My Love Journey

My Love Journey
Chapter 28



Udara di kota jakarta pada pagi hari ini cukup dingin lain dari hari-hari sebelumnya, butiran air cukup banyak menetes dari langit yang terlihat mendung. Pepohonan,daun dan jalanan dibuat basah oleh nya, banyak kendaran yang melambatkan laju nya karna jalanan cukup licin. Dan banyak pejalan kaki yang berjalan menjinjit untuk menghindari genangan air sambil memegang payung untuk melindungi tubuh mereka dari rintikan hujan.


Sebuah mobil honda HRV warna putih berplat polisi B 111 NDA sedang terparkir tak jauh dari depan loby rumah sakit dengan mesin mobil yang sedang menyala, dari arah dalam loby rumah sakit terlihat Reza sedang di dorong mengunakan kursi roda oleh suster Riana dan di ikuti Winda di belakangnya yang sedang berjalan sambil membawa tas yang berisi beberapa pakaian Reza selama di rawat.


"Sayang hari ini kita pulang ke rumah." Ucap Winda sambil tersenyum ceria ke arah Reza.


"Iya aku juga mulai jenuh berada di tempat ini." Ucap Reza sambil membalas senyuman Winda.


"Pokok nya sesampainya di rumah aku bakal isi hari-hari mu penuh dengan warna dan cinta, kamu gak bakal bosen dan bete deh." Ucap Winda sambil berjalan di samping kursi ronda Reza yang sedang berjalan santai.


Suster Riana hanya tersenyum simpul melihat tingkah Winda dan Reza yang saling bercanda mesra, tak terasa mereka sudah sampai di depan loby rumah sakit suster Riana memberhentikan kursi roda yang Reza naiki di sisi jalan loby rumah sakit.


"Mobil nya sudah di siapkan nona Winda?." Tanya suster Riana.


"Sudah Tuhh." Ucap Winda sambil berjalan menuju mobil miliknya.


"Ehh mobilnya agak kesinian dikit soal nya gerimis kesian pasiennya." Ucap Suster Riana.


"Oh oke." Ucap Winda.


Lalu Winda mengarahkan mobil ke tempat persis di depan Loby rumah sakit tempat Reza berada. Setelah Winda memepetkan mobil persis di samping Reza, Suster Riana langsung membuka pintu depan sebelah kiri mobil, lalu suster Riana langusng berusaha memapah Reza untuk masuk ke dalam mobil.


"Pelan-pelan sayang." Ucap Winda saat melihat Reza berusaha masuk ke dalam mobil dengan perlahan.


"Aku bisa kok tidak apa-apa." Ucap Reza.


"Yaaa mass pelan-pelan dikit lagi, yaaa yaa nahh okeee sudah." Ucap suster Riana.


Saat Reza sudah berada di dalam mobil Winda langusng memasukkan semua barang-barang Reza ke dalam mobil, setelah selesai Winda langusng menutup pintu depan sebelah kiri mobil setelah itu Winda langsung berjalan menghampiri suster Riana.


"Oke finally game sudah berjalan dengan rapih suster, saya senang dengan seluruh pekerjaan anda hingga detik ini, tidak sia-sia saya membayar anda lebih." Ucap Winda Sambil tersenyum ke arah suster Riana.


"Ya kalau anda senang saya pun senang dan di antara kita saling untung dengan ada nya permainan ini." Ucap suster Riana.


"Yap betul, oh iya anda kapan pergi dari rumah sakit ini?." Tanya Winda.


"Yaa paling anda sudah pergi saya langsung akan berkemas-kemas untuk pulang." Ucap suster Riana.


"Bagus dan saya harap setelah ini anda harus menghilangkan jejak keberadaan anda, agar permainan kita benar banar sempurna." Ucap Winda sambil menatap serius ke arah suster Riana.


"Yah saya mengerti hal itu, tanpa anda bilang saya sudah berencana seperti itu ." Ucap suster Riana.


"Ya sudah sepertinya semua sudah jelas saya mau pamit dulu dengan anda, dan senang bekerja sama dengan anda." Ucap Winda sambil menjabat tangan suster Riana.


"Senang juga bekerjasama dengan anda nona Winda." Ucap suster Riana sambil membalas jabatan tangan Winda.


Setelah sedikit berbincang-bincang dengan suster Riana Winda membalikkan badan nya lalu Winda berjalan menuju ke mobil.


Brrruukkkkk...!!!!


Setelah Winda masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi pengemudi, Reza menatap wajah Winda dengan ekspresi wajah penasaran.


"Kamu ngobrollin apa sama suster tadi kaya nya serius banget?." Tanya Reza.


Di tanya seperti itu Winda hanya tersenyum lalu mengelus pipi Reza dengan penuh kasih sayang.


"Engga tadi aku berterima kasih aja sama suster itu karna sudah membantu kita, dan aku sedikit berterima kasih juga sama rumah sakit ini karna pelayanan nya yang bagus." Ucap Winda.


"Ohh, oh iya aku mau bertanya kita sekarang mau pulang kemana yah jujur aku tak ingat apa-apa tentang rumah dan di mana aku tinggal." Tanya Reza sambil menatap serius ke arah Winda.


Winda hanya tersenyum saat mendengar pertanyaan Reza, Winda memegang tangan Reza dengan lembut. lalu Winda mengecup punggung tangan Reza, setengah itu tangan Reza di genggaman dengan erat oleh Winda.


"Sayang aku akan membawa mu ke suatu tempat dimana kita pernah menjalani sebuah cerita cinta berdua." Ucap Winda sambil tersenyum ke arah Reza.


