
Mobil hitam milik Erik berhenti
didepan kostku. Aku sibuk mengelap
pipiku yang masih basah.
"Habis ini lo mau kemana?" Tanya
Erik.
"Tidur."
"Ya udah gw temenin."
Aku langsung menatapnya tajam.
Bola mataku langsung berputar.
"Maksud gu, gw akan temenin lo
ngobrol di depan kamar. Biar lo nggak
seharian nangis sampai besok pagi
mikirin orang yang lagi asik malam
pertama."jelasnya sambil menjitak
kepalaku dengan jarinya.
"Melotot nya
udah lebih serem dari burung hantu!" Aku melihat ke spion, terlihat
mataku disana yang memang mirip
burung hantu. Maskaraku luntur
karna air mata.
"Aaa! hantu!"
"Hahahahh .."
Kami berdua turun dari mobil.
Berjalan menuju kamar kostku.
Erik
duduk diluar, aku masuk ganti baju
dan cuci muka. Setelah selesai, aku
keluar membawakarnnya secangkir
godday favorite nya.
"Makasih ya." Ucapnya.
Lalu aku duduk dikursi
sampingnya, terhalang sebuah meja
kecil ditengahnya.
"Rik, kok elo nggak nyari cewek sih?
Dengar-dengar anak magang yang namanya Sesil itu suka sama elo ya?"
Erik mengambil cangkir yang ada di samping dan meminumnya.
"Ngegosip lo!"
"Eh, bener kan? Dia sering ngeliatin
elo. Suka cari-cari perhatian gitu."
"Kok elo bisa tau?"
"Kata anak buah guw sih gitu."Aku
nyengir
. "Kenapa elo belum punya
pacar sih?"
"Gw takut nantinya ditinggal
nikah."
Aku tinju lengannya. "Sialan lo!"Aku langsung cemberut.
"Hahahah... Nggak gitu. Guw cuma
bercanda kok."
"Rik, Reno kenapa sih kok ninggalin
gw? Dia nggak cerita sama elo ya?""Yakin pengen tau?"
"lya lah. Setidaknya, gw tau kan
alasannya ninggallin gw. Andai aja
dia bilang kenapa dia pergi, mungkin
sakitnya nggak akan seperti ini."
"Tapi elo jangan marah ya."
"Iya gwjanji deh." Aku
mengacungkanjari kelingkingku.
"Ok gw kasih tau." Erik menatapku.
Menghela nafasnya.
"Dia bilang, elo udah nggak ... Perawan. Terus dia
kecewa."
DUuerr!
Serasa ada kembang api yang
sedang menyala dikepalaku. Emosi.
Tentu saja iya aku emosi.
Aku langsung menggenggam erat
lengan Erik.
"Bagaimana bisa dia bilang begitu??!! Jelas-jelas itu
pertama kalinya!!" Aduh. Aku jadi
keceplosankan. Aku mengacak-acak
kelalaku.
"Aaarrg! Sialan!" Aku
menggigit lengan Erik.
"Aaa!!"*
**
Seperginya Erik, aku menangis
seharian bahkan mengurung diri
didalam kamar sampai malam. Aku
tidak bisa tidur.
Pikiranku tak tentu.
Bagaimana bisa dia bilang
seperti itu? Itu pertama kalinya
aku melakukannya. Aku
menyerahkannya dengan mudah pada
Reno. Dan dia bilang seperti itu, apa
maksudnya?
Aku duduk ditepi ranjang. Kembali
kuingat kejadian minggu itu. Saat aku melakukannya. Dia memakai alatpengaman itu didepanku.
Lalu dia
memaksaku dengan cintanya. Saat
dia memasukkannya, aku merintih
kesakitan. Bahkan tak henti-hentinya
aku menangis karna sangat perih
rasanya. Dan perih itu terasa sakit
sampai senin pagipun masih terasa.
|Tapi memang tidak ada noda merah
di atas sepraiku. Aku juga tidak tau
kenapa selaput darahku tidak sobek
saat itu.Apa karna tidak ada noda merah
itu? Pasti iya kan. Karna tidak
ada noda selaput darah, jadi dia
menganggapku tidak lagi perawan.
