MY MARRIAGE

MY MARRIAGE
Dream come true



Beberapa waktu kemarin aku disibukkan dengan beberapa hal, Salah satunya ujian. Untung saja hari ini hari ujian nasional terakhir, dan semuanya hampir usai. Melegakan sekali rasanya. Rasanya semua hal yang aku tahan bertahun-tahun lamanya hilang begitu saja. Meskipun aku gak tahu nilai nya berapa, yang penting semuanya sudah selesai. Urusan nilai itu belakangan.


"Ting"


"Miku, Hari ini ujian mu udah selesai kan? Nanti pulang sekolah bisa mampir ke rumah? Ibu ingin membicarakan sesuatu dengan mu"


"Ibu, setelah semua yang terjadi padaku apa ibu gak penasaran sama kabar aku? Atau setidaknya penasaran dengan ujianku, seperti yang dilakukan seorang ibu pada umumnya?"


Sms dari ibu seakan-akan menjadi tamparan buatku. Seorang ibu saja tidak peduli pada anaknya, apalagi orang lain. Dia yang sudah menjual anaknya pada orang lain, tak merasa bersalah sedikit pun. Dan yang lebih parahnya lagi dia tidak peduli apakah aku baik-baik saja ataupun tidak. Hal ini menyadarkan Ku bahwa didunia ini aku gak boleh bergantung pada orang lain, gak boleh terlalu berharap pada orang lain karena manusia itu mudah berubah.


Akupun berjalan dan terus berjalan, hingga aku berhenti disebuah rumah ber cat putih yang bagus. Halaman nya luas, bahkan pagar nya pun Indah nan kokoh. Ya itu rumah aku sendiri. Entah kenapa aku merasa asing dengan rumahku sendiri.


Akupun membuka pagar itu dan masuk kedalam rumah yang terasa asing itu.


"Miku, kenapa lama sekali ibu sudah menunggumu dari tadi" Tanya ibu


"Maaf bu, tadi jalanan agak macet, ibu mau ngomong apa?"


"Ahh miku ini demi kebaikan kita semua, ibu tahu ini pasti akan berat bagimu tapi ibu harap kamu dapat melakukannya. Ayah suamimu ingin seorang cucu, ibu harap kamu bisa melakukannya miku"


Duarrr rasanya seperti ada benda yang sangat keras menghantam kepalaku. Rasa kecewa dan marah bercampur aduk, bagaimana mungkin ibu meminta hal seperti itu disaat aku saja tidak menganggap itu sebuah pernikahan.


"Gak bisa bu aku gak mau" bantah Ku


"Miku" lirih ibu


"Bu bagaimana bisa aku melakukan sesuatu seperti itu dengan laki-laki yang tidak aku cintai. Pernikahan ini saja aku tidak menganggap nya benar-benar ada. Bagaimana mungkin aku bisa berhubungan intim dengan nya" bantahku


"Ibu tahu Miku, tapi mau bagaimana lagi Kita punya hutang padanya. Jadi mau gak mau kita harus bisa melakukan semua yang dia Minta" jelas ibu


"Bu kalo punya hutang ya tinggal bayar saja kenapa menjualku pada orang lain" bentakku. Amarahku semakin melonjak.


"Pakkkk"


Sebuah tamparan mendarat dipipiku, ini pertama kalinya aku ditampar dan orang yang melakukan itu adalah ibuku sendiri.


Amarahku semakin melonjak sampai rasanya kepalaku akan meledak.


"Aku benci ibu" teriakku


Akupun berlari meninggalkan rumah. Aku terus berlari dan berlari sampai aku berhenti karena Capek. Ditengah napas yang tergesa-gesa air matapun membasahi pipi ini. Aku sudah tidak kuat menahannya sejak tadi. Ditengah hiruk pikuk nya kota aku menangis. Menangis karena merasa tidak adil.


Ternyata aku salah ujian ini belum berakhir, masih banyak rintangan yang belum aku selesaikan. Setelah ujian yang begitu berat datang lagi ujian yang sangat berat. Aku gak tahu lagi harus gimana, semuanya buntu. Aku gak punya tujuan.


Seseorang mengulurkan tangannya, orang itu Hito. Aneh tiap kali merasa seperti ini dia pasti ada disamping aku.


"Ayo berdiri, air mata lo terlalu berharga buat dibuang gitu aja"


Hito mengajakku kesebuah toko es krim. Tapi rasanya disaat seperti ini es krim memang paling cocok. Dia menyodorkan semangkuk es krim warna-warni.


"Gue gak tahu lo suka rasa apa, jadi gue asal pilih aja" tegas Hito


Aku tak menghiraukannya. Aku hanya diam dengan tatapan kosong dengan sembab diwajah.


"Miku lo gakpapa?" Tanya Hito


Kata "gakpapa" yang diucapkan Hito membuat aku tenang. Karena dari semua orang yang gak peduli sama aku, cuma dia yang bilang "gakpapa".


"Sebenarnya dari tadi aku ingin mendengar kata itu, cuma.. cuma gak ada Yang bilang itu. Gak ada yang bilang "Miku gakpapa semuanya pasti berlalu" "


Air mata ini keluar lagi menampakan dirinya yang bening itu.


"Gue gak tahu apa masalah lo tapi yang jelas gue gak mau liat lo nangis di jalan lagi kayak gitu"


"Sekarang lap air mata lo, terus buruan makan es krim nya nanti cair"


"Gue suka es krim coklat"


"Yaudah sana lo pesen sendiri aja, ini buat gue"


Entah kenapa manusia satu ini membuat air mata ku mengering.


"Hahaha becanda kali, sini mau gue habisin es krim nya"


"Habis ini kita pulang ya"


Aku merasa gak adil karena harus menanggung beban itu sendirian.


"Papa lo minta cucu"


"Apa? Cucu?"


"Iya lo mau gimana?"


"Orang tua itu, bisa-bisanya meminta hal seperti itu disaat seperti ini"


Terlihat amarah Hito diwajah nya. Tangan nya mengepal menghantam meja kemudian pergi. Hal itu sangat mengejutkan ku. Aku tak menyangka dia akan semarah ini. Rasa bersalah pun menyelimuti pikiranku. Akupun segera menyusul Hito.


"Hito Hito lo mau kemana?"


"Gue mau kasih dia pelajaran"


"Jangan Hito ini bisa Kita bicarakan baik-baik"


"Lo jangan halangin gue"


"Hito please"


Tiba-tiba saja diseberang jalan aku melihat orang dengan jaket hitam menggunakan masker, menodongkan sebuah pistol. Bidikan nya tepat pada Hito.


"Hitoo awasss"


Aku berlari dengan harapan dapat menyelamatkan Hito. Aku memeluk dirinya dan....


Duarrrr


Peluru itu mengenai punggung Ku. Aku dan Hito terhuyung-huyung ketanah. Dan terjatuh.


"Mi Miku bagaimana ini ada darah. Seseorang tolong panggil ambulance"


"Sa sakit Hito"


"Lo harus bertahan, bentar lagi ambulance datang"


"Hi Hito"


"Gue mohon miku, bertahan lah"


Kulihat kecemasan diwajah Hito. Dia mengguncang-guncang tubuhku, dan menghentikan darah yang keluar dari punggung ku. Dia menangis. Air matanya jatuh mengenai wajahku. Dengan Samar aku mendengar suara ambulance, namun aku sudah tidak tahan lagi. Semuanya gelap.


***


to be continued


thank for reading 💜