"cerita cinta berdua??." Tanya Reza.


"Iya antara aku dan kamu." Ucap Winda.


Lalu Winda menatap wajah Reza sangat dalam, sorot mata Winda sangat mengisyaratkan rasa cinta yang amat sangat dalam kepada Reza, dengan perlahan Winda mulai mendekatkan wajah nya ke arah wajah Reza. Reza tampak hanya terdiam bingung melihat Winda yang mulai mendekatkan wajah nya sambil memejamkan kedua mata.


Duapuluh senti.....sepuluh senti.... lima senti...dannnn.


Mmmuuuacchhhhhhh:*


Winda mencium bibir Reza dengan lembut, Reza bisa merasakan hembusan nafas yang keluar dari lubang hidung Winda. Reza hanya terdiam kelu tak mampu berbuat apapun saat mendapat ciuman hangat dari Winda, Reza tidak menyambut dan membalas ciuman dari Winda. Winda bagaikan sedang mencium sebuah patung pajangan pakaian, sekitar tiga menit Winda mencium bibir Reza dengan lembut lalu Winda mulai menarik wajah nya kembali. Winda tampak tersipu malu sambil menatap wajah Reza.


"Kamu mencium ku?." Tanya Reza dengan rasa bingung setelah apa yang telah ia alami tadi.


"Iya itu ciuman tanda cinta dari ku Zaa." Ucap Winda sambil tersenyum.


Hati Winda saat ini sangat merasa senang, karna Winda pertamakalinya berhasil berciuman dengan Reza. Lalu Winda memalingkan pandangan nya ke arah depan lalu Winda menaikkan persneling mobil, kemudian di ijak nya pedal Gas mobil secara perlahan lalu mobil yang mereka ber dua naiki mulai berjalan pelan meninggalkan area rumah sakit.


"Reza aku sangat mencintaimu sangat, aku melihat suatu sosok di dalam diri mu yang dulu pernah hadir dalam diri ku. dan kini hadir mu telah mengisi bagian hati ku yang pernah hilang, Levaa maaf jika cara ku seperti ini tapi tak hanya diri mu yang mencintai Reza aku pun juga mencintai diri nya dan aku berhak juga mendapatkan kebahagiaan yang seperti apa yang engkau dapatkan." Ucap Winda di dalam hati sambil menatap lurus ke arah jalan raya.


--- ooo ---


Di salah satu rumah yang terlihat cukup sederhana yang berada di daerah pemukiman kampung dengan jarak antar satu rumah dengan rumah lain saling berhimpitan yang berlokasi di daerah jakarta barat, Terlihat Sinta sedang berada di dalam kamar yang cukup tertata rapih dan di penuhi lukisan kaligrafi ayat suci menghiasi dinding kamar yang berukuran tiga kali tiga meter.


Sinta saat ini sedang berdiri di depan cermin sambil memakai hijab yang selalu ia kenakan kapan pun, Sinta terlihat sangat rapih dengan memakai style baju muslimah dan di tunjang make up yang tidak terlalu tebal membuat ia sangat cantik di pandang mata.


Saat Sinta sedang merapihkan hijap yang ia kenakan tiba-tiba seseorang mengetuk pintu kamar Sinta dari arah luar.


Tokkk....tooookkk...ttoookkkk


"Sinta buka pintunya naa." Ucap seseorang di balik pintu yang tenyata adalah ibunda Sinta.


"Iya bunda sebentar." Teriak Sinta sambil berjalan menuju ke arah pintu.


Kkkreekk...tttreettttttttt


Saat Sinta membuka pintu kamarnya di dapati ibunda Sinta sedang berdiri di hadapannya sambil memandang Sinta dari atas hingga ke bawah.


"Iya bunda ada apa?." Tanya Sinta.


"Kamu mau kemana naak rapih bener?." Tanya ibunda Sinta sambil menatap ke sekujur tubuh anak nya.


"Biasa aja kali bunda natapnya, aku mau ke rumah sakit jenguk temen aku." Ucap Sinta.


"Jenguk temen bukan nya belum lama kamu baru aja jenguk temen?." Tanya ibunda Sinta.


"Iyah tapi aku waktu itu belum sempet ketemu orang nya maka itu aku mau jenguk lagi." Ucap Sinta.


"Ohh Ya Sudah tidak apa-apa tapi pulang nya jangan sampai larut malam yah." Ucap ibunda Sinta.


"Iyah bunda." Ucap Sinta.


"Oh iya jadi lupa sebelum pergi temui dulu tuh si rio udah 3 jam loh dia nunggu kamu di ruang tamu." Ucap ibunda Sinta.


"Huuhhh! tuhhh anak masih nunggu in juga bunn?." Tanya Sinta dengan nada suara kesal.


"Iya, udah buru gih ketemu in Rio, kesian tau dia selama ini ngejar-ngejar kamu."


"Ahhh bunda aja yang ketemu sama dia Sinta gak mau, dan bilang aja sama Rio Bun Sinta lagi tidur."


"Ehh jangan bohong gitu ah gak bagus ."


"Gak apa-apa sekali sekali mah yaudah bilang gitu aja yah mah." Ucap Sinta sambil masuk kembali ke dalam kamar nya.


Bbbbrruuukkk.....


Sinta menutup pintu depan perlahan meninggal kan ibuna nya seorang diri di luar kamar.


"Ihhhh si Sinta yah kok gitu." Ucap ibunda Sinta lalu melangkah kembali menuju ke ruang tamu."


Sesampainya di ruangan tamu ibunda Sinta duduk di seberang seorang pria berusia 25 tahun, ber tubuh agak tinggi berbadan gempal berambut agak keriting dan gondrong, mengunakan kacamata. pria tersebut tampak duduk santai berharap Sinta mau bertemu dengan diri nya.


