
Belum
membungkam mulutku dengan
selesai aku bicara, Ardi sudah menutup mulutnku dengan
tangannya.
"Sstt... Dengarkan dulu.
Ngomongnya nanti." Ucap Ardi.
Ya, sepertinya aku memang harus
mendengarkannya dulu.
"Nova, kamu harus menerima
lamarannya Pak Haryono ini. Dia
adalah pemilih sekaligus direktur
utama di pabrik tempat Ayahmu
bekerja."Jelas lbuk. Tbuk menghela
nafas beratnya.
"Semninggu yan9
lalu, Ayahmu masuk malam, dia
lalai dengan kerjaannya sehingga
membakar semua gudang di pabrik.
Kami tidak punya uang untuk
mengganti kerugiannya yang jumlahnya sampai beberapa ratus
juta. Bahkan mungkin sampai
hitungan milyar."
Aku lihat Ayah hanya
menundukkan kepalanya. Tapi
terlihat matanya yang sudah
memerah. Tbu mengelus pundak Ayah
berkali-kali.
"Pak Haryono datang kerumah
kita secara pribadi. Beliau meminta
Ayahmu untuk menikahkan anaknya
dengan anak laki-laki Pak Haryono.
Lalu semua dianggap lunas. Ayahmu
juga tidak akan dituntut hukum."
Expresi terbaik bagaimana sekarang
yang akan aku tunjukkan.
"Kamu tau kan, Fani dan Lina masih
sekolah. Kamu adalah harapan Ayah
dan Tbu satu-satunya, Nov.
"Ayah memohon padaku dengan
menelakupkan kedua tangannya.
"Ayah mohon, Nov."
Aku menatap Ardi. Hingga kami
saling berpandangan. Mataku mulai
berkaca-kaca. Lalu Ardi merangkulku.
Mengelus pundakku.
Ayah, seandainya engkau tau yang
|baru saja aku alami. Aku baru saja
ditinggalkan oleh orang yang sangat
penting dalam hidupku. Bahkan aku
tidak lagi perawan. Rasa sakit itu sulit
untuk hilang Ayah. Kenapa sekarang
aku harus menghadapi ini? Menikah?
|Dengan orang yang tidak aku kenal.
Seperti apa keluarganya bahkan aku
"Baiklah." Aku mengusap pipiku
yang mulai basah. "Aku akan menikah."
Ayah langsung tersenyum
mendengarkan jawabanku.
Dia
berpelukan dengan Ibuk. Begitujuga
Paman dan Bibi. Aku memeluk Ardi
dengan erat. Ardi hanya mengelus
punggungku. Pasti dia tau apa yang
aku rasakan saat ini.
"Nova, kamu tidak perlu lagi kerja.
Kehidupan kamu sudah pasti akan
terjamin." Ucap Bibi.
Aku lepaskan pelukan Ardi. Lalu aku
berlari kekamarku.
"Nova!" Teriak Ayah memanggilku.
Tapi tak kudengarkan lagi teriakan
Ayah. Hatiku sangat rapuh sekarang.
Aku langsung tengkurap diatas
ranjang dan menangis sejadi-jadinya.
"Sudah, Yah. Nanti Nova juga
akan mengerti. Dia menangis karna
kaget, Yah." Tbuk yang berusaha
menenangkan hati Ayah.
Memang dari dulu Ayah adalah
yang paling menyayangi aku. Berbeda
dengan kasih sayang lbuk.
"Bagaimana jika ternyata Nova
sudah punya kekasih, Buk. Kasihan
dia,"
"Ayah tadi juga dengar, kan?
Nova setuju untuk menerima
lamarannya."
Ardi masuk ke kamarku, dia
mengelus pundakku dengan lembut.
Memang dari kecil aku sangat dekat
dengan Ardi. Umur kami sama hanya
berbeda bulan saja.
"Nova. Kalau lo nggak mau, kenapa
lo menyanggupi?" Katanya dengan
lirih. "Elo bisa menolaknya, kan?"
Aku duduk dan mengusap pipiku
yang basah dengan kasar.
"Kalau
gw nolak, apa Ayah nggak akan
dipenjara? Uang sebanyak itu, gimana
ngebayarnya coba? hiks hiks hiks ...."
Ardi mengelap pipiku dengan
lembut. Lalu memelukku lagi,
mengelus pundakku.
Gw harap keluarga Pak Haryono
bisa menerima elo dengan baik. Dan
suami elo, bisa menyayangi elo dengan
sepenuh hatinya. Batin Ardi dalam
hati.
Sabtu pagi yang mendung.Sama
seperti suasana hatiku yang sangat rapuh. Mataku mulai terlihat seperti
mata panda. Semalam aku menangis
tanpa bisa berhenti. Air mataku
menetes tanpa aba-aba.
Bahkan
sekarang sulit sekali untuk kubuka.
Ingin rasanya gantung diri, atau
membenturkan kepalaku ditembok.
Tapi jika aku mati, bagaimana dengan
Ayah? Bagaimana jika Pak Haryono
meminta Fani atau Lina yang
menikah dengan anaknya itu.
Berarti
adikku akan putus sekolah. Aku tidak
ingin semua itu terjadi.
Tunggu!
Kenapa Pak Haryono sampai
mencarikan jodoh untuk anaknya itu?
