My Love Journey

My Love Journey
Chapter 27



Di kampus XXXXX tempat Leva dan Reza berkuliah terlihat banyak mahasiswa dan mahasiswi yang masih beraktifitas melaksana kan kegiatan perkuliahan pada siang hari ini, walau panas terik matahari sangat terasa membakar kulit ada beberapa mahasiswa yang sedang asik bermain futsal dan basket di lapangan olahraga kampus mereka tak menghiraukan cuaca panas yang menerjang tubuh mereka.


Berbeda dengan kelas program studi bisnis, kelas jurusan yang Leva dan Reza ambil ini masih ada jadwal studi mata kuliah yang sedang berlangsung. Di dalam kelas Dosen wanita mata kuliah pengembangan bisnis yang ber umur sekitar empat puluh lima tahun terlihat sedang serius memberikan materi kepada mahasiswa dan mahasiswi yang hadir, semua mahasiswa dan mahasiswi juga tampak serius mendengarkan materi kuliah yang sedang dosen jelaskan. Namun berbeda dengan Sinta wanita berkulit putih dan selalu berpakain muslimah, tampak melamun ke arah bangku yang biasa Leva dan Reza tempati.


"Huftttt sepi banget tiada Leva dan Rezaa." Ucap Sinta dalam hati sambil melihat kearah tempat duduk Leva dan Reza.


"Malah Winda gak masuk-masuk kuliah lagi belakangan ini Tapiii eeeehhhh Sintaaa ngapain mikirin orang kaya gituu!!." Ucap Sinta dalam hati sambil menggeleng gelengkan kepalanya.


Tiba-tiba dosen yang sedang mengajar pada hari ini berdiri di hadapan Sinta, namun Sinta tidak menyadarinya. Dosen memperhatikan Sinta dari arah depan sambil tersenyum jahil.


"Sutttt Sintaa Woyy dosen di depan lu sutt woyy." Ucap salah satu teman sinta dengan nada suara sangat pelan, namun Sinta masih belum menyadari nya.


"Lagi mikirin apa sih?." Tanya Dosen sambil duduk di sebelah bangku Sinta.


"Lagi mikirin teman gua gak masuk-masuk." Jawab reflek Sinta masih merenung ke arah tempat duduk Leva dan Reza dan tidak menyadari Dosen duduk di sebelah diri nya.


"Oh lagi mikirin temen, temennya kemana emang?."


Teman-teman sinta hanya memperhatikan dari sekeliling sambil tersenyum dan menahan tawa.


"Lagi banyak urusan jadi gak masuk kuliah hari ini." Ucap Sinta masih menatap ke arah bangku Kuliah.


"Ohh tapi ilmu pengembangan bisnis di fikirin ga?." Tanya dosen sambil duduk menghadap ke Sinta.


Sinta terkejut mendengar pertanyaan itu, dan dengan perlahan Sinta menengok ke arah bangku yang berada di samping nya. Sinta mendapati Dosen sedang duduk bersandar memperhatikan ke arah diri nya sambil tersenyum.


"Ehh ibu Endro." Ucap sinta sambil tersenyum kuda ke Dosen.


"Hahaahhaahahah." Sotak seluruh teman kelas tertawa melihat tingkah Sinta.


"Besok-besok pelajaran ibu dulu yah yang kamu fikirin temen mah gampang bisa di fikirn di rumah." Ucap Dosen.


"Hehe iya bu maaf." Ucap Sinta sambil menutup mulut nya menahan malu.


"Yaudah kedepan gih jabarin teori hukum permintaan dan penawaran, kamu tulis dulu di papan tulis baru kamu jabarin ke Teman-teman kamu." Ucap dosen sambil memberikan Spidol kepada Sinta.


"Waduhh gimana ini mana tadi gak nyimak lagi, mampuss guaaa." Ucap Sinta di dalam hati.


Lalu Sinta mengambil spidol yang di berikan dosen setelah itu berdiri dan berjalan pelan menuju ke arah papan tulis.


"Yang sabar yah Taa, tapi lu kan pinter bisa dong jelasin hehe." Ledek salah satu teman Sinta.


"Apa an sihh loo." Ucap Sinta sambil berjalan ke arah depan.


--- ooo ---


"Aarrrghhh BT banget gua!." Ucap Sinta sambil berjalan sediri di lorong kampus.


Saat ini Sinta sedang berjalan sendiri di lorong kampus, setelah kegiatan perkuliahan selesai Sinta memutuskan untuk segera menuju ke rumah sakit untuk menjenguk Reza sesuai permintaan Leva saat Mereka video call kemarin.


"Gara-gara melamun jadi di suruh jabarin teori, huuuffftttt."


"Mana sekarang jalan sedirian doang lagi biasa nya ada Winda.... eghh aaahhhh kenapa mikir dia lagi sihh ahh."


