
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"TYRONNNN!!!!"
"AKU AKAN MENEMUKANMU!!"
Sebuah teriakan menggema dari dalam sebuah ruangan gelap. Burung-burung dengan serentak langsung berterbangan menjauh, tangisan bayi terdengar bersamaan dari beberapa rumah di setiap sisi diiringi dengan angin yang berhembus kencang.
"Hahhhh... hahhh..."
Tubuh terlonjak duduk dengan mata yang terbuka lebar. Dengan nafas terengah-engah, Jungkook menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri. Keadaan sekitar yang gelap cukup membuatnya panik sebelum pandangannya tertuju ke seekor kucing yang tengah menatap kearahnya dari atas sebuah kursi.
"aahh.. mimpi apa itu tadi" gumamnya kemudian menghela nafas kasar. Ia raup wajahnya lalu berdiri, "Jam berapa ini? Jimin belum kembali?" tanya entah pada siapa. Kedua tangannya terangkat untuk kemudian merenggangkan otot tubuhnya yang terasa sedikit kaku lalu berjalan menuju jendela. Dibukanya sebelah bagian jendela lalu kepalanya mslongo ke luar, melihat keadaan hutan di malam hari.
'Pergi sekarang kah? tapi di hutan pasti sangat gelap..'
Matanya memandang jauh ke dalam hutan. Keadaan hutan yang terlampau gelap, ditambah ia yang masih buta arah membuatnya ragu untuk bergerak sekarang. Namun ia sudah pergi lebih dari 24 jam, ia sangat yakin semua orang pasti tengah mencemaskan dirinya, mengingat dirinya yang merupakan wakil dan adik dari ketua mereka.
'Apakah mereka sekarang tengah mencariku?'
Pikirnya begitu yakin mereka saat ini sedang mencarinya, setidaknya kakaknya atau teman dekatnya.
Semua pikirannya tentu nyata, di sisi lain di pedalaman hutan menuju kaki gunung bagian selatan terlihat Ian yang tengah berusaha menuruni jurang dengan berpegangan pada batang pohon terdekat dan tongkat mendaki sebagai penahan agar tubunnya tidak tergelincir karena tanah yang licin. Senter ia gigit di antara gigi, membuatnya menyesal tidak membawa senter ikat kepala yang sempat menjadi opsinya saat melakukan packing di rumahnya, saat ini rasanya rahangnya mulai terasa kram dengan liur yang sedaritadi ia tahan agar tidak jatuh menetes dengan begitu jorok.
'oh— sial, ini hari mendaki terburuk dalam hidupku'
Selangkah demi selangkah ia ambil dengan tubuh sedikit berjongkok. Sesekali kepalanya menoleh mengarahnya cahaya senter ke sekitat untuk memastikan keadaan aman dari hewan buas.
'TYRONNNN!!!!'
Ia terdiam. Teriakan menggema terdengar samar di dalam kepalanya dengan angin yang berhembus kencang membuatnya langsung mematung. Bunyi kicauan dan kepakan sayap burung gagak terdengar ramai membuat kepalanya langsung mendongak.
'Apa itu?!'
Kepalanya menoleh ke sana ke mari dengan mata yang sedikit membulat. Keheningan kembali menyelimutinya dalam kegelapan, ia pun menghela nafas pelan mencoba menenangkan diri. "Entahlah, mungkin ada orang lain yang menghilang juga" gumamnya sebelum kembali melangkah. Kakinya hendak melangkah menginjak sebuah batu sebelum matanya membulat.
Brughh..
Kakinya tergelincir dengan tubuh yang langsung berguling ke bawah. Ia terhenti tepat saat tubuhnya menghantam sebuah pohon.
"Akhh.. sial— sakit sekali!" erangnya saat rasa ngilu menyerang setiap sendi tubuhnya. Susah payah ia bangkit duduk dengan ringisan yang terus mengalir keluar dari mulutnya.
'Seharusnya aku meminta Myne membantuku'
Eh—?
Ia terdiam, matanya mengerjap dengan kening mengkerut. "Myne? siapa?" tanyanya pada diri sendiri. Entah bagaimana bisa ia membatin dan menyebut sebuah nama yang sangat asing bahkan bagi lidahnya sendiri setelah menyebutkannya.
...----------------...
"Ini sudah 24 jam dan ketua Jeon masih belum kembali. Apa yang harus kita lakukan?" Soobin bertanya setelah selama 3 jam ia mendapat giliran untuk mengawasi pintu hutan setelah Bambam.
Mingyu hanya diam dengan mata yang terpejam, namun kerutan tercetak dalam di keningnya karena mencoba berpikir keras hingga denyut nyeri di kepala ia abaikan. "Ketua bilang kita harus melapor setelah 24 jam kehilangan Jungkook. Tapi aku merasa itu percuma karena tengah malam seperti ini penjaga pasti tidak akan menghiraukan dan menyuruh kita untuk menunggu hingga besok pagi. Ditambah ketua yang ikut menghilang—"
'f*ck ini semua membuatku stress' batinnya mengumpat.
