
Waktu sudah menujukkan pukul setengah lima sore, langit pada sore hari cukup cerah. sang surya mulai bergerak terbenam untuk menyinari bagian bumi yang lain. Hembusan angin cukup kuat terasa membuat dedaunan bergoyang dan terlepas dari dahan nya.
Winda Terlihat sedang mengajak Reza jalan-jalan sore di sekitaran taman rumah sakit yang berada di belakang gedung, Winda membawa jalan-jalan Reza menggunakan kursi ronda. dengan kepala yang masih di balut perban dan jarum infus yang masih menempel di tangan, Winda mendorong kursi ronda yang Reza naiki secara pelan dan sangat hati-hati.
"Kita jalan-jalan sebentar ya, aku tau pasti kamu jenuh di dalam kamar terus." Ucap Winda sambil mendorong kursi ronda.
Lalu Winda menghentikan langkahnya, dan menghadapkan posisi kursi roda Reza ke arah taman rumah sakit.
"Enak kan sayang di luar, udara nya cukup sejuk kita bisa ngeliat pepohonan." Ucap Winda sambil jongkok mengahadap ke Reza.
Reza hanya terdiam sambil memandang ke sekeliling area taman rumah sakit, Tiba-tiba Reza menatap ke arah Winda dan tersenyum ke arah nya.
"Kamu senyum ke aku?, gitu dong jangan diam dan cemberut melulu." Ucap Winda dengan nada bahagia.
"Aku tidak ingat siapa diri mu, tetapi aku rasa kamu sepertinya orang yang baik." Ucap Reza sambil tersenyum kearah Winda.
"Sayang dengerin aku...mungkin kamu lupa dengan hubungan kita,tentang kisah cinta kita berdua,kamu lupa sama aku. tapi aku akan selalu baik dan selalu cinta sama kamu."
"Tapi aku tidak bisa mengingat itu semua."
"Sayangg tak usah kamu ingat-ingat lagi yang telah terjadi lebih baik kita jalani lembaran hubungan baru kedepannya." Lalu Winda memeluk tubuh Reza dengan erat Sambil tersenyum bahagia.
Reza hanya diam saat Winda memeluk diri nya dengan erat, ada perasaan aneh di dalam diri nya seolah iya tak ingin di peluk oleh Winda. Saat Reza mengangkat kedua tangan nya dan mencoba untuk membalas pelukan Winda tiba-tiba Reza teringat sesuatu, Reza merasa pernah memeluk seseorang wanita tapi Reza lupa dengan sosok wanita yang pernah iya peluk. Seketika kepala Reza merasakan sakit yang luar biasa hingga iya tak mampu untuk membuka kedua mata nya.
AAAARRRRGGGHHHH AAHHHHH!!!!!
Reza mengerang kesakitan sambil memegangi kepalanya, Winda sangat terkejut menyadari Reza tiba-tiba mengerang kesakitan seperti yang pernah terjadi beberapa hari yang lalu.
"Reza kamu kenapa, kepala kamu sakit lagi?."Ucap Winda dengan nada panik sambil menatap cemas kearah Reza.
"Aaargghhhh kepala kuu sakit sekali!!." Ucap Reza sambil meringis kesakitan.
"Sayang kamu tahan dulu yah, aku bawa kamu ke ruang UGD."Winda langsung berdiri di belakang kursi ronda dan langsung mendorong Reza menuju ruang UGD untuk mendapatkan penanganan.
--- ooo ---
Saat ini Leva sedang berada di atap gedung berlantai empat puluh tempat ia bekerja, Leva berdiri tepat di tengah Garis helipad. Hembusan angin malam cukup kuat terasa, membuat rambut Leva yang panjang dan harum berkibar tertiup angin. Pemandangan kota di singapura pada malam hari cukup indah, gemerlap lampu-lampu kendaraan yang berhalu lalang dan lampu dari di sekitaran gedung menambah keindahan tersendiri bagi yang melihatnya.
Sudah hampir satu jam Leva berdiri sendiri sambil termenung menatap ke arah sekeliling kota singapura dari atas gedung, Raut wajah kesedihan terlihat jelas di wajahnya Saat ini. Leva merasakan Gelombang ombak rindu sedang menerjang kuat hati nya, sehingga membuat Leva terbawa hanyut menuju ke lautan samudera kesedihan.
"Aaahhhh Rezaa aku kangen." Ucap Leva dengan nada suara sedih sambil menutup wajah dengan kedua telapak tangannya.
"Sumpah Zaa aku ga sanggup terlalu lama jauh dari mu."