Lalu Sinta menghentikan langkahnya dan berdiri mematung sambil menutup wajah dengan kedua telapak tangannya.


"Windaaa kenapa lu jadi berubah gini Cuma karna ego lu semata."


"Gua kangen Lu yang dulu Daa."


Sinta tampak terlihat Sangat sedih karena Winda sahabat yang paling iya sayangi kini berubah dan jauh dari nya, lalu Sinta kembali berjalan pelan menuju ke pintu gerbang utama kampus melewati mahasiswa dan mahasiswi yang sedang berhalulalang di sekitar Sinta.


--- ooo ---


"Bang kirii bangg." Teriak Sinta.


Sinta pergi menuju rumah sakit tempat Reza di rawat menaiki Kopaja, Sinta sudah terbiasa pergih kemana pun menaiki angkot atau kopaja berbeda dengan hal nya Leva atau Winda yang notabene orang berada jadi kemampuan selalu menggunakan mobil pribadi. Butuh waktu tiga setengah jam dan naik turun angkot dan kopaja untuk sampai di rumah sakit, dengan langkah pelan Sinta berusaha turun menebus desakan penumpang yang berada di dalam kopaja.


"Gelll pelann gelll Barangg baguss mau turun nihh!!." Teriak kenek kopaja sambil membantu Sinta turun.


"Bang kembaliannya bang." Ucap Sinta sambil menjulurkan tangan nya.


"Emang belom bukan nya tadi udah abang kasih?."


"Belom bang buruann cepett!."


"Haha si Cantik mah gitu judes amat, nihh." Ucap kenek kopaja sambil memberikan uang pecahan sepuluh ribuan.


"Bye bye cantikk.... Ayo gell jalan lagii Cinereee gandulll cineree gandulll." Teriak kenek kopaja.


Lalu tak lama kopaja yang tadi Sinta naiki mulai melesat cepat meninggalkan Sinta di halte bus yang tak jauh dari rumah sakit tempat Reza di rawat.


"Iiiywwwhh mimpi apa semalem gua di godain kenek kopaja hihhhh apes banget gua hari ini." Ucap Sinta dengan nada suara sangat jijik.


"Hufttt ginih nih akibat kelamaan ngejomblo kemana-mana sendiri, jadi selalu di godain sama cowo-cowo."


"Yaa allah dari jutaan spesies pria yang ada di dunia ini kapan engkau kirim kan satu saja imam yang soleh, yang berani langsung ngelamar aku bukannya cuma janji-janji aja!." Ucap Sinta dengan ekspresi wajah sewot.


Setelah itu Sinta berjalan pelan menuju ke tempat penyeberangan jalan yang tak jauh dari posisi halte tempat iya berdiri, karena posisi rumah sakit berada di sebrang jalan raya, membuat Sinta harus menyeberang melalaui tempat penyeberangan jalan.


--- ooo ---


"Akhir nya sampai juga di rumah sakit." Ucap Sinta sambil mengelap kening nya yang di basahi keringat menggunakan selembar Tisue.


"Ehh tapi kamar nya yang mana yah duh lupa gua soal nya malem sih terakhir gua kesini sama si Winda...hemmm."


"Oh iya Leva waktu itu kan Kasih alamat ruangan nya di Chat yah, duhh jadi dobel gini pikun nya." Ucap Sinta sambil menggaruk-garuk kepalanya.


Lalu Sinta mengeluarkan smartphone android dari dalam tas, lalu Sinta menatap serius ke arah Layar handphone.


"Vafiliun mawar ruang VVIP 1 lantai 3." Ucap Sinta sambil melihat ke arah layar smartphone milik nya.


"Hemm..langsung ke kamar Reza aja deh."


Lalu Sinta kembali melangkahkan kaki nya menuju ke dalam rumah sakit untuk menjenguk Reza.


Suasana rumah sakit pada siang hari ini cukup ramai, banyak orang yang hilir mudik di area rumah sakit dengan urusan nya masing-masing. ada yang sedang menunggu antrian untuk berobat dan mengambil resep obat, ada yang sedang antri untuk mengurus administrasi rumah sakit dan ada pasien yang baru masuk UGD untuk sesegera mendapatkan penanganan.


Sinta tampak berjalan santai menyusuri lorong Rumah sakit, setelah menaiki Lift menuju ke lantai Tiga gedung Sinta melangkah kan kaki nya menuju Vafiliun mawar VVIP tempat kamar Reza di rawat.


KKREKKKK........


Sinta mendorong pintu Utama area Vafiliun dengan perlahan, Saat Sinta akan menutup pintu kembali tiba-tiba seorang Suster wanita berdiri di depan Sinta sambil menatap ke arah Sinta dengan tatapan menyelidik.


"Selamat siang ada yang bisa kami bantu?." Ucap Suster tersebut yang ternyata adalah Suster Riana.


