MY MARRIAGE

MY MARRIAGE
Isi hati Hito



Setelah kejadian perkelahian itu, Hito pun terpaksa harus dirawat dirumah sakit selama beberapa hari sampai keadaan dia sudah kembali normal. Dan akupun harus bolak-balik ke rumah sakit untuk memastikan keadaan Hito. Biasanya sebelum dan sesudah sekolah aku pergi menjenguk Hito. Sekedar untuk membawa makanan, karena Hito nggak suka makanan rumah sakit. Nggak enak katanya.


Karena orang tua Hito juga sedang sakit jadi gak ada yang ngurusin dia kecuali aku, karena baik dari keluarga Hito ataupun keluarga ku sudah sepakat kalo mereka gak akan ikut campur tangan dalam urusan pernikahan kami, jadi semuanya sudah diserahkan kepada Hito dan juga aku. Jadi terpaksa aku harus merawat Hito.


"Miku, hari ini kamu ada acara nggak?" Tanya Arin


"Emh ada sih emang kenapa?" Jawabku


"Emh tadinya aku mau ngajak kamu main sih, tapi kalo kamu ada acara nggakpapa lain kali aja" ucap Arin


"Maaf ya Arin hari ini aku ada janji penting, aku janji nanti kalo aku ada waktu luang kita maen bareng ya, ok?" Ajak ku


"Ok, tapi kok akhir-akhir ini kayaknya Miku sibuk yaa?" Tanya Arin


"Iya sih aku agak sedikit sibuk, yaudah kalo gitu aku duluan ya Arin" ucap ku pada arin.


Sepulang sekolah akupun langsung menuju rumah sakit tempat Hito dirawat. Tapi sebelum pergi ke rumah sakit, aku pasti beli makanan dulu. Karena hito pasti lagi-lagi gak mau makan makanan rumah sakit.


"Hari ini beli makan apa ya buat Hito?" Gumamku sambil melihat sekeliling.


Tak lama kemudian aku terpikir untuk membeli pecel ayam. Karena hito suka ayam.


"Minumannya apa yaa?" Pikirku


"Es jeruk!"


Setelah membeli makanan akupun langsung menuju kamar Hito.


"Hai, udah laper ya?" Tanya ku pada Hito


"Ia sih laper orang dari tadi pagi cuma makan buah doang" jawab Hito


"Nih aku bawa pecel ayam sama es jeruk" ucapku sambil menyodorkan sebuah keresek


"Gak dibukain nih ceritanya? Tangannya kan sakit" goda Hito


"Manja banget sih " ucapku kesal


"Makan yang banyak ya biar cepet pulang, aku udah capek bolak-balik sini terus" keluhku


"Maaf ya ngerepotin" lirih Hito


"Yaudah makan dulu nanti keburu dingin nggak enak" ucapku


Melihat Hito yang tengah makan pecel ayam dengan pipi yang masih biru rasanya agak sedikit aneh, gimana ya suatu rasa dalam dada tiba-tiba meronta-ronta. Ku tatap lekat-lekat lelaki yang kini sudah jadi suamiku itu. Aneh sekali rasanya masih berstatus anak SMA tapi sudah punya suami. Ya itu adalah kenyataan yang harus kuterima. Karena meskipun mengganggap ini adalah sebuah mimpi, percuma toh semuanya realita semuanya nyata. Jadi sekarang yang aku lakukan hanyalah menjalani, karena aku gak akan pernah tahu kemana hidup dan takdir ini akan membawaku.


"Miku?" Tanya Hito membuyarkan lamunanku


"Ehh i-ya ke-napa?" Jawabku terbata-bata


"Tadi kata dokter, besok aku udah dibolehin pulang. Jadi kamu gak usah kesini lagi nanti" jelas Hito


"Besok yaa? Hari ini gak bisa?" Tanyaku


"Enggak lah orang kata dokternya aja besok, berarti bisanya besok" jelasnya lagi


"Duh tapi aku males kalo besok harus kesini lagi, apa aku nginep disini aja ya? Biar gak usah bolak-balik. Soalnya besok weekend jalanan pasti macet." pikirku


"Emm Hito gini ya, ini bukan apa-apa cuman aku besok males banget kalo harus bolak-balik, gimana kalo hari ini aku nginep disini aja besok kan bisa langsung pulang bareng. Jadi gak perlu bolak-balik" tuturku


Hito hanya diam, sesekali dia melihat jendela dan menatap ku.


"Yaudah deh terserah kamu" balas Hito


"Ok, berarti aku tidur di sofa malam ini" ucapku girang.


Jam ditanganku sudah menunjukkan pukul setengah enam, dan dari sore tadi aku belum makan. Karena terlalu sibuk mengurusi Hito aku sampai lupa belum makan.


"Hito aku keluar bentar dulu ya" ucapku sambil pergi meninggalkan ruangan.


"Enaknya makan apa ya?" Gumamku


Setelah melihat sekitar, dan merogoh kantong, uangku tinggal 50 ribu lagi. Karena tadi sudah beli makan buat Hito ditambah uang buat taksi, jadi ya habis. Orangtua Hito memang memberikan kartu kredit sih, tapi gak enak kalo tiap hari harus mengeluarkan uang. Jadi per hari aku jatah 500 ribu dan hari ini sudah melibihi batas. Belum lagi besok bayar biaya rumah sakit Hito. Jadi aku memutuskan untuk makan bakso Malang yang ada disekitar rumah sakit.