Lalu Leva memandang ke arah Langit yang cukup cerah dan di hiasi bintang pada malam hari ini, Perlahan Leva mulai berhalusinasi membayangkan wajah Reza tergambar di langit sedang tersenyum ke arah nya.
"Aku Tidak ngerti Za kenapa aku bisa sangat Cinta sama kamu, sampai wajah mu terbayang dalam ingatan ku." Ucap Leva sambil berjalan menuju tepi atap gedung.
"Andai saja kamu disini Za, kita bisa menikmati pemandangan kota singapura yang indah bersama-sama." Leva memandang ke seluruh kota dari atas gedung.
"Tapi batin ku merasa kamu sedang mengingat diri ku saat ini." Ucap Leva sambil tersenyum, akan tetapi Leva tak menyadari tiba-tiba air mata menetes keluar membasahi kedua pipi nya.
Dari arah belakang Terlihat sekertaris pribadi Leva sedang berjalan perlahan menghampiri Leva sambil menahan rambut nya agar tidak berantakan tertiup angin.
"Mbak Leva Aku cari in ternyata di sini." Ucap sekertaris Leva.
Menyadari sekertaris pribadi berada di belakang diri nya, Leva langsung menyeka air mata yang membasahi kedua pipi. setelah itu Leva langsung membalik badan menghadap ke sekertaris pribadi nya.
"Ehh anda Diana, Iyah ada apa?."
"Aku hanya ingin memberi tau bahwa Mbak Leva harus menandatangani dokumen pengangkatan direktur yang baru." Ucap Diana sekertaris pribadi Leva.
"Baik nanti saya akan tandatangani." Ucap singkat Leva.
Terlihat Diana sedang memperhatikan wajah Leva dengan tatapan menyelidik.
"Mbak Leva kenapa kok mata nya merah gitu abis nangis yah?."
"Ehh engga kok siapa yang abis nangis."
"Mbak Leva...Mbak Leva kita tuh sesama wanita saling memiliki kepekaan yang lebih baik dari pada pria, Aku tau Mbak Leva saat ini sedang sedih. Tampa mengurangi rasa hormat, Mbak boleh kok cerita ke Aku apa yang sedang di rasakan. ya kali-kali aja bisa sedikit mengurangi kesedihan Mbak setelah cerita.” Ucap Diana sambil tersenyum dan mengelus-ngelus pundak Leva.
"Hemm..yaa Sebenernya saya lagi kangen sama pacar saya." Ucap Leva sambil menundukkan pandangannya.
"Oh lagi kangen sama pacar, kenapa gak sms atau telfon atau wa. zaman sekarang kan untuk komunikasi udah serba cepat dan gampang."
"Andai saja bisa sudah saya lakukan."
"Loh kok gitu?."
"pacar saya sedang koma belum sadar kan diri selama 2 bulan, selama itu saya belum bertemu secara langsung dengan pacar saya. dan sekarang ini saya harus terjebak dengan pekerjaan yang menurut saya sangat tidak penting yang membuat saya harus jauh dari pacar saya." Ucap Leva dengan nada sedih.
"Aku mengerti posisi yang Mbak Leva rasakan saat ini seperti apa dan pasti berat menjalani nya, tapi Mbak Leva jangan terlalu Bersedih. jika Mbak Leva bersedih saya yakin, jika pacar Mbak tau dia juga pasti amat sangat sedih melihat keadaan Mbak." Ucap Diana lalu berjalan ke sudut ketepi gedung dan melihat ke sekeliling kota.
"Aku punya cara loh supaya sedikit meringankan kesedihan Mbak." Ucap Diana sambil tersenyum ke arah Leva.
"gimana cara nya?."
"Sinih deh berdiri di samping aku."
Lalu Leva berjalan pelan dan berdiri persis di samping Diana.
"Sekarang Mbak Leva tatap lurus kedepan dan Teriak sekencang-kencang nya apa yang hati Mbak rasakan saat ini." Ucap Diana
Leva hanya menatap Heran ke arah Diana atas apa yang Diana ucapkan.
"Udah lakukan Coba deh."
Lalu Leva menatap ke arah depan lalu memejamkan mata nya setelah itu Leva berteriak sekuat-kuatnya.
"REZAAAA AKUU KANGENN BANGETT SAMA KAMUU!!"
"CEPATT LAHHH SADARR SAYANGG AGAR AKU BISA MELIHAT MU LAGII!!."
Leva berteriak cukup kencang sehingga membuat nafas nya tersengal-sengal.
"Gimana rasa nya seru kan mengungkapin unek-unek seperti ini?." Tahya Diana.