"Selamat siang juga saya ingin menjenguk pasien atas nama Reza Genta Veno yang sedang di rawat di ruangan VVIP 1." Ucap Sinta sambil tersenyum ke arah Suster Riana.


"Oh tunggu sebentar, mbak nya duduk dulu di kursi itu." Ucap suster Riana sambil mempersilakan Sinta duduk di kursi kecil yang berada di depan ruangan suster.


"Oh ya oke."


Lalu Sinta mengikuti instruksi yang di ucapkan oleh suster Riana, Sinta duduk dengan santai sambil melihat ke sekeliling arah area vafiliun mawar.


"Sebelumnya, saya mau bertanya kepada anda. nama anda siapa dan anda siapa nya pasien?." Tanya suster Riana.


"Hemm kok sekarang mau jenguk aja pake di interogasi dulu sih." Ucap Sinta di dalam hati.


"Nama saya Sinta, Saya teman kuliah nya pasien Reza." Ucap Sinta.


"Oh." Ucap singkat suster Riana sambil melihat-lihat berkas laporan di map folder yang sedang ia pegang.


"Maaf mbak Sinta, pasien Reza Sudah di pindah kan ke ruangan observasi yang berada di sebelah kamar yang terdahulu. jadi pasien tidak bisa dijenguk untuk Saat ini."


"Lahh kok gitu sihh perasaan saya terakhir kali datang ke tempat ini bisa untuk menjenguk, padahal waktu itu pasien Reza juga dalam keadaan parah tapi tidak ada larangan apa-apa dari pihak rumah sakit." Ucap Sinta dengan nada bingung.


"Maaf tapi itu sudah kebijakan rumah sakit." Ucap Suster Riana dengan nada suara tegas.


"Oke jika saya tidak di izin kan untuk bertemu dengan Reza setidaknya izin kan saya untuk melihat dari kaca pintu ruangan." Ucap Sinta.


"Maaf tapi apapun bentuknya pasien sedang tidak bisa di ganggu dan itu sudah peraturan nya!!." Ucap suster Riana dengan nada tinggi dan membentak.


Sinta sedikit shock mendengar perkataan suster yang nada bicara nya seperti terbawa emosi dan meninggikan nada suara nya.


"Maaf anda bisa gak sedikit sopan berbicara dengan saya!." Ucap Sinta dengan nada sedikit emosi karna tak senang hati di bentak oleh suster Riana.


"Saya awal nya bisa saja tapi anda tetap ngotot untuk menentang peraturan yang ada, saya sebagai suster harus menjalankan tugas yang ada!." Ucap Suster Riana.


Sinta sangat geram mendengar perkataan Suster Riana kepada diri nya, Sinta berusaha menahan emosi nya agar tidak meluap lagi.


"Saya akan komplain tentang sikap pelayanan anda yang sangat tidak menyenangkan kepada pengunjung rumah sakit!." Ancam Sinta sambil mengacungkan jari telunjuk nya ke arah wajah Suster Riana.


"Silakan saja!."


"Ohhh gituuu okeee Saya permisi!!." Ucap Sinta lalu langusng mengambil tas yang ia taruh di kursi kecil sebelahnya dan langsung berdiri meninggalkan area Vafiliun mawar tempat Reza di rawat.


--- ooo ---


Jam yang berada di sudut ruangan menunjuk kan pukul setengah dua siang Zona waktu singapura, di dalam ruangan meeting yang cukup besar dan mewah Terdapat sebuah meja meeting cukup panjang dan kursi yang berjejer rapih di dalam ruangan tersebut. Terlihat Leva sedang duduk di kursi eksekutif presiden direktur sambil melihat ke arah depan dengan tatapan kosong, seorang kepala staf perencanaan sedang mempresentasi kan planning perusahaan untuk kedepan nya dengan suara lantang dan penuh keyakinan.


Namun Leva tidak menghiraukan apa yang sedang kepala staf perencanaan presentasi kan, Leva hanya melamun memikirkan kondisi Reza yang masih berada di rumah sakit.


Ttttringggg...ttrringggg....tttringgg


Tiba-tiba Smartphone milik Leva berbunyi yang berada di kantong jas kerja wanita yang iya kenakan, menyadari ada panggilan telefon yang masuk Leva langsung mengeceknya.


"Sinta telfon." Ucap Leva dengan nada suara pelan.


Lalu Leva langsung berdiri dan berjalan menuju pintu keluar ruangan meeting dengan tergesa- gesa tampa memperdulikan acara meeting yang masih berlangsung, Diana sekertaris pribadi Leva terheran-heran dengan Leva yang tiba-tiba meninggalkan ruangan meeting dengan sepihak. Diana langsung berdiri untuk menyusul Leva.


"please resume the meeting." Ucap Diana kepada seluruh peserta meeting sambil berjalan menyusul Leva.