"Nak Rio Sinta nya sperti nya tidak mau bertemu dengan nak Rio, takut nya Rio bosan menunggu anak ibu Rio lebih baik pulang dulu saja." Ucap ibunda Sinta ke Rio.


"Ohh tidak apa-apa buu saya akan menunggu Sinta hingga menjelang waktu maghrib, jika tidak bertemu saya akan kembali lagi besok." Ucap Rio.


"Ya sudah kalau begitu tetapi ibu tinggal nyuci dulu yah, ibu tidak bisa nemenin kamu ngobrol soal nya ibu banyak kerjaaan." Ucap ibunda Sinta.


"Tidak apa-apa kok buu." Ucap Rio.


Lalu ibunda Sinta berdiri setelah itu berjalan menuju kamar mandi meninggal kan Rio di ruang tamu seorang diri.


Di balik pintu Sinta sedang menyender kan tubuhnya sambil tampak sedang memikirkan sesuatu.


"Duhh si alay kenapa datang mulu sihh."


"Gak cape apah udah gua bilang gua gak mau sama dia hemmm atau jangan-jangan dia budek?."


"Hemm mana udah rapih lagi, duhhh gua harus cepet-cepet pergi biar gak terlalu ke sorean sampai di rumah sakit nya. Tapi gimana yah lewat depan ada si alay eee." Ucap Sinta.


Sinta tampak mengamati ke sekeliling ruang kamar nya, dan saat Sinta melihat ke arah jendela kamar timbul lah sebelah ide di benak fikirran Sinta.


"Gua tau harus lewat mana." Ucap Sinta.


Sinta berjalan menuju meja belajar yang berada di sebrang tempat tidur lalu mengambil tas yang berada di atas meja belajar, setelah itu Sinta mengarah ke sisi jendela kamar dan membuka nya.


"Huhh jadi kaya maling di rumah sendiri gini." Ucap Sinta sambil berusaha memanjat jendela kamar setelah melempar tas ke luar terlebih dahulu.


"Bismillah." Ucap Sinta sambil melompat ke arah luar jendela.


Dduukkk..tttrreek


"Duhh akhir nya keluar juga." Ucap Sinta sambil sedikit merapihkan pakaian muslimah yang iya kenakan.


Lalu Sinta mengambil tas yang tergeletak di jalanan dekat diri nya setelah itu Sinta membalikkan badan untuk menutup kembali jendela kamarnya.


"Byeee byeee alayy gua pergi dulu yah haha." Ucap Sinta lalu berjalan pelan meninggalkan rumah nya melwati jalan belakang kampung.


--- ooo ---


Cuaca di kota singapura pada siang hari ini cukup cerah, beda dengan hal nya di jakarta yang dari tadi pagi di guyur hujan dengan intensitas sedang. Suasana kota singapura terlihat cukup padat dan ramai dengan hilir mudik nya kendaran dan pejalan kaki melintasi jalanan kota singapura, seunit mobil The Mercedes-Benz S-Class hitam ber plat no singapura SBA 1234 A sedang terparkir di sisi jalan sebuah penginapan. di dalam mobil tersebut Leva terlihat sedang duduk di kursi belakang mobil sambil melihat ke arah penginapan yang berada persis di samping nya, Lalu Leva terlihat mengambil smartphone dari saku jaket berwarna pink yang iya kenakan setelah itu Leva tampak sedang menelfon seseorang.


Ttttuuutttt....ttttuuuttt...tttuuutttt


"Halo Diana saya sudah sampai di depan penginapan anda." Ucap Leva.


…..


"Oh.. oke-oke saya tunggu di depan." Ucap Leva singkat, setelah menelfon Leva menaruh kembali smartphone milik nya ke dalam saku jaket.


….


Berbeda dengan Leva yang saat ini sedang duduk santai di kursi belakang mobil sambil menunggu Diana keluar, di dalam penginapan terlihat Diana sedang memakai sepatu dengan tergesa-gesa.


"Duhhh Gara-gara tidurnya kemaleman jadi bangunnya kesiangan deh." Grutu Diana sambil memakai sepatu.


"Daahh selesai tinggal ke mobil deh." Ucap Diana.


Lalu Diana membalikkan badannya dan melangkah menuju ke arah tempat tidur untuk mengambil satu koper ukuran sedang yang iya sadarkan di tepi tempat tidur, setelah itu Diana melangkah kan kaki nya kembali menuju ke pintu ruangan kamar sambil menyeret koper.


"Sudah waktunya untuk pulang ke jakarta, bye bye kamar next time gua balik lagi tapi dalam rangka jalan-jalan hihi amin dah." Ucap Diana sambil menatap ke sekeliling arah ruangan kamar.


Setelah itu Diana membalikkan nya badan lalu membuka pintu kamar dengan perlahan dan melangkahkan kaki nya menuju keluar kamar dan menutup nya kembali.


"Hemmm si Diana lama banget sih?." Ucap Leva sambil melihat ke arah penginapan.


Tak lama kemudian Diana muncul dari dalam penginapan lalu berjalan menghampiri mobil sambil menyeret koper di tangan kiri nya.


"Maaf yah Mbak saya lama keluar nya." Ucap Diana sambil menatap wajah Leva yang berada di dalam mobil.


"Ya Sudah, buruan masuk ke dalam mobil pesawat kita akan take off 30 menit lagi." Ucap Leva.


"Baik Mbak."