"Boleh juga hehe."Ucap Leva.
"Udah lega belum?."
"Yaa sedikit sih."
"Dulu pas aku masih zaman Smp jika anda masalah aku suka menenang kan diri di atas gedung, yaa..gedung mall sih hehe. terus Aku akan berteriak sekencang-kencang nya apa yang hati ku rasa, walau terkesan kaya orang ga waras tapi cara itu ampuh membuat beban di hati ku." Ucap Diana sambil tersenyum ke arah Leva.
"Anda orang yang sangat unik Diana."
"Hehe Mbak Leva juga ternyata orang nya baik ga jaim ga seperti yang aku kira."
"Loh emang anda fikir saya orang nya seperti apa?."
" Yaa gitu jaim,sombong,galak,tua dan bikin bad mood deh tapi ternyata sebalik nya. Mbak Leva muda cantik baik dan ga jaim hehe."
"Haha bisa saja anda Diana." Ucap Leva sambil memukul pelan bahu Diana.
Diana sekertaris pribadi Leva berhasil membuat Leva sedikit menghilang kan rasa sedih yang sedang Leva rasakan dengan obrolan ringan yang Diana buat, Diana dan Leva terlihat sangat akrab walau mereka baru bertemu belum genap sebulan. Tiada batasan di antara obrolan mereka berdua walaupun posisi Leva adalah bos besar bagi Diana tetapi Leva memperlakukan dia seperti layak nya teman.
Saat Leva dan Diana sedang berbincang- bincang ringan Terlihat sebuah bintang jatuh melintasi langit Singapura, cahaya yang di hasilkan cukup jelas di pandang mata.
"Ehh Mbak ada bintang jatuh." Ucap Diana sambil menunjuk ke arah Langit.
Mendengar perkataan Diana Leva langsung menengok kan kepala nya ke arah Langit.
"Ehh iya cantik." Ucap Leva dengan nada kagum.
"Mau buat harapan?." Tanya Diana sambil tersenyum ke arah Leva.
"Walau saya ga percaya hal-hal seperti itu tapi yaaa sekali sekali coba deh biar kaya di film film atau di cerita-cerita." Ucap Leva.
"Ya udah Lakukan Mbak."
Lalu Leva mengahadapkan wajah nya ke arah Langit, lalu dengan perlahan Leva memejamkan kedua mata nya. setelah itu Leva mulai berdoa di dalam hati.
"Ya tuhan sebenarnya aku tidak terlalu mempercayai hal-hal sperti ini, akan tetapi aku hanya berharap dan berdoa kepada mu Semoga engkau segera menyadarkan Reza kembali. pertemukan lagi aku dengan Reza. satu kan lah kembali aku dengan Reza. Aku Hanya mencintai Reza setelah apa yang telah kita lalui bersama....Amin." Ucap Doa Leva di dalam hati dengan Khusu.
"Udah selesai beroda dan berharap nya." Tanya Diana ke Leva.
Leva hanya menjawab pertanyaan Diana dengan anggukan kecil disertai senyuman yang sangat cantik.
"Thank's yah Diana udah nemenin dan udah berusaha menghibur saya." Ucap Leva sambil tersenyum ke arah Diana.
"Iyah sama-sama Mbak Leva, oh iya Mbak Leva kan harus tanda tangan dokumen pengangkatan Direktur baru."
"Oh iya lupa jadi ngobrol kita hehe yaudah yuk turun."
"Baik Mbak."
Lalu Leva dan Diana sekertaris pribadi Leva turun mengunakan Lift menuju ke lantai 15 tempat ruangan kerja Leva berada.
--- ooo ---
"Heii Liat lah kebelakang!."
Mata ku tiba-tiba terbuka sendiri saat mendengar suara seorang wanita memanggil diri ku dari arah belakang, kutatap lurus ke arah depan. namun pandangan ku terasa kabur karna banyak nya kabut putih yang cukup tebal berada di sekitar diri ku.
"Kamu siapa?."
"Lihat lah kebelakang!."
Aku mencoba mencari asal suara itu sambil berusaha menoleh ke arah kanan dan kiri, namun karna kabut yang cukup tebal membuat diri ku sulit menentukan arah. Ku balik kan badan ku ke arah belakang lalu ku tatap lurus ke arah depan.
"Siapa kamu?."
Aku melihat seseorang wanita tak jauh dari hadapan ku sedang berdiri menghadap ke arah diri ku, aku tak bisa melihat jelas wajah wanita itu karna kabut yang cukup tebal.