Leva Saat ini terlihat sedang berjalan sangat tergesa-gesa sambil menggenggam dengan erat smartphone milik nya menuju ke balkon Gedung, Diana tampak berusaha mengejar Leva dari arah belakang dengan tergesa-gesa.


"Mbak Levaa tunggu....Mbakk Levaaa." Ucap Diana sambil berjalan cepat.


Lalu langkah kaki Leva berhenti dan Leva membalik kan badan menghadap Diana.


"Ada apaa Dianaa?!." Ucap Leva.


"Ehh Mbak Leva mau kemana meeting kan masih berlangsung." Ucap Diana.


"Hadehhhh udahhh tunda dulu atau sudahhi meeting hari ini." Ucap Leva sambil menatap ke arah Diana.


"Tapi gak bisa di tunda atau di batalkan soalnya ini lagi meeting ngin planning perusahaan untuk kedepan nya."


Lalu Leva terlihat berjalan mendekati Diana dengan ekspresi wajah menahan emosi.


"Udahh sihh batalin aja meeting nya dan saya gak terlalu mementing kan perusahaan ini mau gimana lah mau gitu lah bodo!!, Saya punya urusan yang jauh lebih penting dan tolong anda atur aja terserah!." Ucap Leva dengan nada emosi.


Diana hanya bisa tertunduk ketika Leva memarahi diri nya.


"Baik Mbak maaf." Ucap Diana sambil tertunduk lesu.


Lalu Leva membalik kan badan dan melanjutkan lagi langkah nya menuju balkon Gedung.


--- ooo ---


Sesampainya Leva di balkon Gedung, Leva langsung menyenderkan tubuh nya di tempok sambil menekan layar smartphone untuk menghubungi balik Sinta.


Ttttuuuuttttt.....tttuutttttt..tttuutttt


"Hadehhh lama amat lagi Si Sinta." Gerutu Leva.


Tak lama kemudian panggilan telepon Leva terhubung dengan Sinta.


"Haloooo taaa." Ucap Leva.


.......


"Ehh iyaa Vaaa, tadi gua udah ke rs." Ucap Sinta.


......


"Halloo taaa kencengin dong suara lu berisik banget di sekitar lu, suara apaan sih?."


.......


"Ehh iya Vaaa gua kencengin deh, gua lagi di kopaja bersik mesin nya!." Ucap Sinta sambil meninggikan nada suara nya.


.......


"Ohhh, oh iya gimana-gimana lu udah ke rs jenguk si Reza?." Ucap Leva dengan nada penasaran.


.......


"Gini vaa, udah sih udah gua kerumah sakit tapi asal lu tau Va awal nya sih biasa aja pas gua ke rumah sakit dan saat gua masuk vafiliun ruangan VVIP gua di hadang sama suster."


.......


"Hahh di hadang suster maksud lu?."


.......


"Iya pas gua buka pintu utama Vafiliun tiba-tiba ada suster, yaa kaya nya umur empat puluh tahun nan deh hadang gua, awal nya dia cuma nanya mau jenguk siapa?. Yaaa gua jawab aja mau jenguk pasien atas nama Reza tempat nya di Ruang VVIP."


.......


"Terus Taa?."


.......


"Suster itu bilang Reza sudah di pindahkan ke ruang observasi yang berbeda, tidak bisa di ganggu dan di jenguk." Ucap Sinta.


........


"Lohhh kok gitu sihh anehh Taa?, sumpah gua aja pas hari pertama boleh-boleh aja malah 2 bulan gua tidur makan mandi di situh. dan aneh nya kenapa Reza di pindah raungan gak kabarin gua dulu." Ucap Leva dengan nada suara kebingungan.


........


"Nahhh masalahnya gitu Vaa gua ga ngerti kata nya kebijakan rumah sakit lah apa lah, gua aja udah berusaha nemuin reza hanya sebatas liat dari depan kaca pintu ga boleh Va yang ada gua di bentak-bentak sama suster rese itu." Ucap Sinta.


........


"Kokk anehhh taa kaya ada yang tidak beres begitu." Ucap Leva.


........


"Gua juga nyangka nya gitu juga kaya ada yanga aneh." Ucap Sinta.


......


Lalau Leva terlihat berdiri di area balkon Gedung sambil membolak-balik kan arah jalan ke depan dan kebelakang, Tampak raut wajah Leva sedang memikirkan sesuatu.


"Taaa ginih, gua minta tolong lagi deh taa besok lu jajal ke Rumah sakit lagi cek sekali lagi untuk jenguk Reza. Soal nya menurut gua ada yang ga beres ini mah." Ucap Leva.


........


"Sebenarnya gua sih Males Va buat ketemu Suster yang rese itu, tapi yaa tidak apa-apa deh besok gua kesanah lagi demi kedua sahabat gua Lu dan Reza." Ucap Sinta.


