
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Jeon Jungkook?!!" Seru mereka kaget melihat kehadiran Jungkook yang melangkah santai dengan senyum kelincinya yang khas.
"iya iya..aku tau, kalian pasti terlalu khawatir denganku kan? tenang, aku sudah selamat.. dan masih tampan walau agak yaa kucel sedikit" Jawabnya dengan dengan satu sudut bibir terangkat, menampilkan seringai narsis andalannya, tanpa sadar akan Mingyu yang sudah mengepalkan tangan di hadapannya.
Bugh-!
Satu kepalan melayang, tepat mengenai pipi kanan membuat kepala tertoleh ke arah yang berlawanan. "Sialan apa yang kau— Yak Kim Mingyu!!"
"Bangsat sekali kau Jeon Jungkook! Santai sekali kau masih sempat tersenyum disaat kami semua bahkan tidak bisa minum dan makan dengan tenang karenamu?!"
Jungkook yang hendak melayangkan balasan berupa tendangan lantas terdiam, matanya menatap ke arah Mingyu kemudian mengedar memperhatikan setiap anggota yang matanya sudah menghitam bak panda dan ada beberapa yang sembab. "Kalian begitu mengkhawatirkanku?" tanyanya bergumam dengan mata kembali menatap ke mata Mingyu yang sudah memerah.
Taklama nafas panjang ia hembuskan pelan, tubuhnya sedikit membungkuk dengan kepala menunduk. "Maaf sudah membuat kalian khawatir" ucapnya tulus dengan penuh rasa bersalah.
Sebuah tepukan pelan ia rasakan di pundak membuatnya kembali mengangkat kepala dan melihat Mingyu yang sudah tersenyum ke arahnya, "kami senang kau kembali dengan aman, Jeon Jungkook" ucapnya.
Jungkook mengangguk dengan senyum tipis tersampir di wajah tegasnya, tak lama kepalanya langsung menoleh dengan mata kembali memperhatikan satu persatu orang di sekelilingnya. "Jeon Ian... Kemana?" tanyanya merujuk ke sang kakak.
Mendengar itu, senyum yang semula tersampir di wajah Mingyu langsung kembali hilang berganti dengan raut muram. "Ketua.. dia—"
"JEON JUNGKOOK / YAK JEON BRENGSEK JUNGKOOK!"
Teriakan dari dua orang terdengar, membuat Jungkook bingung harus menoleh ke mana terlebih dahulu. Memutuskan menoleh ke seseorang yang melangkah mendekat di belakang Mingyu terlebih dahulu, Jungkook membulatkan matanya sebelum melotot tajam.
"Ya Kau— Kim Taehyung keparat—"
Bugh-!
Baru saja kakinya hendak melangkah mendekati Taehyung, sebuah kepalan sukses kembali mendarat di pipi kanannya yang masih berdenyut setelah seorang pemuda dengan cepat berdiri tepat di hadapannya.
Kepalanya yang terlempar ke arah berlawanan dengan mata yang membulat, ia pun mengangkat kepala dan menatap Ian yang sudah menatap datar di hadapannya.
"Hyung.. apa yang— Bangsat, tidak cukupkah satu orang saja yang menonjok pipi kananku?!" Bentaknya kasar saat rasa ngilu berdenyut pada bagian yang sudah dua kali mengalami kekerasan dalam waktu 10 menit.
"Shut your f*cking mouth, aku ingin sekali membunuhmu saat ini Jeon Jungkook" balas Ian seraya menggeram. Matanya yang sudah memerah menatap tajam Jungkook dengan tangan yang mengepal. Tak lama satu tetes air menetes, mengalir dari mata menuruni pipi tirus membuat Jungkook kembali melebarkan diameter matanya merasa kaget.
"Hyung—"
Mendengus, Ian mengusap wajahnya kasar lalu menatap datar ke arah Jungkook. "Temui aku di belakang tenda konsumsi setelah sampai puncak" balasnya datar sebelum berbalik menatap Mingyu dan semua anggota yang terdiam menatap kearahnya.
"Kita akan kembali kepuncak setelah aku menemui kapten penjaga" ucapnya lalu mengangguk pelan ke Mingyu, kakinya melangkah memasuki gedung diikuti Mingyu yang kemudiam menarik singkat lengan Jungkook untuk mengikuti, serta seorang pemuda lain -Eunwoo- yang berjalan mengikuti di belakang mereka.
Kini semuanya sudah berkumpul di halaman posko, semuanya mengelilingi Jungkook yang baru melangkah keluar bersama Mingyu, memutuskan untuk menuntaskan rasa penasaran akan sesuatu seraya menunggu sang ketua menyelesaikan urusannya.
"apa itu? di tanganmu.." tanya Somi, mengesampingkan rasa emosi terpendam karena rasa penasaran yang lebih tinggi.
"ini? kucing.." diangkatnya sedikit tangannya yang tengah menggendong seekor kucing sepeti tengah menggendong seorang bayi.
"Ha?! KUCING?!"
"Ya.. dia cantik kan? dan lihat.. ada motif bulan di punggungnya"
Mendengar itu, semua total melongo dengan mata saling pandang sebelum kembali mengalihkan atensi ke Jungkook yang tampak ceria, berbicara dengan seekor kucing hutan dengan ukuran sebesar anak balita dengan panjang kurang lebih 1 meter.
Bagaimana bisa?
Apakah ini benar-benar Jeon Jungkook?
Si wakil ketua Mapala, adik angkat Ketua Mapala yang dikenal takut dengan kucing.