"Apa kamu lupa sama aku?."
"Aku tak mengenal siapa diri mu!."
"Segitu cepat nya kah kamu melupakan diri ku setelah apa yang telah kita lalui?."
"Siapa diri mu dan tunjukan diri mu."
"Aku adalah cinta sejati mu yang sesungguhnya."
Tiba-tiba wanita yang berada di hadapan ku membalik kan badan nya dan mulai berjalan pelan meninggalkan diri ku.
"Hei mau kemana kamu dan siapa kamuu?!."
Ku mencoba untuk mengejar wanita itu namun karna langkah jalan nya cukup cepat membuat ku tak bisa mengejar nya.
"Heiii tunggu."
"Tungguu siapa kamuu."
"Tungggguuuuu!!!!!."
"TUNGGGUUU!." Teriak Reza dengan nafas yang tersengal-sengal.
Reza yang sedang tertidur pulas di atas bad rumah sakit tiba-tiba bangun dan berteriak histeris, wajah Reza terlihat sangat kusut dan keringat membasahi sekujur tubuhnya.
Winda yang sedang tertidur sambil duduk di sebelah bad Reza Terkejut menyadari Reza Tiba-tiba bangun kemudian berteriak histeris.
"Sayangg kamuu kenapa?." Ucap Winda dengan nada khawatir sambil berdiri di depan Reza.
"Huftttttt...huuufttttt." Reza mencoba menstabilkan irama nafas nya.
Lalu Winda duduk di samping Reza dan mengelap keringat yang membasahi wajah dan lehernya dengan selembar Tisue.
"Sayangg kamuu kenapa tiba-tiba teriak histeris seperti itu?, kamu abis mimpi buruk?."
"Ehtah lah aku tak mengerti itu mimpi buruk atau tidak."
"Coba cerita sama aku kamu tadi mimpi apa?."
"Huufttt...Tadi aku bermimpi bertemu dengan seorang wanita yang aku tidak kenal."
"Terus."
"Aku tidak bisa melihat wajah wanita itu karna dalam mimpi banyak sekali asap kabut yang menghalangi, lalu..."
"Lalu apa sayang?." Tanya Winda sambil tersenyum manis ke arah Reza.
"Wanita itu berkata Segitu cepat nya kah kamu melupakan diri ku setelah apa yang telah kita lalui dan yang paling aku bingung Wanita itu berkata Aku adalah cinta sejati mu yang sesungguhnya."
Winda yang mendengar Ucapan Reza terdiam, Winda sangat mengerti maksud mimpi yang Reza alami.
"Levaaaa please lu gak di dunia nyata ga di alam mimpi Reza selalu ganggu usaha gua!." Ucap Winda dalam hati.
"Aku tidak bisa melihat wajah wanita itu, dan dalam fikiran ku Sulit menerjemah kan maksud dari perkataan wanita itu dalam fikiran ku."
"Sayangg gini kamu tuh sedang mimpi in aku tadi." Ucap Winda sambil memeluk tubuh Reza.
"Mimpiin kamu?, walau pun aku tak melihat jelas sosok wajah wanita dalam mimpi ku tadi tapi aku rasa itu bukan wajah mu. Dan apakah sebenarnya kamu itu pacar ku?, soal nya aku tak bisa mengingat sedikit pun tentang diri mu. Hanya bayangan Wanita yang ada di mimpi ku lah yang selalu muncul." Ucap Reza.
Mendengar perkataan Reza hati Winda merasa sangat sakit, Winda merasa usaha yang di lakukan untuk mempengaruhi Reza hanya sia-sia karna Reza pada dasar nya sangat mencintai Leva. Winda Terlihat menundukkan Wajah dan air mata mulai menetes membasahi pipi nya.
"Kamu nangis?." Tanya Reza dengan nada suara lembut.
Winda tak menjawab perkataan Reza, Winda masih menundukkan wajah nya. Melihat hal itu Reza sedikit bingung dengan Sikap Winda yang tiba-tiba mengais akan tetapi Reza merasa bersalah dengan apa yang telah iya ucap kan yang membuat Winda bersedih.
"Hai maaf kan aku yah jika perkataan diri ku tadi membuat diri mu bersedih, sejujur nya aku tak bermaksud untuk membuat mu menjadi mengais. tapi yaa kenyataan nya seperti itu, aku tak bisa mengingat tentang diri mu tentang hubungan kita yang kamu ucap kan.
dan aku merasa bukan kamu yang ada di mimpi dan bayang banyang ingatan ku."