......


"Yaudah taa thanks yah maaf bukannya gua bermaksud untuk nyuruh-nyuruh seenaknya, tapi hanya lu sahabat gua yang bisa gua andelin pada saat ini."


......


"Iya Leva sayangg gpp hehe."


......


"Thanks yah Taa."


......


"Iyaa beb Levaa, oh iya lu balik ke jakarta kapan?." Tanya Sinta.


......


"Sebenarnya beberapa minggu lagi, tapi gua putuskan 2 hari lagi gua harus pulang Ta gua harus liat langsung ke adaan Reza. ketambah ada hal yang ganjil menurut gua dari cerita lu tadi, paling pas sampai bandara gua langsung ke rumah sakit." Ucap Leva.


.......


......


"Sip."


......


"Ya udah yah Va batre handphone gua lobet nih tar gua telfon lagi yah kalo udah sampai di rumah." Ucap Sinta.


......


"Iya Taa besok lu ke Rumah sakit lagi yah dan kalo ada apa-apa lagi langsung telfon gua.


......


"Oke cantik yaudah Byee yahh."


......


"Byeee."


Tttuutt....ttttttuttt....tuutt


Setelah Leva selesai menelfon Sinta, Leva berjalan menuju ke tepi balkon Gedung sambil menaruh kembali smartphone ke dalam saku jas wanita yang iya kenakan.


"Kenapa gua merasa ada sesuatu yang tidak beres yah, hemmmm...harus gua cepat selidiki." Ucap Leva sambil melihat ke arah pemandangan kota dari atas balkon Gedung.


--- ooo ---


"Permisi." Ucap seorang Suster di depan pintu rumah kamar VVIP rumah sakit sambil membawa troli makanan.


Winda Terlihat sedang duduk di kursi kecil di samping bad Reza, Winda sedang mengelus-ngelus manja rambut Reza sambil tersenyum kearah nya.


"Iya silahkan masuk sus." Ucap singkat Winda.


Lalu suster melangkah masuk ke dalam ruangan kamar sambil membawa senapan berisi makanan.


"Selamat sore Saya suster anggun ingin mengantarkan makanan untuk pasien Reza."


"Oh iya taruh di atas meja sus." Ucap Winda.


Lalu suster tersebut melangkah menuju meja dan menaruh nampan di atas nya.


"Sudah, saya permisi." Ucap suster sambil membalikkan badan.


"Iya terimakasih." Ucap Winda.


"Sayang sudah waktu nya makan, kamu harus makan yah soal nya tadi pagi kamu sarapannya sedikit." Ucap Winda sambil menatap ke arah Reza yang sedang berbaring di atas rumah sakit.


"Aku tidak lapar." Ucap Reza.


"Tapi kamu harus makan sayang." Ucap Winda sambil membawa nampan makanan ke hadapan Reza.


Lalu Reza bangkit dan duduk menghadap ke Winda.


"Tapi memang aku tidak terlalu lapar." Ucap Reza.


Mendapat penolakan dari Reza, Winda berpura bersedih sambil menundukkan wajahnya.


"Semenjak kamu lupa ingatan kamu berubah Za kamu gak lagi nurut sama aku, ga kaya kamu yang dulu kalo ada apa-apa pasti kamu nurut sama kata-kata aku." Ucap Winda Dengan nada suara sedih.


Melihat Winda sedang bersedih di hadapan nya, Reza lagi-lagi timbul rasa tidak enak hati telah membuat wanita di hadapan nya ini kembali bersedih karna nya.


"Heiii kamu kenapa bersedih lagi, memang nyatanya aku tidak lapar." Ucap Reza sambil berusaha mengangkat wajah Winda yang tertunduk.


"Gimana aku tidak sedih kamu udah berubah gak nurut lagi sama aku Hiikss." Ucap Winda sambil menangis.


Karena merasa tidak enak hati Akhir nya Reza menuruti keinginan Winda.


"Iya aku makan, tapi jangan nangis lagi yah." Ucap Reza sambil mengambil nampan makanan yang Winda pegang.


Lalu Winda mengangkat wajahnya setelah itu menatap wajah Reza.


"Apa aku harus mengeluarkan air mata terlebih dahulu agar kau ingat pada ku agar kau menuruti kata-kata ku?." Ucap Winda.


"Bukan maksud ku seperti itu."


"Sudah sekarang kamu makan, sinih bair aku yang suapin kamu." Ucap Winda sambil mengambil nampan makanan setengah itu Winda menyuap kan bubur ke Reza hingga suappan terakhir.


Di luar ruangan terlihat Dokter Wahyudi sedang berjalan perlahan menuju ruang kamar VVIP tempat Reza di rawat, dengan empat orang suster yang mengikuti dibelakangnya sambil membawa tumpukan map rekam medis pasien. Dari ke empat orang suster salah satu diantara mereka adalah Suster Riana.