"Pak bakso nya satu yaa, gorengannya agak ditambah ya pak" ucapku


"Wahh kenyang banget, bakso nya berapa pak?" Tanyaku


"20.000 neng" jawab si bapak


Ditengah perjalanan, aku melihat Hito berjalan kearah taman. Akupun mengikuti nya dari belakang. Jalannya masih agak sempoyongan, karena keadaannya masih belum benar-benar pulih.


"Dia mau kemana yaa" gumamku penasaran.


Setelah sampai ditaman, dia pun duduk disebuah bangku yang usang berwarna putih. Aku hanya memperhatikannya dari jauh. Dia hanya duduk sambil melihat sekelilingnya. Akupun mengikuti nya, dan duduk disebelahnya.


"Ngapain?" Tanyaku


"Ehhh nggak ngapa-ngapain, cuma bosen aja dengan suasana didalam" jelas Hito sedikit terkejut.


"Wajar sih, kalo kamu bosen aku juga kalo ada diposisi kamu pasti bakal bosen kok" ucapku


"Kamu belum ganti baju, ganti baju dulu sana" ucap Hito


"Ganti baju pake apa, aku kan gak bawa baju lagi selain baju yang dipake ini" jelas ku


"Didalam ada jaket punyaku pakai aja, kalo pake baju itu nanti kamu kedinginan" ucap Hito


"Yaudah nanti" ucapku


"Kok dinanti-nanti? Nanti masuk angin" ucap Hito


"Aku masih mau nemenin kamu, nanti kalo ada orang yang mukul kamu lagi gimana?" jelasku


"Dasar" ucap Hito sambil tertawa kecil


"Ohh ketawa, kamu ketawa seorang tenohito anak nakal, berandalan, bisa ketawa juga" teriakku girang


"Aku kan juga manusia bukan robot" jawab Hito ketus


"Iya deh iya" godaku


"Tapi emang seburuk itu ya aku dimata semua orang?" Tanya Hito


"Emh, kurang lebih kayak gitu sih. Tapi sekarang aku tahu kalo kamu gak seburuk itu" jawabku


"Sebenarnya aku juga gak mau jadi orang kayak gitu tahu" jelas hito.


"Kenapa?" Tanyaku penasaran


"Emh, karena dari kecil sampai sekarang aku selalu sendirian. Orang tuaku sibuk kerja, dirumah cuma ada bibi. Jadi aku tumbuh kurang kasih sayang, dan itu membuatku jadi seseorang yang tumbuh tanpa mengerti sebuah perasaan. Nah dari situlah aku memutuskan untuk hidup sesuai keinginan ku. Akupun menindas orang-orang yang gak bersalah, semua itu aku lakukan agar aku gak kesepian lagi. Tapi hal itu gak membuat orang tua ku mengerti bahwa aku butuh kasih sayang mereka. Seperti pernikahan ini, awalnya aku menentang keras sampai-sampai aku ngamuk didepan ayah dan ibu. Tapi setelah mengetahui kondisi ayah saat ini, akupun luluh. Dan mengerti bahwa orang tua itu punya cara tersendiri untuk menyayangi anaknya. Makanya sekarang aku sedang belajar mengubah diri menjadi tenohito yang baik. Agar ayah bisa tersenyum melihatku disisa umurnya yang mungkin tinggal sedikit lagi. Aku gak tahu apa yang akan aku lakukan jika aku kehilangan dia. Meski jarang menghabiskan waktu dengannya tapi aku masih belum siap melepas nya" jelas Hito


"Gak papa Hito, aku yakin kamu bisa melalui itu semua karena Hito yang sekarang sudah lebih kuat dari Hito yang dulu. And Now you have home, me" ucapku sambil tersenyum


"Emh thank you" Ucap hito tersenyum


"Masuk yu dingin" ajak hito


Kamipun berjalan menuju kamar hito, sambil bercerita ini itu sesekali kita juga tertawa. Padahal itu bukan hal yang lucu, tapi Karena senang bisa melihat hito tertawa bibir ini pun tak berhenti membentuk lekukan yang ditujukan padanya.


Setelah mendengar perkataanya aku mengerti bahwa hito itu sebenarnya baik. Cuma kesepian lah yang mengubahnya menjadi seperti ini. Karenanya kasih Sayang itu sangat penting dalam sebuah keluarga. Karena keluarga orang pertama yang akan kamu kunjungi ketika kamu sedih, bahagia, bahkan Disaat kamu buntu, gak ada jalan. Tetap saja kamu akan pulang kerumah. Dan akupun sudah bertekad akan menjadikan hito orang yang lebih baik dari sebelumnya. Dan aku akan menjadi rumah dikala dia senang atau Susah.


"Nih jaketnya pake, dingin" Ucap hito sambil memberikan jaketnya


"Ok" ucapku


Karena jaketnya jaket laki-laki, tentu saja kebesaran ketika orang yang pendek seperti ku memakainya.


"Kebesaran banget" ucapku sambil menggerakan tangan jaket itu yang memakan tanganku


"Jelek banget hahahah" ledek hito tertawa


"Yaudah aku gak pake ahh" ucapku


"Jangan nanti masuk angin" larang hito


"Tadi katanya jelek" ucapku


"Enggak kok bagus, Kan kalo kegedean hangatnya berasa" jelas hito


"Iya deh iya" ucapku


Kamipun bermalam dirumah sakit, hito tidur di sofa dan aku di bangsal rumah sakit. Yang jelas hari ini aku sedikit lebih mengenal hito.


🌸🌸🌸


hai readers terimakasih sudah membaca. jangan lupa sertakan komentar juga ya. terimakasih 😊