Diana berjalan menuju ke belakang mobil untuk menaruh koper ke dalam bagasi, setelah itu Diana masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi bagian belakang bersebelahan dengan Leva. Mobil pun mulai bergerak dengan pelan melintasi jalan kota singapura yang cukup padat menuju ke airport.


--- ooo ---


Singapore Changi Airport adalah bandara internasional yang melayani Singapura. Bandara ini terletak di daerah Changi di bagian ujung timur pulau Singapura dan merupakan salah satu fasilitas penerbangan terbaik di Asia dan dunia.


Setelah dua puluh menit mobil yang Leva dan Diana naiki menembus keramaian jalan kota singapura melalui jalanan bebas hambatan, akhirnya mereka sampai di singapore changi Airport. mobil pun berhenti di depan pintu masuk terminal keberangkatan, Leva dan Diana langsung turun dari mobil dan mengambil koper mereka masing masing di bagasi.


"Thank you for delivering me and good job." Ucap Leva kepada supir pribadi perusahan.


" yor are welcome miss Boss." Ucap supir dengan nada penuh kehormatan kepala Leva.


Setelah itu Leva membalikkan badan dan berjalan mendekati Diana yang sedang berdiri sambil memegang koper milik nya.


"Ayo Diana tujuh menit lagi pesawat kita akan take off." Ucap Leva sambil melangkah masuk ke dalam terminal keberangkatan.


"Oke Mbak duluan." Ucap Diana sambil berjalan mengikuti Leva dari arah belakang.


Setelah menujukkan tiket pesawat yang berada di layar smartphone milik nya kepada petugas bandara dan sedikit pengecekan keimigrasian, Leva dan Diana berjalan kembali untuk menaruh koper milik mereka setelah itu melangkah masuk menuju ke dalam pesawat.


--- ooo ---


Saat ini Sinta sedang berada di dalam angkot berwarna biru muda jurusan rumah sakit tempat Reza di rawat, setelah beberapa kali ngetem angkot pun kembali berjalan menyusuri jalan ibu kota dengan perlahan.


"Bang Kanan bang, Stop di sinih." Ucap Sinta sambil mengetuk kaca jendela angkot.


Mendengar hal itu supir angkot pun menepi kan angkot nya di sisi trotoar jalan, lalu Sinta pun turun dar angkot dengan berhati-hati.


"Kalo mau turun kiri neng bukannye kanan ada-ada aje." Ucap supir angkot.


"Haha ya elah bang biar beda aja kiri mulu bosen tau, Nih ongkos nya." Ucap Sinta sambil memberikan uang pecahan lima ribuan.


"Haha si neng bisa aje, untung lu yak cakep kalo gak gue bawa balik lu." Ucap sopir angkot.


"Ihh ogah bang hii… hihi" Ucap Sinta sambil membalikkan badan dan berjalan menyusuri trotoar.


Setelah Sinta pergi angkot yang tadi ia naiki berjalan kembali sesuai arah trayek jurusannya.


"Tinggal naik kopaja sampe deh." Ucap Sinta.


"Kali ini gua harus bisa bertemu dengan Reza yaa harus." Sambung Sinta.


Sinta berjalan sendiri melintasi trotoar jalan, butuh waktu Sekitar tiga belas menit berjalan kaki untuk menuju halte bus yang mengarah ke rumah sakit. Sinta melewati sebidang taman kota yang cukup luas dan di tumbuhhi berbagai macam pepohonan, Sinta sudah biasa melewati daerah ini jika ingin pergi menuju ke rumah sakit. Saat Sinta sedang berjalan santai menyusuri trotoar Tiba-tiba muncul lah dua orang pereman dari arah taman dengan penampilan khas preman jalanan bertindik bertato dll, tetapi yang membedakan mereka berdua dari gaya rambut, yang satu berambut gondrong dan yang satu lagi tidak berambut alias botak. kedua orang preman itu berjalan mengikuti Sinta dari arah belakang dengan langkah pelan.


"Mangsa bagus nih." Ucap Salah satu Preman berambut gondrong sambil berbisik kepada teman di sebelah nya.


"Iya nih." Ucap preman berkepala plontos.


"Sikat yuk cewek ini lumayan kali aja dapet sesuatu buat mabok kita." Ucap preman berambut gondrong.


"Yoiii gue beraksi duluan deh." Ucap preman berkepala plontos.


Preman berkepala plontos berjalan mengarah ke samping tubuh Sinta dengan mengendap-ngendap, Sinta masih berjalan santai tak menyadari ada bahaya yang sedang mengikuti diri nya dari arah belakang.


"Untungnya abis ujan jadi jalan adem behh ga kaya kemarin kemarin panas betul rasa nya." Ucap Sinta.


Dari arah belakang preman yang berkepala botak berjalan tepat di belakang Sinta, Dengan gerakan cepat preman itu langsung menerkam tubuh Sinta dari arah belakang sambil mendekap mulut Sinta dengan kuat.


"AAAASSEEEEEEEGGHHAAAAA." Teriak Sinta tak karuan sambil berusaha memberontak.


Sinta berusaha berteriak sekencang-kencang nya namun suara Sinta tak begitu terdengar karna mulut nya di dekap dengan kuat, Tubuh Sinta di seret dengan paksa oleh kedua preman tersebut menuju ke celah semak-semak taman.


--- ooo ---


BBRRUUMMMMM!! BBBRRUUMM.


Seunit Motor Ducati Superbike 1199 Panigle ABS berwarna merah sedang berjalan cepat meliak liuk melintasi jalan ibukota, motor tersebut melesat melewati mobil dan motor yang berada di sekitarnya. Saat motor tersebut melintasi pinggiran sebidang taman kota dan pengemudi motor tersebut sedikit menengok ke arah samping, pengemudi motor sport tersebut sekilas melihat seorang wanita yang sedang di dekap dan di seret paksa ke arah semak-semak taman.