Tokk...tokkk..ttokk


Salah satu orang suster mengetuk pintu kamar saat akan masuk.


"Permisi, Dokter Wahyudi akan Visit." Ucap Suster yang tadi mengetuk pintu.


Lalu Dokter Wahyudi masuk ke dalam ruangan kamar dan berjalan ke arah bad Reza.


"Hallo selamat soreee." Ucap salam dokter Wahyudi sambil tersenyum ke arah Reza.


"Sore Dok." Ucap Winda dan Reza bersamaan.


"Wihhh kaya nya pasien kita sudah tampak jauh lebih segar yah." Ucap Dokter Wahyudi.


"Iya dong Dok pacar saya ini udah sehat." Ucap Winda sambil merangkul manja tubuh Reza.


"Hehe perhatian banget yah pacar nya, yaudah saya cek dulu yah sebentar." Ucap Dokter Wahyudi.


Lalu Dokter Wahyudi mengecek keadaan Reza, setelah Reza di tensi dan sedikit pengecekan medis lain nya Reza di dibaringkan kembali untuk kembali beristirahat.


"Kalo manusia itu pasti punya nama dong, Dokter mau nanya nih mas nya namanya siapa yah?." Tanya Dokter Wahyudi ke Reza.


Mendengar pertanyaan Dokter Wahyudi Reza tampak terlihat Agak kebingungan untuk menjawab pertanyaan, bisa di lihat dari raut ekspresi wajah Reza seperti orang yang sedang berfikir keras.


"Nama eee...Nama nama sayaa...aaarrghh." Reza tampak sedikit meringis kesakitan.


"Sudahh sudahh jangan terlalu di paksa pelan-pelan saja." Ucap Dokter Wahyudi.


"Saya sedikit ingat..eeee oh yaa kata pacar saya ini nama saya Reza yaaaa Rezaaa." Ucap Reza.


Winda yang mendengar perkataan Reza tampak Gembira, Selain karna Reza bisa sedikit mengingat nama nya Reza juga mulai percaya dengan bahwa dirinya lah kekasih Reza.


"Saaayanggg kamu bilang aku pacar kamu?." Ucap Winda dengan nada bicara gembira.


"Baguss Reza sungguh bagus, anda sedikit ada kemajuan." Ucap Dokter Wahyudi sambil tersenyum.


"Oke menurut saya berati Kondisi Reza sudah mulai setabil, dan saya sudah boleh mengizin kan Reza untuk pulang besok." Ucap Dokter Wahyudi.


"Besok sudah boleh pulang Dok?." Tanya Winda.


"Iya sudah boleh pulang, kenapa saya mengizinkan untuk pulang?. karna saya ingin mendorong pasien agar ingattan nya pulih dengan sendiri nya, yaa dengan mengingat kembali orang-orang yang pernah di temui atau tempat biasa iya tinggal atau barang dan makanan favorit pasien." Ucap Dokter Wahyudi.


"Pulang?." Ucap Reza dengan nada kebingunan.


"Iya besok kita pulang kerumah sayang." Ucap Winda sambil mengelus pipi Reza.


"Oke kalu begitu saya izin pamit untuk Visit di ruangan lain nya, jika pihak keluarga sudah mengurus segala biayanya administrasi rumah sakit pasien sudah bisa pulang yaa tapi nanti tinggal sering kontrol aja yah dan untuk mendapatkan obat lagi dari saya." Ucap Dokter Wahyudi.


"Baik dok." Ucap Winda.


"Yaaa saya permisi dulu, dan semoga cepat sembuh dan pulih lagi yah."


"Aminn terimakasih yah Dokter." Ucap Winda.


"Oke sama-sama, yuk sus kita Visit di ruangan yang lain." Ucap Dokter Wahyudi sambil membalikkan badan lalu berjalan pelan menuju pintu keluar di ikuti tiga suster di belakang nya.


Saat ketiga suster yang lain mengikuti Dokter Wahyudi dari arah belakang sambil membawa map rekam medis, Terlihat Suster Riana masih berdiri di ruangan kamar Reza sambil menatap ke arah Winda.


"Maaf untuk Mbak Winda bisa ikut saya sebentar ada yang ingin saya sampaikan." Ucap Suster Riana.


"Oh yaa oke." Ucap singkat Winda.


Lalu Winda menengok ke arah Reza.


"Sayang aku mau di panggil Suster dulu yah, kamu istirahat aja di sini oke." Ucap Winda sambil menyelimuti Tubuh Reza.


Reza hanya membalas dengan anggukan kepala kecil, setelah itu Winda dan Suster Riana berjalan menuju luar Ruangan kamar.


"Ada berita apa yang akan anda sampaikan?." Tanya Winda saat sudah berada di depan kamar.


