segera pergi dari sini!"
Suara lembut Jimin kembali terdengar, namun kini berasal dari seekor kucing bertanduk yang begitu ia kenal namun dengan ukuran tubuh yang dua kali lebih besar dari sebelumnya.
Mulutnya menganga, ia tergagap melihat tubuh kucing tersebut merunduk di hadapannya. "A-apa yang.. Jimin.. kau—"
"Nanti akan kujelaskan. Cepatlah tuan!"
Seruan kembali terdengar diikuti geraman pelan dari kucing tersebut membuat Jungkook sukses kelabakan kemudian dengan cepat namun dengan hati-hati naik ke atas tubuh besar kucing tersebut.
"Pegangan yang erat tuan" seru suara Jimin yang langsung dipatuhi oleh Jungkook. Kedua tangannya memegang sisi leher sebelum melingkar erat dengan spontan saat kucing tersebut berlari melaju begitu cepat.
Grrhhh...
Kepalanya menoleh, matanya semakin melotot dengan jantung yang berdetak begitu cepat saat melihat apa yang saat ini tengah mengejar mereka, sekelompok makhluk aneh bertubuh beruang besar dengan wajah serigala, jangan lupakan kuku-kuku serta gigi yang terlihat bergitu panjang dan tajam dengan mata yang berkilat berwarna merah.
Sialan! ada apa ini?!
Makhluk apa itu? kenapa mereka mengejar kami?!
"Jangan melihat ke belakang tuan. Tarik turun topimu, jangan sampai mereka melihatmu"
Mendengar itu lantas tanpa menunggu lama Jungkook segera menarik turun topinya hingga menutupi sebagian wajahnya sebelum kembali melingkarkan tangan memeluk kucing bernama Myne tersebut dengan lebih erat saat suara petir kembali menggelegar.
BLAARR-!
...----------------...
"Semuanya menjauh dari pohon dan berlindung di dekat batu besar!!"
Sebuah seruan terdengar dari toa membuat semua yang mendengar lantas berlarian lalu berjongkok di beberapa batu besar yang berada di puncak. Suara petir terdengar menggelegar secara berturut-turut dengan langit yang menggelap membuat semua tubuh total dibuat bergetar ketakutan.
Mingyu yang sedaritadi memberi intsruksi dengan sebuah toa di tangan mendongak, memperhatikan langit yang tertutup awan kelabu.
Apa yang terjadi? apakah akan datang badai?
Matanya bergerak memperhatikan langit, mencari dimana sumber suara petir yang terdengar seperti menyambar sesuatu secara beruntun. Tubuhnya membeku dengan pandangan terpaku ke arah kilatan petir yang terlihat begitu terang menyambar di sisi gunung di sebelahnya, sisi di mana letak kaki gunung bagian selatan. Sisi di mana kedua temannya tengah berada.
"Tuhan.. semoga mereka baik-baik saja"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...