"Ehhh tadi perasaan gua liat cewek lagi di bekep paksa deh."


"Ehh iya iya ga Salah liat gua, duhh kaya nya tuh cewe lagi dalam bahaya deh."


"Heemmm gua harus tolongin dia."


Lalu pengemudi motor sport tersebut melambatkan laju kendaraan nya, setelah sedikit usaha untuk memutar balik kan motor pengendara itu berjalan kembali melawan arah jalan untuk menolong wanita tersebut yang adalah Sinta.


--- ooo ---


"EehhhhEEHH EEHHHHEEEEhhh!!." Sinta berusaha berteriak sekencang mungkin namun karena dekapan preman cukup kencang membuat suaranya kurang jelas.


Tubuh Sinta berhasil di tarik paksa oleh kedua preman hingga masuk ke celah semak-semak.


"Hehh dieeem !!! brisikk..brisikk kalo gak gue bunuh lo!!." Ucap preman berkepala plontos sambil menodongkan pisau ke arah leher Sinta.


"Ehhh lo ambil tas nie cewe." Sambung preman berkepala plontos.


Lalu preman berambut gondrong merebut paksa Tas yang di bawa Sinta.


"Hahaha coba kita lihat apa aja isi nya." Ucap preman berambut gondrong sambil membuka tas milik Sinta.


"Wedehh hp nya bagus nih Takkk, mahal nih kalo kita jual dan ee yaa lumayan juga nih cewe duit nya." Ucap preman berambut gondrong sambil memegang handphone dan dompet milik Sinta.


Sinta hanya terdiam pasrah dalam dekap pan preman melihat tas nya di acak-acak.


"Wedewww pesta nieee brayy malem ini." Ucap preman berkepala plontos sambil mendekap tubuh Sinta.


"Yooyoy broo kita pess AAAEGGHHHHH." Ucap preman berambut gondrong itu terpotong dan tiba-tiba tubuh nya terpelanting ke tanah.


Sinta dan preman berkepala plontos sama-sama terkejut melihat hal itu, terlihat seseorang memakai jaket kulit berwarna hitam dan mengenakan helm sedang berdiri memasang posisi kuda-kuda sempurna dan siap untuk bertarung.


"Wooy siapa loee hehh, Mau jadi pahlawan kesiangan!! Gak usah ikut campur deehh!!." Teriak preman berkepala plontos.


"Aahh!." Ucap Sinta kesakitan karna leher nya terlalu di dekap kencang.


Preman berambut gondrong bangkit kembali setelah tersungkur ke tanah sambil menahan sakit di area punggung karna tendangan yang cukup kuat ia terima.


"Kalo cari duit yang halal dong dan jangan beraninya rampok perempuan itu tadanya kalian berdua prampok LEMAHH!!."


"Bacotttt loe anjing heh, nantangin kita!." Ucap preman berkepala plontos.


"Hahaha siapa yang nantangin gua cuma bilang lu berdua perampok lemah cemen cupu yang berani nya sama wanita!!."


"Aaaaahhhh banyak cincong luu kkkyaaaa." Teriak preman berambut gondrong sambil berlari ke arah pria berjaket hitam.


Preman itu berlari sambil berusaha memukul pria berjaket hitam, namun sayang usaha yang di lakukan preman tersebut kurang gesit. pria berjaket hitam itu menghindar dari pukulan, lalu pria berjaket hitam menarik baju bagian punggung preman, lalu pria itu memukul bagian pipi hingga membuat Preman tersebut terhempas ke tanah dan tak sarkan diri.


"Lepasin tuh cewe atau lu mau gua hajar kaya temen lu!!." Ucap pria berjaket hitam.


"Ehhh iya iya." Ucap preman berkepala plontos.


Dengan ekspresi wajah sedikit ketakutan preman itu melepaskan Dekapan nya ke Sinta lalu berdiri dan berjalan menghampiri teman nya yang tersungkur ke tanah.


"Ehh bangun..bangun.." Ucap preman berkepala plontos sambil menggoyang goyangkan wajah teman nya yang tak sadarkan diri dengan luka pukulan berbekas di pipi nya.


Sinta terlihat hanya termenung melihat kejadian yang ada di depannya.


"Temen lu pingsan, sekarang lu bawa dia jauh jauh dari sinih dan awas gua liat lu pada ngerampok lagi gak segan segan buat kalian lebih parah lagi!!." Bentak pria tersebut.


Lalu pria berjaket hitam itu langsung berjalan menghampiri Sinta yang sedang duduk di tanah sambil merapihkan jilbab yang ia kenakan.


"Kamu gak apa-apa?." Tanya pria berjaket hitam sambil mengambil tas milik Sinta yang tergeletak di tanah.


"Ehh iya aku gak apa-apa." Ucap Sinta.


"Hemmmm lain kali kalo jalan jangan sendiri an yah bahaya kamu tuh perempuan rentan terkena kejahatan dan pelecehan." Ucap pria berjaket hitam sambil sedikit menepuk bahu Sinta lalu menyerahkan tas kepada Sinta.


Sinta terlihat memperhatikan pria tersebut dari ujung kepala hingga kaki, namun Sinta tidak bisa melihat wajah pria tersebut di karnakan pria itu masih mengunakan helm full face.


"Sebelumnya terimakasih yah kamu udah nolongin saya, kalo kamu gak ada pasti saya udah di rampok sama preman preman itu." Ucap Sinta.