Jahat sekali dia.
Hanya mencari
selaput darah, dan setelahnya pergi
begitu saja. Bahkan dia tidak peduli
dengan sakit yang dia goreskan.
Bukankah tanda perawan ata
tidaknya bukan hanya dengan selaput
darah yang pecah? Aku pernah baca,
selaput darah bisa saja pecah karna
terjatuh atau karna apalah ititu
Jadi
|bisa saja saat pertama kali melakukan
hubungan seperti itu, tidak lagi keluar
darah.
Hanya saja perih dan sakit
dibagian ************ dan pangkal
paha. Itu tanda-tanda gadis masih perawan.
Bodoh sekali dia! Aah aku yang
|bodoh. Kenapa aku bisa percaya
dengan dia yang bodoh seperti itu. Aku
harus menjelaskan semuanya.
Aku akan menelfonnya sekarang.
Aku mengambil ponsel dan mulai
kucari nomornya Reno. Aah pasti aku
sudah gila. Ini kan malam pertamanya.
Bagaimana bisa aku mengganggunya dengan menjelaskan
keprawananku. Aku kembali
merebahkan tubuhku di ranjang.
Pikiranku tak bisa lepas dari Reno.
Semua kenangan yang pernah kita
ukir, semua berlarian dikepalaku.
Air
mataku terus menetes tanpa aba-aba.
Aku ambil dompetku lalu keluar
kamar.
"Mau kemana, Nov?" Tanya Lia yang
sedang duduk didalam kamarnya,
kebetulan pintu kamarnya tidak
ditutup.
"Mau ke warung cari shampoo."
Jawabku asal.
Aku melajukan motorku menuju
warung terdekat.
"Mbak, beli rokok m**** mentol. " Ucapku pada pemilik warung.
Setelah mendapatkannya lalu
aku membayar dan pergi.
Aku
melajukan motorku kembali kekostku.
Aku langsung naik kelantai dua,
tempatjemuran baju. Sudah pasti
disana akan sepi tak ada orang.
Kunyalakan rokok ditanganku, mula
menghisapnya perlahan-lahan.
"Uhuk! Uhuk! Uhuk!."
Awalnya batuk-batuk. Tapi
lama-lama aku menikmatinya.
Setelah rokok pertama habis, aku
menyalakan lagi yang kedua.
Seperti itu seterusnya.
Hingga aku
habis rokok satu bungkus. Mulai
terasa ngantuk. Lalu aku turun dan
tidur.
Agak sedikit bisa lupa dengan
masalahku. Aku merasa diriku sudah rusak.
Aku tak lagi suci. Untuk apa aku
menjaga baik-baik tubuhku ini
. Aku
tidur dengan mata yang tak henti
meneteskan bulir-bulir bening.
***
"Nov, Nova! Nov." Teriakan dan
|ketukan pintu yang bersaman
dari luar kamar membuat tidurku
terganggu.
"lya. Apa sih, Lia." Dengan malas
aku berjalan untuk membuka pintu
kamar.
"
Ya hancur Noy, elo baru bangun?"
Lia berdiri didepanku, dia sudah rapi
dengan seragam kerjanya.
Terlihat aku dengan rambut singa
dan masih sedikit merenm.
"Gw mau minta bedak. Bedak gw habis. Belom sempet beli." Tanpa
malu-malu dia langsung masuk
kamarku dan mengambil sekotak
make up diatas meja. Aku kembali
merebahkan tubuhku diranjang.
"Hey, lo mau masuk kerja nggak?"
"Masuk."
'Buruan mandi gue mau nebeng motor lo. Bensin gw habis."
"Beli dong."
"Belum gajian."
"Sama kan."
"Beda dong. Kalau lo patah hati, gw
|kan nggak."
Aku langsung melototinya sambil
mengacungkan kepalan tanganku.
Dia nyengir dan menutupi mukanya dengan kotak make up ku.