"Aku akan mencari mereka"
Seseorang membuka suara, membuat 4 pemuda termasuk Mingyu yang kini tengah duduk melingkar di dekat hutan langsung menatap kearahnya.
"Kau gila? Dua orang sudah hilang dan kau juga mau ikutan? jangan membebani ku dengan ikut menghilang, Kim Taehyung!" geramnya dengan tatapan tajam mengarah ke Taehyung yang kini menghela nafas dengan kepala menunduk sejenak.
"Ini semua salahku, aku harus—"
"Saat matahari terbit aku akan melaporkan kehilangan dan Taehyung kau sebagai saksi ikut denganku” ucap Mingyu memotong perkataan Taehyung. Pemuda itu menatap keempat temannya dengan lamat. "Selama aku turun untuk melapor, Aku serahkan pada kalian bertiga untuk berjaga dengan wonho kau sebagai koordinator penggantiku untuk sementara" lanjutnya yang kemudian mendapat respon berupa anggukan dari keempatnya.
"Siap.." jawab Wonho dengan kepala mengangguk pasti.
...----------------...
"Lucifer sudah mengetahui kehadiran Tyron yang terlahir kembali" Morne bergumam, satu tangannya mengepal di depan mulut dengan dahi yang mengkerut. Beberapa detik yang lalu ia dapat mendengar teriakan sang raja iblis dengan begitu jelas.
di sebelahnya, Agis yang baru kembali setelah menyelesaikan urusannya di bumi menganggukkan kepala. "Namun sepertinya dia belum menemukan keberadaannya, sama seperti kita..." sahutnya. Mereka berdiam beberapa detik sebelum kerutan ikut tercetak di dahi mulusnya, "Tapi.. ada satu yang membuatku penasaran dari dulu hingga sekarang" ucapnya lalu menoleh ke arah Morne.
"Tyron.. penguasa bumi. Bagaimana wujud aslinya yang pertama kali? Selama ini dia selalu berwujud seorang wanita, tapi namanya tidak menunjukkan nama seorang wanita" ungkapnya menatap Morne dengan rasa penasaran yang begitu mendalam. "Kau pernah melihatnya? bukankah Myne hanya diberitahu oleh Penjaga sebelumnya tentang semua tanda yang hanya dapat dideteksi oleh mereka?"
Mendengar itu Morne mengangguk, "Sudah 2.000 tahun yang lalu sejak kematian pertama Penguasa Bumi. Wujudnya yang tertera di buku-buku milik penduduk bumi hanya berupa cahaya terang tanpa bentuk. Aku juga sudah pernah bertanya pada raja sebelumnya tentang ini, dan ia mengatakan wujudnya tidak menentu.. ada yang mengatakan dia berwujud manusia berjenis laki-laki, ada yang berjenis perempuan, ada juga yang mengatakan ia berwujud seekor singa." Jelasnya panjang lebar, teringat saat ia masih kecil dan belum mendapatkan takdir untuk memegang kerajaan Bumi selama sang penguasa Bumi yang keras kepala belum mau menduduki takhta bertanya pada raja sebelumnya mengenai wujud asli dari sang penguasa bumi.
"Tapi yang pasti wujud rohnya berupa naga putih dengan 5 tanduk membentuk sebuah mahkota di kepalanya" lanjutnya kemudian, membuat Agis mengangguk pelan.
"Itu artinya tidak menjadi masalah jika ia bereinkarnasi dalam bentuk apapun" ucap Agis yang diangguki oleh pria di sebelahnya.
"Bagaimana dengan Lucifer? Bagaimana kondisi di segitiga bermuda?" Tanya Morne kemudian setelah berdiam diri sejenak.
"Ah ya kebetulan tadi aku mampir kesana. Rantai yang dibuat Tyron masih kokoh namun pintunya sudah sedikit penyok. Tapi aku sudah melapisinya dengan es" jawab Agis.
Kembali Morne mengangguk. Kini matanya tertuju ke sebuah kolam yang berada tepat di dekat kaki mereka. Kolam yang memperlihatkan semua bagian bumi dari atas. Lalu matanya melirik kearah sebuah catatan di dekat kolam tersebut.
"Katakan pada Zeus, besok sudah masuk bulan sabit." ucapnya kemudian yang diangguki oleh wanita di sebelahnya. Ia merenung dengan tangan aktif mengatur pergerakan awan di bumi.
"Gerhana bulan total sudah semakin dekat. Kita hanya bisa berharap pada Myne untuk melakukan tugasnya dengan baik sebelum Lucifer terbebas kembali"
...----------------...