"Iya terimakasih kembali." Ucap pria tersebut.


"Hemm kalo boleh buka helm mu aku ingin melihat wajah mu." Ucap Sinta.


"Hemm apa kamu tak ingat dengan suara ku??." Tanya pria tersebut.


Sinta hanya menjawab dengan gelengan kepala.


"Hehe dasar betina pikun." Ucap pria berjaket hitam, lalu pria itu membuka helm yang iya kenakan dengan perlahan.


"Kamuuuuu???." Ucap Sinta dengan terkejut sambil menujuk ke arah wajah pria yang ada di hadapannya.


Sinta sangat terkejut saat melihat wajah pria yang di depan nya yang ternyata itu adalah Boski.


"Hahaha kenapa kaget begitu santai aja kali liat nya, sungguh kebetulan yah kita bertemu lagi di tempat ini." Ucap Boski sambil menatap wajah Sinta.


"Ehhh iiyaa." Ucap Sinta sambil tersenyum.


"Kenapa kamu gak pernah telfon aku?." Tanya Boski.


"Ehh eee maaf kartu nama yang kamu berikan hilang jadi aku tak bisa menghubungimu." Ucap Sinta.


"Hemm pantas saja, ya sudah kamu bangun." Ucap Boski.


Lalu Sinta berdiri menghadap ke arah Boski sambil merapihkan pakaian nya yang sedikit berantakan.


"Kamu mau pergi kemana emang nya?." Tanya Boski.


"Hemm sebenernya aku mau jenguk temen yang lagi di rawat di rumah sakit." Ucap Sinta.


"Oh jauh gak tempat nya?." Ucap Boski.


"Yaa lumayan sih tinggal sekali naik kopaja lagi." Ucap Sinta.


"Oh kalau seperti itu izin kan aku mengatar mu yah?." Tanya Boski sambil tersenyum ke arah Sinta.


"Oh tidak usah gak apa-apa aku bisa jalan sendiri kok tinggal sekali naik kopaja." Ucap Sinta.


"Aku tak keberatan kok." Ucap Boski sambil tersenyum.


"Sudahh tidak apa-apa aku jalan sendiri aja." Ucap Sinta lalu berjalan melewati boski.


Saat Sinta berjalan menuju pintu keluar taman tiba-tiba tangan nya di ganteng paksa oleh Boski hingga membuat ia terkejut dan gerak langkah jalan nya menjadi terburu-buru.


"Sudah pokok nya kamu aku antar, aku gak mau spesies betina kaya kamu di ganggu pria nakal di luaran sana setelah kejadian ini." Ucap Boski sambil manggandeng paksa tangan Sinta.


"Ehhh pelan-pelan." Protes Sinta sambil mengikuti langkah Boski.


Tak lama kemudian Sinta Berdiri di depan motor sport yang Boski kendari, tampak raut wajah sebal terlukis di wajah Sinta karena Boski terlalu memaksa agar Sinta di antar oleh Boski.


"Nihhh pake helm nya. Ucap Boski sambil menyerahkan helm ke tangan Sinta.


Ekspresi wajah Sinta masih terdiam cemberut ke Boski.


"AAgghhh lama." Ucap Boski lalu memakai kan helm ke kepala Sinta.


Sinta hanya terdiam saat Boski memakaikan helm ke kepalanya, saat Boski memakaikan helm ada perasaan aneh di hati Sinta saat ini rasakan.


"Nih orang kaya nya perhatian banget sama cewe." Ucap Sinta didalam hati.


"Hehh ayoo buruan jadi bengong gitu." Ucap Boski memecah lamunan Sinta.


"Ehh iya." Ucap Sinta.


"Hati-hati jok belakang nya agak tinggi dan gak ada penahan nya." Ucap Boski.


"Iya." Ucap Sinta sambil berusaha naik ke atas motor.


BBBRRRRRUUMMM!! BBBRUMM BBRUMM.


Setelah Sinta sudah duduk di jok belakang dan mesin motor sudah di nyalakan, Boski pun mulai menjalankan motor nya secara perlahan meninggalkan area taman tempat Sinta nyaris dirampok oleh dua orang preman.


BRUUMMMMM BRUMMMMM.


Boski mulai mencepat kan laju motor yang iya kendari dan meliak liuk melwati deretan motor yang ada di depannya.


"Pelan pelan dongg gua belom mau mati nihh!!." Ucap Sinta sambil menepuk pundak Boski.


"Haha gak bakal." Ucap Boski.


"Ehhh gila lu nanti gua jatoh." Protes Sinta.


"Kalo gak mau jatoh peluk punggung gua." Ucap Boski sambil tersenyum jahil.


"Ihhh ogah banget, dan kita bukan muhrim." Ucap Sinta.


"Ya udah kalo mau jatuh mah." Ucap Boski.


Lalu Boski mulai menambah kecepatan laju motor nya secara bertahap, di belakang nya Sinta terlihat memejamkan mata menahan hembusan angin yang menerpa wajah nya. Merasa Boski makin menambah kecepatan laju motor nya Reflek Sinta memeluk punggung Boski dengan erat Sambil merangkul kan kedua tangan nya ke perut.


"Haha nah gitu dong." Ledek Boski.


"Ihhh modus." Ucap Sinta.


"gak apa apa yang penting bisa di peluk hehe." Ucap Boski.


"Ihhh reseee." Protes Sinta sambil menggoyang goyangkan tubuh Boski.


"Begini yah rasa nya meluk cowo." Ucap Sinta didalam hati.