"Hiiikksss....Kamu jahat zaa kamu sudah lupa tentang cinta kita kamu sudah lupa dengan hubungan yang telah kita jalin selama ini!!!." Ucap Winda dengan derai air mata.
saat Reza melihat Winda menangis timbul sedikit kepercayaan kepada Winda, Reza merasa tangisan Winda itu tulus yang sebenarnya terjadi.
"Maaf kan aku sungguh maaf kan, Tapi jika itu kenyataan nya tolong kamu bantu aku. Bantu aku untuk mengingat itu kembali." Ucap Reza sambil menghapus air mata Winda.
Mendengar perkataan Reza, Winda menaikkan pandangan nya lalu menatap ke arah wajah Reza dengan kondisi masih sedikit mengais dan senggukan.
"Benar apa yang kamu ucap kan itu?."
"Iya, karna ku tak ingat tolong bantu aku yah." Ucap Reza sambil tersenyum kearah Winda.
"Iya sayang akan aku bantu kamu, akan tetapi kita mulai lagi yah hubungan lembaran cinta kita yang baru."
"Kita coba bersama-sama." Ucap Reza.
--- ooo ---
Di ruang kerja Leva yang berukuran cukup luas dengan desain ruangan sangat minimalis dan furniture di dalam nya cukup bagus yang berada tepat di lantai lima belas gedung, Terlihat Leva sedang duduk di kursi kerja sambil menandatangani tumpukan berkas dokumen yang berada di meja kerja.
"Hedehhhh mending tandatangan gua di bikin stempel aja jadi ga harus repot tandatangan melulu!!." Ucap Leva dengan nada kesal.
"Malah udah jam sembilan malem lagi aarrghh bodo lah cabut aja deh pusing gua!."
Lalu Leva berdiri dari kursi kerja nya dan langsung berjalan pelan mengambil tas milik nya yang ia taruh di atas sofa ruangan, setelah itu Leva langsung berjalan keluar ruangan. Saat Leva berjalan melintasi ruangan sekertaris, tiba-tiba Diana sekertaris pribadi Leva memanggil Leva dari arah dalam ruangan.
"Mbak Levaa." Ucap Diana sambil menghampiri Leva.
"Iya ada apa?." Tanya Leva.
"Mbak Leva mau pulang?."
"Iya saya mau balik ke Hotel, cape udah malem pula."
"Tapi Dokumen nya?."
"Aaarhhh bodo lah besok-besok aja atau anda aja yah yang tandatangan." Ucap Leva.
"Lohh Ga bisa gitu Mbak yang jadi bos nya kan Mbak." Ucap Diana.
"Hadehhh Bos nya tuh Mamah saya bukan saya, saya mah hanya di tugaskan untuk meninjau." Ucap Leva.
"Dan mendingan anda ikut saya aja yuk." Ajak Leva.
"Hahh ikut!, ikut Mbak pulang ke Hotel?." Ucap Diana dengan nada kebingunan.
"Hadehhh gak gitu Maksud saya anda dari pada kerja mulu mending temenin saya makan yuk, sebelum balik ke Hotel saya mau makan dulu abis nya laper banget nih." Ucap Leva sambil menepuk-nepuk pelan perutnya.
"Tapii..."
"Tapi apa ini perintah loh!, udah buruan ambil tas kamu. Tenang aja saya yang bayarin."
"Oke deh kalo perintah mah hehe." Ucap Diana.
Diana langusng balik ke dalam ruangan nya untuk mengambil tas kerja yang iya bawa setelah itu langsung kembali menghampiri Leva.
"Udah yuk Mbak." Ucap Diana.
"Oke duluan." Ucap Leva.
Leva dan Diana berjalan pelan melewati lorong gedung menuju lift, setelah Leva dan Diana sudah berada di dalam lift mereka Turun menuju ke Lantai dasar. Saat Leva berjalan menuju ke pintu Utama gedung, Leva mendapat banyak sapaan hormat dari staf dan petugas keamanan yang masih berada di dalam kantor.
"Eh anda kalo pulang naik apa?." Tanya Leva.
"Oh kalo aku paling jalan terus naik bus umum Mbak ke penginapan, yaa maklum biar ngirit hehe biyaya naik taxi di sinih tarif nya lumayan juga hehe." Ucap Diana.
"Owh yaudah kamu naik mobil saya aja yah biar sekalian bareng."
"Oke deh terserah Mbak aja."
Setelah beberapa menit Leva dan Diana berbincang-bincang di depan Loby kantor, Tidak lama kemudian sebuah mobil The Mercedes-Benz S-Class hitam ber plat no singapura SBA 1234 A berhenti tepat didepan Leva dan Diana.
