
"Nova dulu kerja dimana?" Tanya
Pak Haryono.
"Saya kerja disupermarket C******,
Pak." Jawabku singkat.
Terlihat Pak Haryono
mangguk-mangguk. 'Jadi kamu sudah
tau dong ya, cara-cara membuat
pembeli agar tertarik dengan produk
yang kita jual."
"Ya, bisa, Pak. Banyak cara-caranya.
Aneh si Bapak ini. Kenapa nanya
seperti ini ya.
"Saya makin yakin untuk
secepatnya menikahkan kamu dan
Choky." Pak Haryono tersenyum lebar
dan menepuk-nepuk paha anaknya.
"Nova sudah mempunyai ilmu cara-cara menarik minat pembeli. Itu
tak jauh beda dengan cara menarik
simpatimu, kan? Pasti dia akan
membuatmujatuh cinta." Lanjut si
Bapak.
Lagi, mataku membelalak kaget.
Ternyata taktikku salah. Padahalkan
ini rencanaku untuk membuat Pak
Haryono menarik keinginannya
menikahkanku dengan anaknya.
Dan Choky terlihat hanya
tersenyum. Diam tidak bergeming.
"Nova, Papa minta nomor telfon
kamu, ya. Ini tulis diponsel Papa."
Pak Haryono menyodorkan ponsel
pintarnya itu di atas meja.
Ya Hancur, sejak kapan gw punya
Papa? Dengan PD nya dia bilang
|begitu. Tanpa minta restu dari gw. Dari tadi hatiku bergemuruh tak
tentu.
"Nih." Choky memberikan ponselnya
dia sendiri padaku. Karna dari
tadi aku tidak mengambil ponsel
Papanya.
Aku raih ponsel yang ditangan
Choky. Lalu aku ketik nomorku
dilayar ponselnya. Kaya'nya ini anak
sama Papanya sama deh. Aku kalah
taktik deh.
Hhuftt ...
***
Sejak kepergian Choky dan Papanya
atau lebih tepatnya calon suami dan
calon mertuaku, aku hanya tiduran
dikamar. Pikiranku yang biasanya
penuh dengan Reno dan semua
kenanganku dengannya.
Kini aku
sibuk memikirkan Choky. Aku masih belum mengerti,
bagaimana bisa dia menyukaiku.
Bahkan dia setuju untuk menikah
denganku.
ya aku sebenarnya
memang cantik. Tapi tadi aku tidak
menunjukkan kecantikanku sama
sekali. Bahkan aku tampil sejelek
mungkin. Dan tentang pekerjaanku
juga.
Sungguh ini gila.
Mantan kekasihku
Jangan kau lupakan aku
Bila suatu saat nanti
Kau merindukanku
Datang datang padaku ho hey hey
hey Mantan ....
Tiba-tiba ponselku berdering. Aku
raih ponselku. Terlihat nama Lia yang sedang menelfon.
"Hallo." Sapaku.
"Hallo, Nov, lagi ngapain?"
Sahutnya.
"Tiduran dikamar. Kenapa? Lo udah
kangen sama gw, ya?"
"lya, Noy, terpaksa harus beli bensin,
pengen keluar cari makan nggak ada
temen. Jadi inget sama elo terus.
"Hahah ... rasain lo! Makanya
jangan suka ledekin gw dong.
"Eeh, orangtua lo sehat, kan?"
"Sehat kok. "
"Terus lo kenapa harus sampai
resign, Nov?"
"Gw disuruh nikah, Lia."
"Apa?! Nikah?!"Teriaknya sangat kencang. Membuatku menjauhkan
ponselku dari telingaku.
"Hey! Jangan kencang-kencang dong.
Bisa budeg gw!"
"Ya, gw kan terkejut, Nov. Elo
nikahnya sama siapa? Kakek-kakek?
Atau pakde-pakde?"
Dasar Lia. Selalu pikirannya buruk.
"Surprize pokoknya. Besok gw kasih
tau. Gw sekarang capek. Mau mandi
dulu ya."
"Eh, rese lo! Cerita dulu dong!"
Langsung aku matikan telfonnya.
Aahh pasti Lia bakalan mati kepo.
Hahahhh bisa gw bayangi wajahnya
yang super kepo itu.
Klunting.
Ada chat wa masuk. Aku raih kembali ponselku. Terlihat sebuah
pesan dari nomor baru. Tidak ada nama yang muncul.
(Besok gw jemput jam9 pagi)
Ini siapa sih, nggak ada namanya.
Foto profilnyajuga cuma gambar
sebatang rokok saja.
(Siapa ya?) klik sent langsung centang dua
biru. Sedang mengetik.... Begitu
tulisan diatas layar profilnya.
(Calon suamimu)
Jawaban yang sangat singkat. Jelas
banget. Aku kaget mengetahuinya.
Choky, cowok ganteng itu. Sampai
dirumah, dia langsung wa aku. Aku
senyum-senyum sendiri. Guling
kekiri, guling kekanan.
(Besok kita mau kemana?)
Langsung sent centang dua biru. Lama banget. Aku pantengin
ponselku.
Tapi nggak ada balasan.
Sepertinya dia sengaja nggak bales
deh. Nyebelin.
Pukul 8 lebih 30 menit. Aku sudah
rapi, wangi. Bahkan aku dandan
sangat cantik.
Menggunakan dress
warna kuning motif bunga-bunga
dan aku padukan dengan jaket jeans
rawisku. Kali ini aku pakai flatshoes.
Agar tinggiku dan Choky serasi. Karna
dia tidak setinggi Reno. Menunggunya
sambil duduk diluar rumah.
"Kak Nova nungguin siapa sih?" Lina
adiku nomor 2, yang masih duduk
dikelas 2 SMP. Dia duduk dikursi sebelahku.