Sinta tampak tersenyum di kursi belakang, ini adalah pengalaman pertama kali bagi Sinta pergi berboncengan dengan seorang pria yang bukan mahram nya dan untuk pertama kalinya juga Sinta memeluk tubuh pria yang bukan mahram nya.


https://soundcloud.com/gunawanwibisana/hivi\-mata\-ke\-hati\-live\-sounds


HiVi - Mata ke Hati


Tak pernahku rasakan cinta


Begitu hebatnya sebelumku kenal


Kamu duniaku kelabu dan kau


Datang membawakan cinta yang tlah


Lama kunanti


Oh kasihku kau membuat cinta


Jatuh dari mata dan turun ke hati


Tawamu buat aku tersenyum lagi


Oh kasihku kau membuat dunia


Indah dijalani kuyakini hati


Kau paling berarti


Hanya kamu satu-satunya yang ada


Dihati andai saja kita berdua ber-


Sama selamanya dan kau datang


Membawakan cinta yang tlah


Lama kunanti


Oh kasihku kau membuat cinta


Jatuh dari mata dan turun ke hati


Tawamu buat aku tersenyum lagi


Oh kasihku kau membuat dunia


Indah dijalani kuyakini hati


Kau paling berarti​


--- ooo ---


BBBRRUMMM BBBREMMM BBRUMM!!.


Motor sport Ducati yang Boski kenadrai sedang berhenti di depan area rumah sakit, Boski terlihat sedang melihat-lihat sekeliling area rumah sakit ekspresi wajah Boski tampak sperti mengenali tempat ini dan seolah-olah iya pernah menginjakkan kaki di dalam rumah sakit itu.


"Sinta ini rumah sakit tempat teman kamu di rawat?." Tanya Boski sambil menengok ke arah belakang.


"Iya." Tanya Sinta.


"Sepertinya beberapa bulan yang lalu aku pernah ke sini deh nganter temen nya temen aku pas abis kecelakaan." Ucap Boski.


"Iya kah??, yaudah kita masuk kedalam." Ucap Sinta.


Lalu Boski mengarah kan motor nya menuju ke dalam area rumahsakit, setelah mengambil tiket parkir Boski memarkir kan motor nya di area parkir yang berada di samping Gedung.


"Teman kamu di rawat, di ruang apa?." Tanya Boski sambil berjalan beriringan dengan Sinta menyusuri koridor rumah sakit.


"Di vafiliun mawar." Jawab Sinta.


Setelah beberapa menit mereka berjalan menuju area vafiliun tempat Reza di rawat, Sinta dan Boski akhirnya sampai di depan pintu area masuk vafiliun mawar.


KKKRREKKKKKK!!


Sinta Dan Boski masuk kedalam area vafiliun lalu berjalan menuju ruang perawat yang berada tak jauh dari posisi mereka saat ini.


"Permisi sus mau nanya jam besuk pasien masih berpa jam lagi?" Tanya Sinta.


"Oh untuk jam besuk pasien tinggal tiga puluh menit lagi mbak, memang mbak nya mau jenguk pasien atas nama siapa?." Ucap Suster.


"Saya mau jenguk pasien atas Nama Reza genta Veno di rawat pada ruang VVIP 1 tapi sih terakhir saya ke sini kata nya sudah di pindahkan ke ruang observasi di sebelahnya." Ucap Sinta.


"Sebentar yah." Ucap suster sambil membuka buku agenda data pasien.


Ekspresi wajah Boski tampak seperti seperti memikirkan sesuatu Saat Sinta menyebut nama Reza.


"Maaf Mbak pasien Atas nama Reza Genta Veno Sudah pulang ke rumah tadi pagi." Ucap suster.


Mendengar perkataan suster Sinta sangat terkejut dan tidak mempercayai perkataan yang suster itu ucapkan.


"Hahhhh??!, pulang sus." Ucap Sinta terheran heran mengetahui Reza sudah pulang dari rumah sakit.


"Iya." Ucap singkat suster.


"Tapi bukan nya Reza itu masih dalam kondisi tidak sadarkan diri dan kondisi nya belum stabil?." Tanya Sinta.


"Menurut catatan data mendis yang saya pegang kondisi pasien sudah membaik dan dapat di izin kan pulang." Ucap Suster.


Sinta sangat bingung dengan kondisi yang sedang iya alami, banyak pertanyaan dalam diri nya mengenai pemulihan kondisi Reza yang menurut nya tak wajar dan kenapa Reza bisa pulang tampa sepengetahuan diri nya bahkan terutama Leva yang sebagai kekasih nya.


"Teman kamu si Reza, Reza itu ini bukan orang nya?." Tanya Boski sambil menujukkan Layar smartphone milik nya yang terdapat foto Reza.


Sinta memperhatikan layar smartphone milik Boski yang terdapat foto Reza.


"Iya ini Reza teman aku." Ucap Sinta.


"Sus kira-kira si Reza ini pulang jam berapa yah?." Tanya Boski.


"Wah untuk pulang nya jam berapa saya kurang tau mas soal nya saya sift tugas siang." Ucap suster.


"Aku tinggal sebentar yah mau nelfon temen aku dulu." Ucap Sinta sambil berjalan meninggalkan Boski.


"Iya." Jawab Boski.


--- ooo ---


*Selamat datang para penumpang di bandara Internasional sukarno hatta terminal kedatangan Pintu 1 B rute penerbangan singapura jakarta


Suasana di bandara Internasional sukarno hatta pada hari ini cukup ramai dengan penumpang yang akan pergi dan yang baru datang, di area terminal kedatangan terlihat Leva dan Diana sedang berjalan santai sambil menyeret koper yang mereka bawa masing masing melewati orang orang yang berada di sekitar mereka.