"Yaudah yuk." Ajak Leva sambil membuka pintu mobil sebelah kiri.
"Eehh iya." Ucap Diana dengan nada sungkan.
Setelah Diana masuk ke dalam mobil, mobil yang mereka naiki mulai berjalan pelan meninggalkan area kantor.
--- ooo ---
"Maaf sudah membuat anda menunggu." Ucap suster Riana.
"Baik tidak apa-apa, silah kan duduk." Ucap Winda mempersilahkan suster Riana duduk kursi depan diri nya.
Winda dan suster Riana sedang berada di sebuah Coffee shop yang berada tak jauh dari rumah sakit tempat Reza di rawat, Winda san suster Riana sudah saling janjian bertemu di Coffee shop untuk membahas sesuatu hal. Kali ini suster Riana menggunakan pakaian biasa dan membawa tas jinjing di tangan nya.
"Anda Mau pesan apa sebelum kita memulai obrolan?." Ucap Winda sambil menaruh smartphone milik nya di sebelah gelas berisi coffe.
"Tidak usah kita langsung saja ke pokok pembahasan." Ucap suster Riana sambil menatap wajah Winda dengan tatapan serius.
"Oh oke baik." Ucap singkat Winda.
"Tapi sebelum itu saya mau menyerahkan ini ke anda." Ucap suster Riana sambil menyodorkan kartu ATM ke Winda.
"Dan maaf saya tidak sempat mengantar kan kartu ATM ini ke alamat yang anda kasih." Sambung Suster Riana.
"Oh oke No Problem, dan gimana anak anda sudah bebas?." Tanya Winda.
"Iya semua berkat bantuan anda."
"Yaa bagus kalo begitu, tapi sebagai timbal baik nya anda tau kan harus ngapain?." Ucap Winda sambil tersenyum sinis.
"Iya saya sudah menjalan kan setengah rencana, tapi apa kah ada intruksi lagi?."
"Ada dan ini finally tugas anda."
"Yaa apa itu?."
"Kamu harus memanipulasi data pasien Reza bahwa dia belum sadar dan saya mau nanya dulu ke anda?."
"Apa?."
"Apakah dokter spesialis yang saat ini menangani Reza masih sama saat Reza pertama kali masuk ke rumah sakit?."
"Kebetulan kalo soal itu dokter Rono yang mengenai pasien Reza dulu sedang study lanjutan di luar negri jadi observasi pasien di pindah tangan kan ke dokter Wahyudi saat ini."
"Apakah pihak rumah sakit sudah memberikan informasi kepada pihak keluarga sebelum nya tentang pemindah tanganan dokter?."
"Belum karna rumah sakit akan menginformasi kan secara langsung kepada penanggung jawab dari pihak pasien dan seingat saya pasien atas nama Reza itu Leva cahaya aprilia, berhubung penanggungjawab belum ada di tempat jadi pihak rumah sakit belum menyampai kan informasi ini dan soal nya penanggung jawab harus hadir dan mengisi formulir pernyataan dan tandatangan."
"Baguss berarti Leva belum tau soal hal ini." Ucap Winda dalam hati.
"Usahakan informasi ini juga kamu manipulasi jangan sampai keluarga pasien tau!."
"Baik saya akan usahakan."
"Dan Saya punya niat untuk membawa Reza keluar dari rumah sakit dalam minggu-minggu ini apakah anda bisa menyusun rencana untuk mengeluarkan Reza dengan permainan rapih?."
"Menurut saya kondisi Reza saat ini sudah jauh lebih baik dan Dokter Wahyudi sudah mempunyai usul untuk pihak keluarga agar membawa pulang Reza yaa rawat jalan saja, karna menurut Dokter Wahyudi Reza harus mendapat kan susana baru dan tempat-tempat yang mampu memicu ingatan nya kembali. Jadi sebenernya saya ga perlu repot-repot mencari cara untuk mengeluarkan pasien Reza."
"Bagus jadi rencana yang akan saya buat makin berjalan mulus, pokok nya siapa pun jangan sampai tau tentang informasi Reza terbaru. dan jangan sampai ada yang mengunjungi Reza mengerti!."
"Siap akan saya jalan kan."
"Oke saya rasa intruksi yang saya berikan sudah cukup, dann oh yah jangan lupa anda persiapkan rencana kepulangan Reza. soal biyaya biar saya yang tanggung nanti."
"Baik."
"Oke kalo begitu saya harus kembali ke rumah sakit, selamat menjalankan tugas." Ucap Winda sambil menjabat tangan suster Riana.