"Dasar lo!"
Mengikuti brifing yang berlangsung
membrifing Pak Joni.
Biasanya sih
Reno pacarku itu, eh sekarang sudah
menjadi mantan. Selama brifing, aku
tak begitu mendengarkannya, aku
malah mengingat saat Reno dulu yang
mengisi briftngnya.
Setelah 15 menit,
aku turun kelantai bawah, karna aku
sekarang bertugas dilantai bawah
untuk mendampingi anak chacier
yang magang.
Kerjaanku cukup simple, hanya
mengawasi mereka saja. Tapi saat
mereka melakukan kesalahan, aku
lah yang kena imbasnya.
Aku juga
yang harus meminta maaf pada pelanggan.
Eeh, iya sampai lupa ya gaes,
kenalkan namaku Nova Astria.
Aku
bekerja sebagai senior chacier disalah
satu supermarket terbesar. Tempat
kerjaku ini ada di kawasan mall
kota.
Aku berdiri di bibir toko sambil
memegang HT. Pikiranku terus
saja menikirkan Reno.
Ingin
sekali aku menjelaskan semuanya.
Memberitahunya bahwa aku masih
perawan. Tapi bahkan itu tak penting
lagi. Menyebalkan sekali.
"
Noy, kirain nggak masuk. Gw cari
diatas tadi." Ucap Erik yang sudah
berdiri disampingku. Entah sejak
kapan dia isampingku.
"Masuk lah, emang kenapa nggak masuk?"
"Maaf ya buat kemarin. Seharusnya
gw nggak ngomong itu sama elo."
"Nggak papa, Rik. Gw biasa aja kok.
Makasih ya, udah ngasih tau. Tangan
elo gimana?" Aku lihat tangan Erik
masih diperban.
"Maaf ya, kemarin gue emosi."
"Iya santai aja."
Mataku tertuju pada seorang lelaki
yang sangat sempurna. Dia memakai
kaos putih dan dibalut kemeja lengan
panjang warna biru muda.
Kemeja itu
sengaja tidak ia kancingkan. Itulah
gayanya dia. Siapa lagi kalau bukan
Reno. Hanya dia lelaki sempurna
dimataku.
Rambutnya yang masih
sedikit basah, membuatku ingin
menangis saat inijuga.
Pasti dia habis malam pertamakan. liiihh
menyebalkan sekali. Bahkan aku
hanya bisa menatapnya saja.
Selama
4 tahun ini aku menjaganya. Tapi
dia finisnya sama wanita lain. Kejam
sekali.
Dia melewatiku dan Erik. Bahkan
dia hanya menepuk tangan Erik dan tersenyum
melihatku. Sepertinya dia benar-benar
menganggapku tidak ada.
Dia terus
berjalan masuk ke toko. Aku terus
mengawasinya, berharap dia akan
menoleh ke arahku, melempar sedikit
senyum. Tapi tidak. Dia menghilang
diantara etalase.
Tak berapa lama, dia keluar dengan
menenteng sebuah sendal warna pink
muda. Sendaljepit biasa untuk wanita. Itu pasti untuk istrinya kan.
Dia melakukan transaksi.
Aku jadi ingat saat kita liburan
kepantai, dia membelikanku sandal
jepit warna pink nmuda.
Padahal dia
tau aku sangat membenci uwarna itu.
Tapi dia sengaja membelinya dengan
alasan agar aku menjadi feminim.
Terpaksa aku memakainya juga.
Setelah selesai transaksi, dia
berjalan kearahku, dia melewatiku
lagi. Tapi kali ini dihentikan oleh
Erik.
"Cuma beli sendal aja, Ren." Sapa
Erik.
"lya istri gw lupa nggak bawa
sandal. Padahal kita mau melakukan
perjalanan jauh."
"Mau kemana? Bulan madu ya?" Pertanyaan Erik yang membuatku sangat tidak suka.
"Belum. Kita mau pulang kerumah
mertua gw. Di kota XX."
"Emang lo cuti berapa hari?"