"Maaf kucing, aku tidak menemukan satupun makanan kucing untukmu"
Tutup sebuah guci tanah liat besar kembali tertutup. Jungkook menatap kearah kucing yang duduk berdiam diri di lantai menatap kearahnya sebeluk mendudukkan dirinya di kursi.
"Tapi sepertinya dilihat dari wajahmu itu kau sedang tidak lapar" ucapnya lagi setelah mengamati kucing tersebut. Sebelah tangannya menopang dagu di atas meja.
"Apa? Kau mau menyuruhku mencari tuanmu?"
"Miauw~"
"Hm? Tidak?" tanya saat melihat kepala kucing itu sedikit menggeleng.
Tangannya terulur kearah kucing tersebut, "Aku ingin mencoba mengelusmu.. Kau tidak akan menggigitku kan?"
Ia bangkit berdiri, lalu dengan perlahan ia mendekat dan berjongkok di depan kucing tersebut. "jangan menggigitku ok?" ucapnya. Tangannya terulur lalu dengan sedikit bergetar akhirnya jarinya menyentuh pucuk kepala diantara dua tanduk yang kemarin bercahaya.
"jangan gigit.. bagus" ia bergumam, telapak tangannya berhasil mendarat di antara dua tanduk, di elusnya pelan kulit berbulu panjang yang terasa begitu halus.
"Kucing pintar.. begitu, jangan meng—Aww?!"
Spontan ia menarik tangannya saat sengatan menyerang tangannya, sebuah gigitan berhasil mencomot pinggir telapaknya. Matanya mendelik, "Kenapa menggigitku?!" serunya sedikit membentak.
"Fine! aku tidak mau mengelusmu lagi!" ketusnya kemudiam dengan cepat ia bangkit lalu berjalan menuju kasur. Ia mendudukkan dirinya ke kasur lalu memperhatikan tangannya sendiri, "gigimu tajam juga huh!" gumamnya saat mendapati sebuah goresan di punggung tangan.
"Kenapa mendekatiku?! menjauh dariku!"
Namun yang diperintah tentu tak menurut. Dua pasang tungkai di tubuh bergerak mendekati Jungkook yang tengah duduk bersandar di atas kasur. yang didekati pun tentu langsung memasang posisi waspada dengan sebuah bantal di tangan, ia pasang sebagai tameng di depan dadanya.
"Jujur saja aku ingin sekali memukulmu!" ungkapnya. Namun kucing tersebut tetap mendekat dengan manik biru yang mengerjap sedikit menekuk menyedihkan. Melihat itu Jungkook mendecak, "Wajahmu tidak akan mempengaruhiku"
"Miauw~" ngeongan lembut dengan kepala yang mendusal di lengan membuat Jungkook diam. Ditatapnya lamat kucing yang terus mendusalkan kepala ke lengannya membuat Jungkook menghela nafas pelan.
"Berjanjilah untuk tidak menggigitku lagi"
"Miauw~"
"Ku anggap itu janjimu.."
Tangannya kembali bergerak perlahan untuk kemudian mendarat di belakang kepala kucing lalu diusapnya dengan lembut kepala hingga punggung sebelum terhenti saat tangannya menyentuh sesuatu.
"Apa ini?" tanyanya kemudian menyingkap bulu panjang di sekitar leher. Terlihat sebuah tali berbahan kulit melingkari leher.
Ia tersentak mematung saat kucing tersebut malah menyandarkan tubuh ke atas pahanya. Rasa takut tentu masih ia rasakan sehingga tanpa bisa ditutupi, tubuhnya pun bergetat pelan.
'Sial.. Gimana kalau tiba-tiba dia mencomot perutku?!'
'aku tidak akan menggigitmu'
"Ha?!” Ia berteriak kaget dengan mata membelalak. Sebuah suara terdengar di dalam kepala seolah menjawabnya. Dengan cepat ia merunduk lalu menatap ke arah kucing yang tengah menggesekkan belakang kepala di telapak tangannya.
"Y-ya.. kau tadi berbicara denganku?" Tanyanya dengan tangan menggoyangkan pelan tanduk di kepala kucing tersebut. Kucing itu mendongak, kedua manik biru menatap tepat di manik coklatnya membuat ia terdiam mematung.
”Miauw.." Sahut kucing itu dengan mata mengerjap setelah berdiam sejenak.
Nafas panjang spontan berhembus setelah beberapa detik tertahan tanpa disadari. "Hah.. sepertinya aku mulai berhalusinasi setelah 24 jam bertemu kucing ini" gumamnya diiringi dengan kekehan sarkas.
Teringat akan kalung berbahan kulit yang ia lihat tadi, ia pun kembali merunduk lalu meraba permukaan kalung tersebut. ”Ini kulit rusa asli" gumamnya dengan mata membelalak lalu menoleh ke arah lemari yang tertutup.