...----------------...
"Aku sudah mendengar semuanya. Terimakasih karena sudah nekat mencariku sampai sejauh itu"
Jungkook membuka suara, pandangannya beralih dari melihat pemandangan sore dari atas menuju ke sang kakak yang duduk di sebelahnya dengan secangkir susu jahe hangat di tangan.
Ian yang mendenger lantas mengedikkan bahu seraya menyeruput minumanya, "Kau satu-satunya yang tersisa. Apa lagi yang harus ku lakukan selain mempertahankanmu" jawabnya seraya mengangkat singkat satu sudut bibirnya. Cangkir ia letakkan di atas karpet sebelum mengerutkan dahi setelah melirik ke arah Jungkook.
"Tidak usah menangis, sialan! kau sudah besar. malu!" serunya sedikit membentak. Dilihatnya Jungkook yang membuang wajah dengan tangan mengusap kasar pipinya sendiri. Ia terkekeh pelan, matanya melirik ke ke belakangnya sejenak memastikan keadaan.
"Kemari" ucapnya dengan dua tangan terentang, melihat itu Jungkook lantas menabrakkan dirinya memeluk tubuh yang hampir sama dengannya namun lebih tinggi. Pelukan yang terlampau erat terjadi saat dua pasang tangan saling melingkar kuat.
"Maaf hyung" gumam Jungkook pelan. Usapan lembut terasa di punggungnya, membuat air matanya tanpa sadar kembali menetes. "Terimakasih juga sudah kembali dengan aman" bisiknya dengan suara serak.
Rasa khawatir dan bersalah menyerangnya saat Taehyung selama di perjalanan menceritakan semua yang terjadi hingga kejadian sang kakak yang memaksa untuk mencarinya seorang diri hingga juga sempat menghilang. Ia akan mengutuk diri sendiri hingga mati jika dia kembali sedangkan sang kakak yang mencarinya malah mengalami hal yang tidak diinginkan.
Ian tersenyum, dilepasnya pelukan lalu diusaknya kasar rambut sang adik. "Senang melihatmu kembali dengan bugar seperti ini, sepertinya perjalanan panjangmu berjalan cukup lancar"
Mendengar itu lantas Jungkook mengangkat satu sudut bibirnya seraya terkekeh pelan, "Aman..." ucapnya bergumam seraya mengedikkan bahu singkat sebelum mengangkat cangkir dan menyeruput susu jahe di dalamnya.
"Bagus. Kau tidak boleh mati sebelum aku mati" ucap Ian yang membuat Jungkook mendengus.
"Kau juga tidak boleh mati sebelum aku mati" balas Jungkook setelah meletakkan kembali cangkirnya. Ian terkekeh, tangannya terangkat untuk kembali mengusak rambut Jungkook.
"Kalau begitu kita haru mati secara bersamaan" candanya membuat Jungkook ikut terkekeh dengan kepala mengangguk.
'Jungkook..' panggil Jimin -Myne- yang ternyata Roh nya sedari tadi berdiri di belakang keduanya.
Jungkook tersentak, "Myne" gumamnya lantas menoleh ke belakang.
Mendengar sebuah nama yang dirasa tidak asing membuat kerutan tercetak di dahinya. "Myne?" tanyanya membuat Jungkook langsung menoleh kembali ke arahnya.
"Ah itu.. kucing yang bersamaku tadi. Sebentar, aku harus mengeceknya kondisinya dulu."
Jungkook berdiri lalu melangkah cepat menuju tenda medis. Meninggalkan Ian yang terdiam dengan kening mengkerut.
"Myne... nama itu tidak asing.. aku seperti pernah mendengarnya, tapi dimana?" gumamnya bertanya pada diri sendiri. Tak lama ia mengedikkan bahu singkat sebelum berdiri. Dua cangkir ia ambil lalu ikut melangkah, menuju tenda konsumsi terlebih dahulu untuk meletakkan cangkir kotor.
'Hyung'
Roh Myne -Jimin- yang hendak menghilang mengikuti kakak beradik Jeon berhenti, terlihat roh seekor serigala hitam yang berdiri di depannya.
'Roha' sapanya seraya tersenyum manis.
'saat ini aku tidak bisa mengawasinya lagi secara langsung. Aku belum punya alasan yang tepat untuk mengikutinya'
Myne mengangguk, '*Tidak masalah, aku yang akan mmengawasi mereka secara langsung.'
'baiklah, Hyung. aku akan mencari jalan agar bisa terus mengawasinya selama ia berada di luar rumah nanti'
'baiklah.. terimakasih Roha, kamu memang adik yang terbaik*!' seru Myne dengan senyum lebar, dua jari padatnya jempol teracung kearah roh serigala yang bernafas antusias membuatnya tertawa pelan.
"Baiklah.. aku harus mengawasi tuan Jungkook. Kamu jangan terlalu lama fokus menjadi roh, mereka akan takut melihatmu yang terpejam lama di waktu yang tidak tepat" candanya membuat Roha terkekeh pelan.
'Tenang saja, aku sudah izin untuk buang air besar ke mereka. Baiklah kalau begitu, hati-hati hyung, semua akan baik-baik saja. ada aku dan Morne hyung yang mengawasimu dari atas'
Myne mengangguk, kembali ia tersenyum manis dan dengan tangan melambai ia pun menghilang diikuti dengan Roha yang ikut menghilang kembali ke wujud manusianya. Park Eunwoo kini membuka matanya dengan tubuh terduduk di atas kloset yang masih tertutup.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...