Suster Riana membalas jabatantangan Winda sambil tersenyum, Lalu Winda berjalan menuju kasir dan membayar coffe yang tadi iya pesan setelah itu Winda kembali ke rumah sakit.
--- ooo ---
Mobil yang Leva dan Diana kendari berhenti di depan Lau Pa Sat Festival Market. Lau Pa Sat Festival Market adalah sebuah pasar yang dibangun pada abad ke-19. Namanya Pasar Telor Ayer. Setelah mendapat renovasi pada tahun 2014 kemarin, akhirnya area ini beralih fungsi menjadi pusat kuliner yang dikenal dengan nama Lau Pa Sat Festival Market.
Pusat kuliner ini terkenal dengan menu halalnya. Jenis makanannya pun beragam, mulai dari menu vegetarian, sampai makanan besar. Pusat jajanan ini sangat bersungguh-sungguh dalam menyajikan makanan halal bagi traveler. Sampai-sampai, tempat cuci piring pun dipisah antara piring bekas makan yang halal dan non halal.
Asyiknya, pusat jajanan ini buka selama 24 jam. Bisa datang kapan saja. Untuk menuju ke sini, bisa turun di stasiun MRT Raffles Place di East West Line dan berjalan 5 menit menuju Lau Pa Sat Festival Market.
"Sampai juga kita di Lau Pa Sat Festival Market." Ucap Leva.
"Owhh kita makan di jajanan pasar toh kirain aku Mbak Leva bakal makan di restoran mewah berkelas." Ucap Diana sambil melihat ke sekeliling Lau Pa Sat Festival Market.
"Ohhh Anda mau nya makan di restoran yahh Sorry salah tenpat nih saya."
"Ehhh engga engga kok maksud aku bukan begitu, kan secara Mbak Leva itu pasti tajir banget Boss besar dan yaa dalam benak fikiran aku pasti Mbak Leva tuh ga bakal mau makan di tempat seperti ini." Ucap Diana sambil menatap wajah Leva.
"Hahaha Diana Diana saya mah Bebas mau makan di mana aja. asal anda tau di indonesia saya tuh kadang kalo lagi sarapan pagi di luar, Saya suka makan nasi uduk di pinggir jalan dan malah kalo bareng pacar saya suka makan nasi bukus warteg itu pula sebungkus berdua." Ucap Leva sambil tersenyum ke arah Diana.
"Ohh gitu." Ucap Diana sambil menyimak perkataan Leva.
"Iyaa, dan anda harus inget yah saya tuh orang nya simple Tidak cedikan orang nya ga milih-milih dan ga pernah membeda dedakan sesuatu hal. Saya Tidak merasa boss dan tajir yang boss dan tajir itu mamah saya, saya mah kere Diana semua ini aja yang biyayain mamah saya. toh beda hal nya jika semua ini memang hasil kerja saya sendiri walau pun anda berbicara seperti tadi yaa ga masalah buat saya." Sambung Leva.
"Aku sangat kagum sama Mbak Leva, orang lain kalo dalam posisi Mbak pasti udah sombong dll. tapi Mbak Leva sangat sederhana dan merendah orang nya, pokok ya the best banget dah." Ucap Diana dengan nada sangat kagum.
"Ah lebay anda haha, yaudah kesana yukk jadi ngobrol udah laper nih perut saya." Ucap Leva sambil menepuk-nepuk perut nya dengan pelan.
"Hehe upss sorry, yaudah yukk."
Leva Dan Diana Masuk ke dalam Lau Pa Sat Festival Market lalu mereka mencari makan yang sesuai selera mereka.
--- ooo ---
Setelah 10 menit berputar-putar di aera Lau Pa Sat Festival Market akhir nya Leva dan diana memutuskan makan di kedai masakan Turki yang bernama Turkish Cruisine, kedai ini menyajikan berbagai makanan khas turki dari menu daging hingga sayur-sayuran.
"Mbak itu Gasalah mesen makanan banyak amat?." Tanya Diana sambil melihat Leva makan 3 menu yang berbeda.
"Iya kenapa emang nya?." Ucap Leva sambil menyantap hidangan yang ada di depan nya.
"Yaa ga apa apa sih tapi apa Mbak Leva ga takut gendut, udah makan malem makan nya banyak lagi."
"Hahah saya tuh kena kutukan makan banyak tapi ga pernah gemuk yaa seginih ginih aja ukuran badan saya."
"Serius?."
"Satu milyar rius malah."
"Wahh enak banget Mbak Leva kalo gitu mah."