"Hemm... ngomong nya jangan di sinih, lebih baik kita bicara kan di kantin di belakang Gedung."


"Baik kita kesana sekarang." Ucap Winda.


Winda dan Suster Riana berjalan menuju ke kantin yang berada di belakang Gedung untuk membicarakan sesuatu hal yang akan Suster Riana sampaikan.


--- ooo ---


"Hufftttt..Gua rasa ada yang anehh sama ke adaan Reza, kenapa jadi lost kontak gini tentang informasi keadaan Reza." Ucap Leva sambil duduk di kursi singgasana tertinggi di dalam perusahaan.


Leva sedang duduk bersandar sambil sedang memikirkan sesuatu, Leva sedang menganalisa keadaan yang telah terjadi. Banyak pertanyaan dan rasa penasaran di dalam diri nya, kenapa Leva sangat sulit untuk menghubungi pihak Rumah sakit dan kenapa Sinta juga seakan dipersulit untuk bertemu Reza.


"Gua yakin ada sesuatu hal yang sedang bermain di belakang gua, Tapi apa hemm.."


"Apa gua minta bantuan mamah aja kali yah eee..tapi jangan deh, Gua ga mau ngandelin mamah dulu gua harus mencari tahu sendiri."


Leva bangkit dari kursi kerja dan berjalan menuju ke arah Kaca ruangan Gedung, lalu Leva berdiri dan menatap lurus ke arah jalan raya dari atas gedung.


"Besok gua harus pulang ke jakarta yaa harus gak boleh di tunda-tunda lagi, hemm..Tapi Gua harus ngomong Sama Diana dulu."


Leva membalikkan badan nya lalu berjalan ke pintu keluar dan berjalan menuju ke Ruangan sekertaris.


Leva mendapati ruangan sekertaris terlihat agak sepi dan pintu ruangan tertutup rapat, Lalu Leva mendekat ke arah pintu dan mengetuk nya dari arah luar.


Tokk..ttokkk..tttokk...


"Diana." Ucap Leva sambil mengetuk pintu.


Leva mengetuk pintu ruangan beberapa kali dengan pelan namun tak ada jawaban dari dalam.


"Buka aja deh."


KKREKKKK...TTTTTTT


Lalu Leva Masuk ke dalam ruangan. Saat Leva sudah berada di dalam ruangan Leva mendapati Diana sedang tertidur, dengan kepala di sadarkan ke meja dan kedua tangan nya di lipat untuk menyanggah kenapa nya.


"Oh lagi tidur." Ucap Leva.


Leva memperhatikan Diana yang sedang tertidur, wajah Diana terlihat tampak sangat Lelah. Melihat hal itu Leva teringat kejadian saat Di luar ruangan meeting Leva membentak Diana, Leva merasa tak enak hati telah Memperlaku kan Diana seperti itu. Dengan pelan, Leva berjalan mendekati Diana Dan duduk di kursi kecil yang berada persis di samping Diana.


"Diana." Ucap Leva dengan nada suara pelan dan lembut.


Saat Leva mengelus punggung Diana, Tubuh Diana sedikit bergeliat dan Diana muali tersadar dari alam tidur nya.


"Ehhh Mbakk Leva!." Ucap Diana dengan nada suara sedikit terkejut saat melihat Leva berada di depannya.


Menyadari Leva berada di depannya Diana langsung kembali duduk lalu merapihkan Rambut dan baju nya.


"Ehh maaf Mbakk maaf saya tidur di jam kerja maaf saya mohon maaf yah saya janji gak bakal mengulangi lagi mbak." Ucap Diana sambil memohon ke pada Leva.


Tampa Diana kira Leva tiba-tiba memeluk Diri nya dengan erat.


"Santai aja Diana justru saya yang harus minta maaf ke anda karna saya telah membentak-bentak anda pas di luar ruangan meeting, ga seharusnya saya seperti itu ke kamu." Ucap Leva sambil memeluk Diana.


"Ehhh." Diana terheran-heran dengan sikap Leva.


"Saya maklumi Diana pekerjaan kamu berat dan banyak jadi pasi kamu lelah itu manusiawi kok."


Diana tak mampu berkata-kata mendapatkan perlakuan seperti ini, Diana merasa sekian lama ia berkerja di berbagai macam perusahaan baru kali ini ia bertemu dengan sesosok bos besar yang sangat baik dan tak segan meminta maaf dan mengakui kesalahannya.


"Mbakk aku kagum sama Mbak Leva." Ucap Diana sambil membalas pelukan Leva.


"Mulai deh Lebay nya." Ucap Leva sambil melepas pelukan nya.


"Hehe srius Mbak aku baru pertamakali ketemu seorang Presiden Direktur yang meminta maaf ke karyawan padahal Mbak berhak untuk marah."