"Gw udah risegn, Rik. Tadi sekalian
ngantar surat risegnnya."
"Jadi lo mau tinggal di XX? Pindah
kerja disana juga?"
"lya, Rik. Gw pamit ya." Ucapnya.
Lalu mereka berpelukan.
Pasti bentar lagi dia akan
memelukku juga kan? Ini kan
perpisahan. Aku siap-siap,
menyiapkan diri lebih tepatnya.
"Hati-hati ya, Ren. Jaga istri lo
baik-baik."
"Pasti, Rik." Sekarang Reno menatapku. Lalu
mengulurkan tangannya.
Kali
ini aku melihat cincin emas putih
yang dulu dia lihatkan padaku. Dia
memakainya sekarang.
Apa yang
seharusnya dijariku, sekarang ada
dijari istrinya? Dadaku mulai terasa
sesak. Tapi aku berusaha menahan air
mataku yang sudah tidak sabar untuk
tumpah. Aku meraih tangannya.
"Maafin gw ya, Nov. Selamat
tinggal." Hanya begitu. Iya hanya itu
yang diucapkan. Lalu dia lepaskan
tangannya.
Dia menatapku cukup
lama. Mungkin berharap aku akan
mengatakan sesuatu. Tapi aku lebih
memilih menggigit bibirku saja. Aku
yakin, jika mulutku terbuka, air
matakujuga akan turun membasahi pipiku.
Karna aku hanya diam tak
mengucapkan apapun. Dia
melambaikan tangan pada Erik
dan berjalan menjauh. Aku hanya
terpaku menatap punggungnya yang
menghilang.
"Nih."Erik menyodorkan tissu
kearahku.
Aku meraihnya dan menekan ujung
mataku. Menggagalkannya agar tak
merusak riasan wajahku.
"Baper banget sih lo."
***
Sepulang kerja, aku langsung
mencari sendal pemberian Reno waktu
itu. Sendal warna pink muda yang
tidak pernah aku pakai.
Aku membawanya kekamar mandi dan
aku cuci hingga tak ada lagi debu
dan kotoran yang menempel disana.
Aku jemur di kost depan dekat pagar.
Waktunya istirahat, aku duduk depan
kamar kost sambil ngemil.
"Noy, ponsel lo ada sinyal nggak?
Pinjem dong. Punya gw nggak ada
sinyalnya nih." Ucap Lia sambil duduk
dikursi sampingku.
"Ngomong aja kalau nggak punya
|kuota. Gitu aja pake muter-muter."
"Heheh ... kok tau sih lo." Dia nyengir
kan. Emang udah biasa sih, Lia kaya'
gitu. Tapi nggak papa, dia teman yang
baik.
"Ambil tuh, diatas meja." Jawabku
tanpa melihatnya.
"Tumben nggak lo pegang.""Buat apa?"
"Eh, iya. Gw lupa. Lo kan jomblo."
Aku langsung melototinya. Dia
nyengir lagi dan bergegas masuk
kekamarku.
Terlihat mobil hitam berhenti
didepan kost. Si pemilik mobil
membuka pintu dan turun. Erik,
menatapku sambil tersenyum sok
imut. Lalu dia berjalan menuju
kamarku.
"Sendal siapa itu disana?" Tanyanya
saat duduk disampingku.
"Punya gw."
"Tadi dibawa kabur anjing."
"Hah!!" Aku langsung berdiri
celikukan mencari keberadaan anjing
yang dimaksud Erik.
"Mana anjingnya?"
"Udah lari, Nov."
Aku langsung berlari memeriksa
sendal pink ku.
Dan benar saja
tinggal sebelah. Aku ambil sendal itu.
Aku duduk di samping Erik sambil
memeluk sendal itu.
"Yaela, Noy, sendal aja dipeluk. Gw
peluk aja sini." Erik menelentangkan
tangannya, siap untuk memelukku.
"Ini tuh sendal dari Reno.
Orangnya
udah diambil pelakor. Masak
sendalnya juga diambil anjing sih.
Hiks hiks hiks.."