"Nungguin temen, Lin." Jawabku
ponselku. Takut kalau Choky
mengirim pesan.
"Calon suaminya Kakak, ya?"
Aku mengeryitkan keningku. "Kok
kamu tau?"
"ībuk yang bilang. Ibuk sudah cerita
sama aku dan Kak Fani."Aku hanya
mangguk-mangguk. Jadi Ibuk sudah
kasih tau adik-adikku. "Andai aja Lina
udah gede. Lina mau banget nikah
sama Kak Choky."
Aku tersenyum mendengarkan
gerutuan Lina yang menurutku
sangat lucu. "Hey, menikah itu tidak
semudah yang kamu bayangin Lin.
Prosesnya itu susah."
"Oo jadi karna susah itu ya, Kak
Nova belum juga nikah? Susah ya,
Kak? Yang susah yang mana, Kak?"
Tanyanya dengan sangat polos.
Bahkan wajahnya terlihat tanpa
expresi sedikitpun.
Aku tepuk jidat.
Mobil sport warna merah kombinasi
hitam, memasuki plataran runmahku.
Mobil yang sangat mewah.
"Waah, mobilnya bagus banget,
Kak." Lina langsung berdiri. Aduh
expresi Lina sungguh membuatku
malu.
Choky turun dari mobil itu.
Dia lepas kaca mata hitamnya.
Lalu menatapku. Aku buru-buru
menyuruh Lina masuk dengan alasan
membuatkan minum.
Choky keren
baget. Penampilan yang cool. Kalau dapat ganti model begini, aku bisa mo've on dengan mudah
Dia berjalan mendekatiku.
Memperhatikan aku dari atas sampai
bawah.
"Lo keberatan nggak kalau gw suruh
ganti pakai celana aja." Pintanya.
Hah, apa yang salah dengan rokku?
Kulit kakiku juga bersih kok. Nggak
ada bekas luka. lihh ini orang kenapa
sih, aneh.
"Kenapa? Nggak mau, ya?"
Tanyanya. Karna aku masih saja
|berdiri tidak segera masuk.
"Ah, iya, iya. Aku ganti dulu."
Barusaja aku berjalan dua langkah,
đia sudah menanggilku lagi.
"Panda, lo ada jaket hodie, kan? Atau sejenis sweater? Lo pake yang seperti
itu aja ya. Dan rambut lo. Tolong
jangan dibiarkan terurai. Mata qw
sakit ngeliat nya."
"Panda? Lo panggil gw Panda?"
Tanyaku dengan sedikit berteriak.
Yang benar saja dia memanggilku
dengan nama heuwan.
"Kenapa? Elo nggak suka? Kalaupun
lo nggak suka, gw juga nggak bakalan
ganti panggilan." Ucapnya dengan
sangat santai. Aku hanya bisa
menahan kesal sambil mengepalkan
tanganku.
"Itu kok matanya udah
nggak kaya' Panda lagi? Kemana
mata pandanya?"
"Hilang dimakan nyamuk!"
Jawabku dengan kesal. Lalu aku pergi
meninggalkannya.
Gila ya, bahkan cowok itu lebih menyebalkan dari
pada Lia. Baru juga kenal, udah
begitu.
Aku masuk kamar dan ganti
kostum.
Baru kali ini nemuin cowok
yang aneh. Kalau Reno dulu, paling
seneng liat aku pakai dress begini.
Lha dia? Malah menyuruhku
berpenampilan layaknya pria.
Dasar aneh. Selesai ganti kostum,
aku berjalan keluar lagi untuk
menemuinya
. Aku lihat disana
sudah ada Lina yang mengantarkan
minuman. Choky langsung
meminumnya hingga tinggal sedikit.
"Lo haus, ya?" Tanyaku. Karna
caranya minum sudah mirip orang
yang habis lari jauh.
"Biar bisa cepat pergi. Mertua gw mana. Cepet panggilin. Kita sudah
ditungguin ini. Takut telat." Katanya
sambil melihatjam ditangannya.
"Ayah sama lbuk belum pulang,
Kak. Nanti Lina aja yang bilang sama
Tbuk. Kalau Kak Nova pergi sama Kak
Choky." Jawab Lina.
"Oh, ok deh. Kalau gitu, salam ya
buat Ayah dan lbuk. Kakak bawa dia
pergi dulu."
Lina menjabat tangan Choky,
diciumnya punggung tangan Choky.
Begitu juga dengan aku. Aku hendak
masuk kedalam mobil, tapi nggak bisa
buka pintu mobilnya. Jadi hanya diar
didepan pintu. Terlalu malu untuk
jujur sama Choky.
"Yaela, kampungan banget sih!"
Ucap choky dari dalam mobil. Lalu dia bukakan pintu itu dari dalam.
"Dasar,
malu-maluin. Buka pintu aja nggak
bisa."
Aku hanya diam tak membalas
ejekannya. Aku mengerucutkan
mulutku. Lalu duduk dikursi depan
samping Choky.
Selama perjalanan kami hanya
diam.
Dia menyetir dengan sangat
serius. Fokus hanya melihat kedepan.
Sama sekali tidak melirikku.
Sekitar
10 menit, mobil newah Choky
terparkir di sebuah rumah yang
sangat besar. Sungguh rumahnya
besar dan mewah. Didepan ada taman
yang sangat luas.
Choky turun dari mobil, muter
dari depan dan membukakan pintu
untukku.
Karna dia tau aku nggak bisa buka pintunya. Lalu dia
lemparkan kunci mobil itu ke
seorang penjaga yang berdiri didepan
rumahnya.
"Ayo masuk." Dia berjalan
memasuki rumah itu. Aku hanya
mengikuti setiap langkahnya.