"Saya tadi sedikit marah karna saya ingin buru-buru menelfon teman saya untuk menanyakan keadaan pacar saya, yaa mohon di maklumi aja yah hehe."


"Ohh pantas hehe iya aku paham."


Tiba-tiba Leva terlihat tampak serius menatap ke arah Diana.


"Diana besok saya mau balik ke jakarta." Ucap Leva.


"Besok Mbak Pulang ke jakarta?."


"Iya besok, kamu ikut pulang sama saya, tugas kamu di sinih sudah selesai. Saya ingin kamu malem ini bersiap-siap yah untuk kepulangan kita besok." Ucap Leva sambil menepuk pundak Diana.


"Tapi urusan kita di perusahaan ini kan belum selesai mbak, dan masih tersisa waktu dua minggu baru kita bisa pulang." Ucap Diana.


"Sudah pokok nya kita pulang besok, besok pagi saya jemput anda dan saya harap saat saya sudah datang anda sudah rapih yah Diana." Ucap Leva sambil tersenyum ke arah Diana.


"Oke dehh Mbak saya nurut dengan perintah Mbak."


"Nahh gitu dong, ya sudah saya mau balik ke ruangan saya dulu oke."


"Baik Mbak."


Lalu Leva berdiri setelah itu langsung berjalan menuju pintu keluar dan melangkah kembali ke ruangan tempat Leva bekerja.


--- ooo ---


Winda dan Suster Riana kini sedang duduk saling berhadapan di kantin rumah sakit yang berada di belakang Gedung, mereka ber dua tampak berbincang-bincang sangat serius. akan tetapi nada suara mereka aga di pelankan agar beberapa orang yang berada di sekitar mereka, tidak terlalu mendengar apa yang sedang mereka bicarakan.


"yaaa seperti itu, wanita berhijab yang bernama Sinta itu sangat memaksa untuk masuk untuk menemui pasien Reza." Ucap suster Riana.


"Yaa sukur nya anda melakukan tindakan yang tepat." Ucap Winda.


"Dan ohh iya saya ingin memberi tahu ke anda bawa anda harus amat sangat waspada dengan seorang wanita yang bernama Leva." Sambung Winda.


"Leva yaa saya sempat beberapa kali bertemu dengan sosok wanita itu, tapi kenapa saya harus waspada dengan sosok wanita yang satu ini?." Tanya suster Riana.


"Hahaha asal anda tau saja Leva ini orang nya cerdik sperti saya tapi lebih unggul saya sih, tapi anda jangan menganggap remeh jika permainan kita terbongkar, bisa-bisa anda bisa hilang segalanya loh." Ucap Winda sambil tersenyum sinis ke arah suster Riana.


Mendengar perkataan Wanda hati suster Riana sedikit timbul rasa takut dan cemas, bisa dilihat dari mimik wajah suster Riana tampak sedikit takut dan was-was.


"Biasa saja kali gak usah takut begitu hahaa, tenang saja saya yang backing anda." Ucap Winda sambil tertawa melihat ekspresi wajah Suster Riana.


"Hehe abis anda bicara nya bikin saya sedikit khawatir."


"Hahaa tapi serius saya gak bohong, pokoknya kita harus bermain rapih dan tidak boleh lengah sedikit kesalahan bisa berdampak fatal."


"Tapi untung nya selama ini saya tidak melakukan kesalahan." Ucap suster Riana.


"Jangan PD dulu anda, yaa sekarang tidak tapi untuk kedepan nya?. Ucap Winda.


"Hehe iya iya tapi saya akan berusaha semaksimal mungkin untuk bermain rapih. Ucap suster Riana.


"Dan pokok final dari permainan kita selama ini, anda harus segera mengurus kepulangan pasien Reza malam ini juga. dan saya akan melunasi segala tagihan rumah sakit agar pagi-pagi saya dapat membawa Reza keluar dari rumah sakit." Ucap Winda.


"Baik." Ucap singkat suster Riana.


"Oke jangan lupa setelah saya sudah ke luar dari rumah sakit, anda harus segera berhenti dari pekerjaan anda sebagai suster di rumah sakit ini. " Ucap Winda.


"Tapi anda benar kan akan mempekerjakan saya di perusahaan ayah anda?, soal nya saya mempunyai tiga anak yang harus di nafkahhi." Ucap suster Riana.


"Iya saya janji, bawa saja CV lamaran anda ke alamat kantor yang saya sebutkan tadi." Ucap Winda.


"Oke jika sudah ada kepastian saya sedikit tenang."


"Ya sudah kalau gitu rencana sudah matang saat nya permainan di mulai." Ucap Winda sambil menjabat tangan suster Riana.


"Yaa di mulai." Ucap suster Riana sambil membalas jabatan tangan Winda.


Winda dan Suster Riana saling memandang satu sama lain, diiringi senyuman sinis oleh kedua nya.


--- oOo ---