"Hoaahhhhhmmm akhirnya sampai juga." Ucap Diana sambil menutup mulut dengan telapak tangannya.


"Oh iya Diana kamu abis ini mau langsung pulang?." Tanya Leva.


"rencana nya sih gitu, emang nya kenapa mbak?." Ucap Diana.


"Jadi gini saya kan abis ini mau langsung ke rumah sakit, jadi saya ingin minta tolong sama anda, tolong bawa pulang koper ker umah saya dulu yah, abis itu baru anda langsung pulang." Ucap Leva.


"Yaa itu juga kalo anda mau sih." Sambung Leva.


Diana memandang wajah Leva sambil tersenyum.


"Yaa mau lah Mbak, masa iya sih saya tidak mau." Ucap Diana.


"Hehe kalo begitu thanks yah." Ucap Leva sambil tersenyum dan sedikit menepuk bahu Diana dengan pelan.


Ttttttttrrrrriiingggggg...tttttrrrriiiinnngggg...tttrrriinggggggg!!!


Smartphone yang berada di saku jaket Leva berdering menandakan sebuah panggilan telepon masuk, menyadari smartphone nya berdering Leva langsung mengambil nya dan menjawab panggilan telepon yang masuk.


"Sinta." Ucap Leva dengan nada suara pelan.


"Benar Diana saya mau angkat telfon dulu." Ucap Leva sambil melambat kan langkah nya dan menempelkan smartphone di telinga.


"Iya silahkan." Ucap Diana.


"Assalamualaikum va." Ucap salam Sinta


......


"Waalaikumsalam taa ada apa telfon?." Tanya Leva.


.......


"Sebelum nya gua mau nanya, lu sekarang lagi di mana Va?." Tanya Sinta dengan nada suara tegas dan serius.


.......


"Gua lagi di bandara sukarno hatta nih, baru aja sampe ada apa emang kok nada suara lu serius amat." Ucap Leva.


.......


"Masalah nya gini Vaa lu tau ga Reza udah keluar dari rumah sakit?." Tanya Sinta.


.......


Mendengar pertanyaan Sinta ekspresi wajah Leva tampak berubah drastis, menjadi sedikit Shok dan bingung.


"Hahhh keluar dari rumah sakit??, maksud lu apa an sih ga ngerti dah gua." Ucap Leva dengan nada suara dan ekspresi wajah kebingungan.


.......


"Vaaa gua sekarang lagi di rumah sakit sesuai perintah lu kemarin gua harus ke sinih lagi, nahh pas gua dateng dan sedikit berbincang dengan Suster kata nya Reza udah pulang dari pagi." Ucap Sinta.


.......


"Hahhhh udah pulang kok bisa?, kok pihak Rumah sakit ga ngabarin gua sihh??!." Ucap Leva.


......


"Nahhh itu Vaa itu masalah nya, gua ga tau bisa begitu, logika nya vaa kalo Reza udah sadar dan sehat pasti rumah sakit ngasih info dong." Ucap Sinta.


.......


"Dan Reza pulang ga mungkin sendiri dan Reza mana mungkin bisa pulang tampa mengurus segala biayanya administrasi rumah sakit, maaf yah Va bukan nya gua ngrendahin Reza nih tapi nyata nya uang dari mana Reza bisa bayar biyaya rumah sakit." Sambung Sinta.


.......


"Iya taa gua paham maksud analisa lu, dan gua yakin ada sesuatu hal yang ga beres taa, ya udah kita bahas di sanah taa gua langsung on the way ke rumah sakit." Ucap Leva.


........


"Yaudah Vaa GC yahhh, gua tunggu di sinih." Ucap Sinta.


Tttttuutttt....ttttuuuutttttt...tttttuuuuttt!


Leva langsung menyudahi percakapan nya dengan Sinta lalu Leva memasukkan smartphone milik nya kembali ke dalam saku jaket, hati Leva saat ini sangat berkecamuk banyak pertanyaan di dalam hati dan fikiran nya mengenai kepulangan Reza yang sangat mendadak dan kondisi Reza saat ini sudah sadar namun tidak ada informasi yang iya dapat kan tentang itu dari pihak rumah sakit.


"Mbakk Mbakk hallo Mbakk." Ucap Diana sambil melambaikan tangannya di hadapan wajah Leva.


"Ehhhh iyaa." Ucap Leva dengan nada suara terkejut.


"Mbak kenapa?." Tanya Diana.


"Ada masalah Naaa ada masalah dengan Cowo saya." Ucap Leva.


"Hahh masalah?? , masalah apa Mbak." Tanya Diana ke Leva.


"Udah sangat panjang untuk di bahas sekarang, pokok nya anda antar koper saya yah dan kita pisah di sini aja saya mau langsung pergi naik taxi ke Rumah sakit." Ucap Leva sambil memeberikan koper milik nya ke Diana.


"Ya sudah Next time cerita yah ke aku Mbak." Ucap Sinta.


"Iyaa pasti Ya sudah saya pergi dulu yah." Ucap Leva sambil membalik kan badan lalu berjalan cepat meninggalkan Diana.


"Iya Mbak hati-hati." Ucap Diana sambil menatap Leva yang mulai pergi menjauh meninggal kan diri nya.


"Rezaaa apa benar kamu sudah sadar?, dan kenapa kamu pulang secara mendadak tampa aku ketahui, ada apaaa adaa apa di balik ini semua aku yakin Zaaa pasti ada yang tidak beres zaa pasti!." Ucap Leva di dalam hati sambil berjalan cepat dan menatap lurus dengan pandangan tajam ke arah depan.


--- ooo ---