"Wah.. Semua yang ada di rumahnya terbuat dari bahan alami yang mahal. Kayu jati.. Kalung kucing dari kulit rusa, mantelnya juga sepertinya dari bulu binatang asli.. dan kucing ini.. tanduknya.."
Kepalanya kembali menunduk dengan tangan kembali memberikan elusan di punggung kucing bertubuh besar tersebut. "Yaa.. tuanmu itu kalau menjual semua barangnya ke kota pasti akan dibayar mahal"
Matanya kemudian tertuju ke satu titik, terdapat motif berbagai jenis bulan di sepanjang punggung kucing tersebut. Motif yang terbentuk dari bulu berwarna abu-abu di tubuh yang terbalut bulu berwarna putih membuatnya terlihat mencolok.
"Sabit, bulan setengah, purnama, gerhana— wahh.. ini asli?"
dirabanya motif tersebut, "Sepertinya ini sengaja dibuat.." gumamnya. Matanya semakin menatap fokus motif-motif tersebut dengan tangan meraba dan menyibak bulu di sepanjang motif. "Tapi warnanya sampai akhir, sepertinya ini memang asli.."
"Sejujurnya kau ini kucing jenis apa? tanduk yang bercahaya, motif bulan, dan— apa ini? motif lagi?"
Pandangannya kini terfokus pada motif yang terletak di bawah telinga kucing tersebut. Motif berupa sebuah kata yang tertulis dari kumpulan bulu berwarna abu-abu.
"Myne" gumamnya setelah berhasil mengeja tiap huruf yang tertulis begitu rapat. Kepalanya yang tadi merunduk kini kembali terangkat, tatapannya kembali bertemu dengan manik biru yang mengerjap menatap kearahnya.
"Namamu Myne?"
Kucing itu mengerjapkan matanya, kemudian kembali merebahkan kepala di atas paha pemuda itu. Jungkook mengangguk, "Jadi namamu Myne.. Ok Myne"
"Nama yang cantik untuk kucing yang cantik" pujinya tanpa sadar akan dirinya yang tidak menyukai kucing, dan tanpa sadar bahwa kucing yang ia puji cantik adalah kucing jantan.
Aishhh.. Bagaimana bisa dia memujiku cantik!?
Disisi lain, Jimin terlihat menggerutu. Ia yang sedaritadi mengawasi tepat di sebelah Jungkook kini merotasikan matanya, "Tidak bisakah dia membedakan mana yang cantik dan mana yang gagah?" ucapnya dengan tangan menyingkap jubah panjang yang membalut tubuh kecilnya. Tudung Jubah ia pakai untuk menutupi rambut abu-abu hingga sebatas bawah matanya.
"Ah sudahlah, lebih baik aku pergi sekarang.."
Satu tangannya terulur lalu bergerak memutar. Sebuah portal terbuka bersamaan dengan tanduk kucing yang bercahaya.
"Apa? Kau mendeteksi ada petir lagi?!"
Ia terkekeh pelan saat mendengar seruan Jungkook, ia pun melangkah memasuki portal sebelum menghilang dari portal yang kembali tertutup dan cahaya di tanduk yang kembali padam.
"Mana? tidak terdengar suara petir pun.." ucap Jungkook bingung setelah beberapa detik menunggu hingga cahaya di tanduk kembali padam. Dilihatnya kucing tersebut yang sudah memejamkan kelopak matanya.
"hahh.." Ia menghela nafas pelan, punggungnya bersandar di dinding kayu dengan kepala mendongak. "Cepatlah pulang Park Jimin, aku harus kembali ke perkemahan.. tega sekali kau menjadikanku baby sitter untuk kucingmu" gumamnya sebelum ikut memejamkan matanya. Tanpa sadar kalau kucing di pangkuan kembali membuka mata dan mendongak menatap ke arahnya.
'Tidurlah.. setelah urusanku selesai aku akan langsung mengantarmu'
'... dan menjagamu..'
Suara itu kembali terdengar di kepalanya, namun rasa kantuk yang semakin menyerang membuatnya tidak sempat untuk berpikir hingga akhirnya ia kembali terlelap setelah mengabaikan suara yang menggema di kepalanya.
...----------------...
"apa maksudmu? Bagaimana bisa itu terjadi?"
Jimin menghela nafasnya, matanya menatap kearah Morne yang tengah menatapnya dari atas kursi singgasana. "Aku pun sendiri merasa bingung, hyung. Tapi kemungkinan memang saat ini dia terbagi menjadi dua wujud.. aku masih mencari tahu lebih lanjut dan akan memastikannya"
"Kau akan kesulitan untuk bisa memperhatikan keduanya secara bersamaan.."
"Minta Roha untuk membantumu, Myne"
Jimin mengangguk, "Baiklah.."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...