Bahkan dia mempunyai pabrik besar
yang banyak cabangnya. Kekayaan
sangat berlimpah. Apa anaknya itu cacat? Atau gila? Atau sangat
menikah dengan dia? Aah sepertinya aku punya cara.
***
Pukul g lebih 30 menit.
"Nova! Nov!" Teriak Ibu dari luar
kamarku.
Aku memang mendengarnya.
Aku sengaja tidak menjawab
panggilannya. Aku sengaja masih
menyamankan tubuhku diatas kasur.
Belum madi belum menyiapkan apa
pun.
Ceklek!
Terdengar suara pintu kamarku
yang terbuka,
"Nova! Kamu masih tidur?!"
Teriaknya lagi. Dia menarik selimut yang masih membungkus tubuhku.
Aku mengeliat dengan sangat malas.
"Ayo cepat bangun. i5 menit lagi calon
suamimu akan datang." lbu menarik
tanganku untuk segera bangun.
"Buk, Nova masih ngantuk."
Aku duduk ditepi ranjang sambil
mengucek mataku.
"Tidurnya nanti lagi. Sekarang
cepat mandi. " Tbu mendorong tubuhku
masuk kedalam kamar mandi.
Didalam kamar mandi, aku sengaja
berlama-lama.
Aku ingin membuat
keluarga Pak Haryono membenciku.
Saat aku keluar dari kamar mandi,
aku tak lagi melihat lbuk dikamarku.
Tapi sudah ada sebuah dress warna
merah diatas ranjangku.
Sepesial sekalijika aku harus memakai dress secantik ini.
Gumamku
sambil ku amati dress merah yang
memang sangat cantik itu.
Pukul 1o lebih is nenit.
Aku
memutuskan untuk keluar kamar.
Aku memakai celanajeans panjang
yang sobek dibagian lutut berpadu
dengan kaos merah yang aku
tutupi kemeja warna biru dongker.
Rambutku aku ikat acak-acakan. Dan
aku sengaja tidak merias diri.
Masih
dengan mata sembab dan pandaku.
Hanya sedikit mengoleskan lipstik
agar tak terlihat pucat.
Aku berjalan santai menuju ruang
tamu. Terlihat ada beberapa orang
disana.
"Itu kah, yang namanya Nova?"
Tanya seorang lelaki paruh baya umurnya terlihat lebih tua dari Ayah.
Kumisnya tebal, badannya besar.
Terlihat sangat berwibawa dan gagah
dengan jas warna navy yang melekat
ditubuhnya itu.
Ayah menoleh kearahku.
"Maaf ya, sudah menunggu lamna."
Sapaku pada mereka semua. Aku
langsung menyalami orang itu. Lalu
aku duduk di sofa dekat Ayah.
Tbuk terlihat marah karna aku tak
berpenampilan seperti yang Ibuk
harapkan.
"Ini putri kami, Pak. Ini
yang namanya Nova." Ayah
memperkenalkanku. "Penampilannya
sehari-hari memang seperti ini, Pak.
Tidak ada yang dibuat-buat. Saya
minta maafjika Bapak kurang berkenan."
"Saya sangat suka, Pak." Ucap Pak Haryono
Mataku membelalak kaget. Apa? Dia
menyukai penampilanku? Bahkan
aku sengaja berpakaian layaknya
preman. Tak ada sedikitpun bedak
diwajahku.
"Dia sangat alami. Berbeda dari
gadis yang lainnya." Lanjut Pak
Haryono.
Kali ini aku tersenyum nyengir.
Benar-benar gila! Kuhela nafas
kasarku.
Ayah dan lbuk pun terlihat sangat
lega dengan senyumnya yang
merekah di bibirnya.
Masuklah seorang pria gagah, kulit putih, Tubuhnya pun kekar.
Terlihat
sekali jika dia pecinta olahraga.
Tapi sungguh, dia sangat tampan.
Bahkan lebih tampan dari Reno.
Dia tersenyum padaku dan pada
kedua orangtuaku. Lalu dia duduk
disamping Pak Haryono.
"
Choky, itu Nova. Calon istri mu, "
Ucap Pak Haryono sambil
menunjukku.
Jadi dia yang akan menjadi
suamiku? Orang yang sangat
tampan. Sungguh dia sangat tampan.
Wajahnya putih bersih, senyumnya
pun sangat manis.
Mana mungkin
orang setampan itu tidak ada yang
mau. Apalagi dengan kekayaannya
yang melimpah. Pasti banyak sekali
kan cewek-cewek yang menginginkannya.
Pria yang bernama Choky itu
berdiri, dia tersenyum padaku.
Senyum yang sangat manis.
Lalu mengulurkan tangannya
untuk berjabatan denganku. Aku
meraih tangannya dan membalas senyuman nya.
"Choky." Ucapnya. Suaranya pun
sangat lembut. Dia memperhatikanku
dari atas sampai bawah.
"Nova." Balasku.
Dia duduk kembali disamping
Papanya.
"Apa kau menyukainya, Chok?"
Tanya Pak Haryono sambil
menatapku. Lalu kembali menata
anaknya.
"ya, Pa. Aku sangat menyukainya.
Dia manis sekali. Mirip boneka
panda."