"Haha anda wanita ke sejuta yang ngomong seperti itu ke saya."
Saat Leva dan Diana sedang berbincang bincang ria tiba-tiba smartphone milik Leva bernyanyi Menandakan sebuah pesan WhatApp mauk ke dalam smartphone milik Leva.
messages from : Sinta
"Heii Vaaa Lagi apa?, VC yuk kangen nih."
Ekspresi wajah Leva tampak sangat bingung saat membaca pesan Chat dari sinta.
"Tumben amat nih orang minta Video Call lan."
"Yaudah Video Call aja deh."
Lalu Leva menghubungi Sinta via Video Call.
Tuutttt.tttuuttt..ttutttt.
"Haii Vaaa." Ucap Sinta dari ujung telfon sambil melambaikan tangan ke arah Leva.
"Haii juga cantik kuu, timben minta Vc an." Ucap Leva sambil tersenyum ke arah Sinta.
"Ohh jadi ga boleh nih gua Vc lu." Ucap sinta dengan ekspresi cemberut.
"Wakwakwak baper amat luh beb, yaa tumben aja biasa nya cuma chat."
"Haha suka-suka gua dong abis lagi kangen aja."
"Jiahhh kangen haha nohhh lu kangen sama sahabat sejoli lu tuh si winda."
"Ahhh apan sih lu lagi males gua sama dia."
"Ohh gua jadi bahan pelarian doang nih."
"Ga gitu Vaaa."
"Buakan ga gitu tapi Ga salah lagi hehe."
"Tau ah, ehh lu lagi di singapura yah?."
"Iyahh, nih gua lagi makan-makan." Ucap Leva.
Lalu mengarahkan layar smartphone nya ke sekitaran tempat Lau Pa Sat Festival Market.
"Wahhh enak lu yah ga kuliah malah jalan-jalan di singapura makan-makan ga bagi-bagi lagi." Protes Sinta ke Leva.
Lalu leva memposisikan smartphone nya miring di letakkan di atas meja dan di senderkan di belakang kotak tisu.
"Enak aja gua kerjaa di sinih di suruh mamah, ehh mau nyobain buru buka mulut luu AAAAAA!." Ucap Leva sambil tangan nya seolah olah ingin menyuapi Sinta di layar smartphone.
"Gila lu Vaaa Hahaha." Ucap Sinta sambil tertawa melihat ke arah Leva.
"Ehhh itu siapa di samping lu?." Tanya Sinta saat melihat Diana sedang asik makan di sebelah Leva.
"Oh ini nama nya Diana sekertaris mamah gua." Ucap Leva sambil sedikit menggeser layar smartphone nya ke arah Diana.
"Heiii nama gua Diana salam kenal." Sapa Diana sambil melambaikan tangan dan menatap ke arah Sinta.
"Heii juga salam kenal." Balas sapa Sinta.
"Ehh Vaaa ngomong-ngomong kalo lu di singapura yang jaga si Reza siapa?." Tanya Sinta.
"Engga ada." Ucap Leva dengan ekspresi wajah aga sedih.
"Lahh kok Ga ada sih?."
"Yaa gimana yah sebenarnya gua ga mau ninggalin Reza sediri tapi yaa mamah maksa banget, gua percayain aja Reza di tangan nin sama suster di sanah 2 minggu lagi gua bakal pulang kok." Ucap Leva.
"Hemmm gitu."
"Ehhh Taaa gua mau minta tolong dong ke lu." Ucap Leva dengan ekspresi wajah berharap."
"Tolong apa Vaa?."
"Besok lu ke RS yah liat kondisi Reza saat ini perkembangan nya seperti apa soal nya gua nelfon ke pihak rumah sakit susuah banget."
"Iya Va besok balik kuliah gua ke Rs buat jenguk Reza."
"Oh iya dan kalo lu udah di kamar Reza lu Langsung Vc gua yah, gua pengen liat wajah reza soal nya kangen banget gua." Ucap Leva.
"Sipp pasti itu Vaa."Ucap Sinta.
"Ehhh Vaa udah dulu yah gua di panggil Bokap nih."
"Oke, jangan lupa yah Taaa kalo udah di kamar langsung Vc gua." Ucap Leva dengan ekspresi wajah amat sangat berharap.
"Iya Leva sayang pasti janjii gua, yaudah tutup yah Vc nya Byeee."
"Byeee."
Tutttt...tutttt
"Rezaaa aku kangen banget sama kamu." Ucap Leva dalam hati sambil menatap ke arah Layar smartphone milik nya.
--- ooo ---